Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sangkar emas berlumuran darah
Perjalanan kembali ke Istana Naga terasa sunyi dan dingin. Kaisar Jian Feng terbaring lemah di tandu, dikelilingi oleh ribuan Pasukan Bayangan yang bergerak tanpa suara. Mei Lin berada di sisi tandu itu, langkah kakinya terasa berat, seolah ia membawa beban seluruh dunia di pundaknya. Setiap kali ia melirik wajah Jian Feng yang pucat, rasa iba dan takut bercampur aduk di hatinya. Ia tahu bahwa ia telah kembali ke sangkar emas, kali ini dengan belenggu yang lebih kuat: rasa berhutang nyawa.
Setibanya di istana, suasana terasa berbeda. Lorong-lorong yang dulu ramai kini lengang, dan para pelayan yang berlalu lalang tampak asing bagi Mei Lin. Wajah-wajah baru yang menunduk dalam, menghindari kontak mata. Namun, yang paling mencolok adalah bau amis samar yang menguar di beberapa sudut istana, terutama di dekat koridor menuju kamar pribadi Jian Feng. Mei Lin melihat beberapa noda gelap di lantai marmer yang sepertinya sudah dibersihkan buru-buru, namun sisa-sisa bercak kering itu masih terlihat jelas. Hatinya menciut. Ia tahu betul apa arti bau dan bercak itu.
Jian Feng segera dibawa ke kamar pribadinya. Mei Lin diperintahkan untuk tetap berada di sisinya, tak beranjak sedikit pun. Kamar yang dulu dihiasi dengan harum cendana dan bunga-bunga kini terasa pengap. Bau amis yang tadi samar-samar, kini terasa sangat kuat, menusuk hidung Mei Lin hingga membuatnya mual.
"Bau apa ini?" batin Mei Lin. Ia melirik Jian Feng yang terbaring lemah di ranjang. Kaisar itu masih tak sadarkan diri, sesekali merintih menahan sakit.
Mei Lin melangkah ke arah jendela besar di kamar itu, berniat membukanya agar udara segar masuk dan mengusir bau busuk itu. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh bingkai jendela yang dingin, sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pergelangan tangannya.
"Nona Mei Lin, jangan sentuh itu!" Suara itu milik Kepala Pelayan baru, seorang pria paruh baya dengan wajah kaku dan mata yang menyimpan ketakutan. "Jendela itu... Kaisar tidak suka jika dibuka. Ia membencinya."
Sentuhan itu, meskipun hanya sekilas, terasa seperti sengatan listrik. Mei Lin refleks menoleh ke arah ranjang. Meskipun mata Jian Feng masih terpejam dan tubuhnya lemah, otot-otot di rahangnya tampak mengeras. Geraman pelan keluar dari tenggorokannya yang sakit. Ekspresi di wajahnya menunjukkan kemarahan yang membara. Ia telah melihat apa yang terjadi. Ia telah melihat tangan pria lain menyentuh Mei Lin.
Mei Lin segera menarik tangannya. Kepala Pelayan itu langsung membungkuk dalam-dalam, gemetar ketakutan, menyadari kesalahannya yang fatal. Ia lupa seberapa posesifnya Kaisar Jian Feng terhadap Mei Lin, bahkan dalam keadaan terluka parah sekalipun.
Jian Feng menahan amarahnya dengan susah payah. Nyeri di dadanya seolah berlipat ganda, namun rasa cemburu dan posesifnya jauh lebih kuat. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan badai di dalam hatinya. Ia tahu ia tidak bisa melampiaskan amarahnya sekarang. Ia harus pulih. Ia harus kuat. Agar tidak ada lagi yang berani menyentuh miliknya. Agar tidak ada lagi yang bisa mengambilnya pergi.
Mei Lin, yang melihat reaksi Jian Feng, merasakan ketakutan yang dingin merayap di punggungnya. Bau darah dan jejak-jejak kekejaman di istana, ditambah amarah Jian Feng yang tersimpan, semua itu mengingatkannya pada malam-malam berdarah di istana saat ia melarikan diri. Ia kini mengerti bahwa para pelayan lama telah menghilang, dan noda darah itu adalah bukti dari murka Jian Feng yang tak terhingga saat ia mengetahui Mei Lin pergi.
Kamar yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan, kini terasa seperti sangkar yang lebih gelap dari sebelumnya. Mei Lin adalah satu-satunya sumber ketenangan bagi Kaisar yang terluka itu, namun ia juga tahu bahwa kehadirannya adalah alasan utama mengapa begitu banyak nyawa melayang di istana ini. Ia terperangkap, dan tidak ada jalan keluar.
bersambung