NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhadapan dengan Kekuasaan

Di lapak sederhana pinggir pasar, aroma gurih menyebar menggoda selera.

Kinar Hidayat mengaduk adonan sate baso ikan goreng di wajan besar, sementara toples-toples kaca berisi kerupuk tulang ikan dagangannya sudah mulai kosong.

Resep rahasia Kinar memang tiada duanya; gurihnya pas, tidak amis, dan bikin nagih. Biarpun ada pedagang lain yang coba-coba meniru, pelanggan tetap kembali ke lapak Kinar.

Lewat tengah hari, dagangan itu biasanya sudah ludes.

"Eh, Adik Manis, lagi makan apa itu?" tanya seorang gadis muda, matanya tertuju pada bocah perempuan yang duduk anteng di bangku kecil di sebelah gerobak.

Itu Sri Lestari, atau yang akrab dipanggil Tari.

Wajahnya pucat namun memancarkan ketenangan yang ganjil.

Di tangannya ada potongan dendeng sapi.

Tari menyodorkan satu potong dendeng ke arah gadis itu sambil tersenyum lebar.

"Mbak mau? Ini buatan Ibu. Belum dijual, soalnya Ibu bilang rasanya belum sempurna. Nanti kalau sudah pas, baru mau dijual bareng baso ikan."

Gadis itu tersipu, lalu menerima dendeng tersebut.

"Wah, makasih ya, Dik."

Tari menatap wajah gadis itu lekat-lekat.

Tiba-tiba, mata bening Tari seolah menangkap bayangan kelabu di sekitar kening si gadis.

"Mbak," panggil Tari tiba-tiba, suaranya terdengar lebih dewasa dari usianya yang baru lima tahun.

"Mbak pembeli ke-299 hari ini. Sebagai hadiah, aku boleh kasih ramalan gratis. Mbak lagi bingung cari barang yang hilang, ya?"

Gadis itu terperanjat.

Senyum di wajahnya lenyap, berganti ekspresi kaget bercampur sedih.

"Kok... kok kamu tahu, Dik?"

Dia memang kehilangan kalung emas kesayangannya.

Di tengah keramaian pasar, dia tidak berani menuduh sembarangan, apalagi dia curiga pelakunya adalah orang dekat.

Orang-orang pasar memang sering bilang anak kecil Kinar ini punya "mulut asin", ucapannya sering jadi kenyataan.

Tari mengunyah dendengnya pelan, lalu berkata dengan nada polos,

"Barangnya masih bisa balik, kok. Firasat Mbak itu benar, memang diambil orang lain. Coba Mbak cari di kotak baju temannya itu. Kalau Mbak nggak cari sekarang, nanti juga bakal ketemu sendiri beberapa tahun lagi, tapi selama nunggu waktu itu, hati Mbak bakal lebih sakit. Lagian, teman yang suka ambil barang orang diam-diam itu nggak pantas dijadikan sahabat."

Saat Tari berbicara, gadis itu merasakan dadanya yang sesak mendadak lega, seolah ada angin sejuk yang meniup pergi kecemasannya.

Gadis itu mengangguk mantap.

Hatinya yang bimbang kini jadi teguh.

Dia sudah menganggap temannya itu saudara sendiri, tapi kalau sampai mencuri, itu sudah keterlaluan. Daripada dia makan hati karena sungkan, lebih baik dia pastikan sekarang.

"Makasih ya, Dik Tari. Mbak jadi tahu harus ngapain sekarang."

Gadis itu membayar belanjaannya dan pergi dengan langkah cepat.

Setelah dagangan habis dan lapak dibersihkan, Kinar menoleh pada Abah Kosasih dan Tari.

"Abah, Nduk, kalian tunggu di sini sebentar ya. Ibu mau ke apotek dulu nebus obat buat Tari," ujar Kinar sambil mengusap keringat di dahinya.

Abah Kosasih yang sedang membereskan terpal mengangguk.

"Iya, hati-hati, Nar."

Tari menatap punggung ibunya dengan pandangan sendu.

Dia tahu ibunya lelah, dan dia bisa merasakan aura hitam pekat yang mengadang langkah ibunya di kejauhan.

Kinar berjalan menuju Apotek "Sehat Sentosa", apotek terbesar di kota kabupaten itu.

Dia sudah memesan racikan obat khusus untuk Tari beberapa hari lalu.

Seharusnya hari ini sudah siap.

Namun, begitu Kinar masuk, asisten apoteker yang biasanya ramah mendadak salah tingkah.

"Bu Kinar... sudah datang rupanya," sapa pemuda itu canggung.

Kinar tersenyum tipis, meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah di meja kaca.

"Iya, Mas. Saya mau ambil pesanan obat anak saya. Seperti biasa, ya."

Pemuda itu tidak mengambil uangnya.

Dia malah menarik Kinar sedikit menjauh dari loket, wajahnya pias.

"Bu Kinar, maaf... maaf sekali. Kami nggak bisa buatkan obatnya."

"Maksudnya gimana, Mas?" Kinar mengernyit.

Jantungnya mulai berdegup kencang.

"Pak Suryo... Beliau sudah kasih peringatan keras," bisik pemuda itu takut-takut.

"Katanya kalau kami berani melayani Ibu atau meracikkan obat buat anak Ibu, izin apotek ini bakal dicabut. Ibu tahu sendiri kan, Pak Suryo sekarang pejabat teras, koneksinya sampai ke pusat..."

Dunia Kinar rasanya runtuh seketika.

Lututnya lemas.

"Mas... anak saya butuh obat itu," suara Kinar bergetar.

"Saya ngerti, Bu. Tapi kami cuma pegawai. Kami nggak berani lawan orang besar," pemuda itu menunduk.

"Saran saya... Ibu baikan saja sama Pak Suryo. Kasihan anaknya."

Kinar terdiam, menahan gemuruh di dadanya.

Orang kecil memang selalu kalah kalau berhadapan dengan kekuasaan.

Dia menarik napas panjang, berusaha tidak menangis di tempat umum.

"Baik, Mas. Saya mengerti. Terima kasih sudah memberitahu."

Kinar keluar dari apotek dengan langkah gontai.

Matahari sore terasa menyengat, tapi hatinya dingin.

Suryo Wibowo, mantan suaminya itu, benar-benar ingin memojokkannya. Perceraian mereka yang menghebohkan, di mana Kinar memilih pergi dan membawa Tari, ternyata belum memuaskan ego lelaki itu.

Kinar mencoba ke apotek lain, menyusuri jalanan kota kabupaten yang mulai ramai oleh angkot dan becak.

Tapi hasilnya nihil.

Begitu menyebut nama resep atau namanya, semua apoteker menggeleng takut. Tangan kekuasaan Suryo telah mencengkeram seluruh kota ini.

Dengan hati hancur, Kinar berjalan pulang menuju pasar.

Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mengkilap, mobil mewah yang jarang terlihat di kota kecil itu, memotong jalannya dan berhenti mendadak.

Kaca jendela belakang turun perlahan.

Menampilkan wajah Suryo Wibowo yang licin dan angkuh.

Dia sudah mendapat laporan dari mata-matanya di apotek. Dia sengaja datang untuk melihat Kinar mengemis.

"Kinar," suara Suryo terdengar berat dan meremehkan.

"Sudahlah, jangan keras kepala. Kembalikan Tari ke rumah. Namanya bukan Sri Lestari, dia itu Sulastri Wibowo. Tempatnya di rumah gedong, bukan di gubuk reyot bapakmu."

Sejak Tari dibawa pergi Kinar, bisnisnya mulai seret.

Beberapa tender proyek gagal gol.

Dia butuh "jimat" keberuntungannya kembali. Dia butuh Tari di rumah untuk menyerap energi keberuntungannya, meski itu membuat anaknya sakit-sakitan.

Kinar menatap mantan suaminya dengan nyalang.

"Tuan Suryo yang terhormat, jangan mimpi. Tari anak saya. Dia bukan alat buat melancarkan bisnismu. Sampai mati pun saya nggak akan biarkan dia jadi tumbal keserakahanmu lagi!"

"Kamu..." Suryo mendengus kasar.

"Asal kamu tahu, di kota ini, nggak ada yang berani jual obat buat anak pesakitan itu kalau aku nggak kasih izin."

Kinar tersenyum sinis, meski tangannya gemetar menahan amarah.

"Saya dengar Tuan mau nikah lagi sama anak juragan dari Jakarta? Apa calon istrimu itu tahu kalau calon suaminya ini tega menelantarkan anak kandung sendiri? Kamu campakkan aku yang nemenin kamu dari nol demi wanita yang lebih kaya. Siapa yang jamin kalau nanti kamu lebih kaya lagi, kamu nggak bakal buang dia juga?"

"Kurang ajar! Mulutmu itu minta disekolahin ya!" bentak Suryo.

Wajahnya memerah padam.

Kalau bukan karena mereka di pinggir jalan ramai, mungkin dia sudah turun tangan.

"Nggak usah repot-repot," potong Kinar dingin, lalu berbalik pergi meninggalkan mobil mewah itu.

Suryo menatap punggung Kinar dengan tatapan membunuh.

Dia kira wanita kampung ini akan menyerah setelah dipersulit.

Ternyata Kinar makin nekat.

"Baik," desis Suryo sambil memberi isyarat pada sopirnya untuk jalan.

"Kita lihat seberapa kuat kau bertahan tanpa obat."

Abah Kosasih sudah membereskan semua perlengkapan dagang ke atas mobil bak terbuka sewaan tetangga desa yang kebetulan lewat.

Melihat Kinar kembali dengan wajah keruh, dia hanya bertanya singkat.

"Sudah beres, Nar?"

"Sudah, Bah," jawab Kinar lirih.

Dia menunduk, tak berani menatap mata ayahnya.

Abah Kosasih adalah orang tua yang peka; Kinar takut kesedihannya terbaca.

"Ya sudah, ayo naik. Tari sudah tidur."

Di bak belakang mobil pick-up itu, Kinar duduk memeluk Tari yang tertidur pulas beralaskan karung beras kosong.

Mobil melaju menembus jalanan desa yang mulai gelap.

Kinar membelai rambut tipis anaknya yang keringat dingin.

Ada rasa sakit yang menusuk dada Kinar.

Tari anak yang istimewa.

Setiap kali Kinar sedih, Tari seolah tahu. Bahkan saat ini, dalam tidurnya, tangan mungil Tari menggenggam jari Kinar erat sekali, seakan menyalurkan kekuatan.

Sesampainya di rumah panggung kayu milik Abah Kosasih, suasana desa sudah sepi.

Suara jangkrik bersahutan.

Malam itu, setelah Tari dipindahkan ke kamar dan tertidur lelap ditemani Mak Sari, suasana di ruang tengah terasa tegang.

Lampu petromak mendesis pelan, menciptakan bayang-bayang panjang di dinding anyaman bambu.

Tok! Tok!

Pintu kamar Kinar diketuk.

"Nar, keluar sebentar. Ke ruang tengah," suara Mak Sari terdengar lembut.

Kinar bangkit.

Di ruang tengah, Abah Kosasih, Mak Sari, Kang Jaka, dan istrinya, Mira, sudah berkumpul.

"Ada apa, Bah? Kok serius banget?" tanya Kang Jaka sambil membetulkan sarungnya.

Mira menyenggol lengan suaminya.

"Sst, jangan berisik."

Abah Kosasih menatap Kinar tajam tapi teduh.

"Nar, jujur sama Abah. Tadi siang kamu nggak dapat obatnya, kan?"

Kinar tersentak.

Pertahanan dirinya runtuh.

"Abah tahu?"

"Abah lihat mukamu tadi. Ceritakan, apa ulah Suryo lagi?"

Kinar mengangguk lemah, air matanya tumpah.

"Iya, Bah. Suryo blokir semua apotek di kabupaten. Nggak ada yang berani jual obat buat Tari. Dia mau maksa kita nyerah biar Tari balik ke sana."

"Dasar Lanangan nggak punya hati!" Kang Jaka menggebrak meja, membuat cangkir teh berdenting.

"Anak sendiri sakit malah dijadikan mainan! Kalau ketemu, tak sikat dia!"

Mira mengelus punggung suaminya.

"Sabar, Kang. Marah-marah nggak nyelesein masalah."

"Tapi ini keterlaluan, Mir! Dia mau bunuh ponakanku pelan-pelan!" Kang Jaka masih berapi-api.

Mak Sari menyeka sudut matanya dengan ujung kebaya.

"Ya Allah... dulu aku nyesel bolehin kamu nikah sama dia, Nar. Kirain bakal mulia, malah jadi begini. Hati mereka itu terbuat dari apa sih?"

Abah Kosasih mengangkat tangan, meminta ketenangan.

"Sudah. Marah nggak ada gunanya. Suryo berkuasa di kabupaten ini, tapi tangannya nggak sampai ke langit. Dia cuma Pejabat Daerah, bukan Presiden."

Abah menatap anak-anaknya.

"Kalau di sini diblokir, kita cari di tempat lain. Kota Sebelah, Malang atau Blitar, itu sudah beda wilayah kekuasaan. Suryo nggak bakal bisa ngatur apotek di sana."

Kinar mengangkat wajahnya.

"Tapi Bah, jaraknya jauh..."

"Biar aku yang pergi," potong Kang Jaka tegas.

Wajahnya yang tadi merah karena marah kini berubah serius penuh tekad.

"Besok subuh aku berangkat. Aku bawa si Jantur," kata Jaka.

"Pakai Jantur bisa potong jalan lewat bukit. Kalau lancar, sore aku sudah sampai perbatasan kota sebelah. Lusa aku sudah balik bawa obat," lanjut Jaka.

Dia sudah menghitung rutenya di kepala.

"Kang... itu bahaya. Lewat bukit sendirian..." Kinar khawatir.

"Tenang aja, Nar. Kakakmu ini biarpun tampangnya begini, tahu jalan. Kita ini keluarga. Tari itu keponakanku, cucu Abah. Kita nggak bakal biarin dia diambil lagi sama orang gila itu."

Mira menggenggam tangan Kinar, menguatkan.

"Bener kata kakakmu," Abah Kosasih memutuskan.

"Besok Jaka berangkat. Nar, kamu kasih uang dan resepnya ke Jaka."

Kinar terisak haru.

"Makasih, Kang, Mbak Mira, Abah, Mak... Kinar nggak tahu mesti gimana kalau nggak ada kalian."

"Hush, sesama keluarga nggak usah hitung-hitungan," kata Mak Sari sambil memeluk putrinya.

Kinar menyerahkan amplop berisi uang dan kertas resep lusuh kepada Kang Jaka.

Jaka menerimanya dan memasukkannya ke balik peci, lalu menepuknya pelan.

"Tenang aja. Uang ini aman. Nyawa taruhannya. Selama aku masih napas, obat ini bakal sampai ke Tari. Kalau duit ini hilang, berarti aku ma..."

"Peh! Peh! Peh!" Mak Sari memotong cepat, meludah ke samping tiga kali.

"Amit-amit jabang bayi! Jangan ngomong sembarangan pamali malam-malam begini!"

Kang Jaka nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Iya, Mak. Maksudnya saking seriusnya."

"Tiru Mak, bilang peh peh peh tiga kali buat buang sial!" perintah Mak Sari galak.

Kang Jaka menurut, menirukan ibunya meludah ke samping.

"Peh, peh, peh. Sial pergi, rejeki datang, Tari sembuh."

Di kamar sebelah, dalam tidurnya yang lelap, Tari tersenyum tipis.

Seolah dia tahu, meski badai menghadang, akar keluarganya terlalu kuat untuk dicabut.

Dan entah bagaimana, kaki si Jantur di kandang belakang terasa dialiri hangat yang menyembuhkan, siap untuk perjalanan panjang esok hari.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!