Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasien Leukimia
Daniyal tiba kembali di rumah sakit, singgah di pos perawat untuk bertanya tempat Hanin dirawat saat ini.
“Pendonor atas nama Hanin di rawat di ruang berapa, Suster?” tanya Daniyal.
“Di ruang Lili nomor 99, Kak,” jawab salah satu perawat.
“Terima kasih.” Daniyal memutar tubuhnya sudah mau pergi, tapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya. Dia ingat salah satu perawat yang berada di sana mengaku sebagai perawat yang menjaga pasien penderita leukimia itu. Dengan ragu-ragu Daniyal mencoba bertanya.
“Kalau tidak salah Suster yang merawat pasien penderita Leukimia itu, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Daniyal.
Perawat itu semula terlihat menyibukkan diri dengan pekerjaannya, tapi begitu Daniyal mempertanyakan pasien leukimia itu, perawat segera menghentikan aktivitasnya.
“Anda ada hubungan apa dengannya?” perawat balik bertanya dengan nada ketus, seolah pertanyaan Daniyal sangat aneh.
“Emm, aku ...,”
“Kalau tidak salah dengar Anda tadi juga menanyakan ruang pendonor itu?”
Pertanyaan pertama belum dijawabnya, perawat itu kembali bertanya. Ditambah sikap gugup Daniyal membuat perawat menatapnya semakin curiga. Sebelum semuanya menjadi salah paham dan mengira dirinya yang bukan-bukan, Daniyal harus segera memikirkan jawabannya. Yang membuat Daniyal sulit menjawabnya lantaran posisi Hanin yang tidak ingin diketahui sebagai Pendonor.
“Aku kerabat dekat pendonor itu, kau pernah lihat aku bersama dengannya, kan?” jawaban Daniyal akhirnya mengakuinya juga.
Perawat itu terdiam mengingat-ingat sesuatu.
“Aku hanya mewakilinya untuk tahu bagaimana keadaan pasien, karena dia tidak bisa menemuinya seperti yang diinginkannya tidak ingin diketahui identitasnya.”
“Ya, nona itu tidak mau siapa pun tahu dia sebagai pendonor, aku harap Pak Rama dan keluarganya tidak mempertanyakannya nanti.”
‘Jadi pasien itu bernama Rama,’ batin Daniyal.
“Apa keadaannya sudah membaik?” tanya Daniyal.
“Masih dalam proses pemulihan, dan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat, tapi setelah mendapatkan transfusi sumsum tulang itu aku yakin dia akan sembuh dari sakitnya.”
“Terima kasih, Suster, Nona Hani pasti senang mendengarnya.”
Setelah itu Daniyal melanjutkan langkahnya menuju ruang perawatan. Saat dia tiba di sana tentu saja Hanin hanya seorang diri di dalam ruangan. Gadis itu tengah terbaring tidur di tempat tidur pasien. Daniyal menatapnya prihatin, jika bukan dirinya yang menjaganya maka Hanin hanya seorang diri. Orang-orang terdekatnya tidak ada yang diberitahunya.
Selama menunggu Hanin bangun, Daniyal hanya duduk di sampingnya menjaganya tanpa melakukan apa pun. Tidak hanya dia bertambah tanggung jawabnya dengan menjaga dan merawat Hanin selama proses pemulihan keadaannya pasca transfusi sumsum tulang, Daniyal juga harus bolak-balik mengawasi Pak Aariz memastikan keamanannya. Pekerjaannya di perusahaan terpaksa dia lakukan secara daring.
Sebenarnya Aariz sudah bisa dirawat di rumah, tapi, Aariz menolaknya. Dia memilih berada di rumah sakit daripada harus bertemu dengan Sabrina.
Suatu hari Aariz sedang berada di taman jalan-jalan bersama dengan Amaan. Sementara Hanin kembali masuk kuliah dan sore hari dia baru bisa menemani ayahnya.
“Bagaimana keadaan di rumah selama aku pergi?” tanya Aariz pada Amaan.
Amaan tampak diam cukup lama, tak seketika menjawab pertanyaan Aariz. Dia mengetahui beberapa hal tentang Sabrina yang tidak berhenti dengan aktivitasnya berkumpul dengan para ibu-ibu elite. Tampaknya keadaan Aariz di rumah sakit sama sekali tak berpengaruh dengan kegiatannya. Dia juga diam-diam masih menerima pria di dalam rumahnya, tampaknya kesempatan dia dilarang datang bertamu dengan Aariz menjadikan dia menggunakan kesempatan itu untuk bertemu dengan pria itu secara bebas di rumah.
“Amaan?” tegur Aariz.
“Iya, Tuan, di rumah tampaknya baik-baik saja,” jawab Amaan gugup.
“Wanita itu masih suka memaksa datang kemari?” tanya Aariz. Amaan tahu wanita yang dimaksud adalah Sabrina.
“Semenjak terakhir Anda menolaknya dua bulan yang lalu Nyonya tak pernah datang kemari, tapi ... saya cemas, bagaimana kalau Nyonya justru menggunakan kesempatan itu untuk bertemu dengan ...,” Amaan tak berani meneruskan kalimatnya.
“Dia bertemu dengan pria itu? Aku sama sekali tidak peduli dengannya, tapi jika aku melihat mereka berbuat mesum di rumahku tidak akan aku biarkan.” Aariz tampak mulai marah. Amaan khawatir, dengan segera dia menenangkan tuannya itu.
“Anda jangan terlalu banyak berpikir, ingat pesan dokter.” Amaan mengingatkan. Aariz menolak saat Amaan memeganginya karena khawatir dirinya jatuh. Aariz tetap bersemangat berlatih dengan berolahraga ringan demi kesehatannya dan demi putrinya.
Amaan sudah mengingatkan Aariz untuk beristirahat, tapi pria itu mengabaikan peringatannya, ketika tiba-tiba dia mulai merasa sesak dan hampir jatuh, seorang pemuda membantunya, lalu membawanya duduk.
“Keadaan Anda masih lemah, sebaiknya kembali ke kamar,” kata pemuda itu.
Amaan buru-buru menghampiri mereka.
“Terima kasih,” ucap Amaan pada pemuda itu.
Melihat dari piama yang dikenakannya sama dengan dirinya, Aariz tahu pemuda itu sama-sama pasien, tapi tubuh yang tegap itu dan terlihat segar apa penyakitnya?
“Anda sakit apa Nak muda?” tanya Aariz penasaran.
“Saya terkena kanker darah,” jawab pemuda tanpa ragu.
“Kanker darah? Tapi Anda terlihat sehat.” Aariz tak percaya dengan jawaban pemuda itu.
“Karena keadaan saya sudah membaik, berkat pertolongan seorang Pendonor saya kembali sehat seperti ini.”
“Tampaknya kau bukan orang sini?”
“Iya, saya datang dari Indonesia.”
Mereka berdua kemudian duduk di taman berbicara.
“Sayangnya saya tidak tahu siapa pemilik sumsum tulang itu, Orang itu merahasiakan identitasnya tidak ingin diketahui. Padahal saya dan keluarga ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih padanya.” Pemuda itu tampak sedih, tapi dia berusaha menahannya.
“Ternyata masih ada orang seperti itu.”
“Aku juga tidak tahu alasannya, tapi tidak semua orang bisa seperti dia yang dengan sukarela menjadi pendonor untuk membantu orang lain.”
“Tampaknya kalian dari keluarga yang mampu dan baik, kalau tidak mana mungkin berobat sampai kemari.”
“Sebenarnya bukan sengaja berobat di sini, tapi selama lima tahun ini saya kuliah di sini.”
“Oh, iya, di mana? jurusan apa?” Aariz bertanya antusias.
“Teknologi dan sains.”
Perbincangan keduanya semakin menarik, Aariz terlihat senang dengan pemuda itu dan topik pembicaraan mereka. Pemuda itu terlihat sangat cerdas. Mereka sampai lupa waktu hingga akhirnya kedatangan seorang pria menghentikan pembicaraan mereka. Sayangnya Aariz lupa bertanya nama pemuda itu karena pria itu buru-buru meminta putranya untuk kembali beristirahat.
“Anda juga harus kembali beristirahat, Tuan, ini sudah waktunya jam makan siang,” kata Amaan.
“Iya, antar aku ke kamar.”
••
Di ruang pasien, pemuda itu sedang dipaksa untuk makan obat. Tampaknya pemuda itu enggan meminum obat, keluarganya sampai membujuknya seperti sedang berbicara dengan anak kecil, merayunya dan menjanjikan sesuatu.
“Sejak kapan kamu manja seperti ini, Satya. Kalau kamu tidak minum obat kau tidak akan sembuh.”
Wanita di sampingnya terlihat mulai kesal.
“Silakan saja mogok minum obat, kau selamanya tidak akan bisa menemukan Pendonor itu karena penyakitmu ini tidak akan sembuh. Kau akan selamanya terbaring di sini dengan penyakitmu ini.” Ucapan Elvan terdengar seperti mengancam.
“Papa mendoakan Satya?”
“Papa cuma ingatkan kamu, untuk segera menemukan siapa Pendonor itu.”
“Jika dia tak mau diketahui ya sudah kenapa harus dipaksa.”
“Ya, kau akan membiarkan papa berhutang budi selamanya. Nyawamu ini mungkin tidak akan tertolong jika bukan karena dia.”
“Lalu apa yang akan Papa lakukan kalau sudah menemukannya?” tanya Satya.
“Kalau laki-laki akan dijadikan saudara, kalau perempuan akan dijodohkan denganmu,” celetuk pemuda di samping ranjang Satya yang semenjak tadi hanya diam sibuk dengan ponselnya.
“Diam kau, Rio!” maki Satya kesal.
“Sejak tadi aku sudah diam melihat tingkahmu yang mengesalkan itu, apa susahnya minum obat biar cepat sembuh dan segera tinggalkan rumah sakit ini. Aku saja yang bolak-balik kemari sudah merasa bosan ingin pulang.”
“Kalau begitu pulang saja sana!”
“Cukup, Satya. Sebaiknya lekas minum obatnya, mama juga sudah ingin pulang dan beristirahat di rumah. Apa kau tidak kasihan dengan mama selama hampir dua bulan ini kurang tidur karena menjagamu.”
Melihat wajah letih Miranda, Satya jelas tidak tega. Mereka sudah menghabiskan tenaga, waktu dan biaya untuk pengobatan dirinya.
“Maafkan Satya, Mah, Satya akan ...,”
“Siapa yang aku dengar masih tidak mau minum obat? Apa butuh bantuanku?” suara dari arah pintu mengejutkan semuanya.