Ditinggalkan oleh suami di hari pertama pernikahan bukanlah keinginan Shakira Aisha. Sejak Fauzi sang suami tahu masalalunya, pria itu pergi entah ke mana.
Karena cinta yang Shakira Aisha miliki dan ingin mempertahankan rumahtangganya, dia mencari Fauzi ke suatu kota atas petunjuk yang ia dapatkan.
Kepindahannya ke suatu tempat justru malah mempertemukannya lagi dengan pria masa lalu, pria yang sudah menorehkan luka dan menghancurkan segala mimpinya diusia muda.
"Kita bertemu kembali? tak akan kubiarkan kamu pergi lagi."
"Sial, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menghamilimu!" Mario menyeringai penuh kelicikan.
"Aku sudah menikah!"
Deg.
Siapakah pria yang akan Shakira Aisha pilih? laki-laki masa depannya yang sudah menikahinya ataukah pria masalalunya?
Mampukah Mario meluluhkan Aisha-nya? Wanita yang telah ia permainan sedemikian rupa. Dan akankah Fauzi mempertahankan istrinya disaat ada laki-laki lain terang-terangan mengajaknya bersaing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 - Rencana
"Berhenti! Keluarkan wanita kotor ini dipinggir jalan! Biarkan dia sendirian disini!" tutur ibu-ibu.
"Bu biarkan aku kembali ke rumah suamiku ya, aku tidak mau disini sendirian, tempat ini terlalu sepi, aku takut Bu." Pinta Shakira pada tetangga yang membawanya pergi dari lingkungan keluarga suaminya.
"Enak aja minta kembali kesana, kamu tuh wanita malam, kami tidak mau tempat kami terinfeksi virus penyakit kamu itu, dan kami juga tidak ingin mendapatkan azab gara-gara membiarkan kamu tinggal di lingkungan kami," sahut ibu-ibu yang satunya.
"Mendingan kamu keluar sana! Jangan balik lagi ke lingkungan kita. Masih mending kita turunkan kamu disini, masih mending juga kita tidak mengarak kamu keliling kampung, dan masih mending kita semua tidak menghakimi kamu secara brutal. Mendingan sekarang turun dan pergi yang jauh dari rumah Bu Rahma!" timpal ibu-ibu yang mengemudikan mobilnya.
"Tapi Bu ibu, kalian semua salah paham, aku tuh cuman ..."
"Halah! Mana ada maling mau ngaku, kalau maling ngaku semua penjara penuh. Mana ada perempuan malam seperti kamu bilang tentang keburukan kamu ke kita, terkecuali kalau sedang lagi menjajakan diri pasti bilang mau berapa ronde? CK, sungguh menjijikan. Sungguh tidak pantas bersanding dengan Fauzi yang menjadi ustadz di salah satu pondok itu."
"Udah jangan banyak mikir, sekarang kamu keluar dari mobil ini dan jangan kembali lagi ke kampung kita! Kalau sampai kita kembali melihat kamu berkeliaran di sana akan pastikan kamu tidak akan pernah lagi bisa melihat kita alias mati di penjara!"
Shakira tertarik kasar ketika tangannya ditarik ke luar mobil, dia juga tersungkur kala ibu-ibu itu mendorongnya begitu kuat tanpa bekas kasih.
"Aww. Bu, ibu-ibu tunggu aku! Jangan buang aku dijalan sepi begini! Aku tidak mau!" Shakira mencoba berdiri, mengejar mobil yang membawanya secara paksa.
Ia berlari mengejar namun sayang, mobil itu tidak menghiraukan teriakannya.
"Hei! Kalian semua tunggu aku! Aku tidak salah, yang salah itu mereka yang mau aku layani!" pekik Shakira berdiri mematung lelah mengejar.
Bingung harus ngapain lagi, bingung mau pergi kemana lagi, kembali ke rumah orangtuanya pun seakan enggan.
"Aakhhh! Kenapa jadi begini sih? Kenapa aku harus ketahuan sekarang? Seharusnya semua itu tidak terjadi sebelum Mas Fauzi tahu semuanya. Dari mana Ibu tahu mengenai aku? Dari mana dia bisa mendapatkan seluruh bukti tentang pekerjaanku? Jika begini aku harus ngapain?"
Ia mondar-mandir di tengah jalan, memikirkan cara untuk bisa kembali bertemu suaminya. Jika nekat ke rumah mertuanya bisa habis di rujak warga.
"Susah amat sih mau taubat juga, aku tidak mau kalau harus balik ke pekerjaan lamaku, YA ALLAH BANTU AKU CARI SOLUSINYA DONG?" pekiknya seraya mendongak ke atas menatap langit malam tanpa bintang.
*************
Di rumah.
"Pokoknya kalau dia kembali lagi kesini kamu harus ceraikan dia malam ini juga, Fauzi. Mestinya tadi aja, eh kamunya malah pergi gitu saja. Untungnya para warga sudah bawa perempuan itu pergi," ujar Bu Rahma ketika anaknya sudah kembali pulang ke rumah lagi.
"Aku gak akan ceraikan dia, Bu." Pria itu bergegas ke kamarnya.
"Apa? Kamu itu bodoh atau gila sih? Sudah tahu perempuan itu kotor masih saja mau kamu pertahankan. Gak malu sama orang-orang?"
"Aku tidak peduli, aku memang benci sama dia karena sudah membohongiku tapi aku juga tidak akan menceraikan dia semudah itu. Meski rasa sayangku padanya masih ada tetap saja rasanya tidak terima atas masa lalunya."
Fauzi mengambil koper.
"Enggak! Ibu gak setuju, mendingan malam ini juga kamu ceraikan dia. Terus kamu membereskan baju ke dalam koper mau kemana? Bereskan dulu dong masalahmu sama tuh perempuan, jangan asal pergi aja." Mata Bu Rahma tak lepas dari pergerakan anaknya yang sedang membereskan beberapa baju kedalam koper seakan anaknya mau pergi.
"Ibu setuju ataupun tidak itu akan jadi urusanku. Malam ini juga aku mau pergi ke Bandung. Aku sudah memutuskan untuk pindah mengajar dan menerima tawaran temannya kiyai Ahmad tanpa sepengetahuan Shakira."
Selepas pertengkarannya dengan Shakira, ia pergi ke salah satu tempat buat menenangkan pikiran dan hatinya, memikirkan sebuah tawaran menjadi guru disalah satu sekolahan sebagai guru.
"Jadi kamu akan jadi pengajar anak-anak SMA?"
Fauzi berdiri di dekat ibunya, melirik sebentar sebelum melanjutkan lagi pengemasan barang-barangnya . "Tidak tahu, kita lihat saja nanti."
"Kalau gitu cari istri lagi disana, kali ini pastikan dia perempuan baik-baik, jelas asal usulnya, dan pastikan perempuan itu dari keluarga yang baik juga. Disana terkenal dengan mojang geulis jadi pilih salah satu perempuan yang akan jadi istrimu kelak."
Fauzi menghela nafas berat. "Ibu pikir aku kesana mau nyari istri lagi? Tidak Bu, tujuanku kesana tuh untuk mengajar sekaligus menenangkan pikiran sampai semuanya membaik. Gak mudah bagiku menerima masa lalunya Shakira dan gak mudah juga aku menceraikan dia begitu saja setelah semua kenangan yang kita lewati begitu banyak. Aku memang benci sama dia karena sudah membohongiku tapi aku punya cara lain untuk hubungan kita nanti."
Jika memikirkan Shakira, hatinya terlalu sakit membayangkan istri yang dia sayangi banyak bermain dengan laki-laki lain. Benci tapi sayang, ingin menceraikan tapi enggan. Sampai hatinya benar-benar menerima penuh masa lalu Shakira, ia memilih menjauh dulu.
"Kenapa ya kamu tuh susah banget nurut sama ibu jika menyangkut masalah tuh perempuan. Sekali ini aja nurut sama ibu, Fauzi. Jangan sampai karena sayang kamu sampai mau di bodohi terus menerus, ibu gak mau ya masa depan kamu hancur berantakan karena dia."
Pria itu tersenyum miris meratapi nasibnya, benar yang dibilang ibunya. Semenjak kenal Shakira dia jadi melawan untuk mendapatkan restu ibunya, ternyata pilihannya salah.
Namun semuanya sudah terjadi, sekarang dia sudah menikahi Shakira dan sekarang bingung harus bersikap seperti apa untuk rumahtangganya. Ternyata dia belum sedewasa itu untuk menanggapi sebuah masalah.
Hatinya berkata, "pantas saja Ibu tidak pernah setuju sama pilihanku, ternyata salah."
pst s luna buat byk cara spy ga dceraikan sm fauzi...
pasti sluna drama mnt dnikahin.
baguslah syakira bs lepas dr cowok gaa tegas ky s fauzi.
jgn2 s bp manggil warga buat gerebek anak sendiri biar d nikahin fauzi.