NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - Terang-Terangan

Lagi-lagi Zain tersedak, selalu saja ada kejadian dimana Nadin membuat jantungnya tersentak. Siapa yang gugup sekarang? Setelah tadi dia tampak santai dan begitu percaya diri lantaran yakin Nadin tidak akan sadar dengan kecupan di bibirnya, kali ini Zain panas dingin dan memerah dalam satu waktu.

Istrinya bercerita, tepat di hadapannya dan sesantai itu Nadin mengatakan jika pelakunya adalah jin. Entah sarkas atau memang hanya menerka-nerka, tapi yang jelas saat ini Zain tengah berusaha untuk melindungi diri, sudah tentu lantaran gengsi.

"Sepertinya begitu, kamu tidak baca doa mungkin."

"Masa sih? Tapi rasanya aku doa kok, tiga surah pendek sekaligus ayat kursinya juga tidak ketinggalan."

Zain menghela napas panjang, jelas saja takkan mempan dibacakan apapun, dia bukan dari bangsa jin yang benar saja. "Mungkin ilmunya kuat ... jadi tidak mempan."

Penjelasan Zain hanya membuat Nadin mengerjap pelan, tatapan tak terbaca yang pada akhirnya membuat Zain beranjak lebih dulu. Tatapan wanita itu berbahaya, bisa-bisa dia akan mengaku tanpa sengaja nantinya.

Agaknya akan lebih baik jika dia menghindar saja. Nadin masih terus menatapnya, hingga Zain berdiri di ambang pintu juga tetap begitu. "Cepat makannya, aku tunggu di mobil."

"Kelasku dimulai jam 10 nanti, duluan saja, Mas."

Zain memejamkan mata, dia baru saja mendapat penolakan secara mentah-mentah. Padahal, sengaja Zain menyiapkan sarapan bahkan menyempatkan diri untuk membuang sampah semalam agar bisa pergi bersama.

Alasannya agar Nadin tidak banyak alasan dan dia bisa sekaligus mengantar sang istri. Namun, setelah mendengar jawaban Nadin mendadak Zain kesal sendiri. "Oh iya? Kenapa tidak sekarang saja?"

"Ya ngapain? Masih dua jam lagi, Mas ... aku pergi sendiri saja nggak apa-apa kok." Nadin pikir Zain pagi ini memang sangat baik lantaran peduli, padahal ya karena dia ingin Nadin pergi cepat saja sebenarnya.

"Apa kamu tidak ingin menyiapkan diri untuk perbaikan nilai ujianmu kemarin? Kalau tidak salah D, iya 'kan?" Tak terima mendapat penolakan, Zain melayangkan umpan dan hal itu benar-benar terdengar menyebalkan bagi Nadin sungguh.

"Perbaikan? Serius ada perbaikan?"

"Hm, aku akan memberi satu kesempatan, jadi ada baiknya maksimalkan waktu untuk cari referensi belajar di perpustakaan. Aku lihat sumber referensimu sangat terbatas, dan aku tidak begitu fokus dengan buku yang kamu gunakan."

"Eum kalau nanti ada perbaikan, kira-kira bisa berubah jadi A?" tanya Nadin penuh harap, jika Zain mengiyakan maka dia tidak akan menolak untuk pergi ke kampus pagi ini, sungguh.

"Tentu saja ... bahkan A+ akan kuberikan di perbaikan nanti."

"Janji dikasih A+ ya?"

"Hm, janji."

Mendengar janji manis Zain, tanpa pikir panjang Nadin segera menyelesaikan sarapan dan ditutup dengan minum air mineral yang juga Zain siapkan di sana.

Awalnya dia sudah ikhlas dengan nilai itu, tapi begitu mendengar kata perbaikan dari Zain, medadak dia merasa ada harapan. Bukan tanpa alasan, tapi menurut pengakuan para senior dalam ujian Zain tidak mengenal yang namanya perbaikan, sistem nilai yang dia berikan memang nilai pasrah dan harus diterima apa adanya.

Jelas saja kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Cepat sekali Nadin bersiap, tak butuh waktu lama dia sudah berdiri di hadapan Zain dan mengatakan siap untuk pergi. "Ayo, Mas!!"

"Kunci dulu pintunya, koperku mahal."

Baru saja Nadin memujinya, dan pria itu mendadak narsis hingga sang istri mengerjap pelan. Agaknya, perkara sendal semalam masih terus membekas dalam diri Zain. Dia memang sempat bercerita tadi malam, tapi Nadin tidak begitu penasaran karena ya menurutnya sendal hilang di masjid adalah hal yang lumrah.

"Iya ... ini mau dikunci, lagian siapa juga yang mau nyolong koper," celetuk Nadin seraya mengunci pintu kost mereka.

Hanya karena hilang sendal, dia menuduh tetangga sekitar terbiasa maling. "Bisa saja, sendalku saja hilang apalagi yang lain," sahutnya kemudian walau sebenarnya tidak diajak bicara.

"Masih tentang sendal? Ikhlasin aku bilang ... di warung banyak, paling juga 25 ribu."

Zain tak menjawab lagi, jika diteruskan besar kemungkinan pembicaraan mereka tidak akan ada ujungnya. Sebenarnya bukan perkara harga, bukan pula tak ikhlas sendalnya itu hilang. Hanya saja, Zain berusaha untuk waspada dan tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.

Sepanjang perjalanan keduanya kembali seolah tak kenal, diam dan memang belum terlalu banyak topik untuk dibahas. Sesekali Zain melirik sang istri melalui ekor mata, sementara Nadin masih terus fokus membaca buku kecil yang berisikan catatan materi penting terkait pelajarannya.

Dia terlihat tenang, Zain merasa lega sang istri perlahan membaik. Tidak hanya fisik, tapi juga mentalnya. Terlihat jelas saat ini dia sudah mulai berani banyak bicara, tidak juga menjauh ketika didekati. Ya, walaupun masih saja menunduk ketika ditatap, tapi setidaknya Zain merasa keputusan untuk menikahi wanita itu tidak salah.

.

.

"Mas, berhenti di halte."

"Kenapa begitu? Bukannya masih agak jauh?"

Sejenak Nadin menghentikan kegiatannya, dia menatap sang suami seraya menghela napas panjang. Agaknya Zain lupa terkait perjanjian yang beberapa saat sebelum menikah, statusnya rahasia dan tidak boleh ada orang yang tahu.

"Masih pagi ... tidak akan banyak yang tahu."

"Tidak banyak, bukan berarti tidak ada, 'kan?"

"Sekalipun ada yang tahu kita pergi bersama apa salahnya? Juga, apa pergi bersama itu bisa disimpulkan suami istri? Lihat tukang ojek itu, apa yang dia anter istrinya?" Analoginya sangat masuk akal, sekalipun ketahuan pergi bersama belum tentu rahasianya akan terbongkar.

Namun, bagi Nadin tetap saja, walau memang mereka tidak akan tahu yang terjadi sebenarnya, tapi bukan tidak mungkin jika dianggap mereka ada apa-apanya. Terlebih lagi, dosen yang bersangkutan adalah Zain. Sejak kapan dia membawa seorang wanita pergi ke kampus bersamanya? Bisa dipastikan Nadin adalah yang pertama.

Sayangnya, sekalipun Nadin sudah meminta Zain adalah pria keras kepala yang mendadak tuli ketika dia tak suka. Dia masih baik, berhentinya di depan gerbang, tidak masuk ataupun berhenti tepat depan perpustakaan.

"Turunlah."

Ingin marah, tapi tidak bisa, tak bisa dipungkiri Zain adalah suami. Dalam keadaan kesal, Nadin masih mengulurkan tangannya. "Kartuku sudah kamu pegang, aku tidak punya uang cash."

Siapa juga yang mau uang, Nadin mengerjap pelan dan bingung salahnya dimana. "Salim, Mas, bukan minta uang," jelasnya kemudian yang membuat Zain tertawa sumbang.

Tak segera mengulurkan tangannya, pria itu meratapi kebodohannya lebih dulu. Barulah setelah itu dia menyambut tangan Nadin, kecupan di punggung tangannya membuat Zain berdegup tak karu-karuan.

Bukan pertama kali, tapi yang kali ini terasa sangat berbeda. Beberapa saat setelah Nadin melepaskan tangannya, Zain masih terpaku, seolah bingung hendak bagaimana lagi.

"Aku pergi ya, Mas ... Assal_"

"Nadin tunggu!!" Zain menahan pergelangan tangan sang istri, memintanya untuk mengurungkan niat hingga Nadin menutup kembali pintu yang baru saja terbuka beberapa saat lalu.

"Kenap_"

Cup

Tanpa izin, tanpa peduli sang istri mau atau tidak Zain mendaratkan kecupan di kening Nadin hingga mata sang istri seketika membola. "Kata pak ustadz sering-sering cium kening istri biar akrab," ucap Zain seraya merapikan hijab sang istri yang sedikit berantakan akibat ulahnya.

.

.

- To Be Continued -

Hai, maaf kemarin cuma satu up ... aku bayar tiga di hari ini ya💃 Menuju 20 bab, mohon jangan tumpuk bab, sepakat?! Sepakat yak, emmuaaach

1
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NORA SAFITRI
oooooeh, Zain😍😍
Maya Mawardi
somplak emang
Maya Mawardi
mati kutu
Maya Mawardi
menarik dan menghibur banget
Maya Mawardi
ya ampuuun beneran pasangan somplak ini mah ketawa terus jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!