"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Kartu Hitam vs. Plastisin
"Elia, Papa mau bicara bisnis sebentar."
Cayvion berlutut di atas karpet berbulu tebal di ruang tengah, mencoba masuk ke level pandangan putrinya. Jas mahalnya sudah dia lepas, lengan kemejanya digulung asal, tapi aura putus asanya tetap terpancar kuat.
Sudah tiga hari sejak "insiden hujan", dan meskipun Elio sudah menempelkan plester di pipinya sebagai tanda berakhirnya gencatan senjata, suasana masih terasa canggung. Elio sibuk dengan tabletnya di sofa, sementara Elia asyik sendiri dengan dunianya.
Di depan Cayvion, Elia sedang duduk bersila menghadapi tumpukan plastisin—lilin mainan warna-warni yang baunya khas. Tangan mungilnya sibuk memilin gumpalan warna merah menjadi bentuk bulat yang abstrak.
"Jangan ganggu, Pa," gumam Elia tanpa menoleh. "Elia lagi sibuk. Pesanan kue stroberi lagi banyak."
Cayvion menghela napas panjang. Dia diabaikan lagi demi kue bohong-bohongan. Otak bisnisnya berputar cepat. Jika diplomasi gagal, gunakan aset.
Tangan Cayvion merogoh saku belakang celananya. Dia mengeluarkan dompet kulit hitam, lalu menarik selembar kartu berwarna hitam matte dengan pinggiran logam titanium yang berkilau dingin.
The Black Card. Kartu kredit paling eksklusif di dunia. Tanpa limit. Hanya dimiliki oleh 0,001% populasi manusia di muka bumi.
"Lihat ini, Elia," pancing Cayvion, menyodorkan kartu itu tepat di depan hidung Elia.
Elia berhenti memilin. Dia melirik kartu itu sekilas. "Kartu apa itu? Warnanya hitam. Gelap kayak mati lampu."
"Ini bukan kartu biasa, Sayang. Ini kunci dunia," Cayvion tersenyum bangga, merasa kemenangannya sudah di depan mata. "Ini kartu sakti. Dengan kartu ini, kamu bisa beli apa saja. Kamu mau pabrik permen? Papa gesek, pabriknya jadi milikmu. Kamu mau beli pulau pribadi buat main pasir? Papa belikan sekarang juga. Mau beli satu toko mainan seisinya? Gampang."
Elio yang ada di sofa melirik sedikit, tapi pura-pura tidak dengar.
Mata Elia membulat. Dia melepaskan lilin di tangannya dan mengambil kartu itu. Dia membolak-baliknya, merasakan berat logam titanium di telapak tangannya.
"Apapun?" tanya Elia polos.
"Apapun," tegas Cayvion. "Asal Elia mau main sama Papa dan peluk Papa lagi."
Cayvion sudah membayangkan Elia akan melompat girang, memeluk lehernya, dan minta dibelikan Disneyland.
Namun, Elia justru mengetuk-ngetukkan pinggiran kartu logam yang tajam itu ke meja kecilnya.
"Hmm... ini keras ya, Pa," komentar Elia. "Tipis, tapi kuat."
"Tentu saja. Itu titanium asli."
"Pas banget!" seru Elia girang.
Tanpa aba-aba, Elia menancapkan kartu bernilai miliaran rupiah itu ke tengah gumpalan plastisin merah yang lengket.
SRETTT!
Dengan gerakan mantap selayaknya koki profesional, Elia menggunakan Black Card itu sebagai pisau pemotong. Dia mengiris gumpalan lilin itu menjadi beberapa bagian kecil.
"Wah! Tajam!" pekik Elia senang. "Pisau plastik Elia tumpul, susah buat potong kue. Punya Papa enak banget dipakainya! Liat nih, kuenya jadi rapi!"
Rahang Cayvion jatuh. Matanya nyaris keluar dari rongganya.
Dia melihat kartu kebanggaannya—simbol kekuasaan ekonomi tertingginya—kini berlumuran lilin merah yang berminyak dan lengket. Chip emasnya tertutup adonan mainan. Namanya yang terukir elegan kini tertimbun "kue stroberi".
"E-Elia..." suara Cayvion tercekat. "Itu... itu bukan pisau dapur..."
"Tapi ini enak buat motong, Pa! Makasih ya! Papa emang tahu apa yang Elia butuhin!" Elia nyengir lebar, lalu kembali mengiris gumpalan warna hijau dengan semangat membara. Sret. Sret. Sret.
Dari arah dapur, terdengar suara tawa tertahan yang sangat menyebalkan.
Hara berdiri di sana sambil memegang gelas air, bahunya berguncang menahan tawa melihat wajah syok suaminya.
"Investasi bodong ya, Pak?" sindir Hara sambil berjalan mendekat. "Ternyata kartu limit triliunan fungsinya sama aja kayak pisau plastik harga seribu perak di mata anak TK."
Cayvion menatap Hara dengan tatapan memelas. "Hara, itu titanium... chip-nya bisa rusak kena minyak lilin..."
"Ya biarin aja. Katanya mau beli hati anak? Itu Elia udah seneng. Bapak jangan pelit dong. Masa kartu doang nggak rela? Katanya Super Dad," ledek Hara makin menjadi-jadi.
Cayvion mengerang frustasi. Dia mau mengambil kartu itu, tapi melihat wajah Elia yang begitu bahagia memotong-motong lilin, dia tidak tega.
"Oke. Pakai saja," gumam Cayvion pasrah, meratapi nasib kartunya yang mungkin harus dipensiunkan dini. "Ada lagi yang Tuan Putri butuhkan?"
Elia mendongak, matanya berbinar. Dia membersihkan sisa lilin di kartu itu dengan mengusapkannya ke... celana bahan Cayvion.
"Ada!" seru Elia.
Dia berdiri, menarik tangan besar Cayvion dengan tangan mungilnya yang lengket.
"Karena Papa udah kasih pisau bagus, Papa jadi pelanggan pertama Elia!"
"Pelanggan?" Cayvion bingung.
"Iya! Restoran Elia baru buka. Papa harus makan di sini!"
Elia menyeret Cayvion menuju sebuah meja plastik bundar kecil yang sangat pendek. Di sekeliling meja itu, ada dua kursi plastik. Satu warna biru (tempat boneka beruang duduk), dan satu lagi warna pink menyala.
Kursi itu kecil sekali. Kursi balita. Tingginya mungkin tidak sampai lutut Cayvion.
"Duduk sini, Pa!" perintah Elia sambil menepuk kursi pink itu.
Cayvion menatap kursi itu horor. Lalu menatap tubuhnya sendiri yang setinggi 185 cm dengan berat proporsional pria dewasa yang rajin gym.
"Elia, Papa rasa Papa tidak akan muat..." tolak Cayvion halus. "Papa berdiri saja ya? Konsepnya standing party?"
"Nggak boleh! Pelanggan harus duduk sopan!" Elia berkacak pinggang, meniru gaya Hara kalau lagi marah. "Ayo duduk! Nanti keburu kuenya dingin!"
Cayvion menatap Hara, meminta pertolongan. "Hara, ini pelanggaran hukum fisika. Tulang punggungku bisa patah."
Hara justru duduk santai di sofa empuk, mengangkat kakinya, dan menyesap air minumnya. "Turuti aja, Pak. Anggap aja lagi yoga ekstrem. Lagian Bapak sering kan duduk di kursi panas rapat direksi? Ini cuma beda warna aja. Pink lebih cute."
Tidak ada jalan keluar. Elia sudah memegang tangannya, menarik-narik dengan wajah memohon.
"Oke... oke... Papa duduk."
Dengan gerakan sangat hati-hati, Cayvion memutar tubuhnya. Dia menurunkan badannya pelan-pelan. Lututnya menekuk tajam. Dia mencoba menyeimbangkan pantatnya di atas permukaan plastik kecil yang licin itu.
KREK.
Suara plastik yang meregang terdengar nyaring dan mengkhawatirkan saat beban tubuh Cayvion mendarat.
Cayvion menahan napas. Lututnya kini posisinya lebih tinggi dari pinggangnya, membuatnya terlihat seperti raksasa yang terjebak di dunia liliput. Punggungnya membungkuk paksa. Kakinya yang panjang terjulur canggung ke depan karena tidak muat ditekuk di bawah meja.
"Nah! Bagus!" puji Elia, tidak peduli bapaknya terlihat menderita seperti kepiting rebus.
Elia menyodorkan piring plastik berisi gumpalan lilin merah yang tadi dia potong dengan Black Card.
"Silakan dimakan, Tuan Pelanggan. Ini Steak Stroberi saus Kecap," kata Elia bangga.
Cayvion menatap gumpalan abstrak di depannya. Lalu menatap wajah antusias putrinya.
"Elia," panggil Cayvion dengan suara tercekik karena posisi duduknya menekan diafragma. "Papa harus pura-pura makan ini?"
"Harus dimakan beneran dong! Nyam nyam nyam gitu!" paksa Elia. "Ayo buka mulutnya! Aaaaa!"
Cayvion Alger, penguasa bisnis properti dan teknologi, kini duduk terlipat di kursi pink, membuka mulutnya lebar-lebar untuk menyantap "steak" dari lilin mainan, sementara kartu kredit termahalnya tergeletak berlumuran minyak di atas meja plastik.
"Aaaaa..." Cayvion pasrah.
Harga dirinya benar-benar sudah minus.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri