Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.Batas Harga diri
Sore itu, selepas menutup toko, Zora tak buru-buru pergi. Ia menunggu Dimas yang berjanji akan menjemputnya di sana. Nurul telah pergi lebih dulu karena harus mengambil barang di rumah Ceu Kokom.
Tak butuh waktu lama, pria tinggi berkacamata dengan kemeja biru muda itu melangkah menuju ke arah Zora. Ia tersenyum manis, di tangannya tergenggam seikat bunga segar.
"Sudah lama menunggu?" tanyanya. "Belum, Mas. Baru sebentar. Ini apa?" tanya Zora. "Oh, ini buat mantan mahasiswiku yang sekarang jadi istriku," ucap Dimas sambil menyodorkan seikat mawar putih itu. "Ya Allah, terima kasih, Mas. Kok tahu aku suka mawar?" tanya Zora penasaran.
Dimas hanya menyunggingkan senyum. "Mau dengar cerita, tidak?" tanya Dimas. "Apa?" "Kita cerita sambil jalan pulang, yuk." Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Zora sambil melangkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari toko.
"Kamu masih ingat dulu saat di kampus?" Zora memutar matanya ke atas, mencoba mengingat. "Apa?" "Ada seorang mahasiswi yang selalu menyendiri di sudut ruangan. Tapi dia pintar dan bertalenta. Aku ingat betul betapa gigihnya dia menyusun skripsi agar cepat lulus. Kesukaannya adalah duduk di pojok kampus sambil memandangi taman bunga yang waktu itu kebetulan mawar putih sedang bermekaran."
Zora menutup mulutnya tak percaya. "Jadi, Mas Dimas...?" Dimas mengangguk. "Aku sudah memperhatikanmu sejak lama, Zora. Sejak saat itu aku..."
"Apa?" tanya Zora lagi. Lagi-lagi Dimas hanya tersenyum misterius. "Kita pulang yuk, sudah sore." Zora hanya menghela napas dan mengangguk.
"Sayang, minggu ini kita ke Jakarta. Kita belum menengok Kanaya, kan?" Dimas bertanya, suaranya rendah namun penuh otoritas.
Zora sedikit tersentak. "Aku baru saja ingin mengatakannya padamu, Mas. Tadinya aku mau minta izin untuk pergi ke sana." Tatapan Dimas yang semula tertuju pada jalanan, kini beralih tajam ke arah Zora. "Dengan siapa?"
"Bersama Nurul."
Ciiit! Dimas menginjak rem mendadak, menepikan mobil di bahu jalan yang sunyi. Keheningan tiba-tiba mencekam. "Zora, apa kamu lupa siapa yang ada di sampingmu sekarang?" tanya Dimas. Aura di dalam mobil berubah drastis. "B-bukan begitu, Mas... maksudku aku tidak ingin merepotkanmu..."
Belum sempat Zora menyelesaikan kalimatnya, Dimas menarik tengkuknya dan mendaratkan ciuman singkat namun menuntut. "Kau punya suami, Zora. Mulai sekarang, namaku harus menjadi pikiran pertamamu sebelum kau membuat rencana apa pun. Mengerti?"
Zora hanya bisa mengangguk pelan dengan napas yang tertahan. "Iya, Mas." "Anak pintar," bisik Dimas, jemarinya mengusap bibir Zora yang sedikit basah.
Dimas menyandarkan punggungnya, namun matanya tidak lepas dari sosok Zora yang tampak sangat menggoda dengan dress merah muda itu. "Mas, ayo jalan lagi. Katanya kamu lapar?" tanya Zora polos.
Dimas menyeringai, sebuah senyum predator yang tampan. "Aku memang lapar. Tapi bukan lapar yang bisa dikenyangkan oleh makanan."
Sebelum Zora sempat bereaksi, tangan kekar Dimas kembali menariknya. Kali ini tidak ada kecupan singkat. Dimas melumat bibir istrinya dengan gairah yang sudah lama ia tahan, mengabaikan fakta bahwa mereka masih berada di pinggir jalan. Baginya, saat itu, dunia hanya milik mereka berdua.
Mobil berhenti. Di bawah lampu teras yang temaram, tiga sosok sudah berdiri menunggu seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis: Mira, Tante Rita, dan Om Wiro. Udara sore yang hangat mendadak berubah menjadi sedingin es.
"Dimas," suara Tante Rita memecah keheningan dengan nada meremehkan. "Ibumu sedang tidak di rumah. Kenapa perempuan ini masih berani menginjakkan kaki di sini?"
Mira melipat tangan di dada, menatap Zora dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Dasar tidak tahu malu. Tinggal di rumah pria tanpa ikatan... apa kamu tidak punya harga diri di depan tetangga?"
Dimas melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di depan Zora, melindunginya dari tatapan tajam itu. "Jaga bicaramu, Mira. Jaga batasanmu pada istriku."
Dunia seolah berhenti bagi mereka. "Istri?" Mira tertawa hambar, matanya membelalak tak percaya. "Mas, jangan bercanda! Kamu tidak mungkin serendah itu sampai menikah dengannya, kan?"
"Kami sudah menikah," tegas Dimas, suaranya berat dan tak terbantahkan. "Meskipun saat ini baru secara siri, kami tengah menyiapkan administrasi agar negara pun mengakuinya. Jadi, hargai dia sebagai bagian dari keluarga ini."
Mira terdiam sejenak, lalu embusan napas lega keluar dari mulutnya. "Syukurlah..." Dimas menyipitkan mata, merasa ada yang tidak beres. "Syukur? Untuk apa?"
Mira maju selangkah, menatap Dimas dengan senyum sinis yang menyakitkan. "Syukur karena statusnya 'hanya' istri siri. Itu artinya menceraikannya semudah membalikkan telapak tangan, kan? Mas, sadarlah. Talak dia sekarang juga. Aku tidak sudi punya kaitan keluarga dengan wanita kelas bawah seperti dia!"
Zora meremas ujung gaun merah mudanya. Ia menunduk, merasakan dadanya sesak. Di depan "tembok raksasa" keluarga suaminya, ia merasa begitu kecil dan tak berdaya.
Dimas melangkah selangkah lebih maju, membuat Mira dan Tante Rita terkesiap mundur. Suaranya tidak lagi lembut, melainkan rendah dan bergetar karena amarah yang tertahan.
"Dengarkan aku baik-baik," ucap Dimas, setiap katanya seperti belati. "Zora adalah wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Dia bukan hanya istriku, dia adalah kehormatanku. Menghinanya sama saja dengan menginjak-injak harga diriku."
Dimas menunjuk ke arah gerbang dengan tangan yang stabil. "Sekarang, sebelum aku kehilangan rasa hormat yang tersisa... silakan keluar dari rumahku. Jangan pernah injakkan kaki di sini lagi tanpa seizinku."
"Dimas! Kamu gila?!" jerit Tante Rita. "Kamu mengusir bibimu sendiri demi wanita kelas bawah ini?"
Om Wiro maju, mencoba mengintimidasi dengan kekuasaannya. "Kau pikir bisa lepas begitu saja, Dimas? Jika kau mencabut hak dividen kami karena masalah ini, kami tidak akan tinggal diam. Kami akan menyeretmu ke pengadilan! Kau akan kehilangan posisi dan hartamu!"
Dimas tersenyum getir, sebuah seringai yang meremehkan. "Ambil saja semuanya jika itu harga yang harus kubayar untuk melindungi istriku. Aku bisa membangun kerajaanku sendiri, tapi aku tidak bisa hidup tanpa Zora. Sekarang... PERGI!"
Ketiganya pergi dengan hentakan kaki penuh amarah dan sumpah serapah. Suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas Dimas yang belum stabil.
Zora berdiri mematung. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia meremas jemari Dimas yang masih mengepal. "Mas... kenapa sampai seperti itu? Gara-gara aku, kamu kehilangan keluarga dan hartamu. Aku merasa sangat bersalah..."
"Tidak apa-apa, mereka memang sudah lama berbuat seenaknya.Dan sudah waktunya aku bertindak."
"Tapi Mas..."
"Gak ada tapi,itu juga karena sebenarnya MIra itu..."
Bersambung...
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭