NovelToon NovelToon
WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.

Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Peluru di Balik Ketenangan

Alisha duduk termenung di balkon kamarnya, membiarkan angin sore memainkan rambutnya. Pemandangan di bawah sana benar-benar memanjakan mata, Pak Tejo benar-benar ahli dalam pekerjaannya. Bersama dua asistennya, ia menyulap halaman rumah Ardiansyah menjadi oase hijau. Menariknya, Pak Tejo tidak hanya menanam bunga, tapi juga memanfaatkan teknologi hidroponik dengan tabung-tabung modern untuk menanam sayuran dan cabai, yang justru menambah estetika kebun tersebut.

Melihat dedaunan hijau itu setidaknya membuat denyut nyeri di hati Alisha sedikit mereda. Tak lama, Mbak Sari masuk membawakan segelas jus jeruk segar dan camilan, meletakkannya di meja kecil balkon sebelum pamit keluar lagi.

Keheningan itu pecah saat mobil mewah Gathan memasuki gerbang. Dari ketinggian balkon, Alisha melihat pria itu turun. Alisha refleks menyunggingkan senyum tipis. Ia teringat kejadian kemarin, betapa hangatnya pelukan Gathan dan betapa tulus pria itu menenangkannya.

Meski ia tahu kasih sayang itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk Aruna, namun rasa nyaman itu nyata adanya. Alisha sudah menyiapkan berbagai alasan di kepalanya jika nanti Gathan bertanya mengapa ia menangis sehebat itu.

Di bawah sana, Gathan sempat mendongak. Matanya bertemu dengan mata Alisha.

Tatapan Gathan terlihat sangat serius, bahkan cenderung tajam. Pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya wanita di atas sana masih bergejolak hebat di dadanya. Namun, Gathan adalah pemain catur yang handal, ia memilih mengikuti permainan ini lebih dulu. Ia membalas senyuman Alisha dengan raut wajah kakaknya yang biasa, tenang dan protektif.

Namun, baru beberapa langkah Gathan beranjak menuju pintu utama...

DOOR!

Suara ledakan tembakan yang memekakkan telinga merobek kesunyian sore itu. Detik berikutnya, suara kaca pecah yang nyaring terdengar dari arah lantai dua, diikuti teriakan histeris Alisha.

Gathan tersentak hebat. Ia berputar arah dan mendongak ke balkon. Sosok adiknya sudah tidak terlihat lagi di sana, hanya menyisakan sisa-sisa jendela kaca yang hancur berantakan.

"ARUNA!" teriak Gathan.

Mata Gathan membulat, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang. Rasa khawatir yang meluap mengalahkan segala keraguannya tentang identitas wanita itu.

Siapa pun dia, saat ini nyawanya dalam bahaya. Gathan berlari secepat kilat masuk ke dalam rumah, menaiki tangga dua langkah sekaligus. Ia mengabaikan teriakan Elena dan Clarissa di ruang tengah yang bertanya-tanya dengan wajah pucat.

Brak!

Gathan membuka pintu kamar Aruna dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang, takut menemukan pemandangan yang paling buruk. Ia segera menerjang menuju balkon.

Di sana, di antara serpihan kristal kaca yang berserakan, ia menemukan Alisha sedang duduk meringkuk. Gadis itu menekuk kakinya rapat-rapat, kedua tangannya menutup telinga dengan sangat kencang. Tubuhnya gemetar hebat. Beruntung, pecahan kaca itu tidak mengenai tubuhnya, namun trauma itu jelas terlihat di wajahnya yang pucat pasi.

"Na? Kamu nggak apa-apa?" Suara Gathan terdengar serak, dipenuhi kecemasan yang mendalam.

Mendengar suara Gathan, Alisha mendongakkan kepala. Begitu melihat sosok kakaknya, ia langsung bangkit dan menubruk tubuh Gathan dengan pelukan yang sangat erat. Gathan yang tidak siap hampir saja terhuyung ke belakang, namun ia segera mengunci kakinya dan mendekap tubuh mungil itu.

"Kak... aku takut... aku takut banget..." isak Alisha di dada Gathan.

Gathan mempererat pelukannya, memberikan perlindungan maksimal. Ia bisa merasakan jantung Alisha yang berpacu liar. Ada sesuatu yang berdesir di dada Gathan, rasa ingin melindungi yang begitu kuat, yang justru muncul saat ia mulai meragukan identitas gadis ini. Namun terlepas dari itu semua, serangan ini jelas tertuju pada Aruna. Siapa yang berani melakukan ini di rumah keluarga Ardiansyah?

Mata tajam Gathan menyapu area luar. Di sudut halaman yang merupakan titik buta CCTV, ia menangkap bayangan seseorang. Orang itu mengenakan masker hitam dan topi hitam, menggenggam sesuatu yang menyerupai senjata.

Pelaku itu menyadari bahwa Gathan telah menemukannya.

"PENJAGA! KEJAR ORANG ITU! TANGKAP SAMPAI DAPAT!" teriak Gathan menggelegar dari atas balkon sambil menunjuk ke arah titik buta tersebut.

Para penjaga yang berada di bawah langsung bergerak serempak, mengejar bayangan hitam yang mulai melompati pagar samping. Gathan terus menatap ke arah pelarian orang itu dengan tatapan haus darah, namun tangannya tetap bergerak lembut, membelai rambut Alisha yang masih terisak ketakutan dalam dekapannya.

***

Elena, Clarissa, dan Mbak Sari segera menyerbu masuk ke dalam kamar. Suasana yang tadinya mencekam kini penuh dengan kebisingan tanya. Elena, dengan bakat aktingnya yang luar biasa, memasang wajah pucat pasi dan suara gemetar yang sarat akan kekhawatiran.

"Ya Tuhan, Aruna! Apa yang terjadi?" seru Elena sembari mendekat ke arah ranjang.

Alisha, yang tenaganya telah terkuras habis oleh ketakutan dan tangis, akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan emosional. Gathan masih duduk di sisi ranjang, jemarinya terus menggenggam tangan Alisha dengan erat.

Ada kehangatan dan rasa nyaman yang aneh yang mengalir di sana, sebuah perasaan yang membuat Gathan enggan melepaskannya meski hanya sedetik.

"Mulai hari ini, keamanan rumah akan diperketat dua kali lipat," ucap Gathan dengan suara rendah namun dingin.

"Kejadian ini membuktikan bahwa keselamatan penghuni rumah ini sedang terancam."

Elena mengangguk cepat, menyeka air mata palsu di sudut matanya.

"Mama setuju, Gathan. Mama juga sangat khawatir. Siapa orang yang tega berbuat sejahat ini pada Aruna? Kamu Harus menangkap pelakunya Gathan," Ia mengulurkan tangan, mengelus lembut rambut Alisha.

"Dia tidak akan lepas dari kejaran ku Ma," mata Gathan menunjukkan keseriusannya.

Elena mengangguk dengan tatapan tidak luput dari Aruna. sedangkan Clarissa berdiri di belakang ibunya.

"Istirahat ya, Sayang. Kamu pasti sangat trauma."

Setelah memberikan tatapan prihatin terakhir, Elena beranjak keluar diikuti oleh Clarissa yang sejak tadi hanya diam membisu. Begitu pintu tertutup, Gathan menoleh ke arah Mbak Sari.

"Sari, jaga dia dengan baik. Jangan biarkan dia sendirian, bahkan di dalam kamarnya sendiri," perintah Gathan tegas. Ia kemudian menatap jendela yang hancur berantakan.

"Selama jendela ini diperbaiki, dia tidak boleh tidur di sini. Dia akan tidur di kamarku."

Tanpa menunggu jawaban, Gathan menyelipkan lengannya di bawah tubuh Alisha dan menggendongnya dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen yang bisa retak kapan saja. Ia membawa Alisha masuk ke dalam kamarnya sendiri, ruangan yang paling aman di seluruh rumah itu karena sistem keamanannya yang tak tertembus.

Setelah merebahkan Alisha di ranjangnya yang luas, Gathan mengambil beberapa barang pribadinya. Ia memutuskan untuk tidur di kamar tamu sampai kamar adiknya kembali aman. Baginya, kenyamanan dirinya tidak penting selama Aruna berada di balik perlindungan sistem keamanan kamarnya yang canggih.

Malam itu, saat Gathan akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang kamar tamu yang asing, pikirannya mulai berkelana. Ia menatap langit-langit kamar, bayangan Alisha yang menangis ketakutan tadi terus terbayang.

"Identitasnya saja masih aku pertanyakan..." gumam Gathan pada kesunyian.

"Mengapa aku harus melindunginya seprotektif ini? Kenapa hatiku merasa selemah ini hanya karena melihatnya ketakutan?"

Gathan menghela napas panjang. Rasa lelah yang luar biasa mulai menguasai kesadarannya. Di tengah pergulatan antara logika yang mencurigai dan hati yang ingin melindungi, Gathan akhirnya jatuh terlelap, meninggalkan misteri tembakan itu menggantung di udara malam.

1
Anisa Muliana
🔥🔥
Anisa Muliana
seru banget thor🔥🔥
Ai_Li: Terima kasih kak
Semoga betah bacanya yaa hehehe
total 1 replies
Rania Venus Aurora
Hallo..👋🏻
Ai_Li: Mohon saran dan kritikannya ya kak
Supaya bisa jadi lebih baik
total 3 replies
Anisa Muliana
domisili Jember kak..😊
Ai_Li: Masya Allah jauh ya
Salam dari Medan ya😇
total 1 replies
Ai_Li
Yukk komen para daerah asal kalian dimana 🤭🥰
Anisa Muliana
seruuuuu banget ceritanya thor😍
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊
Ai_Li: Oiya kak, terima kasih sarannya 🥰
total 3 replies
Ai_Li
Jangan lupa like yaa dan tinggalkan komentar
Ai_Li
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!