NovelToon NovelToon
After Moon : Sekutu Di Paleside

After Moon : Sekutu Di Paleside

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Murdoc H Guydons

*Update tiap hari*

Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.

Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.

Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.

Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.

Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 - Murka! Amarah di Titik Didih!

Urgon melangkah masuk ke area terbuka depan balai desa. Wajahnya putih pucat, dihiasi seringai amarah yang menakutkan. Matanya yang dingin menyapu isi balai desa yang tak berdinding itu, seolah sedang menimbang-nimbang nyawa mana yang paling manis untuk direnggut terlebih dahulu.

Para warga yang terluka dan ketakutan merintih, mencoba merapatkan diri di balik pilar-pilar kayu yang rapuh.

Namun, satu sosok berdiri menghalanginya.

Fiora nekat, dengan wajah pucat namun mata menyala oleh tekad, melangkah maju. Batonnya aktif dan teracung, kuda-kudanya gemetar namun siap bertarung.

"Jangan coba-coba menyentuh satu orang pun warga Paleside, Bandit Gora!" teriaknya, suaranya bergetar namun lantang.

Urgon berhenti. Ia memiringkan kepalanya, menatap gadis itu dengan geli.

"Hooo... bukankah Kau tawanan dari rombongan pedagang kemarin? Sama seperti Tikus Mien busuk di situ?" ucapnya sembari tetap melangkah maju perlahan.

"Berhenti di situ, Gora!" ancam Fiora, ketakutan memenuhi nadanya.

"Atau apa yang akan kau lakukan, Nona Manis?" cemooh Urgon dengan seringai buas. Tatapannya liar, ibarat kilau cahaya Mist Panther sesaat sebelum menerkam.

"Ini!! Lontaran Tanah!!"

Fiora mengayunkan batonnya. Dua bongkahan tanah keras, lebih besar dari kepalan tinju, melayang cepat ke arah wajah Urgon.

Serangan itu cepat, tapi Urgon lebih mengerikan. Tanpa melambat, ia menepis satu batu dengan pukulan baton santai, dan menghancurkan batu kedua dengan tangan kosongnya.

PRAK!

Bongkahan tanah keras itu pecah berhamburan menjadi debu di depan wajah Urgon. Seringai kemenangan semakin lebar di wajahnya yang seperti setan.

"Bermain pahlawan rupanya..." ucapnya penuh cemooh. "Ingin menyelamatkan warga desamu?! Hahahaha!!!"

Tawa beratnya menggelegar, membuat nyali siapa pun yang mendengarnya menciut. Fiora gentar, kakinya mundur selangkah, tapi ia tetap berdiri menahan rasa takut di dadanya.

Urgon sudah semakin dekat. Jarak tinggal lima meter.

Aku, yang masih terkapar di tanah di luar, hanya bisa menatap ngeri. Setiap ototku menolak untuk bergerak, memprotes setiap perintah dari otakku. Aku hanya bisa menjadi saksi bisu, terperangkap dalam ketidakberdayaanku sendiri.

“Kau ingin menyelamatkan mereka?" bisik Urgon kejam. "Coba selamatkan ini."

Urgon tidak mengarahkan serangannya ke Fiora. Matanya yang kejam tertuju pada target yang lebih mudah, target yang akan menghancurkan semangat semua orang.

Seorang anak kecil yang sedang menangis di samping tandu ibunya yang terluka.

“LONTARAN TANAH!!”

Sebongkah tanah keras yang runcing, lebih besar dari kepala manusia, melesat cepat. Bongkahan proyektil kematian berwarna kelabu itu keluar dari pangkal batonnya dan meluncur membelah udara.

Fiora terbelalak. Ia melayangkan batonnya secepat yang ia bisa, tapi terlalu lambat untuk menangkis.

Di sudut ruangan, Ibu Fiora, yang sejak tadi terbaring lemah, melihat arah serangan itu. Ia melihat tatapan teror di mata anak kecil itu. Dalam sepersekian detik, sakit di tubuhnya lenyap, digantikan oleh naluri seorang ibu.

Dengan kekuatan yang seharusnya tidak ia miliki, Ibu Fiora mendorong tandu tempatnya berbaring sekuat tenaga. Tubuhnya yang rapuh meluncur, menabrak dan mendorong anak kecil itu menjauh dari jalur hantaman.

Waktu seolah membeku. Jantungku serasa berhenti berdetak.

BUGH!

Bongkahan batu tajam itu menghantam punggung Ibu Fiora dengan suara berdebuk yang kering dan memuakkan. Suara benturan keras antara batu dan tulang rusuk yang hancur.

Tubuhnya tersentak seperti boneka kain yang ditarik paksa, lalu jatuh tersungkur tak bergerak di atas lantai balai desa.

Anak itu selamat, hanya terdorong jatuh sambil menangis histeris.

Tapi Ibu Fiora... tak bergerak lagi.

Di tengah keheningan yang tiba-tiba, sebuah jeritan menyayat hati membelah malam.

"IBU!!"

Jeritan Fiora membuat waktu yang seolah berhenti kembali berjalan cepat. Fiora menjatuhkan batonnya. Ia berlari, merangkak, mengabaikan Urgon yang berdiri menjulang. Ia memeluk tubuh ibunya yang terkulai lemas.

"Ibu... Ibu... " bisiknya lirih, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan.

Pemandangan itu...

Dari tempatku terkapar, sesuatu di dalam diriku runtuh.

Perasaan ngeri bercampur amarah yang belum pernah kurasakan sebelumnya meledak. Itu bukan lagi kelelahan atau rasa sakit. Itu adalah keinginan murni untuk membunuh.

Batasan Daya yang kurasakan tadi lenyap. Gelombang energi liar dan panas membanjiri setiap sel tubuhku. Darahku mendidih—betul-betul mendidih.

Aku tidak lagi berpikir. Aku menerjang maju. Tak lagi merasakan sakit, tak lagi memikirkan strategi.

DUAK!!!

Sebuah tendangan keras dari samping kuhantamkan ke lutut Urgon. Bunyi retak tulang terdengar memuaskan. Raksasa itu tertekuk, kehilangan keseimbangan.

"Kau?! Bajingan!!" raung Urgon, matanya melebar karena terkejut melihatku bisa kembali berdiri, bergerak dengan kecepatan yang bahkan melebihi sebelumnya.

Ia mencoba menyerangku. Percy, melihatku kembali bangkit dengan energi baru yang liar, berteriak dari samping, "Terus tekan dia, Zane!"

Percy melepaskan Hembusan Pembelok—Aerocraft Empat—dengan cepat dari berbagai arah. Hembusan angin itu berhasil menciptakan turbulensi udara yang kacau di sekeliling Urgon, membuat gerakan si raksasa yang memang sudah lamban menjadi semakin berat dan tidak stabil.

"Sekarang, Zane!" teriak Percy.

Aku melepaskan gelombang air dari batonku. Tapi air itu aneh. Warnanya bening bergejolak, dan mengeluarkan uap tebal.

SSSSHHH!

Itu air mendidih.

Urgon menjerit saat air itu mengenai kulitnya, melepuh seketika.

"Tebasan Angin!"

Percy tidak membuang waktu. Beberapa bilah udara tajam menghantam punggung Urgon, ia meraung kesakitan. Bilah angin itu merobek pakaiannya, namun hanya meninggalkan bekas merah di kulitnya yang dilindungi Daya-nya yang tebal.

Saat ia berbalik marah ke arah Percy, aku sudah kembali menyerangnya. Tidak ada lagi rapalan formula. Yang ada hanya naluri. Aku melepaskan semburan-semburan air pendek dan kuat seperti pukulan, menghantam wajah dan dadanya.

Serangan air yang kukeluarkan memancarkan hawa panas yang tidak kupahami. Aku membentuk cambuk-cambuk air yang kulecutkan ke kakinya, mencoba membuatnya jatuh. Begitupun Percy, menyerang dengan peluru udara kecil namun bertubi-tubi.

Urgon terpukul mundur dan mencoba menghindar dengan menjauh dari Balai Desa. Ia meraung frustrasi, seperti seekor Beruang Geode yang dikerumuni sekawanan Tawon Angin Silet—setiap serangan kami secara individu mungkin tidak cukup untuk menjatuhkannya, tapi serangan tanpa henti ini jelas membuatnya kewalahan.

Gora itu meraung, berbalik menyerang Percy. "Mati kau, bocah pengganggu!"

Tepat saat ia akan mencapai Percy, aku menembakkan Bor Air amat panas ke bahunya.

Cesss!!

Kulitnya melepuh parah. Ia berbalik lagi padaku, kesal dan kesakitan.

Pertahanan Paleside yang tersisa, melihat kadet senior mereka di atas angin, ikut membantu, menyerang dengan crafting dan benda apa pun untuk mengganggu konsentrasi Urgon lebih jauh.

Kami berhasil mendorongnya mundur ke area yang lebih terbuka di dekat gerbang yang hancur.

"Zane!" teriak Percy, suaranya terdengar jelas di tengah kekacauan. "Hantam dia dengan serangan terkuatmu SEKARANG!"

Percy mengambil kuda-kuda rendah. Ia mengumpulkan seluruh sisa Daya-nya. Wajahnya tegang, pembuluh darah di lehernya menonjol. Ia meneriakkan Rapalan Bait Penuh untuk formula tingkat tinggi.

"KUMPULKAN BADAI DALAM SATU GENGGAMAN... LEPASKAN MERIAM YANG HANCURKAN HARAPAN...”

Angin di sekitar kami berputar gila-gilaan, terhisap ke ujung baton Percy.

“AEROCRAFT SEMBILAN: MERIAM ANGIN!"

Di saat yang sama, aku merasakan kata-kata asing muncul di benakku. Sebuah ilham yang lahir dari puncak kemarahan. Aku belum pernah mengucapkannya seumur hidupku, namun tiga frasa itu terasa begitu alami.

"Air Mendidih... Amarah Membakar... HANGUSKAN SEMUA!"

Dua serangan dahsyat dilepaskan bersamaan.

Dari Percy, sebuah "bola meriam" udara padat melesat dengan siulan yang memekakkan telinga. Dari batonku, menyembur jet uap tekanan tinggi yang berdesis nyaring, begitu panas hingga udara di sekelilingnya tampak berkilauan dan terdistorsi.

"BAJINGAN!!"

Urgon meraung putus asa, dengan bodohnya menembakkan petir tebal untuk menahan serangan kami.

Namun terlambat.

Petir itu berbenturan di udara dengan Meriam Angin Percy dan semburan uap panasku. Sebuah ledakan energi tersebar tak beraturan. Petir itu terkoyak, pecah menjadi puluhan cambuk listrik liar yang menyambar tanpa arah, menghantam dinding rumah, tanah, dan bahkan beberapa banditnya sendiri.

Detik berikutnya, serangan kami menghantam dada Urgon di titik yang sama.

BLAAAAAARRRR!!!

Zirah kulitnya meleleh. Urgon tidak lagi meraung marah, melainkan menjerit kesakitan saat panas yang luar biasa itu membakar tubuhnya.

Urgon terpelanting ke belakang. Tubuhnya terbang, menabrak sisa barikade gerbang dengan bunyi KRAK! yang mengerikan. Tubuh besarnya terperosok di balik patahan-patahan kayu, hingga yang terlihat hanya dua kakinya yang besar terkulai lemas di atas tanah.

Tak bergerak lagi.

Seketika, energiku lenyap. Bak lampu yang mendadak padam, menggelapkan sebuah ruangan.

Aku ambruk bertumpu pada lutut, setiap otot di tubuhku menjerit protes, napasku tersengal hebat. Batonku terlepas dari genggaman. Kekuatan baru itu telah menuntut bayarannya,

Melihat pemimpin monster mereka tumbang dengan cara mengerikan, para bandit terdiam kaget sesaat. Kemudian, mereka kehilangan nyali. Beberapa yang masih mencoba melawan dengan cepat dilumpuhkan oleh para kadet Sentinel. Sebagian besar lari tunggang langgang, menghilang ke dalam kegelapan hutan.

Pertempuran usai.

Namun, keheningan yang datang setelahnya jauh lebih memekakkan telinga daripada semua kebisingan pertarungan tadi.

Tak ada sorak sorai bahagia. Yang ada hanya suara derak api, rintihan luka, dan yang paling menyayat hati... isak tangis Fiora yang tak kunjung berhenti dari dalam balai desa.

Di tengah kehancuran Paleside, kemenangan ini sama sekali tidak terasa seperti kemenangan...

1
Mingyu gf😘
Kurang kerjaan gak tuh😭😭
Mingyu gf😘
Jika memang tidak membutuhkan pendapat setiap orang, untuk apa juga rapar
Wida_Ast Jcy
bagus cerita menarik dan recommended dech
Wida_Ast Jcy
batu itu menyimpan air ya thor sehingga ia bisa menyimpan air sampai bertong tong. apakah memilik kesaktian🤔🤔🤔
Blueberry Solenne
Suara siapa itu, dan karena apa ya dia berteriak, jadi penasaran...
Murdoc H Guydons: Wihii.. langsung lanjut d Episode selanjutnya Kak.. 😬
total 1 replies
Blueberry Solenne
waduh menghambat perjalanan ini, harus bawa sol sepatu kemaa-mana ini bang🤭
Murdoc H Guydons: Hehe.. sepatunya udah jelek Kak.. harus d ganti.. 🤭
total 1 replies
Serena Khanza
semakin bagus ceritanya, ayo semangat lanjut terus thor 💪🏻💪🏻💪🏻
Serena Khanza
kek manalah ya biskuit tapi kek batu 😭😭 tuh gigi gak rontok ya 🤣
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Serena Khanza: oh berarti beneran ada ya real nya ku pikir cuma di fiksi aja 😅
total 2 replies
CACASTAR
ini cerita tentang pemburu hewan sejenis predator, kan ya...
Murdoc H Guydons: Pemburu hewan cuma sebagian kecil Kak,, bahkan cuma worldbuilding ny aja.. konflikny jauh lebih luas Kak.. 😬
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Mungkin mereka lebih sayang sama peliharaannya kali🤭
Murdoc H Guydons: Soalny mau dipake buat kabur Kak.. lagian makanny kan cuma rumput.. 🤭
total 1 replies
Indira Mr
apakah kulit hewan buas dijual belikan
Murdoc H Guydons: Bisa dong Kak.. d olah jadi pakaian biasanya..😬
total 1 replies
Indira Mr
benar lebih baik memikirkan sol sepatu daripada memikirkan hal hal yang beratin pikiran🚀🚀🚀
Murdoc H Guydons: haha.. ga nyampe mikir jauh",, kalo yang urusan yang deket msih bermasalah Kak..😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
mirip anime 👍 genre fantasi petualang
Murdoc H Guydons: Ya.. betul Kak.. rata" anime petualangan mirip sih settingny Kak.. 🤭
total 1 replies
Jing_Jing22
ada visualnya pasti lebih seru/Chuckle/
Murdoc H Guydons: Ada sih.. tapi belum rampung.. kalau udah jadi nanti d posting y Kak.. 😬
total 1 replies
Jing_Jing22
apakah tarker itu detektip??
Jing_Jing22: Ooh, jadi lebih ke arah penjelajah dan peneliti ya Kak?
total 2 replies
Serena Khanza
ini tarker macam kek forum atau organisasi atau kelompok gitu ya
Serena Khanza: oh kayak di game gitu ya aliansi gitu ya
total 2 replies
Wida_Ast Jcy
Lah adiknya hilang ya thor
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. emang premis utamanya nyari adeknya yang hilang Kak.. slow pace banget ya Kak? hehe.. 😅
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
seram amat sich thor gak kebayang wujudnya giman🤔🤔🤔
Murdoc H Guydons: hehe.. iya.. gitu deh Kak.. 🙏🏻
total 1 replies
studibivalvia
kalo domba harusnya lebih lembut lagi ga sih? apalagi kalo domba muda
Murdoc H Guydons: wah saya juga belum riset tentang tekstur daging dombanya sih Kak.. ntar d riset dulu yak.. habis itu kita buat deskripsi detailny d buki 3.. 🤭😀
total 3 replies
studibivalvia
rendang adalah fav akuu 😭
Murdoc H Guydons: d buku 3 nanti, kita bikin deskripsi yg lebih sedap ya...hahaha..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!