Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Serangan Terakhir
Waktu terasa berhenti di alun-alun itu.
Angin kencang bertiup membawa pasir yang menggores kulit. Asap dari bangunan-bangunan yang terbakar di sekitar kota mengepul ke langit. Suara pertempuran dari kejauhan masih terdengar—rakyat Alabasta yang masih saling membunuh karena kebohongan Crocodile.
Tapi di sini, di alun-alun ini, semua perhatian terpusat pada dua orang.
Luffy yang berdiri dengan tubuh penuh luka, lengan kiri masih setengah membiru meskipun antidot mulai bekerja, darah mengalir dari telapak tangan yang disayat sendiri.
Dan Crocodile yang berdiri sempurna di atas pasir berputar, satu-satunya tanda kerusakan adalah robekan kecil di mantelnya dan darah tipis di sudut bibirnya.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Aku berdiri di pinggir alun-alun bersama yang lain, menahan napas. Di sampingku, Zoro duduk dengan punggung bersandar di dinding—tubuhnya sudah di batas kemampuan tapi matanya tidak berkedip menatap Luffy. Di sisi lain, Vivi mengepalkan tangan begitu keras sampai kukunya menancap ke telapak tangan.
Nami memegang Clima-Tact erat-erat.
Usopp menggigit bibirnya.
Chopper masih berlutut di samping Luffy, siap berlari kapanpun dibutuhkan.
Sanji mengisap rokok terakhirnya—rokok yang sudah dia pegang sejak tadi tapi tidak pernah dihisap.
Dan Robin berdiri sedikit terpisah dari kami semua, menatap pertarungan dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Crocodile angkat bicara pertama. "Kau tahu," katanya dengan suara rendah yang hanya cukup terdengar di alun-alun yang hening itu, "sudah lama sekali aku tidak bertarung melawan seseorang yang benar-benar memaksaku berpikir."
Luffy tidak menjawab. Matanya tidak berkedip.
"Aku sudah ada di laut selama lebih dari dua puluh tahun," Crocodile melanjutkan, cerutunya mengepulkan asap tipis. "Aku sudah bertarung melawan ratusan orang. Marine. Bajak laut. Bahkan sesama Shichibukai." Dia berhenti sejenak. "Tidak ada yang membuatku melukai diri sendiri untuk mengalahkan aku."
"Aku tidak melukai diri sendiri," Luffy menjawab akhirnya. Suaranya tenang. "Aku memberikan darahku supaya aku bisa menyentuh kau. Beda."
Crocodile menatapnya sejenak.
Lalu tertawa pelan—tawa yang terdengar hampir seperti kekaguman yang dipaksakan keluar dari orang yang tidak terbiasa mengagumi siapapun.
"Beda katamu." Dia membuang cerutunya ke tanah dan menginjaknya. "Baiklah, Straw Hat. Serangan terakhirmu. Aku ingin melihatnya."
Pasir di seluruh alun-alun mulai berputar.
Bukan seperti tadi—bukan dinding atau tombak atau tornado.
Seluruh pasir di alun-alun itu mulai bergerak membentuk satu pusaran raksasa dengan Crocodile di tengahnya. Seperti mata badai. Pasir berputar semakin cepat, semakin kencang, suaranya seperti ribuan pisau kecil menggesek satu sama lain.
Angin dari pusaran itu menerpa kami semua—Nami harus menutupi matanya, Usopp tergelincir ke belakang setengah langkah, Chopper berubah ke Guard Point untuk menahan diri dari terseret.
"KALIAN MUNDUR!" aku berteriak pada yang lain. "JAUH DARI PUSAT!"
Tidak ada yang protes. Kami semua mundur ke pinggir alun-alun yang lebih jauh.
Hanya Luffy yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri—tepat di depan pusaran pasir raksasa itu.
Angin kencang menerbangkan topi jeraminya!
Topi itu melayang ke udara—
Luffy mengulurkan tangan, menangkapnya sebelum terbawa angin. Dia menatap topi itu sebentar.
Lalu memakainya kembali, menekannya lebih dalam ke kepalanya.
Dan menarik tangan kanannya ke belakang.
Bukan tangan kiri yang berdarah.
Tangan kanan.
"Eh?" Usopp bingung. "Tangan kanannya tidak berdarah! Bagaimana dia bisa—"
"Lihat tangannya," Sanji memotong dengan suara pelan.
Aku melihat.
Dan mengerti.
Luffy menggenggam tangan kirinya yang berdarah dengan tangan kanannya—membiarkan darah dari luka di telapak tangan kiri melapisi tangan kanannya juga.
Kedua tangan sekarang dilapisi darah.
"Cerdas," gumam Zoro dengan seringai. "Dengan begitu area kontak yang bisa menyentuh Crocodile dua kali lebih besar."
Crocodile melihat hal yang sama.
Sesuatu di ekspresinya berubah—bukan ketakutan, tapi pengakuan bahwa ini akan menyakitkan.
"Baiklah," katanya pelan. "Tunjukkan padaku."
Luffy menarik kedua tangannya ke belakang sejauh mungkin.
Sangat jauh.
Jauh sekali sampai aku bisa melihat otot-ototnya meregang di bawah kulitnya. Jauh sampai tangannya hampir menghilang ke kejauhan di belakangnya.
Angin dari pusaran pasir Crocodile makin kencang—mencoba mendestabilisasi kuda-kuda Luffy.
Tapi Luffy tidak bergerak.
Kakinya tertancap di tanah seperti pohon ek.
Matanya tertutup.
Napasnya teratur.
"Luffy..." Vivi berbisik di sampingku. Dia tidak melanjutkan. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk momen ini.
Crocodile mengangkat kedua tangannya di tengah pusaran pasirnya.
"SABLES—"
Tornado pasir raksasa melesat dari tengah pusaran ke arah Luffy!
"GOMU GOMU NO—"
Luffy membuka matanya.
Matanya menyala dengan determinasi yang aku belum pernah lihat sebelumnya pada siapapun.
"—STORM!"
Kedua tinjuannya melesat ke depan dengan kecepatan yang membuat udara bergetar!
Bukan satu arah—tapi meregang dan membelok, menyerang dari puluhan sudut berbeda dalam waktu sepersekian detik! Tangan kanan dan kiri berbalik, menyilang, menyerang atas bawah kiri kanan sekaligus—hujan serangan yang tidak bisa dihindari ke segala arah!
WHAM WHAM WHAM WHAM WHAM WHAM!
Tornado pasir Crocodile hancur berantakan ditembus ratusan tinjuan!
Dan di balik tornado yang hancur itu—
Setiap tinjuan yang mengandung darah menghantam tubuh Crocodile satu per satu!
CRACK! CRACK! CRACK!
Crocodile terpental ke belakang—tapi Luffy tidak berhenti!
Tinjuannya terus menyerang, terus menghantam, terus mendorong Crocodile semakin jauh ke belakang!
"TERIMA INI UNTUK SEMUA YANG KAU LAKUKAN PADA VIVI!"
WHAM!
"UNTUK RAKYAT ALABASTA!"
WHAM!
"UNTUK ZORO YANG SENDIRIAN MENAHANMU!"
CRACK!
"DAN UNTUK LUFFY YANG KAU RACUNI!"
Tinjuan terakhir—tangan kiri, yang paling banyak mengandung darah, yang paling kuat—
BOOOOM!
Menghantam wajah Crocodile dengan seluruh kekuatan yang tersisa!
Ledakan shockwave merobek lantai alun-alun. Pasir beterbangan ke segala penjuru. Kami semua terpental beberapa langkah ke belakang meskipun sudah di pinggir alun-alun.
Debu mengepul tebal.
Tidak ada yang bisa melihat apapun.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Tiga puluh detik.
Angin pelan-pelan membawa debu menjauh.
Dan kami melihat—
Crocodile terbaring di lantai alun-alun yang retak.
Tidak bergerak.
Pasir di sekitarnya tidak bergerak. Tidak ada lagi pusaran. Tidak ada lagi dinding pasir. Tidak ada lagi tornado.
Hanya pasir biasa yang diam dan tenang.
Crocodile—Shichibukai. Sir Crocodile. Mr. 0. Penguasa bayangan Alabasta selama bertahun-tahun—
Pingsan.
Suasana hening total.
Lalu satu suara memecah keheningan.
"...Ha."
Semua orang menoleh.
Luffy berdiri—atau lebih tepatnya, berusaha keras untuk tetap berdiri—di tengah kawah kecil yang terbentuk dari serangannya. Tangan kanannya masih teracung ke depan. Tangannya gemetar.
Lututnya gemetar.
Seluruh tubuhnya gemetar.
"Ha... ha..."
Senyum perlahan terbentuk di wajahnya.
"...Kubilang... aku yang menang."
Lututnya menyerah.
Luffy jatuh berlutut—tangan masih teracung ke depan sebentar, lalu perlahan turun.
Dan Monkey D. Luffy, Kapten Bajak Laut Topi Jerami, jatuh pingsan ke lantai alun-alun dengan senyum di wajahnya.
Hening sedetik lagi.
Lalu kekacauan.
"LUFFY!" Nami berlari pertama, menyusul Chopper yang sudah lebih dulu bergerak. "CHOPPER! DIA—"
"Napasnya ada! Detak jantungnya kuat!" Chopper langsung memeriksa sambil berlutut. "Dia pingsan karena kelelahan ekstrem dan racun yang belum sepenuhnya dinetralkan! Tapi dia akan baik-baik saja! DIA AKAN BAIK-BAIK SAJA!"
Vivi berlari dan berlutut di samping Luffy, air matanya mengalir deras. "Luffy... Luffy..."
Usopp sudah menangis terang-terangan. "KAPTEN KITA MENANG! AAAAAAH! AKU IKUT BERJUANG JUGA JADI INI KEMENANGAN KITA BERSAMA!"
"Tidak ada yang bilang kau tidak berjuang," Sanji berkata sambil mengisap rokoknya yang sudah dingin, suaranya sedikit serak.
Zoro masih bersandar di dinding, menatap Crocodile yang terbaring.
"Akhirnya," gumamnya pelan dengan mata terpejam. "Kerja bagus, baka-kapten."
Aku berdiri di tengah itu semua, menatap Luffy yang terbaring dengan senyum di wajahnya.
Tenggorokanku terasa aneh.
Dadaku terasa penuh.
Aku sudah melihat banyak pertarungan sejak bergabung dengan kru ini. Sudah melihat Luffy bertarung berkali-kali. Tapi momen ini—melihat seseorang yang bangkit dari hampir mati dua kali, melawan racun, melawan kekuatan yang jauh melampaui dirinya—
Entah mengapa rasanya berbeda.
"Oi, Kenji."
Aku menoleh. Zoro menatapku dengan satu mata setengah terbuka.
"Jangan nangis di sini. Memalukan."
"Aku tidak nangis," aku menyeka sudut mataku cepat.
"Tuh kan nangis," dia menutup matanya lagi.
"Tutup mulutmu, Zoro."
Sesuatu yang mungkin bisa disebut tawa kecil keluar dari mulut Zoro sebelum dia diam lagi.
Aku menoleh ke arah Robin yang masih berdiri di pinggir alun-alun. Sendirian. Menatap Crocodile yang terbaring.
Ekspresinya tidak bisa kubaca—campuran dari sesuatu yang mungkin lega, mungkin sedih, mungkin sesuatu yang jauh lebih kompleks dari keduanya.
Matanya beralih dan bertemu mataku.
Aku tidak tahu harus berkata apa padanya.
Dia yang memberikan antidot. Dia yang memberitahu Crocodile bahwa Pluton tidak ada di Alabasta. Dia yang pada akhirnya—dengan caranya sendiri yang tidak mudah dimengerti—memilih sisi yang benar.
Robin mengangguk sedikit ke arahku. Bukan senyum. Hanya anggukan.
Aku membalasnya.
Itu cukup untuk sekarang.
"Hei," Sanji tiba-tiba berkata. "Pertempuran di kota masih berlanjut."
Dia benar.
Suara pertempuran dari jalanan di sekitar alun-alun masih terdengar—lebih jauh dan mulai mereda, tapi masih ada.
Vivi berdiri dari sisi Luffy, menyeka air matanya. Ekspresinya berubah—dari lega menjadi tegas dalam sekejap.
"Aku harus menghentikan pertempuran itu," katanya. "Sekarang Crocodile sudah kalah, rakyatku perlu tahu kebenaran. Mereka perlu tahu bahwa Baroque Works yang menciptakan pemberontakan ini. Mereka perlu tahu bahwa mereka saudara—bukan musuh."
"Tapi bagaimana caramu membuat semua orang mendengar?" tanyaku. "Kota ini luas. Pertempuran terjadi di banyak tempat sekaligus."
Vivi berpikir sejenak.
Lalu dia menoleh ke arahku dengan tatapan yang aku sudah mulai kenali—tatapan seseorang yang punya rencana dan membutuhkan bantuanku secara spesifik.
"Kenji," katanya. "Kau bisa membawaku tinggi. Cukup tinggi supaya seluruh kota bisa melihatku."
Aku mengerti maksudnya.
"Menara jam di pusat kota," aku menunjuk ke arah menara tinggi yang menjulang di tengah Alubarna—menara yang aku gunakan sebagai titik ayunan pertama saat kami memasuki kota. "Dari atas sana, seluruh kota bisa melihat dan mendengarmu."
Vivi mengangguk mantap. "Bawa aku ke sana."
"Aku ikut," Nami berkata langsung.
"Aku juga," Usopp mengangkat tangan—lalu menunduk ke arah Luffy. "Tapi... Luffy—"
"Aku jaga dia," Chopper berkata tegas. "Zoro juga butuh perawatan. Kalian pergi."
Sanji berdiri. "Aku ikut kalian. Kalau ada sisa agen Baroque Works yang masih berkeliaran—"
"Aku juga," kata seseorang.
Semua orang menoleh.
Robin melangkah maju. "Aku tahu pola penyebaran agen Baroque Works di kota ini. Aku bisa membantu memastikan tidak ada yang mengganggu Vivi."
Semua orang diam sejenak—ketidakpastian yang wajar terhadap seseorang yang sampai beberapa menit lalu masih di pihak musuh.
Tapi Vivi mengangguk. "Baiklah. Aku percaya padamu, Robin."
Robin menatap Vivi sebentar—lalu sesuatu yang sangat kecil, hampir tidak terlihat, terbentuk di sudut bibirnya.
"Terima kasih, Putri."
Aku menoleh ke arah Chopper dan Zoro sekali lagi. "Jaga mereka."
Chopper mengangguk dengan serius. "Tugasku."
Zoro tidak membuka mata. "Pergi sudah. Jangan lama-lama."
Aku tersenyum—lalu menoleh ke arah menara jam di kejauhan.
"Oke, Vivi." Aku berjongkok sedikit. "Naik."
Vivi naik ke punggungku.
"Siap?"
"Siap," jawabnya dengan suara yang tidak gemetar lagi.
Aku menembakkan web ke menara jam di kejauhan.
THWIP!
"Hang on."
Dan kami meluncur ke udara—meninggalkan alun-alun, meninggalkan Crocodile yang terbaring, meninggalkan Luffy yang tidur dengan senyum di wajahnya.
Menuju langit di atas Alubarna.
Menuju akhir dari semua ini.