Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu Penuh Janji
Pesawat mendarat mulus di Bandara Ngurah Rai. Nayara masih setengah ngantuk, kepalanya bersandar di bahu Gilang. Tiga jam penerbangan dari Jakarta terasa cepat sekali karena dia tertidur hampir sepanjang perjalanan. Gilang menepuk pipinya pelan, "Bangun, sayang. Kita sudah sampai."
Nayara mengerjapkan mata. Matanya masih berat, tapi begitu ia ingat mereka sedang bulan madu, semua rasa kantuk langsung hilang. "Bali? Kita benar-benar di Bali?" tanyanya dengan suara cempreng seperti anak kecil.
Gilang tertawa, suara tawanya dalam dan hangat. "Iya, bodoh. Memangnya mau di mana lagi? Aku kan sudah janji mau bawa kamu ke sini."
Begitu keluar dari bandara, udara Bali yang hangat menyambut mereka. Aroma laut bercampur bunga kamboja tercium samar. Mobil mewah sudah menunggu, supir berseragam rapi membukakan pintu untuk mereka. Nayara sampai tidak percaya ini semua nyata. Dia, gadis biasa dari keluarga sederhana, sekarang diperlakukan seperti ratu.
Hotel mereka bukan hotel sembarangan. Villa pribadi dengan kolam renang infinity yang langsung menghadap ke pantai. Begitu pintu villa terbuka, Nayara terpana. Lantai marmer putih, jendela kaca besar, tempat tidur king size dengan kelambu putih yang berkibar pelan ditiup angin. Di tengah ruangan ada bunga-bunga mawar merah tersusun membentuk kata "WELCOME".
"Gilang, ini, ini terlalu mewah," gumam Nayara, tangannya gemetar saat menyentuh kelopak mawar.
Gilang memeluknya dari belakang, dagu bertengger di bahu Nayara. "Tidak ada yang terlalu mewah untuk istriku. Kamu pantas dapat yang terbaik."
Tiga hari pertama seperti mimpi. Mimpi paling indah yang pernah Nayara alami dalam hidupnya.
Hari pertama, Gilang mengajaknya sarapan di tepi pantai. Meja kayu dengan taplak putih, piring-piring cantik berisi roti panggang, telur, buah segar, jus jeruk yang masih dingin. Ombak kecil menghantam pasir putih, burung camar terbang rendah. Nayara tidak bisa berhenti tersenyum.
"Kenapa senyum terus?" tanya Gilang sambil menyuapkan potongan semangka ke mulut Nayara.
"Aku bahagia," jawab Nayara jujur. "Terlalu bahagia sampai takut ini cuma mimpi."
Gilang mencondongkan tubuh, mengecup bibir Nayara singkat. "Ini bukan mimpi. Ini nyata. Aku nyata. Kamu nyata. Kita nyata."
Siang harinya mereka jalan-jalan ke Tanah Lot. Pura di atas batu karang besar yang dikelilingi ombak. Gilang memegang tangan Nayara erat, tidak mau lepas walau sedetik. Mereka berfoto di mana-mana. Selfie dengan latar pura, foto candid saat Nayara tertawa, foto pelukan mereka dengan matahari sebagai latar belakang.
"Sini, biar aku yang foto," kata seorang turis asing, menawarkan diri dengan ramah.
Gilang dan Nayara berdiri berdampingan, tangan Gilang melingkar di pinggang Nayara. "Say cheese!" teriak turis itu.
"Cheese!" jawab mereka serempak, lalu tertawa bersama.
Malamnya, makan malam romantis di restoran tepi pantai. Lilin-lilin kecil menerangi meja mereka, musik akustik mengalun lembut. Gilang memesan lobster panggang dan steak wagyu. Nayara hampir tidak percaya dia sedang makan makanan semahal itu.
"Kamu suka?" tanya Gilang sambil memotong steak milik Nayara menjadi potongan-potongan kecil. Perhatian sekali.
"Enak banget," jawab Nayara dengan mulut penuh. "Tapi mahal kan ini?"
Gilang menggeleng. "Jangan pikirkan harga. Hari ini, besok, lusa, dan seterusnya, kamu tidak perlu mikirin uang lagi. Itu urusanku. Urusan kamu cuma satu: bahagia."
Nayara hampir menangis mendengarnya. Bagaimana bisa dia dapat suami sebaik ini?
Mereka kembali ke villa sekitar pukul sepuluh malam. Nayara langsung jatuh ke ranjang, perutnya kenyang, tubuhnya lelah tapi senang. Gilang berbaring di sampingnya, tangan menarik Nayara masuk ke pelukannya.
"Nayara," panggil Gilang pelan.
"Hmmm?"
"Aku ingin melakukan hubungan ini tiap malam."
Nayara tersentak, wajahnya langsung merah padam. "Gilang!"
Gilang tertawa, tangannya mengelus pipi Nayara yang panas. "Kenapa? Kamu kan istriku. Ini halal. Tidak ada yang salah."
Nayara menunduk, jari-jarinya meremas ujung baju tidurnya. "Iya sih, tapi, aku kan masih malu."
"Malu sama suami sendiri?" Gilang mengangkat dagu Nayara, memaksanya menatap mata Gilang. "Jangan malu. Aku suka lihat kamu seperti ini. Polos. Lugu. Menggemaskan."
Nayara tidak tahu harus menjawab apa. Gilang tidak memberinya waktu untuk berpikir. Bibirnya sudah melumat bibir Nayara, tangannya sibuk melepas kancing baju tidur Nayara satu per satu.
Malam itu mereka bercinta lagi. Lebih lama dari malam pertama mereka. Gilang seperti tidak pernah puas, terus menuntut lebih, lebih, dan lebih. Nayara hanya bisa pasrah, mengikuti irama Gilang, menuruti semua keinginan Gilang.
Ketika semuanya selesai, Gilang memeluk Nayara erat. Napasnya masih terengah, tubuhnya basah oleh keringat. "Kamu tahu tidak," bisiknya di telinga Nayara, "kamu takdir terbaik buat aku."
Nayara tersenyum meski tubuhnya lelah luar biasa. Dia suka mendengar kata-kata seperti itu. Kata-kata yang membuat hatinya hangat, yang membuat dia merasa berharga.
Hari kedua, mereka pergi ke sawah terasering di Tegallalang. Hijau membentang luas, padi-padi muda melambai ditiup angin. Nayara berlarian seperti anak kecil, tangannya terbuka lebar, tertawa lepas. Gilang mengabadikan setiap momennya dengan kamera ponselnya.
"Kamu cantik sekali hari ini," kata Gilang sambil terus memotret.
"Aku cantik tiap hari, dong!" protes Nayara sambil cemberut.
Gilang tertawa, meraih tangan Nayara dan menariknya masuk ke dalam pelukan. "Iya, iya. Kamu cantik setiap hari. Puas?"
Mereka duduk di tepi sawah, kaki menjuntai, menikmati pemandangan. Gilang memeluk Nayara dari belakang, dagu bertengger di puncak kepala Nayara.
"Nayara."
"Ya?"
"Kamu bidadari surga yang Allah janjikan di surga, namun Allah turunkan di bumi."
Nayara terdiam. Dadanya sesak. Bukan sesak yang menyakitkan, tapi sesak karena terlalu bahagia. Terlalu dicintai. Dia berbalik, memeluk Gilang erat. "Terima kasih sudah memilihku jadi istrimu."
Gilang mengecup puncak kepala Nayara. "Aku yang harusnya berterima kasih."
Malam kedua, mereka menonton pertunjukan tari Kecak di Uluwatu. Api menyala besar di tengah panggung, penari-penari berteriak "cak cak cak" dengan harmonis. Nayara terpesona, matanya tidak berkedip sepanjang pertunjukan. Gilang lebih banyak menatap Nayara daripada menatap pertunjukan.
"Kenapa lihat aku terus?" tanya Nayara ketika menyadari tatapan Gilang.
"Karena kamu lebih menarik daripada tarian itu," jawab Gilang santai.
Nayara tertawa, menepuk lengan Gilang pelan. "Gombal!"
"Gombal tapi jujur," sahut Gilang sambil mencuri kecupan di pipi Nayara.
Hari ketiga, hari terakhir mereka di Bali. Gilang mengajak Nayara snorkeling di Nusa Penida. Air laut jernih sekali, ikan-ikan warna-warni berenang di sekitar mereka. Nayara takut pada awalnya, tangannya erat menggenggam tangan Gilang.
"Tenang, aku di sini," kata Gilang, suaranya agak teredam oleh snorkel. "Aku tidak akan lepas."
Dan benar, Gilang tidak melepas tangan Nayara sepanjang mereka di bawah air. Bahkan ketika Nayara panik karena air masuk ke snorkelnya, Gilang langsung menariknya ke permukaan, memeluknya erat sampai Nayara tenang.
"Sudah, sudah. Tidak apa-apa," bisik Gilang sambil mengelus punggung Nayara yang basah. "Kita naik saja kalau kamu takut."
Tapi Nayara menggeleng. "Tidak. Aku mau coba lagi. Kamu kan di sini."
Gilang tersenyum, mencium dahi Nayara yang asin karena air laut. "Itu istriku. Pemberani."
Malam terakhir mereka di Bali, Gilang memesan makan malam pribadi di villa. Meja dihias cantik dengan bunga-bunga dan lilin, makanan mewah tersaji lengkap. Mereka makan sambil ngobrol, tertawa, berbagi cerita tentang masa kecil masing-masing.
"Kamu tahu tidak," kata Nayara sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya, "aku tidak pernah membayangkan bisa sebahagia ini."
Gilang menatap Nayara lembut. "Ini baru awal, sayang. Kita masih punya seumur hidup untuk bahagia bersama."
Nayara tersenyum, hatinya penuh dengan cinta dan harapan.
Tapi semua itu berubah di pesawat pulang.
Mereka duduk di kursi kelas bisnis yang empuk. Nayara bersandar di bahu Gilang, tangannya menggenggam tangan Gilang erat. Matanya setengah terpejam, masih mengantuk karena semalam mereka begadang sampai pagi.
Tiba-tiba ponsel Gilang bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Terus menerus.
Gilang melepas tangan Nayara perlahan, meraih ponselnya dari saku celana. Matanya menatap layar, jari-jarinya sibuk mengetik sesuatu.
Nayara membuka mata sedikit, melirik ke arah Gilang. "Siapa?"
"Kantor," jawab Gilang singkat, matanya tidak lepas dari layar ponsel.
"Oh." Nayara menutup mata lagi, mencoba tidur.
Tapi ponsel Gilang tidak berhenti bergetar. Pesan demi pesan masuk. Dan Gilang terus membalas, jari-jarinya mengetik cepat. Wajahnya berubah serius, alisnya berkerut, bibirnya mengerucut.
Nayara mencoba tidak peduli. Mungkin memang urusan kantor penting. Gilang kan pengusaha sukses, pasti banyak yang harus diurus.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang membuat dada Nayara sesak. Gilang tidak pernah seserius ini ketika membalas pesan sepanjang tiga hari di Bali. Bahkan ketika ada telepon dari kantor, Gilang hanya bilang, "Nanti saja, saya sedang bulan madu," lalu memutus telepon begitu saja.
Tapi sekarang? Dia sibuk sendiri. Tidak peduli Nayara masih bersandar di bahunya. Tidak peduli Nayara ingin mengobrol. Tidak peduli sama sekali.
"Gilang," panggil Nayara pelan.
"Hmmm?" jawab Gilang tanpa menatap Nayara. Matanya masih menempel di layar ponsel.
"Kamu, kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Ada yang harus saya urus."
Saya. Bukan aku. Gilang kembali memakai kata "saya" yang formal, yang jarang dia pakai kalau sedang berdua dengan Nayara.
Nayara menelan ludah. Dadanya makin sesak. "Oh, iya. Maaf ganggu."
Gilang tidak menjawab. Jari-jarinya terus mengetik, mengetik, mengetik. Wajahnya kadang tersenyum sendiri, kadang tertawa kecil, kadang mengetikkan sesuatu yang panjang sekali.
Nayara menatap jendela pesawat. Awan putih tebal menutupi langit. Cahaya matahari menerobos sedikit, membuat awan itu bersinar keemasan. Indah. Tapi Nayara tidak merasa indah sama sekali.
Ada yang berubah. Dia bisa merasakannya. Gilang yang tiga hari ini penuh perhatian, yang tidak mau lepas dari Nayara walau sedetik, tiba-tiba berubah jadi orang asing yang sibuk dengan ponselnya.
Nayara mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ini cuma perasaannya saja. Gilang pasti lelah. Pasti ada masalah di kantor. Pasti nanti kalau sampai rumah, semuanya akan kembali normal.
Tapi hati kecilnya berbisik. Berbisik pelan tapi jelas.
Sesuatu sudah mulai berubah.
Dan perubahan itu bukan perubahan yang baik.
Nayara menutup mata rapat-rapat, mencoba tidur, mencoba tidak memikirkan apa-apa. Tapi air mata menggenang di sudut matanya, perlahan turun membasahi pipi.
Dia menghapusnya cepat sebelum Gilang sadar.
Tapi Gilang tidak akan sadar.
Karena Gilang bahkan tidak melirik Nayara lagi.
***
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭