Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Enam
Alana berjalan di gelapnya malam. Tak peduli dengan tubuhnya yang sakit. Hujan turun tanpa aba-aba.
Awalnya hanya gerimis tipis yang menyentuh kulit, dingin dan ringan, seperti ragu untuk benar-benar jatuh. Tapi semakin lama, tetesannya kian rapat, membasahi rambut Alana yang terurai, meresap ke pakaian tipis yang melekat di tubuhnya. Alana tetap berjalan, tak peduli hujan membasahi tubuhnya.
Langkahnya pelan. Terlalu pelan untuk ukuran orang yang baru saja diusir tengah malam. Tapi tubuhnya tidak memberi pilihan lain. Setiap kali ia melangkah, ada rasa nyeri yang menjalar dari perut bagian bawah hingga ke paha. Perih. Berdenyut. Mengingatkan pada sesuatu yang ingin ia lupakan, tapi masih menempel erat di tubuhnya.
Ia menggigit bibir, menahan erangan kecil yang hampir lolos.
Tuhan ... Aku lelah. Ingin rasanya aku lari sejauh mungkin, teriak di sebuah tempat yang mungkin tidak ada satupun dari mereka yang tau. Menangis di bawah derasnya hujan, melepaskan semua beban didiri ini. Begitu sempurna cara engkau mendewasakan aku, tapi kenapa harus aku Tuhan? Sampai kapan aku harus belajar tegar di balik rasa sedih ini? Begitu berat skenario yang Engkau buat. Tuhan, bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan bayangan tubuhnya yang ringkih di aspal basah. Rumah megah Arka sudah jauh di belakang. Tidak ada lagi gerbang tinggi. Tidak ada lagi tembok putih bersih. Tidak ada lagi Mama Ratna dengan tatapan penuh kebencian.
Sekarang hanya ada dirinya, hujan, dan jalan panjang yang entah mengarah ke mana. Alana tidak tahu ke mana ia harus pergi.
Dia tidak punya tas. Tidak punya uang. Ponselnya tertinggal di kamar kecilnya atau mungkin sengaja ia tinggalkan. Dia sudah terlalu lelah untuk peduli. Yang ia tahu, ia harus terus berjalan. Selama kakinya masih bisa digerakkan, selama tubuhnya belum benar-benar menyerah.
Setiap beberapa langkah, Alana harus berhenti sejenak. Menarik napas. Menahan rasa sakit yang berdenyut semakin keras seiring dinginnya malam. Hujan kini turun lebih deras.
Air bercampur dengan air mata di wajahnya. Tidak ada yang bisa membedakan mana hujan, mana tangis. Alana tidak lagi terisak keras. Tangisnya senyap, seperti sudah kehabisan suara.
“Aku kuat,” bisiknya lirih, entah pada siapa. “Aku masih berdiri. Aku harus kuat."
Padahal, dalam hati, ia tahu itu bohong. Dia tak sekuat itu.
Kakinya mulai gemetar. Pandangannya sesekali mengabur. Jalanan terasa semakin panjang, seolah satu kilometer itu berubah menjadi sepuluh. Setiap lampu jalan yang dilewati seperti harapan kecil “setelah ini aku bisa berhenti” tapi setelah dilewati, yang ada hanya gelap berikutnya. Tubuhnya dingin. Sangat dingin.
Pakaiannya basah kuyup. Rambutnya menempel di leher. Bibirnya pucat. Rasa sakit di bagian bawah tubuhnya semakin menjadi, seakan protes karena dipaksa bergerak terlalu jauh.
Alana memeluk dirinya sendiri sambil berjalan, berusaha menghangatkan tubuhnya yang menggigil.
Di kejauhan, terdengar suara kendaraan sesekali melintas. Tapi jalan yang ia lewati sepi. Terlalu sepi. Jam sudah lewat tengah malam, hujan membuat orang-orang memilih berdiam diri. Langkah Alana mulai oleng.
Dia hampir tersandung beberapa kali. Nafasnya pendek-pendek. Dada terasa sesak, bukan hanya karena dingin, tapi karena semua yang menumpuk di dalam dirinya. Rasa takut, marah, malu, dan perasaan kosong yang anehnya justru paling menyakitkan.
“Tubuh ... kuat sedikit ya ...,” gumamnya. Namun tubuhnya tidak mendengarkan.
Pandangan Alana tiba-tiba berkunang. Lampu jalan di depannya berubah menjadi garis-garis cahaya yang bergetar. Suara hujan terdengar menjauh, seperti ditelan sesuatu yang pekat.
Langkahnya terhenti. Dia mencoba melangkah lagi, tapi kakinya terasa seperti bukan miliknya. Berat. Mati rasa.
Alana sempat berpikir untuk duduk saja. Beristirahat sebentar. Tapi sebelum ia sempat menurunkan tubuhnya, dunia di sekelilingnya berputar cepat. Dan gelap.
Tubuh Alana ambruk ke aspal basah dengan suara pelan, hampir tak terdengar di antara derasnya hujan.
“Eh! Mbak! Mbak!”
Suara itu terdengar samar. Jauh. Seperti berasal dari ujung terowongan.
Seseorang berjongkok di dekat tubuh Alana yang tergeletak tak bergerak. Hujan masih turun, membasahi rambut dan wajahnya yang pucat.
“Ya Allah … masih muda begini,” gumam suara itu, panik.
Ada tangan yang menyentuh bahunya, menepuk-nepuk pelan. Lalu suara lain menyusul, lebih tua, lebih tenang.
“Nafasnya masih ada. Cepat, bantu angkat. Jangan di sini, kehujanan.”
Alana tidak mendengar semuanya dengan jelas. Kesadarannya naik turun, seperti ombak yang enggan mencapai pantai. Dia hanya merasakan tubuhnya diangkat, diguncang sedikit, lalu ada rasa hangat yang samar, entah dari jaket, entah dari tangan seseorang.
Dia sempat mendengar dengan samar seorang pria menghampiri orang-orang yang mengerumuninya dan menggendongnya.
Bau hujan bercampur dengan aroma lain. Hangat. Asing. Gelap kembali menelan segalanya.
Entah berapa lama dia tak sadar. Alana terbangun dengan napas tersentak. Matanya langsung terbuka, refleks, penuh kepanikan.
Alana mencoba duduk, jantungnya berdegup kencang. Tangannya mencengkeram seprai di bawahnya, seolah bersiap melindungi diri.
Pandangan matanya menyapu ruangan. Ini bukan kamarnya.
Bukan kamar kecil di rumah Arka. Bukan kamar tamu. Bukan kamar apa pun yang pernah ia lihat sebelumnya.
Ruangan ini cukup luas. Langit-langitnya tinggi. Dindingnya berwarna krem lembut, bukan putih dingin. Ada lampu tidur di samping ranjang, menyala redup, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan ingatannya tentang malam tadi.
Ranjang yang ia tempati empuk. Terlalu empuk untuk ukuran orang sepertinya. Alana menelan ludah.
Tubuhnya terasa berat, tapi hangat. Pakaiannya sudah berganti, dia mengenakan kaus longgar dan celana panjang bersih. Bukan miliknya. Aroma sabun lembut masih tercium di kulitnya. Napasnya memburu.
“Ini … di mana?” bisiknya panik.
Ia menurunkan selimut sedikit, memastikan dirinya masih utuh, lalu menariknya kembali dengan cepat, jantungnya berdegup semakin kencang. Rasa sakit di bagian bawah tubuhnya masih ada, tapi lebih tumpul, seperti sudah diberi waktu untuk bernapas.
Alana memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat. Hujan. Jalanan. Gelap. Suara orang. Dia membuka mata lagi.
Di sudut kamar, ada sofa kecil dan juga meja. Tirai tebal menutup jendela. Semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu tenang. Yang jelas, ini bukan rumah Arka.
Kesadaran itu membuat dadanya menghangat sekaligus diliputi rasa takut baru. Siapa yang menolongnya? Di mana ia sekarang? Dan kenapa ia berada di tempat ini?
Pintu kamar masih tertutup rapat. Tidak ada suara. Tidak ada siapa-siapa.
Alana duduk diam, menunggu, dengan ribuan pertanyaan menggantung di kepalanya, tanpa satu pun jawaban.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭