NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menaruh Perhatian

[Untuk satu minggu ke depan, aku nggak bisa di samping kamu. Tapi supaya kamu tetap aman, aku akan memerintahkan bawahanku supaya kamu tetap aman.]

Bangun tidur dan membuka ponsel untuk mengeceknya, ada nomor asing masuk dari seseorang. Waktu Shahinaz membacanya, dia sudah tau siapa yang mengirimnya. Untuk itu dia memilih tidak membalas, sebaliknya dia merasa tenang karena tidak mendapatkan gangguan lagi.

Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi, Shahinaz bergegas menuju kamar mandi, dia akan berangkat sekolah pada pagi-pagi sekali agar bisa mampir ke kantin, atau ke tempat yang sekiranya bisa mengenyangkan perutnya.

"Perfect, nggak perlu make up dan cukup pakai sunscreen aja, lo udah secantik ini kok." kata Shahinaz memuji dirinya sendiri. Lalu bergegas mengambil tasnya, dan turun ke lantai bawah.

Sesampainya di lantai bawah, Shahinaz bergegas juga menuju pintu utama rumahnya. Ketika membukanya, Shahinaz terdiam untuk waktu yang cukup lama. Dia melihat dua pria berpakaian hitam di depan gerbang rumahnya. Salah satu dari mereka sudah tidak asing lagi, karena mereka pernah berseteru sebelumnya.

"Selamat pagi, Nona Shahinaz. Kami ditugaskan untuk mengantar dan menjaga anda selama seminggu ke depan. Kami siap membantu kapan saja ketika anda membutuhkan." ujar salah satu pria yang wajahnya sudah tidak asing lagi dengan nada sopan.

Shahinaz menghela nafas panjang, Laki-laki itu memang ada-ada saja gebrakannya. Untung saja dia tidak antusias dan berbahagia secara berlebihan tadi. Karena dari karakter yang Dreven keluarkan di hadapannya, dia sudah paham kalau Dreven tidak pernah main-main dengan ucapannya.

"Cukup mengantarkan dan menjemput pulang saja. Selebihnya, saya tidak mau dijaga oleh kalian. Saya terbiasa sendiri, jadi kalian tidak perlu terlalu menuruti kemauan Tuanmu itu secara detail." jawab Shahinaz sambil mengunci pintu gerbangnya kembali, lalu menyelonong masuk begitu saja menuju mobil yang dia yakini akan mengantarnya ke sekolah.

Dia tidak akan banyak bertanya atau bertingkah di depan bawahan Dreven. Lebih baik dia menurut saja, daripada mendapat masalah yang cukup serius dengan tidak mengikuti kemauannya. Dua pria berseragam hitam itu juga mulai masuk ke dalam mobil, mereka tidak banyak berbicara karena Shahinaz sepertinya dalam mood yang cukup buruk.

"Oh ya, karena kalian bersama saya untuk satu minggu ke depan. Saya harus memanggil kalian siapa?" tanya Shahinaz setelah seperkian detik memilih untuk terdiam.

"Saya Raghav Nona, sedangkan yang mengemudi bernama Gallenio." jawab Raghav yang sudah diketahui namanya sekarang.

Shahinaz mengangguk mengerti, "Oh ya, sesuai perkataan saya tadi, saya tidak ingin dijaga. Kalian cukup mengantar dan menjemput saya ke sekolah saja tidak lebih."

"Tapi sepertinya Tuan Muda kami tidak akan menyukainya Nona. Tuan memerintahkan kami untuk menjaga Nona 24 jam selama dia pergi." kata Gallenio yang akhirnya turut membuka suaranya.

Shahinaz memutar bola matanya. Dreven ini lebay atau bagaimana, selama ini dia sendirian juga tidak ada masalah. Asal bisa makan secara teratur, Shahinaz juga tidak akan mati kelaparan. Tapi kenapa Dreven seolah menganggapnya tidak bisa melakukan apa-apa?

Raghav tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam sakunya, kemudian memberikannya kepada Shahinaz, "Nona, ini titipan dari Tuan Muda kami. Katanya Nona harus mmenerimanya apapun caranya. Untuk kata sandi kartu ini, Tuan kami akan memberitahukan lewat pesan atau panggilan telepon nanti."

"Tuan Muda juga berpesan untuk selalu menjawab panggilan atau pesan darinya Nona." sambung Gallenio juga.

Shahinaz mengusap wajahnya secara kasar, "Bilang, saya tidak akan menerima kartu itu. Saya punya sendiri, dan tidak akan merasa kekurangan selagi saya bisa mengatur keuangan. Kembalikan saja kepada yang punya."

Raghav dan Gallenio saling berpandangan sejenak sebelum Raghav menjawab dengan nada lembut. "Kami mengerti keputusan Nona. Namun, Tuan Muda kami sangat menekankan agar Anda menerima dan menggunakan kartu tersebut. Kami hanya menjalankan perintah."

Tidak Tuannya tidak bawahannya, semuanya menyulut rasa emosi yang sudah dipendam dalam diri Shahinaz. Dia tidak membutuhkan kartu atau sokongan tangan dari orang lain. Mau sesusah apapun dirinya, Shahinaz akan mencari jalan keluar untuk hidupnya sendiri.

"Tuan kalian memang kemana? Sampai-sampai dia menitipkan saya pada kalian?" tanya Shahinaz dengan rasa kesalnya itu.

Gallenio angkat bicara lagi, "Tuan Muda ada pekerjaan di luar kota. Harusnya pekerjaan ini paling lama diselesaikan dalam waktu satu bulan, tapi demi Nona, Tuan akan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu satu minggu."

Shahinaz berlagak seolah ingin muntah. Mereka baru kenal selama beberapa hari ini, dia tidak akan percaya jika Dreven mempersingkat pekerjaannya hanya demi diriny. Bagi Shahinaz itu pembodohan, Shahinaz tidak akan terbawa perasaan, Shahinaz tidak akan sakit hati karena terlalu berharap dengan orang lain.

"Hahaha, lucu sih, lawakan kalian cukup bagus. Btw, dia nggak takut nggak lulus SMA? Dia lahir dari keluarga terpandang loh." tanya Shahinaz dengan tawa kecilnya. Harusnya terlalu banyak absen, akan berdampak pada ketertinggalan kelasnya bukan.

"Sebelum ini, Tuan Dreven dan para sahabatnya juga memilih untuk tinggal di kelas Nona. Mereka bukan pelajar biasa yang fokusnya hanya untuk belajar saja. Jadi untuk tinggal di kelas sekali lagi, sepertinya tidak masalah. Masa depan mereka sudah terjamin." balas Raghav dengan wajah bangga terhadap Tuannya.

Tapi bukan itu jawaban yang Shahinaz inginkan.

Dia menggelengkan kepalanya pelan dengan jawaban ringan dari para bawahan Dreven ini. Jangan sampai Dreven satu kelas dengannya lantaran tidak lulus sekolah, Shahinaz ingin hidup bebas tanpa adanya gangguan laki-laki itu.

lagi. "Nona, bagaimana dengan kartu ini?" tanya Raghav

Shahinaz tetap menggeleng, "Saya masih memiliki harga diri untuk tidak menerima kartu itu, simpan saja untukmu atau yang lain, saya tidak akan menerimanya. Dan terimakasih sudah mengantar."

Shahinaz langsung bergegas turun, lari dari mereka agar tidak mengikutinya. Syarat hidup dengan tenang di dunia ini masih sama, Shahinaz tidak akan mencari perkara dengan siapapun.

Karena waktu masih pagi, tidak salahnya Shahinaz pergi ke kantin sekedar untuk melangsungkan sarapan. Dari kemarin dia tidak makan lantaran tidak bernafsu untuk melakukan apapun, jadi untuk saat ini dia sudah kelaparan dan perutnya meminta untuk segera di isi.

"Nasi gorengnya satu, teh manisnya satu, antar ke meja itu ya." kata Shahinaz dengan senyuman di wajahnya sekedar untuk beramah tamah.

Untung saja sekolah dan kantin masih terlampau sepi. Jadi tidak menjadi masalah kan Shahinaz singgah di sini untuk sebentar saja? Dia makan dengan tenang setelah pesanan itu di antar.

"Makanan di sini sama di dunia nyata aja beda. Rasanya gue cukup menikmati dengan makanan yang mereka hidangkan." kata Shahinaz merasa cukup antusias dengan apa yang dia makan.

Dia hidup bebas untuk sementara, tapi bukan berarti dia bebas dengan agenda rutinannya. Setelah ditelaah lebih jauh, Shahinaz asli selalu meluangkan waktunya untuk pergi ke toko bunga apapun kesibukan sekolahnya. Mungkin karena dia tidak ingin terlalu merasa sendirian dan terkucilkan, Shahinaz asli memilih untuk mengalihkan pikirannya dengan cara menata bunga sebaik mungkin.

"Jadi lo yang namanya Shahinaz Zerrin Johara." tiba-tiba saja ada yang duduk di depannya tanpa permisi sama sekali.

Shahinaz mengernyitkan dahinya bingung, dia sepertinya tidak mengenali laki-laki dihadapannya. Tapi dia memilih untuk tidak menggubris, nanti dia juga akan memberitahu namanya sendiri. Lebih dia menghemat suaranya untuk belajar di kelas saja.

"Entah apa yang Dreven lihat dari lo, sampai gue disuruh ngejagain bocil kayak lo. Cakep sih, tapi cungkring." ungkap laki-laki itu dengan mulut pedasnya.

Shahinaz mengangkat alisnya, terkejut dengan komentar tiba-tiba dari laki-laki yang baru duduk di depannya. Terlalu menyakitkan dan menyentil ginjalnya secara tidak langsung.

"Lo siapa?" tanya Shahinaz dengan nada dingin, menahan emosi yang mulai mendidih. Dia merasa tidak perlu berurusan dengan orang yang tiba-tiba muncul dan mengomentari tampilannya.

"Lo lupa siapa yang ngajak lo debat waktu itu? Gue, Keandra Alvarendra. Salah satu cowok paling famous di sekolah ini, jangan berlagak nggak kenal deh sama gue. Lo pasti seneng kan di deketin sama gue?" ungkap laki-laki yang ternyata bernama Keandra itu.

Shahinaz mengernyitkan dahinya heran, "Emang lo se-famous apa, sampai-sampai gue harus seneng di deketin sama lo?"

Keandra tertohok di tempat, tapi dia akhirnya tertawa juga. Dari segi manapun, dia sudah tau kalau Shahinaz itu tidak bisa diajak berdebat olehnya. Kemarin saja dia sampai kalah bicara, dia tau jika lawannya sekarang bukan orang biasa.

Keandra mengetuk-ketuk jarinya di atas meja, "Gue heran, apa yang Dreven lihat dari dalam diri lo. Dilihat dari bentukan lo aja, kayaknya lo cuma dari kalangan biasa. Gue nggak pernah lihat lo ikut kumpul perjamuan di kalangan atas soalnya."

Shahinaz tersenyum tipis sambil meminum teh manis yang dia beli tadi dengan santai, "Gue emang dari kalangan biasa. Temen lo aja yang matanya sawan karena ngelihat gue. Bilangin gih, cari yang sekelas aja sama dia. Gue nggak mau diteror sama temen lo itu."

Keandra memandang Shahinaz dengan rasa penasaran yang semakin meningkat. Dia akhirnya tau kenapa Dreven memilih gadis di di depannya sebagai cinta pertamanya, gadis itu terlampau berbeda seperti perempuan kebanyakan yang selalu memuja mereka!

"Lo tau, sebenarnya gue nggak peduli sama latar belakang lo. Tapi kalau lo jadi perhatian Dreven, itu pasti ada alasannya bukan? Gue cuma mau tau lebih banyak tentang lo." kata Keandra dengan raut wajah penuh penasaran.

Shahinaz mengangkat bahu, tampak tidak terlalu peduli. "Kalau lo cuma mau tau, cari tau aja sendiri. Gue lihat-lihat lo bukan dari kalangan bisa. Lagipun gue bukan pemandu wisata, jadi jangan harap gue bakal kasih info lebih soal diri gue."

Keandra mengerutkan keningnya, mencoba memahami sikap Shahinaz, "Dari lagaknya, lo juga nggak mau didekati atau diganggu. Tapi lo harus paham juga, Dreven itu bukan orang sembarangan. Kalau dia udah bilang ke siapapun untuk menjaga lo, berarti lo udah jadi orang penting di hidupnya. Ke Lynelle adiknya sendiri aja, Dreven nggak pernah seposesif ini sebelumnya."

Shahinaz menatap Keandra dengan tatapan tajam. "Lo pikir gue butuh perlakuan spesial dari lo karena titah Dreven? Gue tau dia bukan orang sembarangan, tapi itu bukan urusan gue juga. Gue cuma pengen hidup sendiri tanpa diganggu siapapun, termasuk lo sebagai temen-temennya."

Musnah juga mood makan Shahinaz sekarang, untung saja makanannya hampir habis. Jadi dengan segala pertimbangan, Shahinaz memilih pergi, lagipun kantin sudah terlihat ramai dengan bisik-bisik yang menyumpahi dirinya. Untuk itu Shahinaz harus bergegas menghilang sekarang juga!

"Lo mau pergi gitu aja tanpa konfirmasi dulu sama mereka soal identitas lo sebenarnya? Kayaknya mereka lagi ngegosipin lo, gara-gara bisa deket sama Pangeran sekolah kayak gue. Yakin berani ke kelas sendirian?" tanya Keandra sambil tertawa kencang.

"Nggak peduli dan bodo amat!"

Keandra tertawa kecil mendapati Shahinaz yang nampak emosi dan pergi begitu saja tanpa permisi.

Pantas saja Dreven menaruh perhatian lebih kepada gadis itu, dia sudah paham sekarang!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!