NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesehatan Arga Memburuk

Arga terbangun dengan sensasi aneh di dadanya. Seperti ada yang menekan. Berat. Sangat berat sampai napasnya sesak.

Dia mencoba bangkit dari ranjang tapi tubuhnya tidak mau diajak kompromi. Lengannya gemetar saat menopang berat badannya sendiri. Kaki terasa seperti kapas basah. Kepala berputar hebat.

"Sial..." gumamnya pelan sambil jatuh kembali ke bantal.

Safira yang ada di samping langsung terbangun. Matanya melebar dengan panik. "Arga?! Kamu kenapa?!"

"Aku... aku cuma pusing. Tidak apa-apa." Arga berusaha tersenyum tapi senyumnya terlihat seperti ringisan kesakitan.

"Bohong," Safira menyentuh kening Arga. "Kamu berkeringat dingin. Dan... dan wajahmu sangat pucat, Arga. Lebih pucat dari kemarin."

Arga mau membantah tapi tiba-tiba pandangannya gelap. Suara Safira terdengar jauh. Sangat jauh. Seperti dari ujung terowongan panjang.

Lalu semuanya hitam.

***

Saat Arga membuka matanya lagi, dia sudah ada di mobil. Bagas yang menyetir dengan wajah panik. Safira duduk di belakang, menopang kepala Arga di pangkuannya sambil menangis.

"Kamu pingsan sepuluh menit, Ga," kata Bagas tanpa menoleh, fokus pada jalan. "Safira nelpon gue panik banget. Untung gue baru sampai desa. Langsung gue bawa lo ke kota. Kita ke rumah sakit sekarang."

"Nggak usah..." Arga berusaha protes tapi suaranya lemah sekali. "Aku cuma capek. Nggak perlu rumah sakit."

"CAPEK APAAN?!" Bagas membentak dengan frustasi. "Lo tiduran aja di rumah tiap hari sekarang! Capek dari mana?! Lo pikir gue buta?! Gue lihat lo makin kurus! Makin pucat! Kayak mayat hidup, Ga!"

"Jangan bilang begitu..." Safira berbisik sambil mengusap rambut Arga dengan tangan yang gemetar. "Kumohon jangan bilang begitu."

Bagas terdiam. Dia melirik spion, melihat wajah Safira yang hancur. "Maaf, Fir. Gue nggak bermaksud... gue cuma... gue cuma takut kehilangan dia."

"Aku juga takut," jawab Safira dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama. Atau mungkin hanya terasa lama karena Arga terus masuk keluar kesadaran. Kadang dia dengar Bagas bicara, kadang dia dengar Safira menangis, tapi semuanya terasa seperti mimpi yang kabur.

***

Di rumah sakit, Arga diperiksa dari ujung kepala sampai kaki. Tes darah, rontgen, pemeriksaan jantung, bahkan sampai pemindaian otak. Semuanya.

Bagas dan Safira menunggu di luar ruang dokter dengan wajah cemas. Safira tidak berhenti menangis. Tangannya meremas-remas jilbabnya sendiri sampai kusut.

"Dia akan baik-baik saja," kata Bagas berusaha menenangkan meski suaranya gemetar. "Pasti cuma kecapekan biasa. Atau kurang vitamin. Atau... atau apapun lah yang bisa disembuhkan dengan obat."

Safira tidak menjawab. Dia tahu ini bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan obat. Dia tahu ini karena dia. Karena ikatan mereka yang menguras energi hidup Arga perlahan tapi pasti.

Satu jam kemudian, dokter keluar dengan wajah yang... bingung. Itulah kata yang tepat. Bingung.

Dokter itu, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, duduk di depan mereka dengan membawa map berisi hasil pemeriksaan. Dia membuka map itu, melihat-lihat lagi, lalu menatap Bagas dan Safira dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Jadi... bagaimana kondisi sodara saya, dok?" tanya Bagas dengan gugup.

Dokter itu menghela napas panjang. "Ini... ini kasus yang sangat aneh. Saya sudah praktek dua puluh tahun, tapi baru kali ini saya menemukan kasus seperti ini."

Safira merasakan jantungnya berhenti sedetik. "Kenapa, dok? Dia... dia sakit apa?"

"Itulah masalahnya," dokter itu menjawab sambil menunjukkan hasil pemeriksaan. "Semua organ mas Arga sehat. Jantung sehat. Paru-paru sehat. Ginjal, hati, semuanya normal. Bahkan hasil darahnya juga bagus. Tidak ada indikasi penyakit apapun."

"Lalu... lalu kenapa dia bisa sering pingsan? Kenapa dia lemas terus?" Bagas bertanya dengan bingung.

Dokter itu melepas kacamatanya, mengusap wajahnya dengan lelah. "Tubuh mas Arga seperti kehilangan energi hidup. Bukan energi fisik. Tapi... energi vital. Seperti ada sesuatu yang menguras tenaga hidupnya dari dalam. Dan saya... saya tidak tahu apa penyebabnya secara medis."

Hening.

Bagas dan Safira saling menatap.

Dokter itu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan. "Ini bukan penyakit medis, mas. Mungkin Anda perlu bantuan... yang lain."

"Maksud dokter?" Bagas bertanya meski dia sudah tahu jawabannya.

Dokter itu menatap Bagas dengan tatapan yang dalam. "Saya tidak bisa memastikan. Tapi kalau saya boleh saran... mungkin Anda bisa cari bantuan dari orang yang paham hal-hal di luar medis. Mungkin... ulama. Atau... atau apapun yang Anda percaya."

Safira langsung berdiri, berlari keluar ruangan dengan menangis. Tidak kuat mendengar lebih lama.

Bagas mengejar tapi dokter menahannya. "Mas... saya tidak tahu apa yang terjadi pada sodara mas. Tapi kalau kondisi ini terus berlanjut, saya khawatir dia tidak akan bertahan lama. Mungkin... mungkin hitungan bulan."

Bagas merasakan seluruh tubuhnya membeku. "Hitungan... bulan?"

Dokter mengangguk dengan wajah sedih. "Maaf saya tidak bisa lebih membantu. Tapi ini di luar kemampuan medis saya."

***

Arga dibawa pulang dengan kondisi sedikit lebih baik setelah diberi infus. Tapi semua orang tahu itu hanya sementara.

Di mobil, tidak ada yang bicara. Bagas fokus menyetir dengan rahang yang tegang. Safira duduk di belakang dengan wajah kosong, air mata masih mengalir tapi tidak ada isak tangis.

Arga yang duduk di samping Bagas melirik sepupunya. "Gas... gue tahu lo denger apa kata dokter tadi."

Bagas tidak menjawab. Tangannya mencengkram setir lebih kuat.

"Gue... gue minta maaf," Arga melanjutkan dengan suara lemah. "Maaf bikin lo khawatir. Maaf bikin lo repot."

"Jangan minta maaf, bodoh," Bagas membalas dengan suara yang bergetar. "Lo nggak salah. Lo cuma... lo cuma jatuh cinta sama orang yang salah."

"Dia bukan orang yang salah."

"Tapi dia makhluk yang salah untuk lo!" Bagas membentak tiba-tiba. Mobilnya sampai oleng sedikit. "Maaf, maaf. Gue nggak bermaksud. Tapi, Ga... lo lihat sendiri kan apa yang terjadi? Lo sekarat perlahan. Dan... dan gue nggak sanggup kehilangan lo."

Air mata Bagas jatuh. Dia mengusapnya kasar dengan punggung tangan sambil terus menyetir.

Arga merasakan dadanya sesak melihat sepupunya menangis. "Gas..."

"Gue cuma mau lo sehat, Ga," Bagas melanjutkan sambil menangis. "Gue nggak peduli lo nikah sama siapa. Manusia, jin, alien sekalipun. Yang gue pedulikan lo sehat. Lo hidup. Lo... lo jangan mati, Ga. Kumohon."

Di belakang, Safira menangis lebih keras mendengar itu. Tangannya menutupi mulutnya, menahan isak agar tidak terdengar.

***

Sesampainya di rumah, Arga langsung dibaringkan di ranjang. Safira duduk di tepi ranjang dengan wajah yang hancur. Matanya merah bengkak, bibir bergetar.

"Ini salahku..." bisiknya sambil menatap wajah Arga yang sangat pucat. "Ini semua salahku, Arga. Aku... aku yang membunuhmu perlahan."

Arga mengangkat tangannya yang gemetar, meraih tangan Safira yang dingin. "Ini bukan salahmu, sayang."

"Tapi dokter bilang kamu kehilangan energi vital! Dan itu... itu karena aku! Karena ikatan kita!" Safira menangis lebih keras. "Aku... aku harusnya tidak egois. Harusnya aku pergi sejak awal. Harusnya aku tidak pernah mendekatimu."

"Kalau kamu tidak pernah mendekati aku, aku mungkin sudah mati bunuh diri enam bulan lalu," Arga menjawab dengan lemah tapi tegas. "Kamu yang menyelamatkan aku, Safira. Bukan membunuh aku."

"Tapi sekarang kamu sekarat karenaku!"

"Aku yang memilih jalan ini," Arga menggenggam tangan Safira lebih erat. "Aku yang memaksa menikahimu. Aku yang bersikeras tetap bersamamu walau semua orang melarang. Jadi kalau ada yang salah, itu aku. Bukan kamu."

Safira jatuh ke dada Arga, menangis dengan sangat keras. Tubuhnya gemetar hebat. "Tapi aku tidak mau kamu mati... aku tidak mau kehilangan kamu..."

Arga mengusap rambut Safira dengan lemah. Tangannya hampir tidak punya tenaga tapi dia memaksakan. "Aku juga tidak mau kehilangan kamu. Jadi kita harus cari jalan. Pasti ada jalan."

Saat mereka sedang berpelukan, terdengar ketukan pintu.

Bagas membukakan pintu. Dan Ustadz Hasyim masuk dengan wajah yang sangat serius.

"Saya dengar dari Bagas tentang kondisi mas Arga," kata Ustadz Hasyim sambil menghampiri ranjang. Matanya menatap Arga dengan tatapan yang penuh kesedihan. "Seburuk itukah?"

"Dokter bilang semua organku sehat, Ustadz," jawab Arga dengan suara lemah. "Tapi... tapi kayak ada yang nguras energi hidupku."

Ustadz Hasyim mengangguk pelan. Dia sudah tahu ini akan terjadi. Dia sudah memperingatkan sejak awal. Tapi tidak ada yang mendengarkan.

Dia duduk di kursi samping ranjang, menatap Arga dan Safira dengan tatapan yang sangat serius.

"Mas Arga," katanya dengan nada yang tegas tapi lembut. "Saya akan jujur pada mas. Kalau kondisi ini terus berlanjut, mas tidak akan bertahan lebih dari tiga bulan lagi."

Hening.

Hening yang sangat mencekik.

Safira langsung bangkit, menatap Ustadz Hasyim dengan wajah yang hancur. "Ti... tiga bulan?"

"Bahkan bisa lebih cepat," Ustadz Hasyim melanjutkan dengan berat. "Ikatan antara jin dan manusia itu seperti parasit, meski tidak disengaja. Jin membutuhkan energi untuk bertahan di dunia manusia. Dan energi itu diambil dari pasangan manusianya. Semakin kuat ikatannya, semakin cepat pengurasannya."

"Lalu... lalu bagaimana cara menghentikannya?" tanya Arga dengan suara yang putus asa.

Ustadz Hasyim menatap Arga dengan tatapan yang sangat sedih. "Sudah saya bilang dari awal, mas. Hanya ada satu cara. Putus ikatan. Safira harus pergi. Dan mas harus melupakan dia sepenuhnya."

"TIDAK!" Arga berteriak meski tubuhnya lemah. "Aku tidak akan melepas dia!"

"Mas mau mati?!" Ustadz Hasyim membalas dengan nada yang lebih keras. "Mas mau meninggalkan dunia ini dalam usia muda hanya karena cinta yang tidak seharusnya ada?!"

"Cinta kami seharusnya ada!" Arga bersikeras sambil menangis. "Kami menikah! Kami suami istri yang sah!"

"Tapi alam tidak mengakui pernikahan itu, mas!" Ustadz Hasyim berdiri dengan frustasi. "Sah di mata manusia bukan berarti sah di mata alam! Dan sekarang mas bayar konsekuensinya!"

Safira yang mendengar itu langsung berlutut di depan Ustadz Hasyim. "Ustadz... kumohon... hamba mohon beritahu hamba jalan lain. Jalan apapun selain harus melepas Arga. Hamba... hamba tidak sanggup, Ustadz."

Ustadz Hasyim menatap Safira dengan tatapan yang lembut tapi tegas. "Tidak ada jalan lain, nak. Kalau kamu benar-benar mencintai Arga, kamu harus rela melepasnya. Biarkan dia hidup. Biarkan dia sehat. Walau tanpa kamu."

"Tapi... tapi bagaimana caranya hamba hidup tanpa dia?" Safira menangis dengan sangat keras. "Lima puluh tahun hamba menunggu, Ustadz. Lima puluh tahun hamba sendiri. Dan saat akhirnya hamba menemukan cinta lagi, hamba harus melepaskannya? Bagaimana... bagaimana caranya?"

Ustadz Hasyim tidak bisa menjawab.

Karena dia tahu, tidak ada jawaban yang bisa meringankan rasa sakit ini.

Dia hanya bisa menatap mereka berdua dengan tatapan yang penuh belas kasihan.

Dua jiwa yang saling mencintai.

Tapi takdir memaksa mereka berpisah.

Atau salah satu dari mereka harus mati.

Dan waktu untuk memilih... sudah semakin menipis.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!