Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Dekat-dekat Rumah Itu!
Pagi itu Arga sedang menyapu halaman depan rumah, mencoba mengalihkan pikirannya yang masih dipenuhi mimpi semalam, ketika terdengar suara motor masuk ke gerbang.
Bukan motor bebek tua Bagas. Motor ini lebih besar. Suaranya lebih halus.
Arga menoleh dan melihat seorang pria paruh baya dengan kemeja batik cokelat dan sarung melilit di pinggang turun dari motor matik. Wajahnya ramah tapi ada kekhawatiran yang kentara di matanya.
"Selamat pagi, Mas," sapa pria itu sambil menghampiri Arga.
"Pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Arga meletakkan sapunya, mengusap keringat di dahi.
"Saya Burhan. Ketua RT di sini. Sudah dengar dari Mbah Karyo kalau cucunya Mbah Sarinah pindah ke rumah ini. Jadi saya mau mampir sekalian kenalan."
"Oh, saya Arga, Pak. Terima kasih sudah mau mampir." Arga mengulurkan tangan, dijabat hangat oleh Pak Burhan.
"Ayo masuk dulu, Mas. Kita ngobrol di dalam."
Mereka masuk ke ruang tamu. Arga membuatkan teh manis untuk tamu yang datang. Pak Burhan duduk di sofa, matanya menatap sekeliling rumah dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Rumah ini... masih seperti dulu," gumam Pak Burhan pelan.
"Pak Burhan sudah lama tinggal di sini?" Arga menyodorkan teh.
"Wah, sudah puluhan tahun, Mas. Sejak saya masih muda. Bahkan saya sempat kenal sama Mbah Sarinah, nenek Mas Arga. Beliau baik sekali. Sering bagi-bagi makanan ke tetangga."
Arga tersenyum tipis mendengar itu. "Iya, nenek memang orangnya dermawan."
Pak Burhan menghela napas panjang, meneguk tehnya pelan. Lalu ia menatap Arga dengan serius. "Mas Arga, boleh saya tanya sesuatu?"
"Boleh, Pak. Apa?"
"Mas mau tinggal lama di rumah ini?"
Pertanyaan itu membuat Arga sedikit terkejut. "Iya, Pak. Rencana saya mau tinggal di sini untuk sementara. Kenapa?"
Pak Burhan meletakkan gelasnya, tangannya terlihat sedikit gemetar. "Saya nggak mau nakut-nakutin Mas, tapi... rumah ini... rumah ini nggak baik untuk orang hidup, Mas."
Arga terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat itu.
"Sudah banyak yang coba tinggal di rumah ini setelah Mbah Sarinah meninggal," Pak Burhan melanjutkan dengan nada khawatir. "Ada keponakan dari Jakarta yang nginep seminggu. Dia sakit-sakitan terus. Panas tinggi nggak turun-turun. Setelah pindah dari sini, langsung sembuh."
"Mungkin memang lagi sakit aja, Pak," Arga mencoba beralasan, meski ia sendiri tidak yakin.
"Bukan cuma itu, Mas." Pak Burhan menggeleng. "Ada juga sepasang suami istri muda yang mau sewa rumah ini buat usaha warung. Mereka bertahan cuma tiga hari. Istrinya mimpi buruk terus. Mimpi ada wanita bergaun putih yang nangis di kamarnya. Sampai dia nggak berani tidur. Akhirnya mereka kabur tengah malam."
Arga menelan ludah. Wanita bergaun putih. Safira.
"Yang paling parah..." Pak Burhan menurunkan suaranya, seperti takut ada yang mendengar. "Ada pemuda yang nekat nginep sendirian di sini. Katanya mau buktiin kalau hantu itu nggak ada. Besoknya dia ditemukan di kebun belakang dalam keadaan... kerasukan. Ngomongnya nggak jelas, badannya kejang-kejang. Harus dibawa ke orang pinter buat di ruqyah. Setelah sadar, dia bilang dia lihat... lihat sosok wanita yang manggil-manggil namanya terus. Sampai sekarang dia trauma, nggak mau lewat depan rumah ini."
Hening.
Arga merasakan bulu kuduknya berdiri. Tapi entah kenapa... entah kenapa ia tidak merasa takut. Yang ia rasakan justru... rasa penasaran. Dan sesuatu yang hangat di dadanya.
"Saya tahu ini bukan urusan saya, Mas," Pak Burhan melanjutkan dengan nada yang semakin serius. "Tapi sebagai ketua RT, saya merasa berkewajiban kasih tau. Rumah ini... rumah ini punya sejarah kelam. Mas pasti sudah dengar dari Mbah Karyo kan? Tentang Arjuna dan Safira?"
Arga mengangguk pelan.
"Nah itu dia. Sejak kejadian itu, rumah ini... seperti ada yang nggak mau pergi. Ada yang masih nempel di sini. Dan orangnya... maksud saya, rohnya... nggak suka kalau ada orang lain tinggal di rumahnya."
"Atau mungkin..." Arga bersuara pelan, "dia cuma kesepian."
Pak Burhan terperanjat. "Apa?"
"Mungkin dia nggak mengusir, Pak. Mungkin dia cuma... cuma mencari teman. Mencari seseorang yang bisa nemenin dia."
Pak Burhan menatap Arga dengan pandangan bingung campur khawatir. "Mas Arga... Mas nggak apa-apa kan? Maksud saya, Mas nggak... nggak ganggu jiwanya atau gimana?"
Arga tersenyum pahit. "Saya baik-baik saja, Pak. Cuma... saya rasa hantu nggak lebih menyeramkan daripada manusia."
"Mas..."
"Terima kasih atas perhatian Bapak," Arga memotong dengan sopan. "Tapi saya tetap akan tinggal di sini. Saya merasa... lebih tenang di sini. Lebih tenang daripada di kota yang penuh dengan orang-orang yang... yang mengkhianati saya."
Pak Burhan terdiam. Ia menatap Arga dengan pandangan yang penuh simpati. "Mas lagi ada masalah ya?"
Arga tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap gelas teh di tangannya yang sudah dingin.
Pak Burhan menghela napas panjang. "Baiklah, kalau itu keputusan Mas. Tapi kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk datang ke rumah saya. Rumah saya yang pagar biru di ujung jalan. Kapan saja Mas butuh bantuan, saya siap."
"Terima kasih, Pak."
Setelah Pak Burhan pamit dan pergi, Arga kembali duduk di sofa sendirian. Rumah ini terasa sepi lagi. Bagas tadi pagi sudah pulang ke Solo, bilang ada urusan keluarga. Jadi sekarang Arga benar-benar sendirian.
Sendirian dengan... dengan sosok yang mungkin masih ada di rumah ini.
***
Siang itu Arga mencoba membereskan rumah. Menyapu, mengepel, membersihkan jendela-jendela yang sudah bertahun-tahun tidak tersentuh. Ia butuh kesibukan. Butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari Ratih. Dari mimpi semalam. Dari Safira.
Tapi setiap kali ia membersihkan sudut-sudut rumah, ia selalu merasa... merasa ada yang mengawasinya. Bukan perasaan yang menyeramkan. Bukan perasaan yang bikin takut.
Tapi perasaan yang... hangat. Seperti ada yang menemaninya. Seperti ia tidak sendirian.
Aneh. Sangat aneh.
Sore itu ia duduk di teras, menikmati angin sore yang sejuk. Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan, langit berwarna jingga kemerahan. Indah. Damai.
Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, Arga merasa... merasa sedikit lebih baik. Dadanya tidak sesak. Pikirannya tidak dipenuhi wajah Ratih yang tersenyum sambil menikamnya dari belakang.
Yang ada di pikirannya sekarang adalah... wajah Safira dalam mimpi semalam. Wajah yang cantik dengan senyum sedih. Mata yang penuh kesepian.
"Apa kau benar-benar ada?" bisik Arga pada udara kosong. "Atau aku memang sudah gila?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berdesir pelan dan suara burung-burung yang pulang ke sarang.
***
Malam tiba.
Arga sengaja tidak menyalakan lampu terlalu banyak. Hanya lampu teras dan lampu ruang tamu. Sisanya gelap. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Mungkin... mungkin karena ia ingin... ingin melihat sosok itu lagi.
Ia duduk di teras dengan secangkir kopi panas. Menatap taman depan yang gelap. Di sudut taman itu ada ayunan tua yang karetnya sudah rusak, tapi masih bisa dipakai.
Arga menatap ayunan itu dengan kosong. Pikirannya melayang entah kemana.
Dan tiba-tiba...
Ayunan itu bergerak.
Pelan. Sangat pelan. Maju mundur. Seperti ada yang duduk di sana.
Jantung Arga berdegup kencang. Tangannya mencengkeram gelas kopi dengan kuat. Tapi ia tidak lari. Ia tidak berteriak. Ia hanya... menatap.
Dan perlahan, sosok itu muncul.
Safira.
Wanita bergaun putih yang sekarang terlihat lebih jelas dari sebelumnya. Rambutnya yang hitam panjang terurai indah. Wajahnya yang cantik pucat terlihat lebih nyata. Dan ia duduk di ayunan itu, mengayun pelan sambil menatap Arga.
Menatapnya dengan tatapan yang lembut.
Arga tidak bergerak. Tidak bernafas. Hanya menatap balik.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka saling melihat, Safira tersenyum. Bukan senyum sedih seperti sebelumnya. Tapi senyum yang... yang tulus. Senyum yang hangat.
Bibir Safira bergerak. Seperti berbisik sesuatu. Dan entah bagaimana, Arga bisa mendengar suaranya yang lembut seperti angin.
"Jangan takut... aku tidak akan menyakitimu..."
Arga merasakan air matanya mengalir begitu saja. Entah kenapa kata-kata itu... kata-kata itu membuat dadanya terasa hangat dan sakit sekaligus.
"Aku... aku tidak takut," bisik Arga dengan suara bergetar. "Aku tidak takut padamu, Safira."
Safira tersenyum lebih lebar. Dan untuk pertama kalinya, Arga melihat air mata mengalir di pipi putih pucat wanita itu.
Air mata bahagia.
Mereka saling menatap dalam diam. Tidak ada kata-kata. Tidak ada yang bergerak. Hanya tatapan. Tatapan dua jiwa yang sama-sama terluka. Sama-sama kesepian. Sama-sama kehilangan.
Arga tidak tahu berapa lama mereka saling menatap. Yang ia tahu, saat ia berkedip, Safira sudah menghilang. Ayunan itu berhenti bergerak. Taman kembali gelap dan kosong.
Tapi Arga tidak merasa takut.
Tidak merasa sendirian.
Karena untuk pertama kalinya sejak Ratih meninggalkannya, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Kedamaian.
Dan mungkin... mungkin awal dari sesuatu yang baru.
Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mengerti apa itu.
Ia meneguk kopi yang sudah dingin, menatap taman yang kosong dengan senyum tipis di bibirnya.
"Aku akan di sini, Safira," bisiknya pelan. "Aku tidak akan pergi. Aku akan menemanimu."
Dan di suatu tempat di rumah tua itu, Safira yang mendengar bisikan itu tersenyum dalam tangis bahagia.
Akhirnya. Akhirnya ada seseorang yang tidak takut padanya. Seseorang yang mau menemaninya dalam kegelapan yang sudah ia jalani selama lima puluh tahun.
Seseorang yang mungkin... mungkin bisa mengisi kekosongan di hatinya yang sudah lama membeku.