Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marketing Tingkat Dewa
Cahaya lampu teplok yang remang-remang membuat bayangan Narti di dinding dapur terlihat kecil dan rapuh.
Di depannya, Bu Ratmi, atau Yu Ratmi, sebagaimana orang desa mengenalnya, berdiri dengan dada naik turun menahan amarah.
"Kamu dendam ya sama Simbok? Kamu mikir kalau sudah gede nanti mau balas dendam, to?"
Prang!
Yu Ratmi membanting sendok ke piring seng.
Suaranya nyaring memecah keheningan malam desa.
Jari telunjuknya yang kasar menuding tepat ke wajah Narti.
Narti tetap membisu seribu bahasa.
Sejak kecil, dia sudah kenyang "makan hati".
Kata-kata seperti 'anak pungut' atau 'anak haram' sudah menjadi menu sehari-harinya.
Yu Ratmi selalu membenci ketenangan Narti. Bagi wanita itu, Narti adalah anak yang "dingin" dan tidak bisa dijinakkan.
Padahal, Narti hanya sedang bertahan hidup. Di usia sembilan tahun, saat anak lain meraung minta ampun ketika dipukul lidi, Narti hanya akan menunduk dan mengerjakan tugasnya lebih cepat.
"Mbok, mboten. Narti tidak dendam," jawab Narti pelan.
Dia mengangkat wajahnya, menatap lurus mata ibunya.
Narti bisa merasakan aura keputusasaan dari wanita di depannya.
Baginya, lupakan soal dua puluh tahun ke depan.
Sekarang, dia butuh makan dan atap. Dia tidak boleh dibuang, apalagi dijual ke kota.
Tangan kecilnya mengepal erat di balik punggung. Matanya kering, tanpa air mata, membuat tatapannya terlihat jauh lebih tua dari usianya.
"Mbok, Narti janji bakal terus ngabekti sama Simbok selamanya."
Kalau ramalan bocah kecil di pasar itu benar, bahwa dia akan menjadi seorang Jenderal atau orang berpangkat tinggi, dia bertekad akan memuliakan Yu Ratmi.
Sebab, seburuk apa pun mulutnya, Yu Ratmi-lah yang memungutnya saat orang lain hanya menonton bayi merah dibuang di pinggir kali.
Itu adalah utang nyawa.
Mendengar janji itu, bahu Yu Ratmi sedikit turun.
Egonya terpuaskan.
"Besok aku mau tanya lagi sama bocah sakti itu," suara Yu Ratmi melunak, meski tetap ketus.
"Sana, cuci piringnya. Habis itu rebus air, pijitin kaki Simbok."
"Inggih, Mbok."
Narti bergerak gesit.
Yu Ratmi mulai membayangkan masa depan cerah.
Menjadi ibunda seorang Jenderal, dihormati tetangga, dan hidup dalam kemewahan. Hatinya mendadak adem.
Sementara itu.
Di sebuah kamar pengap "Losmen Melati" pinggiran kota kabupaten, Ki Joyo, atau Herman, nama aslinya, sedang berkeringat dingin.
Demi menghindari ramalan "patah kaki" dari bocah perempuan di pasar kemarin, dia bersembunyi di sini.
Dia bahkan menggunakan nama palsu: Sugeng.
"Patah kaki? Mustahil! Siapa yang berani? Aku di lantai dua, mana ada selokan!" gumamnya sambil memijat betis.
Untuk lebih memastikan, Ki Joyo mengeluarkan koin kuno, warisan gurunya. Dia melempar koin itu ke atas kasur kapuk yang apek.
Kling. Kling. Kling.
Semuanya menunjukkan sisi gambar wayang yang pudar.
Firasat buruk. Sengkala.
Ki Joyo berkeringat dingin. Dia melempar lagi. Hasilnya sama. Tiga kali lemparan, tiga kali sengkala.
"Gusti Allah... kok begini?" Bulu kuduknya meremang. Otaknya buntu. Dia tidak bisa membayangkan skenario macam apa yang bisa bikin kakinya patah di dalam kamar terkunci ini.
Malam semakin larut.
Perut Ki Joyo mulai berulah akibat porsi ganda nasi padang tadi sore.
Masalahnya, losmen tua ini tidak punya toilet di dalam kamar. Dia harus melewati halaman belakang yang remang-remang.
"Ah, sialan," umpatnya.
Dia menuruni tangga kayu yang berderit, menuju area belakang.
Di sana, pemilik losmen sedang menggali tanah untuk pipa paralon baru.
Tanah di sekitar selokan pembuangan itu becek dan licin.
Selesai urusan di WC, Ki Joyo bergegas kembali.
"Aman, sebentar lagi sampai kasur..."
Namun, karena matanya yang mulai rabun ayam dan terburu-buru, kakinya menginjak gundukan tanah galian yang gembur.
Dia terpeleset.
Tubuhnya oleng ke depan, dan kaki kanannya masuk telak ke dalam selokan beton yang sempit.
Krak!
"AAAAAGGGHHH!!! TOLONG!!!"
Suara tulang yang patah terdengar mengerikan di tengah sunyinya malam.
Penjaga losmen berlarian datang.
Bukannya langsung menolong, mereka justru panik karena takut dituntut ganti rugi.
"Wah, Mas, jangan-jangan ini orang sengaja mau nipu kita!" bisik seorang pelayan.
"Jangan lapor polisi! Tolong... bawa saya ke Mantri... saya nggak akan nuntut!" rintih Ki Joyo.
Ketakutan akan identitas palsunya lebih besar daripada rasa sakitnya.
Malam itu, di bawah penanganan seadanya dari Pak Mantri, Ki Joyo merenung.
Ramalan bocah itu seratus persen akurat.
Tempatnya, waktunya, caranya. Dia sadar, jika dia tidak menemui bocah itu besok, hidupnya mungkin benar-benar akan berakhir tragis.
Matahari terbit dengan cerah.
Tari duduk manis di boncengan sepeda onthel Abah Kosasih.
Sesampainya di pasar, Kinar, ibunya, segera menata dagangan.
"Mari Bu, Pak! Sate baso ikannya! Gurih, renyah, buatan sendiri!"
Ajaibnya, hari itu, seperti hari sebelumnya lapak Kinar langsung diserbu.
Seolah-olah ada magnet tak kasat mata yang menarik orang untuk mendekat.
Aroma sate basonya tercium lebih sedap dari dagangan bakul lain biasanya.
Sesampainya di pinggiran kota, Abah Kosasih berkata pada Kinar, putrinya. "Nar, kamu jualan sendiri nggak apa-apa ya? Abah mau bawa Tari ketemu teman Abah sebentar."
Sebenarnya Kinar tahu, Bapaknya mau membawa Tari ke tempat ramalan kemarin. Dia menahan diri untuk tidak memeluk Tari.
"Inggih, Bah. Hati-hati. Nduk, nurut sama Abah Kung ya," kata Kinar sambil menata dagangan sate baso ikan dan kerupuk di meja lapaknya.
Tari menoleh, tersenyum manis. "Inggih, Bu. Tari bakal jadi anak pinter."
"Terima kasih, Abah Kung," ucap Tari lirih saat Abah Kosasih menuntunnya.
Abah Kosasih tidak menjawab, ia hanya mengelus kepala cucunya dengan sayang.
Tangan tuanya yang kasar terasa hangat. Dia tidak banyak bicara, hanya menuntun sepeda onthelnya menembus keramaian pasar pagi.
Orang-orang pasar ternyata ingat kejadian kemarin.
"Eh, itu si Bapak sama cucunya datang!" seru seorang tukang parkir.
Orang-orang spontan menyisihkan jalan.
Seperti memberi jalan pada pejabat, padahal hanya seorang kakek tua dan cucu perempuannya yang kurus.
Abah Kosasih menggelar koran bekas di undakan toko yang belum buka, lalu mendudukkan Tari di sana.
Si peramal palsu dan ibu galak itu belum terlihat.
Seorang ibu-ibu berdaster yang penasaran nyeletuk,
"Nduk, kira-kira si Dukun itu bakal datang nggak? Coba diterawang."
Semua mata tertuju pada Tari. Bocah lima tahun itu tampak tenang, jauh lebih dewasa dari umurnya.
"Datang, Bu," jawab Tari singkat.
Lalu, dengan santai dia membuka bungkusan daun pisang yang dibawa ibunya tadi.
Isinya sate baso ikan goreng yang masih hangat, disiram sambal kacang encer.
"Nyam..." Tari menggigit baso itu.
Aroma gurih ikan tenggiri bercampur bawang putih dan pedasnya sambal seketika menguar, menggelitik hidung orang-orang yang sedang menunggu 'pertunjukan'.
"Waduh, Nduk... itu makan apa? Kok baunya enak banget sampai bikin perut keroncongan," tanya seorang bapak yang sedang memikul dagangan sapu lidi.
Padahal itu cuma baso goreng biasa, tapi entah kenapa di tangan Tari, makanan itu terlihat bersinar, seolah makanan paling lezat sedunia.
Tari tersenyum, matanya menyipit lucu.
"Ini Sate Baso Ikan, Pak. Ibuku yang bikin. Ikannya seger, dagingnya tebal, bumbunya rahasia keluarga. Rasanya mak nyus."
Dia menyodorkan bungkusan itu. "Bapak mau coba? Masih ada satu tusuk."
Bapak itu ragu sejenak, tapi aroma itu tak bisa dilawan.
Dia mengambil satu tusuk dan menggigitnya.
Matanya langsung melotot.
"Walah! Enak tenan! Gurihnya pas, nggak kebanyakan tepung!"
"Belinya di mana, Nduk?" tanya ibu-ibu lain yang ikut menelan ludah.
"Di lapak sebelah selatan, Bu. Dekat penjual sayur. Namanya Lapak Bu Kinar. Tapi harus cepet, takut kehabisan lho," ucap Tari dengan nada polos tapi persuasif.
"Wah, ke sana ah!"
"Aku titip lapak bentar ya, mau beli buat sarapan!"
Seketika, separuh kerumunan itu bubar jalan menuju lapak Kinar.
Marketing tingkat dewa dari seorang bocah lima tahun.
Abah Kosasih hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.
"Wah, pinter dagang juga kamu ya," seorang pemuda berkaos partai mendekat, duduk jongkok di depan Tari.
"Dik, kalau mau diramal sama kamu, bayarnya berapa?" tanya pemuda itu iseng.
Dia mulai percaya bocah ini bukan bocah sembarangan.
Tari menatapnya, lalu menjawab dengan nada serius yang kontras dengan wajah imutnya.
"Mahar pertama, sembilan ribu sembilan ratus rupiah. Kedua, sembilan puluh ribu sembilan ribu. Ketiga, sembilan ratus sembilan puluh ribu. Begitu seterusnya. Tapi aku cuma meramal kalau jodoh."
Pemuda itu melonjak kaget. "Buset! Mahal amat!"
Tari hanya tersenyum misterius. Tentu saja mahal. Takdir tidak murah harganya.
Tiba-tiba, suara riuh pecah di ujung jalan.
"Minggir! Ada orang sakit!"