Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Pagi itu, koridor fakultas desain tampak lebih hidup. Leonor berjalan dengan kepercayaan diri yang baru. Ia mengenakan celana kulit high-waist hitam yang dipadukan dengan atasan corset denim hasil rancangannya sendiri, serta sepatu bot runcing yang memberikan kesan jenjang.
Rambutnya ditata sleek ke belakang, memamerkan garis rahangnya yang tegas. Efek dicintai dan dirawat oleh Edgar benar-benar terpancar dari kulitnya yang kini tampak lebih sehat dan segar.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti saat seorang gadis cantik dengan gaun bodycon merah menyala, yang tampak sangat tidak nyaman namun sangat wah menghampirinya dengan mata berbinar.
"Leo! Astaga, kau terlihat sangat keren hari ini!" seru Aurora.
Aurora langsung mengeluarkan ponsel model terbaru miliknya. Tanpa permisi, ia merangkul bahu Leonor dan mulai mengambil beberapa foto selfie. "Diam sebentar, jangan pasang wajah galakmu itu. Aku ingin memamerkan pada pengikutku bahwa kakak ku adalah desainer paling modis di kampus ini."
Leonor hanya bisa pasrah, sedikit tersenyum tipis ke arah kamera. Setelah beberapa jepretan, Aurora menatap layar ponselnya dengan tatapan iri yang tak bisa disembunyikan.
"Kau tahu, Leo? Style-mu ini adalah impianku. Aku benci harus memakai baju seksi dan ketat seperti ini setiap hari hanya untuk menyenangkan mata agen dan Ayah. Aku ingin sekali memakai celana longgar dan baju crop seperti yang sering kau pakai, tapi kau tahu kan... Ayah akan membunuhku jika aku tidak terlihat seperti boneka pajangan," bisik Aurora pelan, nada suaranya terdengar sedih di balik riasan wajahnya yang tebal.
Leonor menepuk bahu adiknya. "Suatu saat nanti, kau akan punya panggungmu sendiri, Ra. Di mana kau bisa memakai apa pun yang kau mau."
Aurora kemudian merendahkan suaranya, matanya menatap Leonor dengan penuh selidik. "Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana dua minggu ini? Ayah mulai bertanya-tanya meski dia pura-pura tidak peduli. Kau tidak pulang ke mansion sama sekali."
Leonor menarik napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa berbohong selamanya pada Aurora. "Aku tinggal dengan kekasihku, Ra."
Mata Aurora membelalak sempurna. Ia hampir saja berteriak jika Leonor tidak segera menutup mulutnya. "Wooahhh! Serius? Siapa pria beruntung atau malah malang itu? Apa dia pangeran berkuda putih?"
Aurora tertawa kencang, lalu menyikut lengan Leonor dengan gaya menggoda. "Tapi dengar ya, Kakakku sayang... kau harus berhati-hati. Kau harus memakai pengaman, oke? Aku tidak mau keponakanku lahir saat aku sendiri bahkan belum memiliki kekasih! Itu akan sangat tidak adil bagi kecantikanku!"
Leonor memutar bola matanya, wajahnya memerah mendengar nasihat dari adiknya itu. "Kau bicara apa, sih? Tidak ada keponakan dalam waktu dekat, Ra. Tenang saja."
"Baguslah kalau begitu," Aurora kembali ceria. Ia merogoh tasnya. "Apa kau punya uang? Aku tahu Ayah tidak memberimu sepeser pun bulan ini sebagai hukuman karena kau tidak pulang."
"Tenang, Au. Aku punya uang. Kekasihku... dia cukup bisa diandalkan," jawab Leonor lembut.
Aurora tersenyum lega. "Baiklah kalau begitu. Aku harus pergi, ada kelas akting. Ingat pesanku tadi ya!" Aurora melambai dan berlari menjauh.
Sebenarnya, Aurora adalah satu-satunya orang di keluarga Gonzales yang benar-benar menyayangi Leonor. Ia tidak memiliki dendam, meski ia tahu David Gonzales selalu membanding-bandingkan mereka. Satu-satunya alasan mereka jarang bicara adalah karena David melarang keras Aurora bergaul dengan Leonor, takut jika aura pemberontak Leonor menular pada anak emasnya itu.
Di sudut kantin yang tak jauh dari sana, Edgar duduk bersama Clark dan Jackson. Matanya tidak pernah lepas dari sosok Leonor yang baru saja berbicara dengan Aurora. Ia melihat bagaimana Leonor tertawa tipis dan bagaimana Aurora menggoda kakaknya.
Edgar segera meraih ponselnya. Getaran pertama langsung dirasakan Leonor di saku celananya.
Edgar: Kalian bicara apa? Serius sekali sampai ada acara peluk-pelukan begitu? Apa kau sedang membicarakan nama untuk baby kita dengan bibinya?
Leonor membaca pesan itu dan tanpa sadar mendengus geli. Ia melihat ke arah kantin dan mendapati Edgar sedang menatapnya sambil menyesap kopi dengan gaya angkuh, namun tangannya sibuk mengetik.
Leonor: Berhenti memata-matai ku, Edgar. Dan berhenti membawa-bawa baby itu. Kau benar-benar merusak reputasi mu sendiri.
Namun, Edgar tidak berhenti. Sepanjang hari itu, ponsel Leonor tidak berhenti bergetar. Pesan-pesan dari Edgar masuk bertubi-tubi seperti teror cinta yang konyol.
Edgar (Pukul 11.00): Istriku, apa baby kita tidak rewel hari ini? Kau tidak merasa mual lagi kan? Kalau mual, segera telpon suamimu ini. Aku akan meninggalkan rapat fakultas untukmu.
Edgar (Pukul 12.30): Istriku, Suamimu merindukanmu. Sangat merindukanmu. Rasanya sudah satu abad sejak kita berpelukan di sofa tadi pagi. Kau di mana sekarang? Kenapa tidak ke kantin? Aku sudah memesankan makanan favoritmu.
Edgar (Pukul 14.00): Hari ini anak Daddy rewel nggak? Apa dia ingin makan es krim atau ingin Daddy-nya segera pulang untuk memeluk Mommy-nya? Balas pesanku, Kaia! Atau aku akan masuk ke studionya sekarang juga.
Leonor yang sedang sibuk memotong pola kain di studio akhirnya menyerah. Ia duduk di kursi, wajahnya panas karena menahan senyum dan malu secara bersamaan.
Teman-teman desainer di sekitarnya mulai bertanya-tanya kenapa Leonor terus-menerus melihat ponsel sambil senyum-senyum sendiri.
Leonor: Edgar, aku sedang bekerja! Berhenti mengirim pesan setiap sepuluh menit. Kau membuatku tidak fokus. Dan tidak, anakmu tidak rewel karena dia memang tidak ada! Berhenti menjadi alay atau aku akan mengunci pintu apartemen malam ini.
Edgar: Oh, ancaman yang sangat menakutkan. Tapi aku tahu kau tidak akan tega membiarkan suamimu tidur di luar sementara kau merindukan pelukanku. Cepat selesaikan jahitannya. Aku akan menjemputmu jam 5. Jangan telat, atau aku akan menciummu di depan gerbang kampus agar semua orang tahu siapa Daddy dari anak-anakmu kelak.
Leonor meletakkan ponselnya dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Dia benar-benar sudah gila," gumamnya.
Namun, di balik semua komplain itu, Leonor merasa sangat penuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki seseorang yang selalu mencarinya, yang selalu peduli apakah dia sudah makan atau belum, dan seseorang yang meski dengan cara yang sangat konyol selalu merencanakan masa depan bersamanya.
Dunia mungkin masih melihat mereka sebagai musuh yang asing, tapi bagi Leonor, teror pesan dari suami alay nya itu adalah lagu paling indah yang pernah ia dengar di tengah kerasnya hidup.
🌷🌷🌷🌷
happy reading dear 🥰