NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana tersembunyi

Dring! Dring!

Ares membuka matanya saat ponselnya yang terus bergetar sejak tadi menandakan ada pesan masuk. Ia menyipitkan mata, menoleh sebentar ke arah Elina yang sudah terlelap dengan tenang, lalu perlahan bangkit dari tempat tidur agar tidak membangunkannya.

Dengan langkah hati-hati, Ares melangkah keluar kamar, menahan suara lantai yang berdecit. Ia menuju kamar orang tuanya, mengikuti pesan dari Arman yang menyuruhnya datang secepatnya.

Pintu terbuka, dan Ares langsung bertanya. "Ada apa, Ma, Pa?"

Amelia menatapnya dengan mata penuh perhitungan. "Ares, Mama kepikiran dengan berlian dan perhiasan Elina," ucapnya dengan nada dingin namun berisi kepuasan.

"Perhiasan?" Ares mengernyit, matanya menyiratkan penasaran dan sedikit kegugupan.

"Iya, Res. Kita harus buat Elina jadi gelandangan tanpa tersisa satu harta pun. Termasuk perhiasan dan berlian Elina," jelas Amelia, nada suaranya tegas tapi mengandung rencana yang sudah matang di kepalanya.

"Mama mau kita ambil juga perhiasan dan berlian Elina?" tanya Ares, menatap kedua orang tuanya dengan wajah serius.

"Iya, Res..." Amelia menekankan kata itu, matanya berbinar penuh strategi.

Bukan ide yang buruk, pikir Ares, dan ia tersenyum tipis. "Ares akan melakukannya dengan rapi, tanpa Elina curiga," ucapnya sambil membayangkan langkah-langkahnya dengan hati-hati.

Amelia tersenyum penuh kepuasan. "Itu baru anak Mama. Mama tahu kamu bisa melakukannya dengan rapi, tanpa ada yang curiga."

"Ares akan mencari cara agar kita bisa..." katanya lagi, bersiap menguraikan rencana detailnya.

"Papa sudah punya ide, Res," potong Arman dengan senyum miring, menatap Ares seolah mengajak bersekutu dalam rencana licik itu.

"Ide apa, Pa?" tanya Ares, matanya menyala-nyala karena penasaran dan antisipasi.

Arman dan Amelia saling menatap sejenak, kemudian keduanya tersenyum miring—senyum yang memancarkan rasa kemengan dan kepuasan akan rencana yang sebentar lagi akan mereka jalankan.

♡♡

Di dalam kamar, Elina bisa melihat dan mendengar semua percakapan Ares dan mertuanya melalui ponselnya, yang menampilkan rekaman ketiganya dengan jelas. Sebelumnya, ia sudah memasang CCTV tersembunyi di setiap ruangan di rumah ini, termasuk kamar orang tua Ares. Privasi? Itu sudah bukan hal penting baginya, terutama jika orang-orang itu berniat jahat padanya.

Setelah Ares keluar dari kamar, Elina segera tersadar dan mengintip dari celah pintu. Ternyata Ares menuju kamar kedua orang tuanya—itulah sebabnya ia bisa memastikan langkah berikutnya sebelum mereka sempat menyadarinya.

"Nih, nenek sihir... enak saja mau ambil berlian aku," gumam Elina pelan, matanya menyipit, penuh amarah sekaligus waspada.

"Dia pikir dia siapa."

Dengan langkah cepat namun hati-hati, Elina bangkit dan menuju lemari tempat ia menyimpan semua berlian dan perhiasannya—lemari dengan ruang rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dengan Ares. Ia membuka lemari, mengambil setiap potongan perhiasan dengan teliti, lalu menaruh semuanya ke dalam paper bag yang sudah disiapkan.

"Harta-hartaku, kalian akan aku tempatkan di tempat yang aman sementara," gumamnya, memastikan setiap perhiasan tersimpan rapi.

Sekali lagi, ia memeriksa CCTV. Ares masih ada di kamar kedua orang tuanya, larut dalam rencananya sendiri. Elina menarik napas dalam-dalam, kemudian bergerak cepat ke kamar Bi Wati lewat jalur lain, memastikan ia tidak akan berpapasan dengan siapa pun di rumah.

Tok! Tok!

Krek! Pintu terbuka.

"Non Elina..." sapa Bi Wati, terdengar kaget.

Elina tak menjawab, ia segera masuk ke kamar Bi Wati dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.

"Bi, maaf ya kalau ganggu istirahat Bibi," ucap Elina pelan, suaranya tetap tenang tapi tegas.

"Tidak, apa-apa Non. Memang ada apa?" Bi Wati menatapnya dengan penasaran, matanya menelusuri paper bag yang dibawa Elina.

“Aku mau sembunyikan perhiasan dan berlian aku di sini, Bi,” jelas Elina, membuka paper bag dan memperlihatkan perhiasan yang berkilau memantulkan cahaya lampu kamar.

Bi Wati terkejut, matanya membesar, tidak menyangka barang-barang itu seharga dan seberkilau itu.

“Non… ngapain simpan di sini? Kenapa tiba-tiba Non simpan perhiasan di sini?” tanyanya, suaranya dipenuhi rasa heran dan sedikit khawatir.

“Para keluarga benalu itu ingin merebut semua ini, Bi. Makanya aku simpan di sini dulu, aman,” jawab Elina, menatap Bi Wati dengan tatapan mantap, menunggu responnya. Elina membuka lemari menyingkirkan beberapa pakaian di lemari Bi Wati, lalu membuka sebuah ruang penyimpanan rahasia yang sudah tersembunyi bertahun-tahun. Bi Wati terpaku, tak menyangka lemari lamanya menyimpan ruang rahasia seperti itu.

Dengan hati-hati, Elina menata perhiasan dan berlian secara merata, memastikan semuanya tersimpan rapi dan aman.

“Bi, aku balik ke kamar ya,” ucapnya sambil tersenyum tipis, pamit.

“Non… serius simpan di sini? Itu kan…” Bi Wati masih ragu, terlihat khawatir dan cemas.

“Serius, Bi. Elina percaya Bibi. Silakan istirahat, Bi,” potong Elina, lembut namun tegas, menutup pembicaraan sambil meninggalkan kamar dengan langkah mantap.

♡♡

"Sayang, dari mana kamu?" tanya Ares, suaranya lembut, seolah ingin menenangkan.

"Aku dari dapur, Mas, ambil minum," jawab Elina sambil memperlihatkan tumblernya. "Terus kamu dari mana?"

"Aku dari cari angin sebentar, El," ucap Ares, memberikan alasan yang terdengar santai.

Elina hanya mengangguk, pura-pura percaya, mengikuti permainan suaminya.

Mereka berdua masuk ke kamar, namun Elina tak langsung menuju ranjang. Ia melangkah ke meja kerjanya, menyalakan laptop dan mulai mengetik beberapa dokumen penting.

"Ini sudah malam, El. Kamu nggak istirahat? Besok saja kerjanya," ucap Ares, nada suaranya penuh perhatian—meski dibuat-buat.

"Aku nggak bisa tidur..." jawab Elina, matanya masih menatap layar laptop.

Ares menghela napas pelan, menyadari ia harus bersikap sabar dan lembut sampai hari kemenangannya tiba. "Kamu mau kopi atau teh nggak? Mas buatkan," tawarnya, nada suaranya tetap hangat.

Elina terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Boleh deh, Mas, tapi teh saja," balasnya.

"Tunggu ya, Mas buatkan buat kamu," ucap Ares, kemudian keluar dari kamar.

Tak lama kemudian, Ares kembali dengan membawa secangkir teh hangat. "Sayang, ini tehnya," ucapnya sambil menaruh di samping Elina.

"Makasih, Mas. Kalau Mas ingin istirahat duluan saja," jawab Elina tanpa menoleh, tetap fokus pada laptopnya.

"Ternyata Elina masih perhatian dengan aku… dia tidak akan bisa lepas dari aku," gumam Ares dalam hati sambil tersenyum tipis, senyumnya menyimpan rencana tersendiri.

"Tapi, El, kamu sendirian lho," lanjut Ares, suaranya terdengar lembut namun penuh pengamatan.

"Gak apa-apa, kan kamu masih di sini," balas Elina sambil tetap fokus pada layar laptopnya.

Ares mengangguk, kemudian merebahkan diri di ranjang, matanya sesekali menoleh ke arah Elina yang masih sibuk.

Kantuk mulai menyerang Elina perlahan. Ia menguap sekali, dua kali, hingga tak lama kemudian, matanya terasa berat. Dengan laptop yang masih menyala di depannya, Elina akhirnya tertidur di atas meja kerja, tubuhnya sedikit membungkuk ke arah layar, sementara teh hangat di sampingnya mulai menguap perlahan.

1
Nur Liana
menarik
Nona Jmn: Tquuuu😁😁
total 1 replies
Nur Liana
astera di mana thor
Nona Jmn: Kota fiksi Novel kak😂😍🤭😁
total 1 replies
echa purin
👍👍
Nunuk Sutrisno
agak gmn ya ceritanya...sahabat dgn seenaknya sendiri begitu dirumah temannya yg lg kerja,gak masuk akal🤭🤭
Ani Maryani Naryani
intrik keluarga suaminya nya terobsesi harta sang istri
Ani Maryani Naryani
itu mertua anak pelakor gak punya urat malu pingin memiliki harta yg bukan miliknya cepet Elina cerai usir keluarga suaminya kasih hukuman yg tidak terlupakan dan kamu harus bahagia di masa depan dan tinggal kan masa lalu kamu itu cantik dan kuat
Ani Maryani Naryani
dih itu suaminya di kira istri sah gak tau padahal dia lagi merencanakan balas dendam dan mengusir semua benalu harus kuat elina kamu tangguh dan badas
Ani Maryani Naryani
thor pemeran nya pasti Badas dan kuat bisa melawan benalu keluarga suaminya
Fi Fin
wooow elina nya dilraba 👍
Fi Fin
kok ngga di laporin ke polisi ya ..
biar semua masuk bui
Fi Fin
woow Dilraba yg jadi Elina 👍
nira ritawatty
Punya impian?
Bagus
Berusaha?
Harus
Mengambil mimpi Orang lain?
Hangus
Nona Jmn: Hahaha ngakak😂😂
total 1 replies
Mega Arum
Luar biasa..
Wiwik Wardoyo
sok gaya mau' pindah aset konoonnn.... 😄
Wiwik Wardoyo
mampir thoorrr 👍
Rosita Tumbelaka
blm cerai secarah Sah
zyfha
ko zhang ling he
Rina Mariana
bagus
Mama Lilik
Lo kok udah tamat.aja ....gimana itu tawanannya 😁
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘
Nona Jmn: Terima kasih kakak😍😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!