NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: RAHASIA DI TUMIT SEPATU

Jantung Ghea berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia hanya punya waktu kurang dari lima menit sebelum Adrian kembali dari lantai atas. Setiap detik terasa seperti tetesan air yang jatuh di atas bara panas—mendesak dan menyakitkan.

Ia sampai di depan gudang alat. Bangunan kayu itu nampak kusam dan terabaikan di pojok taman. Dengan tangan gemetar, Ghea menarik pintu kayu yang tidak terkunci sempurna. Bau oli, debu, dan pupuk menyambut indra penciumannya.

"Cepat, Ghea... cepat!" bisiknya pada diri sendiri.

Mata Ghea menyapu ruangan yang berantakan itu. Ia melihat tumpukan kotak kayu dan karung bekas. Di sudut paling gelap, tertutup oleh terpal biru yang berdebu, ia melihat sesuatu yang mencurigakan. Sebuah tas plastik besar berwarna hitam yang diikat rapi.

Ghea merangkak mendekat, mengabaikan debu yang mengotori gaun putihnya. Ia merobek plastik itu. Isinya membuat napas Ghea tertahan.

Itu adalah barang-barang miliknya. Barang-barang yang kata Adrian telah "hancur" dalam ledakan mobil.

Ada dompet kulit yang permukaannya lecet, lencana polisi yang sedikit bengkok, dan ponsel yang layarnya retak seribu. Ghea meraih ponsel itu, mencoba menyalakannya, namun nihil. Benda itu mati total. Namun, matanya tertuju pada sepasang sepatu bot hitam yang berada di dasar tas.

Sepatu itu kotor oleh lumpur kering, namun strukturnya masih sangat kokoh. Sebagai detektif lapangan, sepatu ini adalah perlengkapan paling berharga bagi Ghea. Ia teringat sesuatu—sebuah memori samar tentang prosedur standar yang ia buat sendiri untuk keadaan darurat.

‘Jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang.’

Ghea meraih sepatu bot kanan. Ia meraba bagian dalamnya, menekan-nekan alas sepatu yang keras itu hingga jemarinya menyentuh sebuah gundukan kecil yang ganjil di bagian tumit.

Dengan menggunakan sebuah obeng kecil yang tergeletak di meja alat, Ghea mulai menyilet jahitan di bagian dalam tumit sepatu tersebut. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Sret!

Jahitan itu terbuka. Sebuah benda logam kecil berkilau jatuh ke telapak tangannya.

Sebuah Kunci Titanium.

Ukurannya kecil, namun bobotnya terasa mantap. Kunci itu memiliki kode grafir angka yang sangat halus di permukaannya: 0-4-2-5. Ghea tidak tahu kunci ini untuk apa, tapi instingnya berteriak bahwa inilah "nyawa" cadangannya. Ini adalah kunci menuju kebenaran yang tidak bisa dimanipulasi oleh cerita romantis Adrian.

"Ghea?"

Suara panggilan Adrian dari arah teras membuat Ghea tersentak hebat. Ia hampir menjatuhkan kunci itu.

Dengan gerakan kilat, Ghea memasukkan kunci titanium itu ke dalam saku gaunnya. Ia menutup kembali plastik hitam itu, menarik terpal biru untuk menutupi jejaknya, dan bergegas keluar dari gudang. Ia sengaja mengambil sebuah gunting rumput tua agar punya alasan jika Adrian memergokinya di sana.

Ghea berjalan pincang kembali ke kursinya tepat saat Adrian muncul di pintu teras.

"Ghea? Sedang apa kau di dekat gudang?" tanya Adrian. Matanya menyipit, menatap gaun Ghea yang sedikit kotor di bagian bawah.

Ghea mengatur napasnya agar tidak nampak memburu. Ia mengangkat gunting rumput tua itu dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin. "Aku... aku melihat mawar ini layu. Aku ingin memotongnya, jadi aku mencari gunting di gudang alat."

Adrian berjalan mendekat. Ia mengambil gunting itu dari tangan Ghea, lalu menatap tangan Ghea yang sedikit berdebu. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

"Lain kali panggil aku atau Bi Inah, Sayang. Gudang itu kotor dan banyak laba-laba. Aku tidak ingin kau terluka lagi," ucap Adrian. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan mulai membersihkan jemari Ghea dengan gerakan yang sangat teliti—gerakan yang sama yang ia gunakan saat membersihkan noda darah semalam.

"Maaf, Adrian. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang berguna," jawab Ghea pelan.

Adrian tersenyum, lalu menyerahkan buku sketsa yang tadi ia ambil dari kamar. "Ini bukumu. Gambarlah apa pun yang kau mau. Selama kau bahagia, aku akan memberikan apa pun untukmu."

Ghea menerima buku itu. Di balik sampul buku sketsa, jemarinya meraba tonjolan kunci titanium di balik saku gaunnya. Perasaan takut yang tadi menyergapnya kini berganti dengan luapan energi baru.

Ia bukan lagi Ghea yang buta. Ia adalah detektif yang baru saja menemukan barang bukti paling krusial dalam kasus hidupnya sendiri.

Malam harinya, saat Adrian sedang mandi, Ghea duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan kunci titanium itu dan menatapnya di bawah cahaya lampu tidur yang redup. 0-4-2-5. Angka apa itu? Tanggal lahir? Kode loker?

Ia teringat lencana polisi yang ia temukan sebelumnya. Adrian tahu soal lencana itu, tapi Adrian tidak tahu soal kunci ini. Ini adalah satu-satunya rahasia yang Ghea miliki di rumah penuh sensor ini.

Ghea mengambil sebuah bantal kecil, lalu dengan hati-hati ia menyelipkan kunci itu ke dalam jahitan sarung bantal yang paling pojok. Ia akan menyimpannya di sana sampai saatnya tiba.

"Aku akan menemukan siapa aku sebenarnya, Adrian," bisik Ghea pada kegelapan. "Dan saat aku ingat semuanya, aku pastikan kau adalah orang pertama yang akan merasakan bagaimana rasanya dikurung di balik jeruji besi yang sesungguhnya."

Ghea berbaring, memejamkan mata tepat saat suara pintu kamar mandi terbuka. Ia berpura-pura tidur, sementara di dalam otaknya, ia mulai menyusun strategi baru. Strategi untuk tidak lagi sekadar bertahan, tapi untuk menyerang.

Karena sekarang, sang detektif sudah memiliki kuncinya.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!