Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pewaris yang Kembali
Sementara itu, di sebuah hotel murah di perbatasan Jawa Barat, Nirmala menonton berita pelarian Rini dari layar televisi tua. Ia duduk berdampingan dengan Ale dan Januar. Wajah mereka penuh luka dan memar, namun ada kedamaian yang mulai tumbuh di sana.
"Ini belum berakhir, Nirmala," ucap Januar sambil menatap layar. "Rini adalah tikus yang licin. Selama dia masih bernapas, kita belum benar-benar aman."
Nirmala menggenggam tangan Ale. Ia tidak lagi menangis. "Dia sudah kehilangan takhtanya, Januar. Sekarang, dia hanya seorang wanita tua yang ketakutan. Kita akan mengejarnya sampai ke lubang mana pun dia bersembunyi."
Ale menatap Nirmala, menyadari bahwa gadis yang dulu ia tolong di tepi sungai kini telah menjadi seorang wanita yang sanggup mengguncang dunia korporasi demi keadilan.
Perang belum berakhir, namun fajar baru telah menyingsing. Sang Ratu telah jatuh, dan perburuan terakhir baru saja dimulai.
****
Langit Jakarta pagi itu tampak begitu bersih, seolah-olah hujan badai semalam telah mencuci bersih jelaga dan dosa yang menyelimuti gedung Dizan Holding. Di ruang rapat utama—tempat yang beberapa hari lalu menjadi saksi bisu simfoni peluru—kini suasana terasa khidmat dan penuh ketegangan yang berbeda. Tidak ada lagi aroma mesiu, yang ada hanyalah aroma melati dari karangan bunga yang disusun untuk menghormati mendiang Marwan Dizan.
Nirmala Dizan berdiri di depan pintu kaca besar. Ia mengenakan setelan blazer hitam yang elegan, warisan gaya dari ibunya. Tangannya tidak lagi menggenggam botol semprotan cabai, melainkan memegang berkas-berkas legal yang akan menentukan masa depan dinasti keluarganya. Di sampingnya, Aleandra Nurdin berdiri dengan setia, luka di pelipisnya masih tertutup plester, namun sorot matanya memberikan kekuatan yang tak ternilai bagi Nirmala.
"Ini saatnya, Nona," bisik Ale pelan.
Nirmala menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.
****
Di dalam ruangan, para pemegang saham mayoritas dan para direktur veteran yang dulu didepak oleh Rini telah berkumpul. Mereka adalah orang-orang tua yang setia kepada Marwan Dizan, yang selama ini bersembunyi dalam ketakutan di bawah bayang-bayang kegilaan Rini.
Nirmala melangkah menuju kepala meja, posisi yang dulu ditempati ayahnya. Ia tidak langsung duduk. Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya dengan tatapan yang tenang namun mengandung otoritas yang lahir dari penderitaan.
"Bapak dan Ibu sekalian," suara Nirmala bergema, stabil tanpa getaran. "Saya berdiri di sini bukan sebagai korban. Saya berdiri di sini sebagai saksi bagaimana perusahaan yang dibangun dengan keringat dan integritas ayah saya hampir hancur oleh kegilaan dan keserakahan. Saya membawa bukti, bukan hanya surat pernyataan, tapi data dari jantung Caja de Muerto yang membuktikan bahwa Dizan Holding telah dikhianati dari dalam."
Januar Suteja, yang duduk di barisan samping dengan tangan yang masih digendong kain penyangga, memberikan anggukan kecil. Ia telah membantu memulihkan data-data yang membuktikan bahwa segala keputusan Rini adalah cacat hukum.
"Perusahaan ini butuh nakhoda yang memiliki darah Dizan, tapi juga memiliki nyali untuk melawan arus," lanjut Nirmala. "Saya menawarkan diri saya untuk memulihkan aset kita, membersihkan nama Dizan dari daftar hitam internasional, dan mengembalikan martabat karyawan kita."
Seorang direktur senior, Tuan Surya, yang dulu dipaksa tunduk oleh Rini, berdiri dengan mata berkaca-kaca. "Kami sudah menunggu saat ini, Neng Nirmala. Kami salah karena pernah takut. Dengan ini, saya mewakili faksi suara mayoritas, menyatakan dukungan penuh."
Ketukan palu sidang RUPSLB itu terdengar seperti lonceng kemenangan. Nirmala Dizan resmi ditetapkan sebagai Direktur Utama sekaligus Komisaris Utama Dizan Holding. Sebuah sejarah baru tercipta; sang putri telah kembali ke istananya, bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai penguasa.
****
Namun, di balik kemenangan itu, ada bayang-bayang gelap yang harus diselesaikan. Di markas kepolisian pusat, Elias Dizan—pria yang selama ini hanya menjadi bidak catur di tangan istrinya—duduk meringkuk di sudut sel tahanan yang dingin.
Pakaian mahalnya kini kusut dan bau keringat. Ia telah kehilangan segalanya. Polisi telah memiliki bukti lengkap atas persekutuan jahatnya dengan Rini, termasuk tanda tangannya pada dokumen-dokumen pencucian uang kartel. Elias tahu, ia akan membusuk di penjara, sementara Rini telah melarikan diri dan membuangnya seperti sampah yang tidak lagi berguna.
"Rini... kenapa kau meninggalkanku?" isak Elias pelan, suaranya parau menembus jeruji besi.
Ia teringat tawa histeris istrinya, tawa yang dulu ia anggap sebagai tanda kekuatan, namun kini ia sadari adalah tanda kehancuran jiwanya sendiri. Elias merasa hampa. Ia terlalu pengecut untuk menghadapi persidangan, terlalu lemah untuk menanggung malu sebagai pengkhianat keluarga.
Malam itu, saat penjaga sedang melakukan pergantian shift, Elias menggunakan kemeja sutra putihnya—pakaian terakhir yang tersisa dari kemewahannya. Ia memutar kain itu, mengikatnya pada teralis besi jendela kecil di atas selnya. Dengan air mata yang mengalir tanpa suara, ia mengakhiri hidupnya sendiri.
Elias Dizan mati dalam kesunyian, sebuah akhir yang tragis bagi pria yang memilih menjadi budak kegilaan daripada berdiri di atas kebenaran. Kematiannya menjadi noktah hitam terakhir dari babak pemerintahan Rini di Jakarta.
****
Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, di sebuah persembunyian rahasia di sebuah pulau kecil di lepas pantai Singapura, Rini Susilowati berdiri di dermaga kayu yang sudah lapuk. Hujan tropis yang deras membasahi tubuhnya, melunturkan riasannya hingga ia tampak seperti hantu yang berlumuran lumpur.
Ia memegang sebuah radio komunikasi tua, mendengarkan berita tentang penobatan Nirmala dan kematian suaminya, Elias.
Mendengar nama Nirmala disebut sebagai Direktur Utama, tubuh Rini mulai bergetar hebat. Ia tidak menangisi kematian Elias; baginya, suaminya hanyalah alat yang sudah rusak. Namun, kenyataan bahwa Nirmala duduk di kursinya membuat jiwanya terbakar.
Rini perlahan menarik selendang sutra hitamnya yang kini sudah compang-camping dan kotor. Ia menutup mulutnya, matanya melotot tajam ke arah cakrawala yang menuju ke Jakarta.
"Mmph... Hmph... Hahahaha!"
Tawa itu pecah kembali, lebih parau, lebih mengerikan dari sebelumnya. Ia tertawa di bawah guyuran hujan, suaranya bersaing dengan gemuruh petir.
"Kau pikir kau menang, Nirmala?" Rini berteriak, suaranya parau hingga ia terbatuk-batuk mengeluarkan cairan bening dari hidungnya. "Kau hanya menjaga kursiku untuk sementara! Aku akan kembali! Aku akan membawa api yang lebih besar dari Kolombia! Aku akan membakar gedung itu sampai tidak ada satu kerikil pun yang tersisa!"
Rini menyeka ingusnya dengan tangan kosong, lalu mengusapkannya ke selendang sutranya. Ia tidak lagi peduli pada kemewahan; kegilaannya kini murni didorong oleh dendam kesumat.
"Aku bersumpah demi darah Dizan yang mengalir di tubuhku... aku akan kembali untuk mencabut nyawamu, Nirmala! Hahahaha!"
Tawanya terus bergema di tengah badai, sebuah janji kutukan yang ia lemparkan ke seberang lautan. Rini Susilowati belum berakhir; ia hanyalah seekor ular yang sedang berganti kulit di dalam kegelapan, bersiap untuk serangan yang lebih mematikan.