Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemarahan Leon
"Aku akan kembali ke dalam dulu". Pamit Bara pada yang lain.
"Ayo". Ben meraih tangan Zee dan membawanya masuk kedalam mobil.
Sementara Bara yang sejak tadi diam hanya bisa menghela nafasnya panjang. Ia berbalik dan kembali masuk kedalam ruang dimana Zee tadi bertarung. Entah apa yang akan lelaki itu lakukan disana.
Zee terus menunduk, tak berani menoleh karena tahu Ben tengah menatapnya saat ini. Kedua tangannya saling bertaut dan meremas satu sama lain.
Amplop coklat berisi uang yang tadi membuat senyumnya merekah itu kini tampak tak berarti. Ia tahu Leon akan marah dan semakin marah dengan penjelasan nya nanti.
Ben menghela nafas panjang, ia mendekatkan tubuhnya pada Zee yang langsung mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk itu.
Wajah keduanya kini sangat dekat. Zee bisa melihat betapa sempurna nya garis wajah lelaki bule itu. Dan Ben, bisa melihat jelas bagaimana banyaknya luka yang ada diwajah Zee.
Ben meraih sabuk pengaman dan memasangkan nya ditubuh Zee.
" Terimakasih pak.. " Gadis itu kembali menunduk setelah mengucapkan terima kasih.
Sementara dimobil lain, Zacky tampak berulang kali melirik temannya yang jadi pendiam. Leon tampak masih menahan amarahnya. Terlihat dari tangannya yang masih mengepal kuat.
"Dia pasti punya alasan, tenangkan dulu dirimu". Ucap Zacky sambil menyalakan mesin mobil milik Leon.
Aurel yang duduk di kursi belakang menujulurkan tangannya untuk mengelus lengan kekasihnya. Ia berharap Leon bisa bijak dalam berbicara dengan Zee nanti.
Leon berusaha mengatur nafasnya yang masih memburu. Sebenarnya kemarahan Leon itu hanya karena ia begitu menyayangi Zee dan khawatir terjadi sesuatu pada Zee.
Namun melihat Zee terluka membuatnya sangat marah. Marah pada dirinya sendiri yang merasa gagal membuat Zee mau membagi cerita dan kesedihannya pada dirinya.
Leon ingin memeluk Zee dan menanyakan keadaannya. Namun karena marah ia malah membentak dan menyakiti Zee.
Leon menghela nafas berulang untuk mengurangi sesak didada nya. Ia melirik spion mobil, dibelakang mobil mereka saat ini Ben mengikuti.
" Kita kemana? ". Tanya Zacky
" Ke apartemen ku". Sahut Leon masih dengan suara yang memendam kemarahan.
"Enggak ay. Ke apartemen aku aja". Sela Aurel cepat. Tidak akan benar membiarkan Leon membawa Zee ke apartemen nya. Selain tidak ada obat-obatan disana, Aurel takut Leon akan melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan tempat tinggal pria itu.
Leon akan lebih menjaga sikapnya jika ada di apartemen Aurel.
" Tapi ay.. "
"Apartemen aku aja Zack! ". Putus Aurel membuat Leon menghela nafas panjang dan akhirnya pasrah dengan keputusan Aurel.
Sementara dimobil lain hanya ada kesunyian. Ben beberapa kali melirik Zee sementara gadis itu tak sedikitpun berani mengangkat wajahnya yang penuh luka.
Ben menghela nafas berat melihat bukan hanya wajah, namun tangan gadis itu pun terluka. Itu hanya telapak tangan saja yang terlihat karena Zee memakai hoodie.
Ben yakin tubuh Zee penuh dengan luka memar. Dan ia tak bisa membayangkan seperti apa sakitnya tubuh gadis itu saat ini.
" Pikirkan baik-baik jawaban seperti apa yang akan kamu sampaikan pada Leon, Zee". Kini gadis itu menoleh.
"Jangan sampai jawabanmu semakin membuatnya marah". Imbuh Ben membuat Zee menghela nafas panjang dan menjawab.
" Pasti marah sih mau apapun penjelasannya. Aku emang salah". Meskipun lirih namun Ben bisa mendengarnya.
Lelaki itu kembali menatap sekilas. Masih tak percaya rasanya melihat gadis itu bertarung dengan begitu hebatnya. Ia masih tak habis fikir darimana datangnya kekuatan yang dimiliki Zee.
Zee kembali diam..ia tahu, penjelasan apapun tak akan membuat amarah Leon redam. Apapun nanti jawaban dan penjelasan nya pada Leon, Zee yakin Leon tetap marah dan kecewa padanya.
Dua mobil sampai di basement sebuah gedung apartemen elite ditengah kota. Jika boleh Zee ingin tetap tinggal didalam mobil Ben saja.
" Ayo turun". Ben sudah membukakan pintu penumpang. Namun Zee tetap bergeming tanpa sedikit pun bergerak.
Sedangkan Leon dan Aurel sudah lebih dulu masuk kedalam lift untuk menuju ke unit apartemen milik Aurel.
"Apa aku boleh disini saja? " Cicit Zee tanpa berani menatap Ben.
Lelaki tampan itu tersenyum kecil melihat Zee yang seperti seorang bocah habis melakukan kesalahan dan takut di sidang ayahnya.
"Kamu tau pasti apa jawabannya kan? ". Zee menghela nafas dan menekuk wajahnya. Terlihat lucu dan menggemaskan dimata Ben.
" Cepat turun sebelum Leon menyusul kesini dan menyeret mu masuk". Bukannya menenangkan Zee yang tengah ketakutan, Ben justru semakin membuat nyali Zee ciut.
Zacky menunggu didepan pintu lift, ia bertanya-tanya apa yang dibicarakan bos nya kenapa lama sekali.
"Sudah ayo cepat". Karena Zee masih diam, Ben meraih tangan Zee dan menggandeng nya. Memaksa Zee keluar dari mobil miliknya.
Zacky tersenyum senang melihat bagaimana bos nya menggenggam lembut tangan Zee yang seolah ingin bersembunyi di belakang tubuh tinggi Ben.
" Ayo Zack.. " Zacky mengangguk, menekan tombol lift untuk naik ke lantai dimana unit Aurel berada.
"Ternyata kau sangat kuat Zee.. " Puji Zack jujur sekaligus menggoda Zee.
"Pak Zack.. " Rengek Zee membuat Zacky tertawa pelan.
"Tapi ini benar-benar pujian Zee. Kau benar-benar hebat. Aku tidak menyangka kalau ternyata gadis kecil sepertimu bisa menjadi petarung hebat seperti itu". Zee semakin mengerucut kan bibirnya mendengar Zacky memuji kemampuan bertarungnya.
Zacky melirik tangan keduanya yang masih saling bertaut. Rupanya Ben tak melepaskan genggaman tangannya bahkan saat sudah didalam lift.
Zacky melipat bibirnya agar tidak melengkung. Perlahan ia mengeluarkan ponsel disaku celananya dan diam-diam mengambil foto tangan Zee dan Ben. Kemudian ia mundur hingga dinding lift, ia kembali mengambil foto keduanya. Kini lengkap dengan tubuh mereka.
" Bu Sandra pasti senang sekali melihat anak bule nya mau menggenggam tangan seorang gadis". Gumam Zacky melihat hasil fotonya.
"Kau bicara apa? ". Ben menoleh pada Zacky.
" Istriku ternyata cantik sekali.. hanya itu" . Jawaban Zacky membuat Ben merotasi kan bola mata nya.
Zee menelan saliva nya yang terasa tersangkut ditenggorokan nya. Kini ia, Ben dan Zacky sudah berdiri di depan unit apartemen Aurel.
Dibanding menghadapi Leon, Zee lebih memilih menghadapi lawan diatas ring tadi. Meskipun Leon tidak akan menyakiti dirinya, namun nyali Zee benar-benar ciut saat ini.
Saking gugupnya, Zee tidak sadar jika mengeratkan tautan tangannya dengan Ben. Membuat pria itu menoleh dan ia bisa melihat wajah gugup Zee.
Pemandangan pertama yang menyambut Zee adalah tatapan tajam Leon. Reflek Zee melepas tautan tangan nya dan Ben kemudian mundur satu langkah.
Aurel bangkit, mendekati Zee dan menarik lembut tangan gadis itu supaya duduk. Tentu bukan disamping Leon, karena Aurel tahu Leon masih marah.
"Minum dulu Zee.. " Aurel memberikan sebotol air mineral pada Zee. Ia sudah lebih dulu memberikan air pada Leon supaya kekasihnya itu tenang.
"Makasih kak.. " Lirih Zee masih tak berani mengangkat wajahnya.
Zee meringis saat minum, rasa perih ia rasakan disudut bibir nya yang terluka. Masih untung baginya tidak mengeluarkan suara. Kalau sampai ia bersuara, maka pasti Leon akan semakin marah melihat kesakitan nya.
"Zee.. " Suara tegas Leon membuat Zee berhenti bernafas sejenak. Udara disekelilingnya terasa menghilang.
Ben hanya menyimak saja, ia tak tahu sejauh apa kedekatan antara Zee dan Leon. Bukan ranahnya juga untuk terlalu ikut campur.
"Maaf bang.. " Hanya kalimat keramat itu saja yang bisa Zee ucapkan.
"Kamu tau aku nggak butuh kata maaf Zee! ". Suara Leon sudah mulai meninggi. Membuat Zee semakin menunduk.
" liat aku kalo lagi ngomong Zee! ". Aurel berjingkat. Ini bukan kali pertama, namun ia masih tak terbiasa.
" Sayang.. tenang dong. Jangan kaya gini". Ucap Aurel sambil mengelus lengan Zee. Karena saat ini dirinya tengah duduk disamping Zee.
"Sekarang apa alasanmu Zee? ". Leon kembali duduk, suaranya juga sudah lebih tenang.
"Aku minta maaf bang. Aku.. "
"Aku cuma nggak mau terus ngerepotin abang". Lirih Zee akhirnya. Berbohong pun tak akan baik untuknya, lebih baik jujur saja.
"Sudah berapa kali aku bilang sama kamu Zee!!". Teriak Leon frustasi.
" Apapun itu yang menyangkut kamu, bukan beban ataupun hal yang merepotkan! Kenapa kamu sulit sekali diberitahu!!! ". Leon benar-benar frustasi. Bertahun-tahun mengenal Zee dan menganggap gadis itu sebagai adiknya sendiri, namun Zee masih saja sungkan padanya.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Aduh meuni kasian pisan neng Zee.. udah babak belur masih diomelin babang Leon🥲🥺...
...Kasih satu dulu ya ges.. like komen nya jangan ketinggalan bestie❤...
...Happy reading semua 🤗🤗 saranghae readers kuuu💋❤💋💋💋 🌹😍🤩🥰🥰🥰💋💋💋😘😘😘...