Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Kaelen menatapku, matanya yang biru elektrik berkilat di balik luka-lukanya. "Kazumi, hanya ada satu cara. Kekuatan kita harus menyatu sepenuhnya untuk menciptakan Ledakan Harmoni. Itu akan mendorong ayahku kembali ke inti kegelapan dan menyegel gerbangnya selamanya."
"Tapi Kaelen," sela Ibu dengan nada berat, "seseorang harus tetap berada di sisi gerbang ini untuk menahan segelnya dari dalam. Jika tidak, gerbang itu akan terbuka kembali dalam hitungan detik."
Jantungku berhenti berdetak sejenak. Aku menatap Kaelen. Dia sudah berdiri tegak, membelakangiku, menghadap monster raksasa itu.
"Biarkan aku, Kazumi," bisik Kaelen tanpa menoleh. "Ini adalah duniaku. Aku adalah pangeran dari tempat ini, dan adalah tugasku untuk menebus dosa ayahku. Pergilah bersama ibumu. Kembali ke Lembah Biru yang indah."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" teriakku, air mata mulai mengalir deras.
Kaelen berbalik, menarik tubuh mungilku dan mencium keningku dengan sangat lama. "Kau adalah Penjaga Bunga yang paling berani yang pernah kutemui. Ingatlah aku bukan sebagai mimpi buruk, tapi sebagai harmoni di hatimu."
Tiba-tiba, Kaelen melepaskan gelombang energi bayangan yang mendorong aku, Ibu, Ren, dan Pippin menuju retakan cermin yang dibawa Ibu. Bersamaan dengan itu, ia menggenggam tanganku untuk terakhir kalinya, menyalurkan seluruh sisa kekuatannya ke dalam diriku.
"SEKARANG, KAZUMI! LEPASKAN CAHAYANYA!"
Aku menjerit sekuat tenaga, melepaskan seluruh energi bunga Han yang tersisa di nadiku. Cahaya ungu raksasa meledak, menghantam Raja Malakor dan menyeretnya masuk ke dalam kehampaan. Di saat yang sama, tubuhku terhisap masuk ke dalam cermin Ibu. Hal terakhir yang kulihat adalah sosok Kaelen yang tersenyum di tengah ledakan cahaya, berdiri sendirian menjaga gerbang yang perlahan menutup.
"KAELENNNN!"
BLARRRR!
Aku tersentak bangun. Napas suaraku terputus-putus, dadaku naik turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku.
Aku melihat sekeliling. Aku berada di kamarku sendiri, di rumah kayu kami yang hangat di Lembah Biru. Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela, menerangi debu-debu yang menari di udara. Aroma sup jagung Ibu tercium dari dapur.
"Hanya... mimpi?" bisikku lirih. Suaraku terdengar parau.
Aku duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan jantungku yang masih berpacu. Semuanya terasa begitu nyata—dinginnya tangan Kaelen, rasa Pedang Bunga Perak di genggamanku, hingga tawa mengerikan Sang Raja. Tapi di sini, semuanya tenang. Tidak ada monster, tidak ada menara hitam.
"Kazumi? Kau sudah bangun, Nak?" Ibu masuk ke kamar, tersenyum ceria seolah tidak pernah terjadi perang besar semalam. "Kamu tidur lama sekali. Ayah bilang kau pingsan di danau kemarin."
"Ibu... apakah semalam Ibu pergi ke suatu tempat? Membawa cermin?" tanyaku ragu.
Ibu tertawa kecil sambil merapikan selimutku. "Cermin apa? Ibu di sini sepanjang malam menjagamu. Kau pasti bermimpi terlalu jauh karena terlalu banyak membaca novel fantasi."
Aku mendesah pelan. Mungkin benar, itu hanya mimpi. Mimpi yang sangat panjang dan melelahkan. Aku berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap hamparan bunga Han yang menguning indah di bawah kaki gunung.
Namun, saat aku hendak menutup jendela, mataku menangkap sesuatu di atas meja riasku.
Ada setangkai bunga Han berwarna biru elektrik. Bunga yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Di sampingnya, terdapat sebuah kuas lukis tua yang masih menyisakan sedikit cat emas di ujungnya—persis seperti kuas milik Ren.
Tanganku gemetar saat menyentuh kelopak bunga biru itu. Tiba-tiba, sebuah suara bisikan yang sangat halus, sehalus hembusan angin, terngiang di telingaku:
"Aku tidak pernah benar-benar pergi, Penjaga Kecilku..."
Aku menatap ke arah danau. Di sana, di bawah bayangan pohon ek tua yang jauh, aku melihat sesosok pria jangkung berbaju hitam berdiri diam. Ia hanya muncul sekejap sebelum menghilang menjadi butiran cahaya biru yang tertiup angin.
Aku tersenyum tipis, air mata haru menetes di pipiku. Mimpi itu memang berakhir, tapi kenyataannya baru saja dimulai. Aku tahu, meskipun gerbang itu tersegel, cinta kami telah menciptakan jalannya sendiri.
Lembah Biru tetap harmonis, namun kini, aku menjaganya dengan rahasia yang tersimpan rapat di dalam liontin kristal biru di leherku yang—anehnya—kini benar-benar ada di sana.