NovelToon NovelToon
Anak Kembar Sang Milyarder

Anak Kembar Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"

Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.

Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?

Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Kita Nikah

Liana mengantarkan kedua anaknya ke sekolah bersama dengan Reynan. Berhubung Kenzo cukup sulit untuk dibujuk akhirnya Liana ikut bersamanya. Di situ Kenzo hanya diam tidak banyak bicara, sangat berbeda dengan hari-hari biasanya yang terlihat begitu ceria.

"Bang Ken, nanti kamu jadi ikut kami kan?" tanya Kenzie yang duduk di sebelahnya, tepatnya di belakang kemudi.

Kenzo tak menjawab, dia memalingkan wajahnya ke arah jendela.

"Kamu itu kenapa sih? Ditanya nggak jawab, manyun mulu! Mukamu itu loh, serem banget kayak monster," desis Kenzie.

Reynan meliriknya dari spion. Dia teringat dengan celetukan Kenzie yang mengatakan bahwa kembarannya iri namun dia gengsi. Keberadaan mereka mengingatkannya pada masa lalu di mana ia dan kembarannya selalu berbeda pendapat. Sepertinya Kenzo lebih mewarisi sifatnya.

"Apakah selama ini mereka selalu membuatmu susah?" tanya Reynan dengan menoleh pada Liana yang duduk di sebelahnya.

Dengan cepat Liana menjawab. "Tentu saja tidak! Justru keberadaan mereka membuatku memiliki semangat hidup."

"Oke, aku paham. Mulai sekarang kalian menjadi tanggung jawabku. Aku akan penuhi semua kebutuhan kalian."

Liana langsung menolak. "Tidak perlu pak, saya masih mampu kasih makan mereka. Mereka sudah terbiasa hidup sederhana bersama saya. Jangan merubah kebiasaan mereka."

"Tapi mereka itu anak-anakku, Liana! Kamu jangan keras kepala gitu," bantah Reynan dengan menatapnya tajam. "Mungkin sekarang kamu masih mampu kasih kehidupan buat mereka, tapi nanti...? Semakin bertambahnya usia kebutuhan mereka semakin besar. Memangnya kamu mampu mengatasi dua anak sekaligus?"

Liana mengeratkan giginya dengan melayangkan tatapan sinis. "Bapak menyepelekan kemampuan saya?!"

"Tentu saja tidak! Aku tidak menyepelekan kemampuanmu! Aku salut sama kamu, tapi bukan berarti kamu harus berjuang sendirian tanpa suami kan?"

Liana mengerutkan keningnya. "Maksud bapak apa?"

"Ya maksud aku kita nikah dan membesarkan anak-anak bersama. Mereka dilahirkan bukan untuk dikorbankan Liana! Kalau mereka tahu selama ini sudah kamu bohongi apa jadinya? Kamu yakin mereka bakalan maafin kamu?"

Reynan tak akan menyerah menghadapi wanita yang keras kepala seperti Liana. Ia masih memiliki banyak kesabaran untuk membuatnya patuh kepadanya.

"Tapi sejauh ini mereka percaya kalau ayahnya sudah tiada. Selama bapak tidak buka mulut maka mereka tidak akan pernah mengetahuinya."

Reynan tersenyum smirk. "Cukup licik juga kamu Liana! Aku yang masih sehat dianggap sudah mati? Bener-bener kelewatan kamu!" Reynan geleng-geleng kepala dengan menggerutu.

"Ya bukannya saya licik pak! Andai saja bapak nggak pernah datang di kehidupan saya ceritanya juga nggak bakalan kayak gini," bantah Liana tak terima dengan makian Reynan.

"Dan kalau kamu nggak datang ke kamarku, mungkin kamu nggak bakalan punya anak seperti mereka," balas Reynan.

Seketika itu Liana diam tak bisa menjawabnya. Posisinya serba salah. Niatnya hendak menyalahkan Reynan tapi pada kenyataannya ia lah yang tidur di kamar pria itu. Sungguh malu setengah mati.

Reynan menoleh dengan satu alisnya terangkat. "Kenapa diam hum? Apa jawabanku tadi ~~

"Sudahlah, nggak perlu dibahas."

Reynan tertawa puas berhasil meledeknya. Sekeras apapun wanita itu pasti akan ditemukan titik kelemahannya.

"Ye..., akhirnya kita sampai," celetuk Kenzie dengan meraih tas punggungnya yang diletakkan di kursi.

Hari ini dia terlihat begitu bersemangat, tidak seperti hari-hari biasanya, bahkan bocah itu cukup cengeng dibandingkan dengan kembarannya.

"Om nggak lupa kan, sama janjinya?" Kenzie berupaya mengingatkan agar Reynan tak lupa akan janjinya.

"Tentu saja tidak boy. Nanti kalian pulangnya jam berapa? Biar Daddy jemput tepat waktu."

"Hah?! Daddy?" Dua bocah itu tercengang, begitupun dengan Liana yang tak kalah terkejut.

"Apa maksudnya Om? Apa Om mau jadi Daddy kamu?" tanya Kenzie.

Liana mendelik memelototinnya. Pria itu begitu nekat ingin merebut kebahagiaannya dan mengakui mereka sebagai anak kandungnya. Ia sudah berusaha keras untuk tidak menjelaskan pada mereka mengenai pria itu, tapi sepertinya usahanya sia-sia.

"Kamu itu apaan sih, Zie! Nggak ada Daddy pengganti. Daddy kita udah nggak ada, jangan sampai menggantikannya dengan orang lain. Aku nggak rela!"

Dari awal Kenzo memang tidak begitu respek padanya, meskipun ia tahu pria itu bukanlah orang jahat. Ia tidak ingin menggantikan ayah kandungnya dengan pria manapun. Ia berpikir sanggup untuk melindungi keluarganya tanpa harus mencari pengganti ayahnya.

"Abang nggak boleh ngomong kayak gitu! Daddy kita udah mati. Dia nggak bisa hidup lagi. Bukankah kita sudah sepakat buat cari Daddy baru? Kenapa sekarang Abang berubah pikiran? Memangnya abang nggak sayang sama mommy? Mommy selama ini bekerja keras sendirian. Mommy juga butuh istirahat bang, dengan kita punya Daddy baru, pasti mommy ada yang bantuin. Abang itu orangnya terlalu egois!"

Reynan geleng-geleng kepala melihat dua bocah yang duduk di belakangnya saling adu mulut. Di situ ia tidak bisa membela salah satunya, takut akan melukai perasaannya. Ia hanya memberikan sedikit nasehat agar bisa dimengerti.

"Sudah..., sudah! Nggak usah ribut. Tugas anak kecil itu hanya buat belajar biar pinter. Kalian nggak usah terlalu memikirkan orang dewasa, karena orang dewasa tidak suka melibatkan anak-anak sekecil kalian."

Seketika dua-duanya diam dengan wajahnya manyun. Reynan tersenyum tipis meliriknya dari spion.

"Kalian nggak perlu mikirin mommy yang hanya bekerja sendirian, emang sudah menjadi kewajiban dia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Nanti kalau kalian sudah tumbuh dewasa bakalan ngerti seperti apa jadi orang tua."

"Tapi kan mommy capek Om! Mommy butuh teman yang bisa bantuin. Kalau Om nggak mau jadi Daddy aku nggak apa-apa, aku bakalan cari Daddy lain."

Reynan menoleh pada Liana dengan satu alisnya terangkat. "Bagaimana? Kamu denger sendiri kan, apa yang dikatakan oleh Kenzie? Dia butuh ayahnya. Anak sekecil itu saja sudah bisa  berpikir dewasa, kenapa kamu yang dewasa masih juga keras kepala?"

"Ya terus saya harus gimana Pak? Saya harus diam di rumah nungguin mereka dapat ayah baru gitu," bantah Liana dengan mendengus jengkel.

"Aku tidak berpikir seperti itu," jawab Reynan. "Aku hanya ingin bilang, kita menikah dan urusannya selesai."

Liana tersenyum getir. Begitu mudahnya pemikiran Reynan tentang pernikahan. Menurutnya menikah  itu tidaklah mudah, bukan hanya menyatukan dua hati saja, tapi harus bisa menyatukan dua keluarga. Ia bahkan sudah tidak memiliki orang tua, sedangkan Reynan sendiri datang dari keluarga kaya dan berpengaruh di ibukota. Sangatlah tidak sebanding dengan keberadaannya yang hanya seorang pegawai biasa. Sudah pasti orang tua Reynan tidak akan memberikan restu.

"Pak, bukannya saya bermaksud untuk menolak ajakan bapak, tapi seharusnya bapak berpikir lebih jauh lagi untuk menikahi saya. Saya ini hanya wanita miskin yang tidak diketahui asal-usulnya. Bagaimana keluarga anda bisa menerima kehadiran saya dan juga anak-anak saya?"

Reynan berdecak. "Ck, cara berpikirmu lah yang terlalu dangkal! Belum juga berjuang sudah mundur duluan. Kamu belum mengenal keluargaku, jadi lebih baik diam dan patuh."

1
Dwi Agustin N Muftie
lah padahal kan tdi sudah ngobrol sama Dion. sengaja ya
Dwi Agustin N Muftie
nah kan akhirnya kepleset juga. Antra nama Dion dan doni😄😄
Ryn
lanjut thor
Anita Rahayu
buat karina dan suami kena karma😈😈😈😈
Ryn
lanjut thor
Evi Lusiana
reinan bosmu itu,ayah dr anak²mu ana
tia
dobel up thor
tia
udah gk sabar siapa ayah dari si kembar
tia
lanjut thor jgn digantung 🤭
tia
lanjut thor
Ika Dw: oke...
total 1 replies
tia
ada kemungkinan liana tidur dgn rey,,, semangat thor
tia
lanjut thor
Ika Dw: siap👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!