Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Kelam
Bertepatan dengan Maya yang mulai pulih, media di hebohkan dengan kabar tentang Ellea Lewis yang maju mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat menteri, dari salah satu partai yang dia sokong.
Warganet cukup terkejut akan hal itu, sebab selama ini mereka berpikir jika yang akan maju adalah Steven Lewis ataupun Maxim Lewis.
Sebab mereka berdua adalah pewaris sah dari Marga Lewis, yang namanya sangat besar disana.
Selain itu, Ellea juga sudah diangkat menjadi ketua partai menggantikan pemimpin sebelumnya.
Sebelumnya, kendali partai tersebut di pegang sepenuhnya oleh ayahnya Max dan di ketuai oleh orang kepercayaannya.
Setelah ayah Max tiada, ketua partai itu pun di pecat dari posisinya hingga membuat jabatan ketua partai dalam keadaan kosong.
Meskipun begitu, masih ada Max dan juga Steve yang tetap memegang kendali atas partai tersebut.
Karena sekarang Max tiada, mau tidak mau kendali partai kini diambil alih sepenuhnya oleh Steven Lewis, yang mana orang yang di angkat sebagai ketuanya adalah Ellea.
Di awal, para anggota partai sedikit menolak atas kendali yang di pegang oleh Steve dan jabatan ketua di berikan pada Ellea.
Namun, dengan adanya surat yang menyatakan kematian Max, maka mereka hanya bisa mengalah dan menerima keadaan yang mana kendali partai sepenuhnya ada pada Steve dan juga Ellea.
*
Di salah satu ruangan gedung partai, Ellea saat ini tengah menemui beberapa anggota partai yang memberikan dukungan padanya.
Ellea tengah mendiskusikan apa dan bagaimana saja yang harus para anggotanya lakukan, agar pemilihan mentri kali ini bisa di menangkan olehnya dan suara terbanyak di rebut oleh partainya.
"Kita jangan sampai salah langkah. Aku mau, kali ini suara terbanyak dimenangkan oleh partai kita.
Gunakan dana apapun dan gunakan cara apapun, untuk merebut hak suara dari masyarakat! Jangan sampai, partai lain yang menang dari kita!" tegas Ellea.
"Cara seperti apa yang harus kita lakukan Nyonya?"
"Cara seperti apapun, cara halus kasar atau cara licik sekalipun itu bisa saja kita lakukan.
Jangan berikan kesempatan pada partai lawan, untuk lebih unggul dari kita!"
"Bagaimana jika sampai cara - cara yang kita lakukan, tembus pada salah satu partai yang menjadi lawan kita?"
"Bodoh!! Tentu saja kau harus mengusahakan, agar rencana kita jangan sampai bocor, apa hal seperti ini juga harus aku ajarkan? Gunakan otak kalian!" ucap Ella, dengan nada yang sedikit meninggi.
"Baik nyonya! Maafkan saya!"
Setelahnya, anggota partai yang hadir mulai membahas tentang langkah-langkah mereka selanjutnya. Juga tentang pembagian tugas nantinya.
*
Ramainya media yang memberitakan tentang pencapaian Ellea sebagai calon menteri, akhirnya sampai juga pada Maya.
Maya yang sedang menonton televisi bersama Thomas, langsung mengepalkan tangannya erat saat melihat wajah seorang wanita yang tergambar jelas disana.
"Bahagia diatas penderitaan orang lain, kalian keparat!"
Thomas yang mendengar geraman Maya seketika menoleh.
"Maya.. Kenapa kau sepertinya begitu marah pada mereka? Apa yang terjadi? Kau kenal mereka?"
Maya hanya diam, tanpa menjawab secara langsung apa yang ditanyakan Thomas padanya.
"Minum dulu. Nanti, saat kau bisa cerita.. Maka cerita saja, aku siap mendengarkan semuanya."
Maya menerima uluran gelas ditangan Thomas, lalu menenggak cairan didalamnya hingga nyaris tandas.
"Aku sebenarnya cukup banyak yang ingin ditanyakan, tapi . Aku rasa belum saatnya aku tahu. Aku.."
"aku baik-baik saja, Thom. Mungkin aku bisa saja cerita, tapi .. Ini aib dan mungkin sjaa setelah ini, kau dan juga bibi Amora tidak mau lagi berurusan denganku."
"Kenapa?" Tanya Thomas dengan kening yang mengerucut.
"Karena yang menyebabkan aku terbaring disini adalah mereka." tunjuk Maya kearah siaran di televisi yang menayangkan keluarga Lewis yang tampak bahagia.
"Mereka? Ellea dan keluarganya?"
Maya mengangguk sebagai jawaban. Tubuhnya sedikit gemetar ketika mengingat setiap kilasan luka yang ia dapatkan karena keluarga Bryan, dan sekarang.. Ia harus bisa mengatakan semuanya meski harus mengorek kembali luka yang belum sepenuhnya pulih.
"Bagaimana bisa?"
"Semua itu berawal dari iblis yang saat ini tengah berbicara di layar kaca!"
"Apa yang mereka lakukan? Dan siapa yang menyakitimu? Ellea, Steve atau putranya?"
"Keduanya, bahkan mungkin satu keluarga!"
Lalu Maya mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bermula dengan Vello yang di jebak temannya, lalu di lecehkan Bryan bersama ketiga temannya hingga membuatnya depresi.
Maya juga menceritakan tentang dirinya yang berjuang mencari keadilan hingga ke ruang sidang, lalu dia yang malah di khianati, lalu adik dan juga ayahnya yang mati dihari yang sama.
Bahkan dia yang di lecehkan di samping jasad adiknya hingga membuat dia di bunuh dengan cara di tabrak dan akhirnya di temukan Amora diujung sungai.
Mendengar cerita Maya, tangisan Amora yang sejak tadi sudah berdiri dibalik pintu, kini tak lagi dapat terbendung. Amora seolah bisa merasakan, seberapa perih dan menyakitkannya penderitaan yang dialami Maya karena keluarga Lewis.
Sedangkan Thom, tangannya terkepal dengan kuat. Dendam dan amarah yang sudah beberapa tahun ini dia pendam, kembali muncul ke permukaan.
Luka yang coba dia hilangkan dan coba dia obati, seolah kembali berdarah saat mendengar cerita Maya yang tak berbeda jauh dengan istrinya dulu.
"Sekali iblis tetaplah iblis. Anak dan orang tua memang satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan!"
"Apa maksudmu Thom!" Maya yang sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri, melepas pelukan Mora lalu mengalihkan pandangannya pada Thomas.
"Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya Maya. Pribahasa itu memang pantas di sematkan pada Bryan, yang merupakan anak dari iblis yang bernama Steve!"
"Memangnya apa yang dia lakukan mereka padamu?"
"Tak jauh beda seperti kau Maya. Mereka melakukan pelecehan, mempermainkan hukum dan juga melakukan pembunuhan berencana terhadapku !" mata Thom memancarkan kemarahan yang luar biasa.
"Apa kau bisa menceritakannya padaku? Mungkin saja bisa sedikit mengurangi bebanmu?"
Thomas tersenyum, Maya mengatakan kalau dia berharap bisa mengurangi beban dirinya. Padahal, di lihat sepintas saja justru Maya yang lebih membutuhkan hal itu.
Tak ingin membuat Maya merasa tak di hargai, Thomas akhirnya mengangguk dan mulai menceritakan apa yang terjadi padanya juga.
"Hal buruk ini terjadi padaku dan juga istriku, yang dilakukan oleh Steven Lewis. Saat itu, istriku bekerja di perusahaan Steve sebagai seorang karyawan biasa! Lalu saat itu, istriku diminta mengantarkan sebuah dokumen ke dalam ruangan Steve. Setelah berada didalam ruangan Steve, tiba-tiba Steve mengunci rapat ruangannya dan mulai melecehkan istriku disana. Karena ruangan yang kedap suara, tidak ada yang mendengar teriakan minta tolong dari istriku. Setelah melakukan pelecehan, Steve dengan kejamnya menyeret istriku keluar dari ruangan dan melemparkannya secara hina!"
"Astaga."