Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMARAH SANG NAGA.
Tiga hari telah berlalu sejak peluru itu menembus raga Nayla. Di dalam ruang ICU yang dingin, Adnan nampak seperti pria yang kehilangan jiwanya. Janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya, kemejanya kusut, dan matanya merah karena kurang tidur. Meskipun ia telah mendatangkan tim dokter ahli dari luar negeri, jawaban mereka tetap sama: kondisi Nayla stabil secara medis, namun kesadarannya seolah menolak untuk kembali.
Adnan menggenggam jemari Nayla yang pucat dan dingin. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya, membisikkan kata-kata yang selama ini sulit ia ucapkan.
"Nayla, bangunlah. Adiva menangis setiap malam menunggumu. Dia menolak makan kalau bukan 'Myma'-nya yang menyuapi. Kamu bilang ingin kuliah, kan? Saya sudah siapkan semua perlengkapanmu. Bangunlah, Sayang," bisik Adnan dengan suara yang bergetar.
Namun, hanya bunyi mesin pendeteksi jantung yang menjawab ucapannya. Tit... tit... tit... datar dan monoton. Di saat Adnan mulai merasa putus asa, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Dion masuk dengan wajah tegang dan napas memburu.
"Pak, gawat! Arifin menyerang Rumah Singgah Myma. Anak buahnya mencoba meratakan panti itu sekarang juga!" lapor Dion cepat.
Rahang Adnan mengeras. Rasa sedih yang tadinya memenuhi dadanya seketika berubah menjadi amarah yang membara. Arifin tidak hanya mencelakai istrinya, tapi sekarang mencoba menghancurkan tempat yang paling dicintai Nayla.
"Dion, tempatkan sepuluh pengawal terbaik tepat di depan pintu ini. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali tim dokter utama," perintah Adnan sambil berdiri. Matanya berkilat tajam. "Siapkan tim lapangan. Kita akan tuntaskan ini sampai ke akarnya. Hari ini, Arifin harus membayar semuanya."
Malam itu, Rumah Singgah Myma berubah menjadi medan tempur. Anak buah Arifin yang membawa senjata api mulai melepaskan tembakan ke arah bangunan. Beruntung, sistem keamanan yang pernah dipasang Dion cukup tangguh untuk menahan mereka sementara waktu. Anak-anak panti bersembunyi di dalam ruang bawah tanah sambil menangis ketakutan.
Adnan dan Dion tiba seperti badai. Terjadilah baku hantam dan baku tembak yang sengit. Dion dengan lincah melumpuhkan lawan-lawannya satu per satu untuk melindungi akses masuk panti. Di tengah kekacauan itu, Adnan tidak ikut bertarung secara acak. Ia menggunakan peralatan pelacak canggih di ponselnya.
"Dion, Arifin tidak ada di sini. Dia terlalu pengecut untuk terjun langsung. Dia pasti bersembunyi di sekitar sini untuk menonton pertunjukan ini," ucap Adnan melalui alat komunikasi.
Setelah melakukan pemindaian frekuensi sinyal, Adnan menemukan titik koordinat yang mencurigakan di sebuah gedung tua yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari panti. Arifin memang ada di sana, duduk dengan tenang di depan layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV rumah singgah.
Adnan memberi kode pada Dion untuk melakukan taktik pengepungan. Mereka menyusup masuk ke gedung itu dengan sangat senyap. Di dalam ruangan, Arifin nampak tersenyum puas melihat monitornya. Ia tidak menyadari bahwa rekaman yang ia tonton adalah rekaman yang sengaja di-looping atau diputar berulang oleh Dion melalui peretasan sistem.
Arifin baru menyadari ada yang aneh saat durasi waktu di layar monitor nampak meloncat. Ia berdiri dengan panik. "Asisten! Cepat siapkan mobil! Ada yang tidak beres!"
"Terlambat, Arifin," suara dingin Adnan terdengar dari balik pintu yang ditendang terbuka.
Arifin mencoba merogoh saku jasnya untuk mengambil senjata, namun Dion lebih cepat. Dengan satu kuncian silat, Dion memelintir tangan Arifin dan menjatuhkannya ke lantai. Adnan berjalan mendekat dengan langkah berat yang penuh intimidasi. Begitu berada di depan Arifin, Adnan langsung melayangkan pukulan mentah ke wajah pria itu.
BUGH!
"Ini untuk putriku yang kau culik dan kau buat ketakutan!" geram Adnan.
BUGH!
"Ini untuk istriku yang sekarang bertaruh nyawa karena peluru suruhanmu!"
Adnan kalap. Ia menghantam Arifin bertubi-tubi tanpa ampun. Setiap pukulan mewakili rasa sakit hati dan ketakutannya selama tiga hari terakhir. Arifin yang tidak memiliki kemampuan bela diri sama sekali hanya bisa melolong kesakitan dengan wajah yang sudah babak belur dan berdarah.
"Ini untuk anak-anak panti yang kau teror! Dan ini untuk keserakahanmu yang menjijikkan!" teriak Adnan sambil mencengkeram kerah baju Arifin.
Dion segera memegang bahu Adnan saat bosnya itu hendak melayangkan pukulan pamungkas yang bisa mematikan. "Sudah, Pak! Cukup! Biar polisi yang mengurus sisanya. Jangan biarkan tangan Anda kotor lebih jauh karena sampah ini."
Tak lama kemudian, sirine polisi meraung di luar gedung. Arifin digiring keluar dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Adnan mengatur napasnya yang memburu, matanya masih merah karena amarah.
"Dion, bereskan panti itu. Renovasi semuanya menjadi lebih cantik dari sebelumnya. Saya ingin saat Nayla sadar nanti, dia melihat rumah kesayangannya menjadi lebih indah. Saya harus kembali ke rumah sakit sekarang," ujar Adnan sebelum berlari menuju mobilnya.
🍃🍃
Sementara itu di alam bawah sadar Nayla, di sebuah tempat yang jauh dari aroma obat-obatan dan bisingnya dunia, Nayla merasa sedang berada di sebuah taman yang sangat luas. Langitnya berwarna merah muda keemasan, dan udaranya sewangi bunga melati. Di bawah pohon rindang, seorang wanita cantik dengan wajah teduh sedang duduk menantinya.
"Bunda?" gumam Nayla tidak percaya.
Wanita itu tersenyum dan merentangkan tangannya. Nayla berlari sekuat tenaga dan menubruk ibunya, memeluknya dengan sangat erat. Nayla menangis sesenggukan, menciumi tangan ibunya yang terasa hangat.
"Nay, rindu sekali, Bunda. Nay mau ikut Bunda saja. Jangan tinggalkan Nayla lagi," ucapnya sambil menyandarkan kepala di pangkuan sang ibu.
Ibunya mengelus kepala Nayla dengan penuh kasih sayang. "Anakku yang cantik, tempatmu belum di sini. Kamu sudah memiliki tanggung jawab besar. Kamu memiliki suami yang sangat mencintaimu, dan seorang putri kecil yang membutuhkan kasih sayangmu."
Nayla menggeleng kuat-kuat sambil menutupi telinganya. "Tidak mau! Di sana melelahkan, Bun. Banyak orang jahat yang mau menembak Nay. Nay mau di sini saja bersama Bunda."
Namun tiba-tiba, suasana taman yang tenang itu terusik. Suara Adnan yang sedang menangis memanggil namanya terdengar bergema di langit taman tersebut.
"Nayla, tolong kembali. Saya berjanji akan memberikan apa pun untukmu. Saya akan menjadi suami yang paling baik. Jangan tinggalkan saya sendirian..."
Nayla terdiam, hatinya sedikit bergetar mendengar keputusasaan dalam suara Adnan. Namun, ia tetap bersikeras untuk tinggal. Sampai akhirnya, sebuah suara kecil yang sangat dikenalinya terdengar memecah keheningan.
"Myma...hiks... Myma... Diva sayang Myma. Diva nggak mau Myma pergi. Jangan tinggalkan Diva... Mama Diva sudah pergi... Kalau Myma pergi... Diva sama siapa Myma..."
Suara tangis Adiva terasa begitu nyata di telinga Nayla. Hatinya yang tadinya keras seketika runtuh. Ia teringat wajah polos Adiva saat pertama kali memanggilnya "Myma". Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan untuk selalu menjaga gadis kecil itu.
"Bunda... Diva butuh Nay," ucap Nayla bimbang dengan mata berkaca-kaca.
Ibunya tersenyum manis, lalu perlahan sosok sang ibu mulai memudar tertutup kabut putih. "Pulanglah, Sayang. Mereka menantimu."
"Bunda! Jangan pergi!" Nayla berteriak sambil berusaha menggapai tangan ibunya, namun segalanya perlahan menjadi gelap.
Di ruang ICU, Adnan yang baru saja kembali dari panti langsung duduk di samping ranjang Nayla. Ia meraih tangan Nayla dan menciumnya berkali-kali, terasah dingin. Adiva yang menangis sejak tadi, terus memegangi tangan Nayla. Tiba-tiba, Adnan merasakan sebuah keajaiban. Jari manis Nayla bergerak sedikit.
Monitor jantung yang tadinya menunjukkan grafik yang lemah mulai berbunyi lebih cepat. Pip... pip... pip...
Adnan langsung berdiri dengan mata membelalak. "Dokter! Suster! Nayla bergerak! Nayla, kamu dengar saya?!"
Perlahan, kelopak mata Nayla yang lentik itu bergetar. Setelah perjuangan panjang antara dua dunia, cahaya lampu ruang ICU mulai merasuk ke dalam penglihatannya. Nayla membuka matanya sedikit, menatap wajah Adnan yang nampak kacau namun penuh haru, dan saat melihat wajah gadis kecilnya yang dilinangi air mata, ia pun menyunggingkan senyuman lembutnya.
Nayla mencoba bicara, namun suaranya sangat serak dan nyaris tak terdengar. Adnan mendekatkan telinganya ke bibir Nayla.
"ByBy... jelek banget... belum mandi ya?" bisik Nayla dengan sisa-sisa ketengilannya yang membuat Adnan menangis sekaligus tertawa bahagia.
"Dasar istri barbar," ucap Adnan sambil mencium dahi Nayla dengan penuh syukur.
Tetapi Rendi
kayak nya
Farah
ank dari musuh bebuyutan Adnan...