Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Aku tidak harus terpuruk terus, kan?
Aulia, Daisy, dan Zara berkumpul di dalam kamar Aulia. Sejak tadi mereka saling bercerita, lebih tepatnya Daisy dan Zara yang jauh lebih bersemangat mengisahkan apa saja yang terjadi selama Aulia berada di Jakarta. Aulia sendiri lebih banyak mendengar, duduk bersandar dengan ekspresi tenang namun lelah.
"Eh… Lia, kamu harus tau ini," Zara membuka suara dengan nada antusias. Ia mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. "Aku beberapa hari lalu ketemu Damian, tau!"
"Hah? Serius? Di mana? Dia kembali?" bukan Aulia yang bereaksi, melainkan Daisy. Gadis itu langsung membulatkan mata, tubuhnya condong ke depan, jelas meminta cerita lebih banyak.
"Iya, dia sudah pulang. Makin tampan aja, gila!" sahut Zara cepat.
"Ya elah, ingat sudah punya suami!" decak Daisy malas, menatap sahabatnya yang mulai tampak menggatal. "Terus, kalian bicara nggak?" lanjutnya, tetap penasaran.
"Kagak. Cuma senyum doang. Gimana mau ngajak ngobrol, suamiku buru-buru ngajak pulang," jawab Zara sedikit mengecilkan suara.
"Yeah…" Daisy bergumam, pura-pura kecewa.
"Ish, Aulia… apa respon kamu dari cerita ini? Masa kagak berminat gitu dengarnya. Sia-sia dong aku semangat!" dengus Zara, kini menatap Aulia yang sejak tadi sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan.
"Aku harus respon gimana? Berteriak ‘oh, Damian pulang’ gitu?" Aulia menoleh santai. "Kagak ada yang menarik untuk dibahas lagi soal dia."
"Dih… kayak nggak pernah ke—"
"Stop, Zara!" potong Aulia cepat. "Bukan waktunya bahas Damian, mengerti?"
Zara mendengus kecil, tapi akhirnya mengangguk. Daisy ikut menghela napas, suasana pun perlahan berubah lebih serius.
"Ya sudah, lupakan si tampan," ucap Zara kemudian. "Sekarang yang harus kita bahas adalah kamu, Adrian, dan Arumi." Tatapan Daisy dan Zara tertuju pada Aulia.
"Kamu sudah siap membahas mereka, kan?"
Aulia mengangguk perlahan. Bukan lagi waktunya bagi wanita itu untuk terus tenggelam dalam kehancurannya. Ia lelah terjebak di ruang yang dipenuhi rasa bersalah dan luka. Sudah saatnya ia melangkah keluar.
"Aku tidak harus terpuruk terus, kan?" tanyanya pelan, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
Zara dan Daisy mengangguk cepat. Senyum tipis terbit di sudut bibir mereka, lega melihat ada sedikit kekuatan yang kembali pada sahabatnya itu.
"Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini, Lia," ujar Zara tegas. "Sudah saatnya kamu bangkit. Mereka akan merasa menang kalau kamu terus terpuruk dalam rasa bersalah dan kehancuranmu. Dan jujur saja… aku tidak terima melihat Arumi sekarang bahagia di atas penderitaan kamu. Meski dia adik kamu, tetap saja tidak seharusnya begitu."
"Oh iya, Lia…" Daisy ikut menyahut, tubuhnya sedikit condong ke depan. "Apa kamu tidak mau menuntut Adrian? Waktu perceraian kalian, kamu tidak meminta apa-apa dari pria itu. Serius?"
.
.
Aulia mengembuskan napas pendek, lalu tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai ejekan. "Apa yang mau diminta dari orang seperti itu, Daisy?" katanya tenang. "Uang bulanan? Aku punya penghasilan sendiri. Rumah? Bahkan rumah yang mereka tempati sekarang itu rumahku. Atau harta?" Ia menggeleng kecil. "Apa yang dia punya selain rasa tidak tahu malu dan kebejatannya?"
Senyumnya masih bertahan, tapi matanya dingin.
Dulu pria itu datang tanpa membawa apa-apa selain pekerjaannya di perusahaan besar, wajah yang cukup tampan, dan sikap yang ia kira tulus. Saat itu Aulia percaya semuanya nyata.
Ternyata yang tersembunyi justru jauh lebih besar.
Manipulatif.
Dan ia baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat.
"Ah, akhirnya Aulia kami kembali… aku benar-benar suka Aulia yang bermulut tajam seperti ini!" seru Zara sengit. "Huh, pria modal tampang yang tidak seberapa itu memang pantas dijauhkan. Sialan, pengorbanan apa yang dia lakukan pada Papa Abian dulu sampai pria tua itu menyerahkan permatanya pada sampah seperti dia?"
"Jangan salah," sahut Daisy, nada suaranya lebih dingin tapi tak kalah tajam. "Abdinya pada Papa Abian memang luar biasa. Dia dua kali menolong Papa Abian saat nyawanya hampir terenggut. Untuk itu, Adrian patut diacungi jempol. Dia selalu ada di saat genting, seperti jalangkung."
Zara mendengus kecil.
"Hanya saja," lanjut Daisy tanpa jeda, "dia pengecut yang serakah. Dia ingin menguasai dua wanita milik Papa Abian sekaligus. Itu yang membuatnya brengsek."
"Oke, stop," Aulia menengahi, suaranya tenang tapi tegas. "Aku tidak minta kalian membahas ini lebih jauh. Jujur saja, kepalaku mulai pusing dengar suara cempreng Zara."
"Hah! Cempreng?" Zara mendengus kesal, lalu menyeringai. "Baiklah, Ibu Aulia yang terhormat. Jadi apa rencanamu ke depan?"
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Kamu tidak berencana memberi Arumi dan Adrian sianida, kan?"
"Aku tidak seberani itu ya, Zara! Gila, yang ada aku yang masuk penjara nanti!" ujar Aulia kesal, menatap tajam sahabatnya itu.
"Aku kan cuma nanya. Siapa tau butuh ide, aku siap bantu padahal…" Zara terkekeh ringan, jelas menikmati rencana-rencana konyol di luar nalar yang berputar di kepalanya.
"Ngide itu ngotak dikit!" sungut Daisy sambil menjitak kening Zara.
Zara meringis, mengusap dahinya.
...****************...
"Daisy, coba kamu posting status di media sosial. Tulis kalau ada rumah yang mau dijual."
"Hah?"
"HAH!!"
Daisy dan Zara menganga bersamaan. Beberapa detik mereka hanya menatap Aulia tanpa berkedip, seolah menunggu wanita itu tertawa dan mengatakan bahwa ini hanya lelucon.
"Iya, rumah itu mau kujual. Kenapa?" jawab Aulia tenang.
"Di… jual, Lia? Itu rumah hadiah dari Papa Abian loh. Masa dijual? Mending usir saja dua manusia itu dari sana, kamu tidak perlu jual rumahnya," ujar Daisy, suaranya naik tanpa bisa ia tahan.
Aulia tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya datar, sulit ditebak. Tidak ada keraguan di sana, hanya keputusan yang tampak sudah dipikirkan matang-matang.
"Oke, biar aku yang posting, Lia. Kamu mau harga berapa?" Zara yang tampaknya memahami arah pikiran Aulia langsung bergerak. Ia meraih ponsel Daisy di atas nakas dan membuka media sosialnya.
Mengapa Daisy? Karena gadis itu punya lebih banyak pengikut, jangkauannya luas, dan peluang menemukan pembeli tentu lebih besar.
"Satu miliar, boleh."
Aulia menyebut nominal itu dengan enteng, seolah sedang membicarakan harga barang biasa. Padahal rumah itu adalah hadiah pernikahan dari ayahnya dulu—berdiri di lokasi strategis, berlantai satu, tapi sangat luas.
"Gila, Aulia!" Daisy langsung bereaksi. "Kamu mau sedekah atau gimana? Aku tidak setuju rumah itu dijual murah."
Nada suaranya meninggi. "Aku pasang lima miliar. Kalau ada yang nawar, mentok di tiga koma lima. Kalau nggak ada yang mau, ya biarin aja rumah itu kosong dulu."
Daisy menarik napas, menatap Aulia lekat. "Nanti kita akalin. Bisa buat usaha, atau kembangin kafe kamu. Jangan gegabah kasih harga murah, Lia."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian