Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Kedatangan kakek Seo semakin gempar malam ini
Halo there! Kabar ku sangat baik dan penuh semangat untuk melanjutkan kisah ini. Semoga kalian juga sehat walafiat dan selalu ceria!
...****************...
Arkan mendesah berat. Nampak pria itu sudah lelah sekali. Cepat-cepat semu merah di pipinya ia hapus agar istrinya tak tahu. Aluna mengedip mata lucu. "Mas Arkan gak marah lagi kan? Plis... ya... ini cuma sekali kok, nanti gak bakal aku ulangi lagi... please..."
Kedipan maut itu diarahkan padanya tanpa rasa bersalah. Aluna berharap bahwa masalahnya cepat selesai. Namun untungnya Arkan hanya mendesah pasrah, sambil memegang pinggangnya yang serasa remuk semua. Tangan kekar miliknya memijat bahunya sendiri. "Ck, ya sudah... besok biar ditemani Dion dan wanita tomboi itu ke sekolahmu. Mereka akan jadi wali keluargamu... ingat tak boleh orang di sekolah tahu kalau saya yang merawatmu, paham?!"
Sentakan Arkan membuat Aluna cukup terdiam. Dia meneguk ludah. 'Aduh... kemarin aku sudah pamer ke Anjani dan gengnya lagi kalau aku itu posisinya lebih tinggi... Aluna bodoh! Bodoh!'
Pintu ruang kerja diketuk Dion. Lelaki itu datang membawa kabar yang tak cukup enak didengar siapapun. "Tuan, eh maksud saya Arkan... Tuan Besar Kakek Seo datang menghampiri. Beliau bilang ingin menjengukmu..." ucap Dion pelan. Tentu matanya mengarah ke Aluna. Hanya saja Aluna tak sadar kalau kedatangan Kakek Seo untuk menemuinya.
Arkan kini semakin frustrasi. Dia belum memberitahu sama sekali keadaan Aluna sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan Arkan tak jujur soal dirinya yang mengurung Aluna sampai hampir satu minggu. Kalau Arkan tahu wanita itu bisa jadi gila bila dikurung, pasti tak akan dia lakukan. Hanya saja ini karena kesalahan Aluna kabur tanpa izin. Arkan merasa posesif saat itu menghadapi Aluna yang terus menghindar—tapi kalau dilihat sekarang, pasti tidak mungkin bukan? Arkan serasa menggenggam semua yang ia miliki dalam satu kepalan.
Langkah pria itu mendekat, dia berbisik kepada Dion. Asistennya angguk kepala, menyeret Aluna yang akan bertanya siapa kakek yang dimaksud tersebut. "Mas Arkan—wah!!! Kenapa Mas Dion?!"
"Ayo ikut aku dulu... kamu mau beli sesuatu gak?"
"Eh... tapi aku gak punya uang lagi Mas Dion..." lesu Aluna, wajahnya tertunduk sedih seolah tak memiliki dedikasi. Arkan kembali ke belakang, dia membentak Aluna tanpa alasan yang jelas. "KAN SUDAH SAYA BERI BLACK CARD KAN! DI MANA ITU! JANGAN-JANGAN KAU BUANG HAH!!" Seruan Arkan seolah menggema di gendang telinganya. Aluna hampir gemetaran. Kalau saja dia tidak setakut sebelumnya, pasti sudah mengeluarkan air mata.
"Kenapa sih Mas Arkan itu? Kapan Mas kasih aku kartu? Emang pernah? Kalau pernah, kenapa aku gak pernah pakai? Aku cuma dikasih uang tunai aja kok..."
"Terus uang itu?" tanya Dion pelan. Dia meminta jawaban yang pasti sembari mengangkat sebelah alis mata. "U—uang itu..."
Flashback
Sepulang sekolah, Aluna menunggu jemputan yang dikendarai Dion. Tapi sudah hampir tiga puluh menit tak ada tanda-tanda suara mobil sama sekali yang berhenti di depannya. Karena ia haus, Aluna berjalan ke sisi jalan tol sambil melihat beberapa toko yang masih buka sore itu. Ia mengunjungi salah satunya dan hendak memesan es krim.
Di belakang, seragamnya ditarik. Aluna meneguk ludah. Dia menoleh melihat keberadaan sosok anak kecil dengan baju compang-camping sedang mengharapkan sesuatu padanya. Anak itu membawa kaleng Indomilk bekas di tangannya—dia menyuruh Aluna untuk bersedekah.
"Kasihan sekali kamu... ya udah nih, aku kasih..." lirih Aluna. Dia mengambil dompet merah jambunya dan entah mengapa ada magnet yang menariknya kencang seolah dia memilih memasukkan semua uang yang senilai satu juta itu ke dalam kaleng sampai terlihat sempit. Anak itu langsung gembira, pasti tak akan menyangka akan diberikan uang sebanyak ini. "Kakak serius uang jajan mahal Kakak dikasih ke aku?! Ini banyak banget Kak! Kayaknya beli rumah bisa deh..." pikir bocah laki-laki tersebut. Aluna menuntun lekuk bibirnya agar bisa terangkat ke atas, dia menyibak rambut bocah itu gemas.
"Kalau kamu berpikir uang ini bisa beli rumah, oh tentu masih belum Dek. Ada banyak sekali rasa letih dan lelah yang nanti akan kamu lewati setelah dewasa. Atau mungkin setelah kamu lulus sekolah, kamu akan menghadapi kuliah sambil kerja sampingan, fresh graduate yang masih bingung mau kerja di mana karena banyak pelamarnya, belum juga kalau sudah keterima tidak tentu akan membawamu kepada apa yang kamu capai. Tapi tak melulu kamu bekerja keras hanya demi mencari uang, kalau Kakak pasti akan mencari banyak teman dan relasi di mana-mana agar Kakak tahu kalau bumi itu bulat bukan datar..."
"Em..." Sepertinya bocah yang dia ceramahi tak mengerti sama sekali. Dia sampai garuk-garuk telinganya yang sudah borok. "Iya Kak..."
Aluna tersenyum, tapi saat itu juga jantungnya langsung berdetak sangat cepat—serasa ia diguncangkan perut bumi. Kepala Aluna juga berdenyut kesakitan. Ia merasa mengingat hal yang ia percayai tak mungkin sudah terjadi.
'Di mana aku itu? Di kafe? Omong kosong, bahkan aku saja belum lulus... emang boleh aku kerja? Tapi di ingatanku itu aku lagi meracik kopi, mencuci piring, bahkan aku ingat jelas hampir dimarahi bos tapi serius itu kapan ya?' gumam Aluna sekali lagi. Kepalanya terdongak ke atas, masih belum sadar sama sekali bahwa umurnya sudah hampir pertengahan dua puluh tahun. Tapi ia tak mempermasalahkan hal seperti itu, nanti juga hilang-hilang sendiri kan?
"Kakak kenapa kayak sakit gitu?"
"Eh enggak kok, cuma ya masalah anak remaja kadang suka mikir soal nilai ujian mereka." jawab Aluna apa adanya. Bocah itu meleng tak paham, karena anak sekecil itu yang harusnya sudah berada di bangku SD, malah harus mencari uang sampai menggaruk tanah.
"Setelah ini ayo Kakak belikan sembako dan jajan yang kamu suka!"
"Lho kan ini sudah lebih dari cukup Kak! Aku juga bisa beli obat buat nenekku."
"Hah! Sekarang nenekmu gak sekarat kan Dek! Ayo cepetan dibawa ke rumah sakit! Takutnya kayak di sinetron terjadi beneran!!!" seru Aluna heboh sendiri. Bocah di depannya membuat wajah malas. "Maaf ya Kak, nenekku itu gak sakit keras cuma habis keseleo aja kakinya..."
"Oh... owalah..."
Flashback off
Setelah menceritakan panjang lebar satu demi satu, kini Arkan dan Dion yang sama-sama kapok sendiri telah mendengar kilas balik dari wanita itu sampai habis. Aluna tersenyum tanpa pamrih. "Ya ampun... bagaimana ini Arkan? Lihat dia..." keluh Dion, mengeluhkan istri tuannya yang sangat ceroboh memberikan uang saku satu harinya pada anak miskin. Arkan mendelik, ia serasa ditugaskan mengganti popok bayi.
"Urus itu Dion! Saya gak mau tahu! Cepat keluar, jangan sampai ketahuan Kakek! Ajak dia ke mana gitu..." kata Arkan pelan, dia menatap Aluna dari atas sampai bawah. "Ganti pakaianmu Aluna!"
"Eh emang aku mau ke mana sih?"
Dion berbisik, "Mau saya ajak jalan-jalan mau gak?"
"Ya ampun jalan-jalan!!! Mau dong!!!" seru Aluna tentu langsung jingkrak-jingkrak tak jelas kayak habis kesurupan.
Arkan tetap melototi asistennya itu, mulutnya berbisik. "Ja—ga—di—a—ja—ngan—sam—pai—bi—kin—ma—sa—lah!"
Aluna membaca gerak bibir Arkan, dia langsung bisa menebaknya. Wanita itu mengira itu untuk Dion bukan untuknya. "Tenang aja Mas Arkan! Bakal aku jaga kok Mas Dion!"
"TOLOL! YANG SAYA BICARAKAN ITU KAU!!!" hardik Arkan sudah di ambang batas.
Kakek Seo menyeruput teh kesukaannya. Dia melihat beberapa pembantu sekitar yang nampak gelisah—terutama Bu Lastri yang tak bisa menghentikan keringat basahnya. "Kenapa kalian itu? Kaku sekali, apa kalian akan diusir Arkan hah?! Mana dia, juga panggilkan cucu perempuan manisku! Aku mau mendengar apakah sudah membentuk janin di perutnya? Haha aku tak sabar," kata Kakek Seo, meminum semua isi teh sampai habis tak bersisa, hingga hampir saja Kakek Seo tersedak karena ulahnya sendiri.
"Kakek." sapa Arkan merapikan jas hitam elegannya. Ia mencium kedua pipi kakeknya pelan. "Apa Kakek datang ke sini karena mengkhawatirkanku? Jangan khawatir Kek, saya akan memastikan bahwa tiga hari ke depan perusahaan akan berjalan seperti sedia kala. Saya juga sudah mengendus siapa musuh di balik bayang yang berani menjebak keluarga kita Kek." kata Arkan tegas. Kakek tak menjawab sama sekali, pria tua itu malah meminggirkan bahu cucunya dan meneriaki nama Aluna berkali-kali.
"Aluna! Aluna sayang kamu di mana... uhuk! Uhuk!"
"Kakek, kenapa cari istriku? Dia... —dia lagi skincare-an di kamarnya—maksud saya kamar kita..." alasan Arkan agar terdengar masuk akal. Kakek melototi cucu yang dia besarkan itu. "Dasar anak nakal! Cepat panggil istrimu! Apa kau tak ridha kalau Kakek bertemu dengan kekasihmu itu?! Dasar maruk! Kakek hanya mau mengecek kandungannya saja!"
Mendengar kata 'kandungan' disebut, Arkan seketika mengedip pelan. Bibirnya terkatup sempurna bahkan alis matanya sampai bergetar hebat. "Kakek—apa maksud Kakek..."
"Masa kalian main masih belum ada hasil? Ah Kakek tahu, pasti kamu mau memberikan kejutan pada Kakek kan agar dijadikan kejutan? Kakek tahu kok!"
"Tidak." Pelan, wajah Arkan tertunduk tangannya mengepal erat. Setelah ini kontraknya akan habis, bagaimana sampai hari itu terjadi ia bisa meyakinkan kakeknya agar tetap menerima keputusannya itu? Arkan bingung sendiri, ditambah karena kesehatan mental Aluna yang error, bisa dipastikan jalannya kontrak mereka dari awal tak semulus yang pria itu perkirakan.
"Jawab Arkan! Cepat panggil Aluna ke bawah! Kakek kangen sekali dengannya!!"
"KAKEK KANGEN DENGANKU!"
'SHIT! SUARA ITU?!'
Arkan langsung memalingkan wajah ke arah Dion. Dia melihat muka tembok yang Dion pasang di sana.
Aluna dengan gaun lucu, memakai jepit strawberry dan gaya rambut cepol dua langsung melambaikan tangan ke atas seolah menyapa penggemar. "Kakek! Aku datang!!! Kakek kenal aku! Kakek si—"
"Ehm!" Mulut Aluna langsung dibekap dari belakang oleh Dion. Lelaki pendek itu sempat-sempatnya cengengesan di hadapan Arkan yang kini menaruh dendam padanya.
Kakek Seo langsung menjentik jari Dion. Dia menarik tangan Aluna lalu dilemparkan ke Arkan. "Apa yang kau lakukan Dion! Kau mau menikung istri bosmu sendiri?"
"Tidak Tuan saya—"
"Jangan alasan Dion! Cari pacar sana! Kau harusnya tahu kalau merebut istri orang itu tidak baik! Bukan mencerminkan etika di keluarga Seo Atmadja! Paham!!" Bentakan Kakek Seo langsung membuat Dion terlonjak kaget. Dia bergetar hebat rasanya. Tak hanya tuan muda yang dia layani bahkan sampai tuan besarnya pun juga bisa meruntuhkan tekad orang lain.
Aluna menepuk tangan kecil. Dia melihat keganasan Kakek Seo yang tercetak jelas di depannya, benar-benar persis seperti Arkan. "Hebat Kakek! Hebat!! Kakek benar-benar mirip sama Mas Arkan! Kalau marah sukanya—" Kini tangan kekar Arkan yang berhasil memborgol bibir Aluna agar tak sembarangan keluar omong kosong. Aluna melirik ke belakang menghadapi tatapan tajam dari pria itu.
Kakek Seo menghela napas mencoba bersabar. "Aluna... tentu saja Kakek begini karena dirimu. Kalau kamu tiba-tiba direbut Dion, nanti Arkan tidur sama siapa?"
Aluna memiringkan wajah. Tidur sama siapa? Dalam pikirannya seakan sekumpulan domba sedang melompati papan besar berkali-kali. Aluna menjentikkan jari cepat. "Bukankah selalu tidur sendiri! —Akhh! Sakit!!" seru Aluna di akhir. Dia malah mendapatkan cubitan di belakang paha. Padahal dulu yang selalu menahan sakit cubitan dari Arkan sekarang berbanding terbalik, Aluna meremas pipi Arkan sampai nampak bekas kukunya terlihat.
Kakek Seo tertawa melihat tingkah laku mereka berdua. "Kalian ini ada-ada saja ya! Lihat keromantisan kedua cucuku dari dulu selalu bikin gigi ngilu ya kan Dion!"
Dion angguk kepala cepat, seolah kepalanya dipaksa untuk terus menurut. Yang Dion khawatirkan di sini adalah nanti setelah Kakek Seo pulang pasti ia akan dimarahi habis-habisan oleh Arkan. Aluna didekati Kakek Seo, perut Aluna dielus pelan. "Apa sudah ada isinya Aluna?" tanya sang kakek tersenyum manis. Aluna meneguk ludah dia ikut mengelus perutnya sendiri. "Iya tentu saja ada Kek!" Ucapan Aluna langsung membuat Arkan, Dion, bahkan para pembantu sekitar termasuk Bu Lastri langsung menganga lebar nampak kaget.
Sedangkan Kakek Seo langsung tepuk tangan bahagia. "Benarkah! Berapa biji!"
"Ka—kalau dikatakan berapa biji, banyak sekali Kek!"
"Oh ya?! Apa kembar lima? Tiga? Atau empat!" seru Kakek Seo membalas ucapan Aluna berkali-kali. Arkan segera melerai perbincangan mereka berdua. Segera menjauhkan kakeknya dari hadapan istrinya, karena kalau semakin lama mereka dipersatukan akan tambah ngawur jadinya.
"Kek... Aluna sama saya mau tidur, Kakek jangan ganggu tidur kami ya?"
"Lho! Baru aja Kakek datang ini langsung diusir gitu aja ya Arkan?!" Tatap Kakek Seo, mendelik tajam. Arkan mendesah berat, dia sudah membukakan pintu untuk kakeknya. "Kalau datang jangan malam Kek, besok pagi datang lagi ya?"
"Dan soal isi perut Alu—istriku tadi, dia hanya bergurau. Itu isi makan malamnya yang dia kenyangkan agar terlihat nampak besar. Kakek benar-benar sudah tua, tapi masih gampang tertipu ya?"
"Aduh! Kau ini bercandamu keterla—"
Brak! Pintu mobil ditutup. Kini Arkan bisa menarik napas lega. Akhirnya kakeknya yang cerewet itu tak lagi memarahinya seperti anak kecil. Ia kembali ke dalam, tak lupa tatapan maut dia arahkan kepada Dion yang sudah ceroboh melepaskan kucing nakal.
"Di mana Kakek Mas Arkan? Kenapa aku gak dibolehin bicara sama Kakek—"
"DIAM ALUNA! JANGAN BIKIN SAYA KESAL SAJA YA KAU ITU! SAYA MUAK DENGAN OMONG KOSONGMU ITU! CEPAT KEMBALI KE SEDIA KALA! BIKIN REPOT SAJA, CK."
Aluna terdiam, kepalanya tertunduk tanpa sadar. Di belakang Dion sedikit mengepal tangan erat, merasa kasihan tapi ia lebih mengasihani dirinya sendiri karena tak lama dari itu dia dimarahi habis-habisan sampai jam dua belas malam.
...****************...
Di ruang BK, suasana sedikit sunyi karena siswa yang dia lempar dengan pot plastik sampai dibuat pingsan masih belum datang juga. Aluna sedikit panik karena dia seperti tahanan yang di ruang pengap dan sempit ini. Kalau bukan ruang BK apa lagi?
"Di mana dia?" ucap Guru BK mondar-mandir. Pharita baru kembali dari kamar mandi dia sedikit berdehem membuat atensi Dion mengalihkan pandangan padanya. Dion mengikuti arah Pharita yang duduk di samping kanan Aluna berseberangan dengannya.
"Dari mana saja kau itu bodoh?"
"Emang kenapa sih!" bisik Dion dan Pharita saling melempar unek-unek.
Pintu ruang BK diketuk. Guru BK langsung keluar melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Iya ada apa Nak?"
"Bu... em... saya, saya..." Siswi berkacamata tebal itu sedikit ragu untuk bicara. Dia sampai berkeringat sendiri karena kedua tangannya yang menyatu erat. "Ada apa? —"
"Saya mau memberikan kesaksian mata soal kejadian kemarin Bu! Ini bu—bukan salah Aluna, dia hanyalah anak baru Bu... saya mohon, biarkan saya menjelaskan semuanya pada Ibu..."
Ucap siswi itu seolah dia sedang mengharapkan sesuatu yang besar telah dia tunggu selama ini.
'Akhirnya... aku... aku bisa bebas...' ucap siswi itu, yang rupanya bila dilihat seksama dia adalah Manda. Gadis malang yang hampir menghilangkan nyawanya sendiri karena tindak kekerasan dari geng Anjani dan kawan-kawan lain.
"Ya sudah silakan kamu masuk..."
Bersambung...