“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#33
Suasana canggung itu menyelimuti ruangan yang sempit bernama mobil. Tidak bait ataupun kata yang terdengar selain alunan musik klasik yang diputar.
Rasa gelisah dan tidak nyaman sudah dirasakan gadis itu sejak dia duduk di kursi samping pengemudi.
Ingin bicara, tapi mau berkata apa? Jika diam saja, rasanya aka aneh jika berdua dengan orang lain selama satu jam dan hanya diam.
Ayunda memilih mengambil ponselnya, lalu berselancar di media sosial. Scrol, scrol, scrol, tanpa benar-benar dilihat apa yang dia lihat. Hanya sekilas untuk mengalihkan kejenuhan.
“Aku sudah bicara pada Elang.” Akhirnya si pria membuka pembicaraan.
“Aku mengerti kenapa dia bersikap seperti itu.”
“Hmmm.” Hanya itu jawaban dari ayunda. Lalu dia menoleh ke arah kaca dan melihat jauh keluar.
“Tidak ada tuntutan lain, jangan merasa terbeban dengan apa yang pernah aku utarakan. Kita jalan layaknya teman saja.”
“Ya. Itu lebih baik.”
“Ada apa?” Alex merasa aneh dengan sikap ayunda yang tidak seperti biasanya.
“Tidak ada apa-apa.”
Alex tidak bertanya lagi karena dia tahu jika Ayunda sedang dalam kondisi yang tidak baik untuk terus diajak bicara. Dia memberikan waktu untuk Ayunda bisa menenangkan hatinya yang sedang gelisah entah karena apa.
Perjalanan mereka sampai di gerbang kampus ayunda.
“Ada apa?” Tanya Alex saat ayunda terlihat kesulitan membuka pengait sabuk pengaman.
“Ini, susah banget kenapa sih?” Ujarnya sedikit kesal.
Tanpa diminta, Alex mencondongkan badan nya melewati wajah ayunda untuk membantu gadis itu membuka sabuk pengaman.
Sontak ayunda menahan nafas karena terkejut. Bagaimana tidak, pipi Alex kini tepat berada di hadapan nya. Dia bahkan bisa mencium aroma tubuh pria tersebut. Bisa mencium berapa wangi nya rambut Alex.
Tanpa merasa bersalah, Alex kembali ke tempat duduknya. Membiarkan Ayunda yang masih terkejut atas apa yang baru saja terjadi.
“Ada apa?” Tanya Alex saat melihat ayunda membeku.
“Nggak,” jawabnya terbata.
“Aku turun ya, Kak. Makasih udah nganterin.”
“Sama-sama.”
Ayunda membuka tuas pintu mobil, lalu keluar.
“Hati-hati, Kak.” Ayunda melambaikan tangannya. Alex membalas dengan senyuman, lalu dia pergi meninggalkan ayunda.
Setelah mobil Alex benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi oleh mata, barulah ayunda membalikkan badan dan berjalan menuju kelas.
“Eh, udah nyampe aja.”
“Hmmm.”
“Kenapa sih? Pagi-pagi udah bete aja,” tanya Areta.
“Gak apa-apa.”
“Marah ya sama aku gara-gara Rehan?” Tanya Silvia.
“Nggak marah sama kamu, tapi sama orang itu, iya.”
“Dia emang lemes dari dulu anaknya. Sorry ya. Aku janji kalau mau pergi gak akan ajak dia lagi.”
“Lebih baik jangan ajak aku aja. Udah gak bisa. Aku dilarang ikut ke manapun jika sama temen pria.”
“Eh, kamu serius pacaran sama Bang Alex?” Tanya Silvia penasaran.
Ayunda menghela nafas sebelum dia membenamkan wajahnya di atas kursi.
“Tau gak, aku sama Kelan beneran kaget loh Bang Alex ternyata suka sama kamu. Maksdunya tuh, ya gimana ya. Sejak dia kehilangan anak istrinya kayaknya dia menarik diri dari dunia. Boro-boro mau jatuh cinta sama cewek, deket aja tuh nggak. Dia bener-bener membatasi diri sama cewek lain. Bangga banget sih aku jadi kamu. Mana dari segi tampang, sama duit dia tuh idaman banget gak sih. Hahaha.”
Ayunda kembali duduk, lalu menoleh pada Silvia.
“Jujur sih, aku iri sama kamu. Bisa menaklukan hati seorang Alex Gunawan Radinata. Si pewaris tunggal,” ujar Silvia berbinar.
Mendengar ucapan Silvia, timbul rasa bangga karena dia terpilih sebagai perempuan yang disukai pria dingin seperti Alex. Dia merasa bahwa dirinya adalah wanita beruntung.
Tiba-tiba suasana hatunya berubah drastis. Dia yang awalnya bingung, skeptis dan marah tak karuan, kini menjadi berbunga-bunga. Ditambah lagi saat dia membuka ponsel dan membaca chat dari Alex.
[Aku ingin menjadi alasan kamu tersenyum setiap hari]
Ayunda tersenyum membaca chat dari Alex.
[aku udah senyum membaca chat dari kakak]
Tidak ada balasan lagi dari Alex meski ayunda berharap lebih dari itu. Tapi baginya, chat singkat itu membuat mood dia berubah menjadi sangat baik hari itu.
“Mau makan apa kita?” Tanya Areta saat ada waktu luang setelah setengah hari berkutat dengan materi.
“Yunda!”
Areta, Silvia dan Ayunda yang sedang berjalan di lorong, langsung menoleh secara bersamaan.
“Sri.”
“Udah kuliahnya? Mau ke mana?”
“Mau nyari makan tapi bingung mau makan apa.”
“Pas banget. Mela udah nunggu di belakang. Kita makan di warung Bu Ijah. Mau?”
“Ayo, aku sih mau. Tapi ….” Ayunda melirik Areta dan Silvia. Dia takut kedua teman nya enggan makan di sana, kantin kecil tempatnya dan Sri juga Mela makan. Sementara Areta dan Silvia selalu makan di tempat yang lebih bagus dan mahal.
“Kenapa, Yunda?” Tanya Areta.
“Itu tempat kecil dan ya, tau sendiri. Aku tidak yakin kalian mau makan di sana.”
“Oh, ya udah gak apa-apa kalau kamu mau pergi sama mereka. Aku dan areta ke tempat lain aja. Kita ketemu di kelas nanti ya.”
Ayunda mengangguk.
Mereka berpisah di lorong. Ayunda bersama Sri, Silvia dan Areta pergi ke tempat lain.
“Temen kelas kamu itu emang nya mau pada makan di mana?”
“Kalau gak di kantin yang di depan itu, mereka pergi ke kafe. Biasanya barengan sama anak teknik, temen mereka pas sma.”
“Oh, yang waktu itu kamu pergi sama mereka terus kamu bilang ada cowok ombreng?”
Ayunda mengangguk sambil cekikikan.
“Habbit, susah ya diubah.”
“Apa maksudnya, Vi?”
“Ya, kebiasaan apapun itu akan sangat susah diubah. Termasuk selera dalam hal apapun termasuk makanan,” ujarnya sambil melenggang angkuh. Areta mengerutkan keningnya karena tidak memahami ucapan teman nya itu.
“Ah, itu maksdunya?” Gumam areta setelah mengerti apa dan siapa yang dibicarakan oleh Silvia. Areta menoleh ke belakang, dia melihat ayunda dan Sri berjalan sambil tertawa, mereka terlihat bahagia.