Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 30: Taruhan dan manipulasi
Udara di puncak Menara Arbitrase terasa semakin berat, seolah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh tekanan murni dari kehendak Grand Gardener. Reggiano masih tertahan di udara, ujung sabitnya bergetar hebat hanya beberapa milimeter dari pot tanah liat yang menawan jiwa adiknya.
Caspian tergeletak tak jauh dari sana, darah peraknya membasahi lantai marmer putih yang bersih. Ia terengah-engah, tubuhnya yang setengah transparan tampak seperti sinyal televisi yang rusak, berkedip-kedip antara ada dan tiada.
"Reggi... hancurkan... saja..." bisik Caspian, suaranya parau. "Jangan biarkan... dia jadi... pajangan..."
Reggiano menatap bonsai perak itu. Di salah satu daunnya, ia melihat bayangan Elena yang sedang memegang sebuah donat cokelat, tertawa bersama Seraphine di dapur toko roti mereka yang hangat. Pemandangan itu begitu manusiawi, begitu rapuh, dan begitu berharga.
"Dia bukan milikmu untuk kau rawat, Kakek," ucap Reggiano, suaranya dingin seperti es kutub. "Dan dia bukan dewi yang harus disembah. Dia adalah adikku, yang lebih suka bau tepung daripada bau keabadianmu yang menyesakkan ini!"
Dengan satu teriakan yang menggelegar, Reggiano tidak menebas pot itu secara horizontal. Ia memutar sabitnya, menghujamkan ujung tajam The Reaper’s Thorn tepat ke dasar pot marmer tersebut.
PRANG!
Pot itu pecah berkeping-keping. Tanah hitam yang ada di dalamnya meledak menjadi debu bintang, dan bonsai perak itu melayang bebas di udara. Seketika, jeritan melengking terdengar dari seluruh penjuru menara. Seolah-olah menara itu sendiri merasakan sakit karena jantung sihirnya telah dirusak.
"KAU BODOH!" Grand Gardener meraung, wajah ramahnya kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. Kulitnya pecah-pecah seperti kulit pohon tua yang kering, dan matanya menyala dengan cahaya hijau yang menyakitkan. "Kau baru saja memutus urat nadi keabadiannya! Kau telah menjatuhkannya kembali ke lumpur kefanaan yang busuk!"
"Itu tempatnya berada!" balas Reggiano. Ia mendarat di lantai dengan mantap, berdiri melindungi bonsai yang melayang itu.
"Di lumpur itulah bunga yang sesungguhnya bisa tumbuh, bukan di laboratorium sterilmu!"
Grand Gardener mengangkat kedua tangannya. Lantai marmer di bawah kaki mereka meledak. Ratusan akar raksasa, masing-masing setebal tubuh manusia, melesat keluar seperti ular-ular kayu yang kelaparan. Akar-akar itu tidak hanya menyerang Reggiano, tapi juga mencoba melilit kembali bonsai Elena.
Reggiano bergerak seperti badai merah. Sabitnya menebas kiri dan kanan, memotong akar-akar purba itu hingga cairan getah berwarna emas menyembur ke mana-mana. Setiap kali akar itu terpotong, Grand Gardener berteriak kesakitan, karena akar itu adalah bagian dari jiwanya sendiri.
"Caspian! Ambil Elena!" teriak Reggiano sambil menendang sebuah akar yang mencoba melilit lehernya.
Caspian, dengan sisa energinya, merangkak maju. Ia menjentikkan koin peraknya yang terakhir. Koin itu tidak memantul; koin itu pecah menjadi butiran cahaya yang membungkus bonsai Elena dalam sebuah bola pelindung dimensi.
"Aku... aku memegangnya, Reggi!" Caspian berteriak, meskipun tangannya terlihat semakin pudar.
"Tapi aku tidak bisa menahannya lama! Menara ini sedang mencoba menyedotnya kembali!"
Di tengah pertempuran yang semakin gila, suara Seraphine kembali masuk ke dalam pikiran Reggiano. Kali ini, suaranya terdengar sangat tenang, seolah ia telah mencapai kedamaian di tengah badai.
"Reggiano... dengarkan aku. Pot itu sudah hancur, tapi akar Grand Gardener masih terhubung dengan esensi Elena melalui udara di ruangan itu. Kau harus melakukan satu hal lagi untuk benar-benar membebaskannya. Berikan 'pembayaran' pada kunci Malachai."
"Apa pembayarannya, Seraphine?" tanya Reggiano dalam hati sambil menangkis hantaman tangan kayu Grand Gardener yang kini membesar.
"Darahmu, Reggiano. Bukan sebagai kurban, tapi sebagai kontrak. Darah Penjaga untuk melindungi sang Benih. Masukkan darahmu ke dalam kunci perak yang kau berikan padaku melalui celah komunikasi ini!"
Reggiano tidak ragu. Di tengah serangan bertubi-tubi dari Grand Gardener, ia sengaja membiarkan salah satu duri dari akarnya menggores lengannya. Darah segar mengalir, dan dengan kehendak murni, Reggiano memproyeksikan darah itu menembus dimensi, langsung menuju kunci perak Malachai yang dipegang Seraphine di bumi.
Seketika, di puncak menara, sebuah cahaya perak yang sangat menyilaukan meledak dari dalam tubuh Reggiano. Cahaya itu bukan miliknya, tapi milik Yggdrasil yang dipanggil melalui kunci tersebut.
"APA INI?! MALACHAI?!" Grand Gardener mundur selangkah, wajahnya penuh ketakutan. "Penghianat itu... dia masih berani mencampuri urusanku?!"
"Ini bukan urusan Malachai lagi," ucap Reggiano. Tubuhnya kini dibalut aura emas yang luar biasa padat. Sabitnya berubah, bilahnya kini terbuat dari cahaya perak murni yang sangat tajam. "Ini adalah urusan seorang kakak yang ingin pulang ke rumah."
Reggiano melesat. Kecepatannya kini melampaui apa pun yang pernah dilihat Caspian. Ia melewati akar-akar pertahanan Grand Gardener seolah mereka hanya bayangan. Dalam satu gerakan melingkar yang sempurna, Reggiano mengayunkan sabitnya ke arah batang tubuh Grand Gardener yang sudah berubah menjadi kayu.
"EXCLUSIVE ART: EDEN’S FINAL PRUNING!"
Tebasan itu tidak mengeluarkan suara ledakan. Sebaliknya, itu adalah suara kesunyian yang paling dalam. Garis perak membelah tubuh Grand Gardener, memotong koneksi sihirnya dengan menara, dengan bonsai, dan dengan bumi.
"Tidak... kebunku... kesempurnaanku..." gumam Grand Gardener saat tubuh kayunya mulai retak dan hancur menjadi serbuk gergaji yang ditiup angin dimensi.
Bersamaan dengan hancurnya sang Gardener, seluruh Menara Arbitrase mulai berguncang hebat. Kubah kaca di atas mereka retak dan pecah, membuat udara dingin dari luar masuk menerjang.
"Reggi! Menaranya runtuh!" seru Caspian. Ia mendekap bola cahaya berisi bonsai Elena dengan sisa kekuatannya. "Kita harus keluar sekarang atau kita akan terjebak di ruang hampa selamanya!"
Reggiano berlari ke arah Caspian, merangkul bahu temannya yang hampir menghilang itu, dan meraih bola cahaya Elena. Ia menatap ke arah pusaran awan ungu di luar kubah yang pecah.
"Seraphine! Tarik kami pulang!" teriak Reggiano.
Melalui kunci Malachai yang sudah diaktifkan dengan darah Reggiano, sebuah lubang cahaya putih besar terbuka di tengah ruangan. Itu bukan portal biasa; itu adalah jalan pulang yang dipaksakan oleh kekuatan akar Yggdrasil sendiri.
Reggiano, Caspian, dan jiwa Elena melompat masuk ke dalam cahaya itu tepat saat Menara Arbitrase meledak menjadi jutaan kepingan kristal yang tak berarti.
Flower’s Patisserie dipenuhi dengan cahaya putih yang membutakan sesaat sebelum akhirnya semuanya menjadi sunyi. Reggiano dan Caspian terhempas ke lantai kayu toko, terengah-engah dan penuh luka.
Di tengah ruangan, bonsai perak itu perlahan-lahan meredup dan cahayanya masuk kembali ke dalam tubuh Elena yang sedang terbaring di sofa. Elena menghela napas panjang, kulitnya kembali memiliki rona merah muda yang sehat. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit toko yang familiar.
"Kak Reggi?" suara Elena kecil terdengar lirih. "Tadi... Elena mimpi jalan-jalan di kebun kaca yang besar sekali. Tapi Elena haus... mau minum susu cokelat."
Reggiano merangkak mendekat, menggenggam tangan adiknya dengan jemarinya yang masih gemetar. "Iya, Elena. Kakak di sini. Kita sudah di rumah. Susu cokelatnya sebentar lagi dibuatkan."
Seraphine mendekat, ia meletakkan kunci perak Malachai yang kini sudah menghitam di atas meja. "Kalian berhasil. Grand Gardener telah kehilangan cengkeramannya pada realitas ini. Kalian benar-benar sudah kembali."
Caspian, yang tubuhnya kini mulai kembali padat sepenuhnya berkat energi dari bumi, duduk bersandar di kaki meja. Ia mengusap jas birunya yang kini benar-benar hancur.
"Yah... kita kembali," Caspian menghela napas panjang, lalu menatap Reggiano sambil menyeringai lemas. "Tapi Reggi, aku serius. Menara tadi meledak sangat keren. Sayang sekali kau tidak membawa kamera."
Reggiano hanya bisa tersenyum lelah, menatap ke jendela toko di mana fajar yang sesungguhnya mulai muncul di Distrik 7. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, jalur sang Eksekutor tidak lagi menuju kematian, melainkan menuju sebuah pagi yang tenang di sebuah toko roti.
Pertempuran Berakhir. Elena Selamat.
Meskipun musuh besar telah dikalahkan, Reggiano dan Caspian kini harus hidup sebagai manusia biasa yang tetap memiliki rahasia besar.
Pagi itu, suasana di Flower’s Patisserie terasa jauh lebih tenang daripada biasanya, namun ada kejanggalan yang menggantung di udara. Caspian tidak sedang duduk di kursi malasnya yang biasa, melainkan meringkuk di sudut dapur, menatap telapak tangannya dengan raut wajah yang campur aduk antara kagum dan ketakutan.
Reggiano sedang menata roti di etalase ketika ia menyadari bahwa setiap kali Caspian bergerak, bayangannya di lantai tidak mengikuti gerakannya dengan sinkron. Kadang bayangan itu bergerak lebih lambat, kadang menghilang sepenuhnya.
"Caspian," panggil Reggiano sambil meletakkan nampan logam. "Kau sudah diam di sana selama tiga jam. Biasanya kau sudah menghabiskan lima croissant dan mengeluh soal rasa kopi."
Caspian mengangkat kepalanya. Matanya yang biasanya berpendar perak ceria, kini memiliki rona emas redup di bagian pupilnya—warna yang sama dengan energi Menara Arbitrase. "Reggi... aku merasa... aneh. Sangat aneh."
Seraphine masuk dari pintu belakang, membawa nampan berisi teh herbal yang mengepul. Ia meletakkan nampan itu di meja dapur dan menatap Caspian dengan tatapan yang sangat dalam.
"Itu karena kau tidak hanya kehilangan kekuatanmu, Caspian," ucap Seraphine lembut. "Kau baru saja melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh makhluk dimensi mana pun: kau mencuri hukum alam dari sang Penjaga Timbangan."
Harga yang Hilang dan Anugerah yang Berat
Caspian mencoba menjentikkan jarinya untuk memunculkan koin peraknya yang biasa. Alih-alih koin kecil, sebuah ledakan energi murni berbentuk cakram cahaya muncul, menghancurkan satu gelas di dekatnya hingga menjadi debu atom.
"Lihat itu!" seru Caspian panik. "Dulu aku bisa mengontrol setiap inci dimensiku. Sekarang? Rasanya seperti aku mencoba mengendarai naga raksasa dengan seutas benang jahit. Kekuatan lamaku—kemampuanku untuk menyelinap dan bersembunyi—sudah hilang separuhnya. Sebagai gantinya, ada energi kasar yang sangat besar di dalam dadaku."
Seraphine duduk di hadapan Caspian. "Taruhanmu dengan Zadkiel memaksa alam semesta untuk mengakui kecuranganmu sebagai 'kebenaran'. Kau kehilangan separuh kemampuan manipulasimu karena itu adalah 'harga' untuk memenangkan taruhan yang mustahil. Namun, karena kau menang, kau menyerap sisa-sisa otoritas Zadkiel. Kau bukan lagi sekadar Pengelana Dimensi, Caspian. Kau adalah Arbiter Tanpa Mahkota."
Caspian menelan ludah. "Terdengar sangat keren, tapi jujur saja, aku lebih suka kekuatanku yang dulu. Setidaknya dulu aku tidak merasa seolah-olah akan meledak jika aku bersin terlalu keras.
"Masalahnya bukan hanya soal ledakan, Caspian," lanjut Seraphine, wajahnya menjadi serius. "Karena kau sekarang memiliki fragmen kekuatan Arbiter, tubuhmu adalah magnet bagi ketidakteraturan. Kau akan mulai melihat 'retakan' di dunia ini yang tidak dilihat orang lain. Jika kau tidak belajar mengendalikannya, kau akan secara tidak sengaja menarik entitas dari luar batas yang mencari kekuatan itu."
Benar saja, saat Seraphine bicara, sebuah retakan kecil berwarna hitam muncul di udara dekat telinga Caspian. Caspian secara refleks menyentuhnya, dan retakan itu langsung menutup dengan suara seperti petir kecil, membuat seluruh lampu di toko roti berkedip.
Reggiano mendekat, meletakkan tangannya yang kokoh di bahu Caspian. "Kau menyelamatkanku di menara itu. Sekarang giliran kami membantumu. Nona Florence, apa yang harus dia lakukan?
Seraphine mengambil kunci perak Malachai yang sudah menghitam dan meletakkannya di antara mereka. "Caspian, kau harus belajar 'menanam' kekuatan itu, bukan hanya menyimpannya. Kau harus belajar bahasa Yggdrasil. Otoritas yang kau miliki sekarang adalah kekuatan untuk memerintah ruang, bukan hanya melintasi ruang."
Selama sisa hari itu, toko roti ditutup sementara. Di halaman belakang yang tersembunyi, Seraphine mulai membimbing Caspian.
"Tutup matamu," perintah Seraphine. "Jangan coba-coba memunculkan koinmu. Rasakan aliran emas yang ada di pembuluh darahmu. Bayangkan energi itu adalah air yang mengalir ke akar, bukan api yang menghanguskan hutan."
Caspian memejamkan mata, wajahnya berkeringat. "Sangat sulit... rasanya seperti mencoba menahan air bah dengan tangan kosong."
"Fokus, Caspian," suara Seraphine menenangkan. "Kau adalah jembatan sekarang. Kau adalah penyeimbang. Perintahkan ruang di depanmu untuk melunak."
Perlahan, udara di depan Caspian mulai bergetar. Bukannya meledak, udara itu membentuk sebuah bunga mawar yang terbuat dari cahaya emas murni. Bunga itu mekar dengan anggun sebelum menghilang menjadi partikel-partikel cahaya yang kembali masuk ke tubuh Caspian.
"Berhasil..." bisik Caspian, napasnya memburu. "Aku tidak menghancurkan apa pun."
"Itu baru langkah pertama," ucap Seraphine sambil tersenyum tipis. "Tantanganmu selanjutnya adalah tetap menjadi 'Caspian Roosevelt' yang konyol sementara kau memikul kekuatan yang bisa meruntuhkan sebuah sektor. Kau harus menjaga hatimu tetap ringan, karena jika hatimu menjadi seberat kekuatanmu, kau akan menjadi monster yang sama dengan yang kita lawan di menara."
Reggiano yang memperhatikan dari jauh, melemparkan sepotong roti hangat ke arah Caspian. Caspian menangkapnya dengan refleks yang kini jauh lebih cepat dan tajam.
"Masih mau mengeluh soal rasa rotinya, Arbiter?" tanya Reggiano dengan nada menyindir yang akrab.
Caspian menggigit roti itu, matanya berkilat dengan sedikit rasa percaya diri yang kembali. "Rotinya lumayan, Herbert. Tapi dengan kekuatan baruku ini, mungkin aku bisa membuat adonannya mengembang hanya dengan menatapnya."
"Jangan berani-berani mencoba itu di dapurku," ancam Reggiano.
Caspian Memulai Latihannya.
Meskipun kekuatannya kini jauh lebih berbahaya, dengan bimbingan Seraphine dan dukungan Reggiano, ia mulai belajar menguasai takdir barunya. Namun, di luar sana, sisa-sisa Arbiters pasti sudah menyadari bahwa otoritas rekan mereka telah dicuri.