NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 14 Gerbang yang Setengah Terbuka**

Malam turun dengan langkah pelan, seolah takut membuat suara.

Defit duduk sendirian di lantai kamar, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang dingin. Maya tertidur di ranjang, napasnya teratur terlalu damai untuk dunia yang sedang retak. Defit menatap wajah istrinya lama, memastikan ia masih aman, masih di sini.

Di dadanya, segel itu berdenyut lagi. Tidak keras. Tidak sakit.

Lebih seperti panggilan.

Duduklah, bisik suara itu. Dengarkan.

Defit memejamkan mata. Ia tidak ingin mendengar. Namun menutup telinga batin hanya membuat bisikan itu lebih jelas.

“Apa maumu?” tanya Defit pelan.

Bukan mau, jawab suara itu. Ini hukum. Gerbang sudah setengah terbuka. Kau harus belajar menahannya atau ia akan membuka dirinya sendiri.

Defit menarik napas panjang. “Ajari aku.”

Sunyi menelan kamar.

Lalu hawa dingin menyelimuti, membuat bulu kuduknya berdiri. Di balik kelopak matanya, Defit melihat tanah hitam berkilat, retakan yang berdenyut, dan cahaya merah gelap yang merembes keluar bukan seperti api, tapi seperti urat hidup.

Rasakan tanpa menyerah, kata suara itu. Kendalikan tanpa membenci.

Defit menggertakkan gigi. Kenangan menghantam: tawa hina, kata-kata merendahkan, Maya yang menangis diam-diam. Dadanya sesak, dan segel itu merespons emosi, menghangat, lalu panas.

“Tidak,” bisik Defit. “Bukan dengan amarah.”

Ia memikirkan Maya. Senyumnya yang sederhana. Cara ia memanggil namanya pelan saat takut.

Panas itu mereda sedikit.

Untuk pertama kalinya, Defit merasakan pegangan.

Pagi datang dengan kabar buruk.

Seorang anak kecil ditemukan pingsan di dekat jalan barat. Tubuhnya dingin, matanya terbuka, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat orang lain. Desa kembali gempar. Bisik-bisik tumbuh cepat seperti jamur setelah hujan.

“Itu pasti kutukan yang sama.”

“Gerbangnya terbuka.”

Kepala desa mendatangi rumah Ratna. Wajahnya kusut, suaranya tertahan. “Kami butuh bantuan.”

Ratna menoleh ke arah kamar Defit, matanya basah. “Kalian datang padanya setelah mengusirnya?”

“Kami tidak punya pilihan,” jawab kepala desa lirih. “Anak itu… menyebut nama Defit sebelum pingsan.”

Defit keluar, langkahnya tenang. Maya mengikutinya, tangannya menggenggam lengan Defit kuat-kuat.

“Apa yang terjadi?” tanya Defit.

Kepala desa menunduk. “Anak itu melihat bayangan dari tanah. Ia memanggil namamu.”

Defit mengangguk pelan. “Aku akan lihat.”

Maya menatapnya cemas. “Aku ikut.”

Defit ragu, lalu mengangguk. “Tetap di dekatku.”

Di rumah anak itu, udara terasa lebih berat. Bau tanah basah menusuk, meski lantai kering. Defit berlutut di samping ranjang. Anak itu menggigil, bibirnya bergerak tanpa suara.

Defit memejamkan mata mencoba cara yang semalam.

Rasa dingin merambat ke tulang. Bayangan tanah retak muncul lagi, lebih dekat, lebih nyata. Ia menahan napas, menahan dorongan untuk membenci, menahan amarah yang ingin meledak.

Pelan, bisik suara itu. Tarik kembali apa yang keluar.

Defit meletakkan tangannya di dada anak itu. Hangat tipis menjalar. Anak itu terengah, lalu menarik napas panjang. Kelopak matanya berkedip.

“Bayangan… pergi,” gumamnya.

Ruangan menghela napas bersama.

Defit membuka mata dan terhuyung.

Maya menangkapnya. “Defit!”

Segel di dadanya terasa retak satu garis lagi kecil, tapi jelas. Rasa sakit menusuk singkat, lalu hilang.

Menahan punya harga, kata suara itu tenang. Setiap penyelamatan… membuka celah lain.

Defit berdiri, wajahnya pucat namun tegas. “Anaknya akan baik-baik saja.”

Orang-orang saling pandang lega, takut, dan kagum bercampur menjadi satu.

Malamnya, Defit dan Maya duduk di teras. Angin berembus pelan, membawa bau tanah yang tidak lagi asing.

“Kamu menolong mereka,” kata Maya lirih. “Tapi kamu terluka.”

Defit tersenyum kecil. “Aku masih di sini.”

Maya menggenggam tangannya lebih erat. “Jangan menanggung semuanya sendirian.”

Defit menatap langit. “Kalau aku menyerah… gerbang itu akan terbuka penuh.”

Di cermin teras, bayangan itu muncul tidak lagi tersenyum lebar. Ada kehati-hatian di matanya.

“Kau belajar cepat,” katanya. “Tapi ingat gerbang setengah terbuka selalu mencari dorongan terakhir.”

Defit menatap balik, tanpa gentar. “Selama aku memilih, kau menunggu.”

Bayangan itu memudar.

Di bawah desa, sesuatu bergerak tidak marah, tidak puas penasaran.

Dan untuk pertama kalinya, Defit merasakan bahwa pertempuran ini bukan hanya soal bertahan…

melainkan soal memimpin apa yang telah bangkit.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!