Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Matahari bersinar terang dan Relia membuka matanya perlahan-lahan.
Ia merasakan perutnya yang tidak enak sama sekali.
Segera Relia bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Relia berlutut di depan wastafel, tubuhnya berguncang hebat saat rasa mual yang luar biasa mengoyak perutnya.
Ia memuntahkan cairan bening berulang kali hingga dadanya terasa sesak dan tenggorokannya panas.
Ariel yang terbangun karena suara itu langsung bergegas menyusul.
Ia menemukan Relia sedang menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata yang membelalak penuh horor.
Wajahnya yang pucat pasi terlihat semakin kontras dengan lebam yang mulai menguning.
Tiba-tiba, Relia memegang perutnya dengan tangan yang gemetar hebat.
Sebuah pemikiran mengerikan melintas di benaknya, sebuah kemungkinan yang jauh lebih menakutkan daripada cambukan Markus.
"T-tidak... tidak mungkin..." bisik Relia.
"Aku tidak mau hamil! Aku tidak mau mengandung benih iblis itu! Ariel, tolong aku! Aku tidak mau!!"
Relia mulai memukul-mukul perutnya sendiri dengan kalap, seolah ingin menghancurkan apa pun yang mungkin tumbuh di sana.
Air matanya tumpah deras, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa jijik yang luar biasa pada tubuhnya sendiri.
"Hancurkan ini! Aku tidak mau ada jejak dia di dalam tubuhku! Aku kotor! Aku kotor!!"
"Relia! Berhenti! Sayang, hentikan!" Ariel segera menerjang maju. Ia menangkap kedua tangan Relia, menahannya dengan kuat namun tetap hati-hati agar tidak menyakiti pergelangan tangannya.
Ariel memutar tubuh Relia dan mendekapnya erat dari belakang, mengunci gerakan tangan istrinya. Ia bisa merasakan jantung Relia berdegup kencang seperti detak jantung burung yang sedang sekarat.
"Dengarkan aku, Relia! Tarik napasmu!" Ariel menempelkan pipinya ke pelipis Relia yang basah oleh keringat dingin.
"Kita tidak tahu apa yang terjadi. Mual itu bisa karena stres, bisa karena trauma psikis, atau karena efek obat yang kamu minum semalam."
"Tapi bagaimana kalau iya? Bagaimana kalau aku mengandung anaknya, Ariel? Aku akan membunuhnya! Aku tidak akan sanggup melihat wajahnya yang mirip dengan monster itu!" jerit Relia sambil meronta dalam pelukan Ariel.
Ariel membalikkan tubuh Relia agar menghadapnya.
Ia memegang wajah istrinya dengan kedua tangan, memaksa mata yang ketakutan itu untuk menatap matanya yang tenang.
"Relia, tatap aku. Kamu aman bersamaku. Jikahal itu benar-benar terjadi, kita akan menghadapinya bersama. Aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian. Tapi sekarang, jangan sakiti dirimu sendiri. Kamu bukan tempat sampah untuk kejahatannya, kamu adalah korban yang sedang berjuang."
Relia jatuh ke pelukan Ariel, kakinya lemas tak mampu lagi menopang tubuh.
Isak tangisnya terdengar begitu pilu memenuhi kamar mandi yang dingin itu.
"Aku takut, Mas. Aku sangat takut. Setiap inci tubuhku terasa seperti milik dia, bukan milikku..."
Ariel menggendong Relia kembali ke tempat tidur, menyelimutinya, dan terus mendekapnya hingga guncangan di tubuh Relia mereda.
Tak lama kemudian, Dokter Wahyuni masuk membawa peralatan medis. Wajahnya terlihat sangat serius.
"Ariel, biarkan Mama yang menanganinya. Mama akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk tes darah. Kita butuh kepastian agar Relia tidak terus-menerus disiksa oleh asumsinya sendiri."
Ariel menganggukkan kepalanya dan mengecup kening Relia sebelum memberikan ruang bagi ibunya.
Ia berjalan menuju balkon, menarik napas dalam-dalam untuk menahan amarah yang membuncah. Di tangannya, ia mencengkeram ponselnya erat-erat.
Ia menghubungi tim dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakitnya untuk datang ke mansion hari itu juga secara rahasia.
Di dalam kamar, Relia kembali meraih laptopnya dengan jemari yang masih gemetar.
Di sela-sela menunggu hasil pemeriksaan, ia mulai mengetik bab baru dengan judul yang sangat gelap:
Benih di Tanah yang Terbakar.
Dunia mungkin mengira badai sudah lewat saat aku melarikan diri. Namun, mereka tidak tahu bahwa monster itu mungkin telah meninggalkan 'bom waktu' di dalam rahimku. Bagaimana cara mencintai sesuatu yang lahir dari kebencian dan paksaan?
Suasana di dalam kamar itu mendadak beku dimana Dokter kandungan yang baru saja memeriksa Relia meletakkan alat tes dan hasil USG portabel dengan tangan yang tampak berat.
Di layar kecil itu, terlihat sebuah titik kecil yang berdenyut dimana sebuah kehidupan yang secara biologis adalah keajaiban, namun bagi Relia, itu adalah belenggu abadi dari sang iblis.
"Hasilnya positif, Pak Ariel, Dokter Wahyuni. Usia kandungannya sekitar tujuh minggu," ucap dokter kandungan itu dengan suara rendah.
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Relia.
Ia terdiam selama beberapa detik, matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala dengan sangat cepat, seolah-olah gerakan itu bisa menghapus kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Nggak mungkin. Nggak!!" jerit Relia pecah.
Ia langsung bangkit dari ranjang, namun kakinya yang lemas membuatnya jatuh terduduk di lantai.
Ia menangis sesenggukan, suara tangisnya terdengar begitu sesak, seolah ada beban ribuan ton yang menghimpit dadanya.
"Buang, Ariel! Tolong buang ini dari tubuhku!" teriaknya sambil mencengkeram perutnya sendiri.
"Aku nggak mau membawa jejak laki-laki itu! Aku nggak mau mengandung monster! Dia akan tumbuh menjadi monster seperti bapaknya!"
Ariel segera berlutut di depan istrinya dan memeluk Relia dengan sangat erat, menahan tangan Relia yang kembali mencoba menyakiti perutnya.
Ariel membiarkan bajunya basah oleh air mata Relia, sementara hatinya sendiri terasa seperti disayat sembilu.
Tujuh minggu yang lalu adalah puncak dari penderitaan Relia di rumah itu.
"Relia, tenang. Aku di sini. Lihat aku, Sayang," bisik Ariel, suaranya bergetar menahan emosi.
"Gimana aku bisa tenang, Mas? Setiap detik anak ini tumbuh, aku akan ingat wajah Markus! Aku akan ingat kain itu! Aku akan ingat suara hujan malam itu!" Relia memukul dada Ariel dengan sisa tenaganya.
"Ini bukan anugerah, ini kutukan! Aku benci diriku sendiri!"
Dokter Wahyuni yang melihat itu langsung meminta dokter kandungan untuk keluar dari ruangan.
Ia mendekati putra dan menantunya, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran mental Relia yang kini berada di titik nadir.
"Relia, dengarkan Mama," Wahyuni berlutut di samping mereka, suaranya tenang namun mengandung kekuatan.
"Anak ini tidak memilih untuk ada. Dia tidak punya dosa. Dia hanya penumpang di tubuhmu."
"Tapi dia darah daging Markus, Ma!" raung Relia.
"Dia juga darah dagingmu, Relia!" sahut Wahyuni lembut.
"Dia adalah bagian dari dirimu yang berhasil bertahan hidup. Kita tidak akan memutuskan apa pun sekarang dalam keadaan emosi seperti ini. Mama dan Ariel akan menjagamu. Kita punya waktu untuk memikirkan ini."
Ariel mengangkat tubuh Relia yang sudah lemas ke atas tempat tidur.
Relia terus menangis sampai suaranya habis, hanya menyisakan isak kecil yang menyakitkan.
Di tengah keputusasaan itu, Relia melihat laptopnya yang masih terbuka di atas meja.
Dengan pandangan kabur, ia meraih benda itu. Ia ingin menghapus semua tulisannya, ia merasa tidak pantas menulis tentang "kebebasan" sementara ia masih membawa penjara di dalam rahimnya.
Namun, tangannya terhenti saat melihat notifikasi baru di platform menulisnya:
@IbuDuaAnak 'Apapun yang terjadi padamu setelah pelarian ini, ketahuilah bahwa kamu adalah tanah yang suci. Jangan biarkan racun dari masa lalu menentukan siapa kamu di masa depan. Kami bersamamu.'
Relia menatap barisan kalimat itu, lalu menatap Ariel yang duduk setia di sampingnya, memegang tangannya seolah-olah tidak akan pernah melepaskannya meskipun dunia runtuh.
"Apapun keputusanmu nanti, aku akan mendukungmu. Jika kamu memilih merawatnya, aku akan menjadi ayah baginya dan memastikan dia tidak akan pernah seperti laki-laki itu. Jika kamu tidak sanggup, kita akan cari jalan yang paling baik untuk kesehatan mentalmu. Kamu tidak sendiri, Relia."
Relia kembali meringkuk, memejamkan mata. Di dalam hatinya, sebuah konflik batin yang luar biasa besar baru saja dimulai.
mudah"an relia selamat