Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 – FITNAH YANG MEMBUNUH PERLAHAN
Rumah terasa berbeda.
Bukan lebih ramai. Justru lebih sunyi sunyi yang menegang, seperti udara sebelum badai. Defit Karamoy terbangun dengan perasaan tidak enak yang menempel di dada sejak membuka mata. Hujan telah berhenti, tapi tanah di sekitar gudang masih basah, lengket di telapak kakinya saat ia melangkah keluar.
Belum sempat ia masuk ke rumah utama, suara Bu Ratna memanggilnya keras.
“Defit! Ke sini. Sekarang.”
Nada itu bukan nada perintah biasa. Ada ketegangan, kemarahan yang ditahan tipis.
Defit masuk ke ruang tamu. Semua sudah ada di sana.
Pak Armand berdiri di dekat sofa. Maya duduk di ujung kursi, wajahnya pucat, matanya merah seperti habis menangis semalaman. Di meja, tergeletak sebuah kotak kayu kecil tempat Bu Ratna biasa menyimpan perhiasannya.
Kotak itu terbuka.
Kosong.
“Duduk,” kata Pak Armand singkat.
Defit menelan ludah, lalu duduk di kursi kecil yang sengaja diletakkan agak jauh dari yang lain.
Bu Ratna menyilangkan tangan. Tatapannya menusuk.
“Perhiasan saya hilang.”
Jantung Defit berdegup kencang. “Maksud Ibu?”
“Jangan pura-pura,” potongnya. “Kunci lemari itu hanya di rumah ini. Dan semalam… kamu satu-satunya yang keluar-masuk belakang rumah.”
Defit menggeleng cepat. “Saya tidak ”
“Lalu siapa?” suara Pak Armand meninggi. “Hantu?”
Defit menoleh pada Maya. Wajah istrinya goyah, seperti ingin berkata sesuatu tapi tertahan oleh ketakutan yang lebih besar.
“Maya,” suara Defit bergetar. “Kamu tahu aku tidak mungkin ”
Maya menutup mata. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk menghancurkan sesuatu di dalam dada Defit.
Bu Ratna tertawa kecil, pahit. “Lihat? Bahkan istrimu sendiri tidak bisa membelamu.”
Kata-kata itu jatuh seperti palu.
“Aku tidak mencuri apa pun,” kata Defit, suaranya serak. “Saya bersumpah.”
Pak Armand melangkah mendekat. Tatapannya dingin, tanpa belas kasihan.
“Sumpah orang miskin tidak ada nilainya,” katanya pelan.
Dunia terasa berputar.
Bu Ratna mengambil tas kecil dari meja, membuka resletingnya, dan mengeluarkan sebuah kalung emas. Kalung yang Defit kenal yang sering dipuji Bu Ratna sebagai warisan keluarga.
“Ini ditemukan di dekat gudangmu,” katanya.
Defit berdiri spontan. “Tidak! Saya tidak pernah melihat itu di kamar saya!”
“Kami menemukannya pagi ini,” jawab Pak Armand datar. “Di bawah kasurmu.”
Defit memejamkan mata. Jantungnya berdetak kacau. Kepalanya terasa panas, seperti ditekan dari dalam.
“Ini jebakan…” bisiknya.
“Cukup,” potong Pak Armand. “Saya sudah terlalu lama bersabar.”
Ia menoleh pada Maya. “Sebagai istri, kamu gagal memilih suami.”
Maya tersentak. Air mata jatuh.
“Dan kamu,” tatapan Pak Armand kembali pada Defit, “sudah mencemarkan nama keluarga kami.”
Defit ingin berteriak. Ingin membela diri. Ingin memukul sesuatu. Tapi tubuhnya terasa berat, seperti terikat.
“Keluar,” kata Pak Armand.
Satu kata.
Dunia Defit runtuh.
“Sekarang juga.”
Bu Ratna melemparkan tas kecil berisi beberapa helai pakaian ke lantai. “Ambil barangmu. Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi.”
Defit menatap Maya. Matanya memohon, bukan untuk tinggal tapi untuk satu kalimat pembelaan. Satu kata.
Maya berdiri gemetar. Bibirnya terbuka… lalu tertutup kembali.
“Aku… maaf,” katanya lirih.
Itulah saat Defit tahu ia benar-benar sendirian.
Ia mengambil tas itu. Tangannya bergetar. Ia melangkah ke pintu, setiap langkah terasa seperti meninggalkan potongan jiwanya sendiri.
Di ambang pintu, ia berhenti. Menoleh sekali lagi.
“Aku mencintaimu,” katanya pada Maya. Tidak ada marah. Tidak ada benci. Hanya kelelahan yang dalam.
Maya menangis terisak.
Pintu ditutup.
Hujan turun lagi, tiba-tiba, deras. Seolah langit ikut mengusirnya.
Defit berjalan tertatih ke halaman belakang. Ke pohon tua itu. Kaki telanjangnya terperosok lumpur. Tasnya jatuh. Pakaian berserakan.
Ia tidak peduli.
Ia berlutut di bawah pohon. Tanah dingin menempel di lututnya. Air hujan bercampur air mata.
“Aku sudah kalah…” suaranya pecah. “Aku sudah menyerah…”
Petir menyambar. Cahaya putih menyilaukan sesaat.
Dan kali ini, tanah di bawahnya bergetar jelas.
Akar-akar pohon bergerak. Perlahan. Seperti jari-jari tua yang terbangun dari tidur panjang.
Bisikan itu kembali.
Lebih dekat. Lebih nyata.
Belum. Kau belum kalah.
Defit mendongak. Matanya membelalak.
Di sela akar pohon, tanah terbelah sedikit cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang gelap… dan berdenyut pelan.
Seperti jantung.
Dan untuk pertama kalinya, Defit tidak lari.
Karena di dalam kehancurannya, ia merasakan satu hal yang belum pernah ia miliki sejak masuk ke rumah itu
Harapan yang menakutkan.
terus menarik ceritanya 👍