Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Suasana di depan ruang gawat darurat The Vault Clinic terasa begitu dingin. Bradley duduk di kursi tunggu kayu dengan bahu yang merosot. Ia tidak lagi peduli dengan luka di punggungnya yang mungkin kembali terbuka.
Pandangannya kosong, tertuju pada telapak tangannya yang kini sudah mengering, namun noda merah dari darah Megan masih tersisa di sela-sela kuku dan garis tangannya.
Ia belum membasuhnya. Seolah dengan membasuh darah itu, ia akan kehilangan sisa-sisa benihnya yang mungkin baru saja luruh.
Peter berdiri di kejauhan, tidak berani mendekat. Ia belum pernah melihat tuannya sehancur ini, bahkan tidak saat mereka diserang di London. Bradley yang ia kenal adalah batu karang, namun pria yang duduk di depannya saat ini tak lebih dari seonggok raga yang jiwanya sedang dipertaruhkan di balik pintu IGD.
"Tuan... minumlah," ucap Peter pelan sambil menyodorkan botol air mineral.
Bradley tidak bergerak. Suaranya keluar dengan parau, nyaris seperti bisikan setan yang terluka. "Dia mengutuknya, Pet. Megan mengutuk janin itu tepat di depan wajahku. Dan sekarang... kutukannya menjadi kenyataan."
Peter terdiam. Ia tahu apa yang Bradley rasakan rasa bersalah yang menghujam ulu hati.
"Darah di tanganku ini... ini adalah hukuman untukku karena telah merampas dunianya," lanjut Bradley, suaranya bergetar. "Jika bayi itu pergi, aku tidak akan pernah memaafkannya... aku juga tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
***
Pintu ruang tindakan terbuka perlahan. dr. Clara melangkah keluar dengan raut wajah lesu yang tak bisa disembunyikan. Bradley yang sejak tadi gelisah langsung bangkit, mengabaikan rasa sakit yang menghujam punggungnya.
"Clara! Katakan padaku... bagaimana keadaan istriku?" tuntut Bradley, suaranya parau oleh kecemasan.
"Istri? Kau benar-benar gila, Brown," Clara menatap Bradley dengan kilat kemarahan di balik kacamatanya. "Kau tahu? Dia hampir kehilangan janinnya, bahkan nyawanya sendiri. Dan aku yakin seratus persen, ini semua karena kegilaanmu! Dia baru saja menyelamatkan nyawamu semalam, merelakan darahnya, mengabaikan keselamatannya sendiri demi pria sepertimu... dan ini balasanmu?"
Bradley mengusap wajahnya kasar, frustrasinya memuncak. "Aku tidak butuh khotbahmu, Clara! Katakan saja bagaimana keadaan Nora!"
"Dia Megan. Bukan Nora!" koreksi Clara tajam. Ia menghela napas berat sebelum melanjutkan. "Dia belum siuman. Aku berhasil menyelamatkan bayinya, tapi kondisinya sangat lemah. Dia tidak boleh stres sedikit pun. Dia harus bedrest jika kau ingin janin itu selamat."
Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di sudut hati Bradley, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. "Apa aku bisa melihatnya?"
"Kalau aku bilang tidak, kau akan tetap mendobrak masuk, kan?" Clara menatap Bradley dengan peringatan keras. "Masuklah. Tapi tolong, tekan egomu. Jika bayi itu benar-benar berarti bagimu, jaga sikapmu. Jangan buat dia stres lagi."
Bradley hanya mengangguk samar, meski ia sendiri tak yakin bisa mengontrol badai di dalam dadanya. Ia melangkah masuk, mendapati Megan terbaring pucat dengan selang oksigen masih terpasang.
Bradley berjalan menuju wastafel, membasuh sisa darah Megan di tangannya, lalu duduk di sisi brankar. Ia menggenggam tangan Megan yang terasa dingin, lalu menciumnya lama.
"Meg... kenapa kau lebih memilih jalan ini daripada tetap bersamaku? Apa aku seburuk itu di matamu?" bisiknya lirih.
Ada rasa bersalah yang menusuk ulu hatinya. Dialah penyebab semua kehancuran ini. Saat ia membelai wajah Megan, wanita itu perlahan membuka mata, mungkin karena pengaruh bius yang mulai memudar.
"Kau..." desis Megan lemah. Begitu melihat wajah Bradley, matanya kembali menyala oleh kebencian. "Kenapa kau di sini, Brown? Pergi! Aku muak melihatmu!"
"Aku hanya memastikan bayiku selamat, Meg. Tolong... jangan sakiti dia. Dia tidak bersalah," ucap Bradley, suaranya lembut, sesuatu yang sangat langka.
Megan memalingkan wajah, air mata mengalir di sudut matanya. "Sudah kukatakan, aku tidak sudi. Kehadirannya hanya akan terus mengingatkanku pada pria yang merampas masa depanku."
"Tenanglah, Meg. Kau butuh istirahat."
Megan memaksakan diri untuk duduk, menatap Bradley dengan tatapan tajam. "Aku akan menjaga bayi ini, tapi dengan satu syarat."
"Katakan."
"Begitu dia lahir... izinkan aku pergi."
Rahang Bradley mengeras seketika. "Jangan meminta sesuatu yang mustahil untuk kukabulkan, Meg. Masa depanmu adalah bersamaku. Menjadi istriku, dan menjadi ibu dari anak-anakku!"
"Aku menyesal tidak membunuhmu semalam!" teriak Megan frustrasi. Dengan gerakan nekat, ia meraih jarum infus di tangannya, berniat mencabutnya paksa.
"Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri, Meg!" Bradley dengan sigap menangkap tangan Megan, menahannya dengan kekuatan yang tak bisa dilawan.
"Kau yang membuatku begini!" Megan meronta, namun Bradley justru menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. Ia mendekap tubuh Megan, mengunci pergerakannya agar wanita itu tidak melukai dirinya sendiri.
Di tengah tangis Megan yang pecah, Bradley hanya terdiam, membiarkan air mata kebencian wanita itu membasahi kemejanya.
Megan yang lelah lelah secara fisik maupun psikis tak lagi memiliki kekuatan bahkan sekadar untuk meronta. Ia hanya bisa terdiam mematung dalam pelukan Bradley yang posesif.
Saat ia menghirup aroma tubuh pria itu, sebuah rasa nyaman yang mengkhianati logikanya menjalar di hatinya. Aroma sandalwood dan maskulin yang sama, yang selama dua bulan di London selalu menjadi satu-satunya penawar saat morning sickness menyerangnya tanpa ampun.
"Brad... bawa aku ke makam Bibi Sarah," bisik Megan, suaranya parau di sela isaknya.
Gerakan tangan Bradley yang tengah mengusap bahu Megan terhenti seketika. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat sebelum akhirnya Bradley membuka suara.
"Aku akan membawamu. Bukankah alasan utama kita ke Virginia memang untuk mengunjungi makam bibimu?" Bradley melonggarkan pelukannya, menatap mata Megan yang nampak kosong. "Tapi tunggu sampai keadaanmu benar-benar pulih, Meg."
Hening kembali merayap. Bradley teringat rintihan pilu Megan sebelum kejadian berdarah di kamar mandi itu menghancurkan segalanya.
"Meg... seberapa berarti bibimu bagimu?" tanya Bradley, suaranya pelan, tak ingin menyulut emosi Megan kembali.
Megan menatap langit-langit klinik dengan tatapan kosong. "Aku tak pernah tahu rasanya pelukan seorang ibu, Brad. Ibuku pergi saat melahirkanku. Beliau yang selalu ada untukku. Dia adalah duniaku saat Papa sibuk dengan negaranya. Sampai di sini kau paham, kan? Aku tidak perlu bercerita lebih banyak lagi."
Bradley tertegun. Ia merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. "Kau belum pernah merasakan dekapan seorang ibu... jadi tolong, jangan sakiti bayi itu, Meg. Jangan biarkan dia merasakan kekosongan yang sama."
"Aku lahir dari cinta kedua orang tuaku, Brad," potong Megan dengan nada dingin yang menusuk. "Tapi janin ini? Dia lahir dari kebencianku padamu."
Bradley memejamkan mata rapat-rapat, mencoba meredam amarah dan luka yang beradu di hatinya. "Tapi aku mencintainya, Meg! Jika kau memang tidak menginginkannya, setidaknya jangan buat dia celaka. Biarkan aku yang merawatnya nanti, sampai suatu hari kau menyesali setiap kata-kata kejammu hari ini."
Megan memalingkan wajah, tak ingin melihat binar luka di mata pria yang ia anggap iblis itu. Di ruangan steril itu, mereka terikat oleh satu nyawa yang kehadirannya dipuja oleh sang ayah, namun dikutuk oleh sang ibu.
***
The Peninsula, New York – 07.00 AM
Arthur Ford membuka matanya perlahan saat rasa pening yang familiar menyerang kepalanya. Selalu seperti ini, ia selalu terbangun dengan memori yang terputus-putus setelah menghabiskan malam panjang bersama Alice.
Di ambang jendela besar yang menghadap Fifth Avenue, ia melihat Alice sudah mengenakan jubah mandi putih, rambutnya setengah basah, dan sebuah senyum manis tersungging di bibirnya.
"Kau sudah bangun, Arthur?" sapa Alice lembut, suaranya yang lembut selalu membuat Arthur bertekuk lutut di kaki Alice.
"Ya. Tapi... aku tidak ingat banyak tentang semalam," gumam Arthur sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
Alice mendekat, memberikan ciuman ringan di bibir Arthur. "Wajar jika kau tidak ingat, Sayang. Kau terlalu banyak minum semalam. Dan kau selalu mampu membuatku kewalahan"
Arthur bangkit dari ranjang, auranya kembali menjadi sang Direktur yang otoriter meskipun hanya berbalut jubah mandi. "Lupakan. Kita akan kembali sore ini. Besok sudah Senin, waktu libur kita sudah usai."
"Tentu, Arthur. Aku hanya berharap kita bisa lebih sering menghabiskan waktu seperti ini, mengunjungi banyak negara tanpa gangguan lencana CIA-mu itu," sahut Alice manja, meski di dalam hati ia sedang menghitung mundur waktu.
Arthur mengecup pipi Alice singkat sebelum melangkah masuk ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, ekspresi manis di wajah Alice lenyap seketika. Ia menyambar ponselnya yang sejak tadi bergetar di balik bantal. Matanya menajam saat melihat nama Peter di layar.
"Kenapa kau baru bisa dihubungi, Pet?!" desis Alice tak sabar saat sambungan terhubung.
"Ada insiden tak terduga, Alice," suara Peter terdengar tegang di seberang sana. "Tuan Brown mengalami luka serius setelah melindungi Nona Ford dari kecelakaan di hotel. Dan sekarang... Nona Ford juga harus dirawat intensif karena hampir mengalami keguguran."
Alice membelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa?! Jadi kalian belum bisa kembali ke London hari ini?"
"Tidak mungkin. Kondisinya terlalu berisiko. Alice, kau harus mencari cara agar Arthur tidak kembali ke Langley malam ini. Tahan dia di New York!"
“Shit” Alice mematikan telepon dengan geram. Rencananya mulai retak di segala sisi. Tepat saat ia hendak menyembunyikan ponselnya, Arthur keluar dari kamar mandi.
Pria itu melangkah menuju meja nakas, meraih ponsel dinasnya yang berkedip merah menandakan ada pesan prioritas yang masuk.
Alice mematung. Ia terlambat sedetik saja untuk menjauhkan benda itu dari jangkauan Arthur.
Rahang Arthur mengeras saat ia membaca baris demi baris pesan singkat yang terkirim sejak semalam.
[FLASH MESSENGER - EYES ONLY DIRECTOR FORD]
Sir, kami menerima laporan darurat dari Dulles International. Petugas biometrik melaporkan Agen Megan Ford dalam situasi high-risk. Tim taktis telah melacak hingga Presidential Suite Tysons Corner.
Ditemukan subjek pria teridentifikasi sebagai Bradley Brown. Ia bersama seorang wanita yang secara visual identik dengan Agen Megan, namun identitas legal biometrik menunjukkan subjek bernama Nora Alexander, istri dari Bradley Brown.
Laporan tambahan: Seluruh data CCTV telah dihapus sebelum tim tiba. Mohon instruksi segera.
Hening menyelimuti kamar hotel mewah itu. Arthur meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih. Matanya yang tajam kini beralih menatap Alice, bukan lagi dengan cinta, melainkan dengan kecurigaan seorang predator intelijen yang baru saja mencium bau pengkhianatan di kamarnya sendiri.
"Bradley Brown..." desis Arthur, suaranya rendah dan penuh amarah. "Dia membawa 'istrinya' ke Virginia, dan bawahanku melaporkan dia mirip dengan putriku.”
Alice membeku. Ia tahu, satu langkah salah, dan seluruh penyamarannya selama bertahun-tahun akan hancur menjadi abu tepat di pagi yang cerah ini.
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭