Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 2 : Selebriti Media Sosial
Teknologi di Korea Selatan terus berkembang pesat, seiring dengan menyebarnya tren kpop, budaya yang kental, serta beragam keunikan yang terdapat di setiap penjuru negeri itu.
"Sial! Kenapa aku tidak bisa menemukan sejumput saja informasi pribadi orang ini? Padahal, jumlah penonton videonya sebanyak ini," gerutu Eun Chae.
Tak terasa, dua minggu telah berlalu dan wanita itu masih bertekad untuk membalas dendam.
"Apa sumber keberhasilan pria ini? Benarkah dia ahli memasak? Bisa saja video-video ini direkayasa!"
Apapun alasan tersembunyi pria itu, Eun Chae tidak sudi memakluminya.
Meong.
Tepat saat Eun Chae kelelahan, kucing dengan bulu tiga warna melompat dalam pangkuan wanita itu.
"Ah, kau mengagetkanku, Bam-a!" seru Eun Chae, namun mengelus bulu kucing itu.
Melihat kucing itu bersikap malas dan manja, hati Eun Chae melunak.
"Kau memang lucu. Bam-a, aku sayang padamu!"
Seketika beralih dari kesibukan pribadinya, sebuah ingatan mendadak terbesit dalam benak Eun Chae. Walau berusaha mengabaikan rasa pusing dan kepala berdengung yang terkadang muncul, tubuh Eun Chae terhuyung dan akhirnya pingsan.
Tubuh Eun Chae tergeletak di lantai rumahnya hingga 2 jam berlalu. Di saat seperti itu, Bam terus menemani dengan bersandar di sisinya.
"Uh.. Kepalaku pusing sekali. Apa yang terjadi?" ucapnya, saat terbangun sendiri.
Bam hanya menjawab dengan bahasa kucing, namun disambut dengan senyuman hangat Eun Chae.
"Biarlah. Yang penting, aku masih bisa bangun lagi. Maaf telah membuatmu khawatir, Bam-a."
Lagi-lagi, Bam hanya merespon ala kucing. Ajaibnya, kucing itu paham.
Jika kucing itu dapat menjelma sebagai manusia, mungkin mahkluk itu akan menceramahi Eun Chae yang tinggal seorang diri di rumah besar dengan kondisi pribadi yang memprihatikan.
Selain tubuhnya yang mungil dan parasnya yang cantik, Eun Chae tidak memiliki keterampilan apapun. Bisa saja, dia hanya tidak ingat. Untungnya, wanita itu masih sanggup menghafalkan nama, alamat rumah, wajah seseorang, serta beberapa hal mendasar lainnya.
Baginya, bisa hidup dalam kelimpahan yang entah berasal darimana hingga hari ini adalah berkat dari langit. Tentunya, keterbatasan yang dimiliki olehnya hanya menyusahkan. Karena itu, Eun Chae enggan berhubungan secara bebas dengan orang lain. Hidupnya dipenuhi dinding pembatas yang tak terlihat.
Terlebih anehnya, Eun Chae tinggal di rumah yang hanya dipahami olehnya. Sistem keamanan di rumah itu tidak ada duanya, lokasinya juga strategis dan elit.
Andaikan Eun Chae dikaruniai daya ingat super atau bakat yang mengesankan, hidupnya takkan terasa hampa seperti sekarang.
Bagi Eun Chae yang tidak memiliki banyak pilihan untuk masa depannya, hidup santai dan penuh syukur adalah yang terbaik. Walau di kamarnya juga terdapat televisi digital keluaran terbaru, Eun Chae lebih suka menonton berita atau acara di ruang tamu.
Setelah beberapa kali mengganti saluran televisi, perhatian Eun Chae sepenuhnya tertuju pada acara kompetisi memasak nasional.
"Wah, orang-orang ini sangat berbeda denganku."
Eun Chae terus bergumam ceria, karena menonton acara seperti ini adalah hobinya.
Dalam kompetisi itu, para koki terbaik dengan latar belakang yang beragam berkumpul untuk memenangkan hadiah sebesar 300 juta won, beserta julukan bergengsi 'Chef Muda Terbaik.' Pesertanya 30 orang, yang berusia sekitar 20 hingga 30 tahun ke atas.
Televisi memaparkan para kandidat, hingga Eun Chae menemukan sosok yang selama ini dicarinya.
"Orang ini-- Chef Do! Benar, dia preman itu!" serunya.
Tanpa berkata-kata lagi, Eun Chae menonton dengan antusias. Pria bernama Chef Do yang tampil lengkap dengan chef jacket, apron, celana hitam panjang, safety shoes, hingga peralatan memasak miliknya memberikan kesan profesional, walau Eun Chae mengabaikannya.
Meski televisi menjelaskan tentang profesi hingga keunggulan setiap peserta, tidak seorang pun dari mereka menerima sorotan otomatis seperti Chef Do.
Inilah, bintang kita hari ini! Chef Do, dengan followers terbanyak dan komentar terpanas di semua media sosial!
Kompetisi itu terdiri dari 3 ronde. Babak pertama adalah tahap penyisihan. Setelah itu, jumlah peserta akan dikurangi 10 orang sebelum babak selanjutnya. Sementara, babak kedua dan terakhir akan diumumkan setelah hasil keputusan juri.
Bahkan, 3 orang juri yang diberi kepercayaan adalah pakar memasak terfavorit sepanjang masa. Rentan usia, latar belakang, hingga ciri khas mereka pun nampak tak asing bagi siapapun yang pernah bekerja di dapur. Tak hanya menguasai seni masakan tradisional, mereka juga sangat paham dan sensitif terhadap citarasa internasional.
Tema masakan untuk tahap penyisihan akhirnya diumumkan, yaitu 'Masakan Rumah.'
Kini, beberapa jenis makanan telah muncul dalam benak Eun Chae. Membayangkan rasanya saja sudah membuat Eun Chae girang.
"Tak kusangka, kemampuan asli pria sombong ini akan teruji dengan sendirinya," ejek Eun Chae.
Para peserta diperkenankan mengonfirmasi menu masing-masing dalam waktu 5 menit, dengan bahan-bahan yang telah tersedia. Mereka juga diberi total waktu memasak 90 menit. Saat itu, setiap peserta harus berhasil menyajikan 3 porsi hidangan dengan kualitas identik untuk para juri.
"Wah, menarik sekali!" pekik Eun Chae, apalagi saat para peserta mulai bergerak cepat menuju pantry.
Sebagian besar peserta mengambil daging unggas hingga boga bahari. Beberapa yang lain mengambil lebih banyak bahan nabati, seperti sayuran hijau, berbagai jenis jamur, dan kacang-kacangan.
Namun, bahan pertama yang digunakan oleh Chef Do sungguh berbeda dari yang lain, hingga tak seorang pun dapat menebak masakan apa yang akan dibuatnya.
"Unik sekali. Mengapa bahan yang dipegangnya itu dibungkus daun?" gumam Eun Chae penasaran.
Rupanya, Chef Do memang menggunakan sebuah bahan yang tidak umum ditemukan di pasar lokal.
Dari seluruh peserta selain Chef Do, 5 orang diantaranya sesekali menatap tajam ke arahnya. Sementara itu, 24 orang peserta yang lain nampak berkonsentrasi penuh atau sedang gugup.
Cara kelima peserta itu memegang pisau, kecepatan tangan, hingga sentuhan rapi di setiap proses memasak mereka seolah menunjukkan kelas yang berbeda.
Ketika suasana memasak para ahli mulai intens, lagi-lagi Chef Do berhasil mencuri perhatian pada saat ia mulai mengiris bagian daging sapi besar yang digantung di udara.
Ia memilih bagian yang cukup sulit diolah dalam waktu singkat, yakni daging perut sapi yang rendah lemak. Chef Do meletakkannya dalam wadah, kemudian menyiapkan grill yang dipanaskan dengan arang. Ia berencana membuat steak medium rare.
Berikutnya, Chef Do mempersiapkan bumbu marinasi barbeque ala Korea Selatan. Agar rasanya lebih meresap ke dalam daging, ia menambahkan ikan teri, parutan jahe, kacang tanah panggang, minyak wijen, bawang putih yang digeprek, garam, pasta doenjang, dan irisan daun bawang. Kemudian, semuanya diblender menjadi bumbu halus.
Bumbu halus ditumis sebentar hingga wangi, lalu dibagi dua dalam mangkuk kecil. Yang satu dilumurkan di atas daging yang akan dipanggang. Yang kedua diberi tambahan kecap asin, minyak wijen, wortel rebus yang dicincang, serta sari lemon.
Aroma daging sapi panggang itu begitu menggugah selera. Sambil menunggu agar tingkat kematangan daging itu sempurna, Chef Do mencampurkan sisa bumbu dengan bahan rahasianya yang dihancurkan hingga menyerupai bubur.
Selain itu, ia membuat saus gurih yang berbasis gochujang caramel. Agar sausnya tidak terlalu kental atau pekat, ia menambahkan sedikit kaldu dari tulang daging sapi. Chef Do kerap mencicipi tiap elemen dalam masakannya untuk menghindari kesalahan sekecil apapun.
Terakhir, Chef Do akan menata semuanya dengan urutan bubur pada bagian dasar piring, beberapa irisan daging, bahan taburan, hingga saus pelengkap yang dipisahkan.
Kreativitas, presisi, teknik, pemahaman seputar bahan dan kombinasi rasa, hingga wajahnya yang tampan berpadu menjadi daya tarik Chef Do yang tidak ada duanya.
"Aku yakin Chef Do ini bukan manusia biasa. Benar, dia itu iblis yang bermimpi akan menguasai dunia kuliner dengan adegan palsunya!" celoteh Eun Chae kepada Bam, walau kucingnya tidak peduli.
Kebenaran hanya akan terungkap jika Eun Chae berkesempatan mencoba hidangan luar biasa ala Chef Do.
- Bersambung -