Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Cita Rasa di tepi Jurang
Bu Lastri menatap Mira dengan raut wajah masam. Kehadiran keponakannya itu benar-benar merusak suasana pagi yang tenang. Padahal baru kemarin Dimas mengusir perempuan itu dengan cara yang sangat memalukan karena hampir saja mencelakai Zora.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Mira? Dimas sudah mengusirmu, bukan?" tanya Bu Lastri tanpa basa-basi, tangannya terlipat di depan dada dengan pose mengintimidasi.
"Tante, ayolah... kita ini masih punya ikatan darah. Masa Tante lupa dan malah membela wanita asing ini?" balas Mira sambil melirik sinis ke arah Zora.
"Dia calon menantuku, tentu saja harus kubela!" sahut Bu Lastri telak.
Mira menghentakkan kakinya ke lantai, wajahnya memerah karena emosi. "Tapi aku tidak setuju, Tante! Mas Dimas tidak boleh menikah dengan dia. Bukankah selama ini Mas Dimas begitu perhatian padaku? Aku pikir dia..."
"Dia akan menikahimu? Begitu?" potong Bu Lastri dengan tawa meremehkan. "Jangan bermimpi terlalu tinggi, Mira. Nanti jatuhnya sakit. Ayo Zora, kita masuk ke dalam."
Tak ingin menambah dosa dengan meladeni mulut berbisa Mira, Bu Lastri langsung menuntun Zora masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Mira yang berdiri mematung di halaman dengan napas memburu. Rasa benci dan dendam di hati Mira kini telah berakar dalam; ia merasa posisinya direbut oleh seorang yatim piatu yang tidak punya asal-usul.
Satu Bulan Kemudian.
Waktu berlalu seperti embusan angin. Gips di kaki Zora akhirnya dilepaskan, menyisakan bekas luka yang kini sudah mengering sempurna. Sesuai janji, Dimas segera mengambil cuti untuk mengantarkan calon istrinya itu pulang ke kampung halaman.
Suasana di dalam mobil SUV hitam milik Dimas terasa tenang. Aroma parfum kayu cendana milik Dimas bercampur dengan aroma jeruk yang segar dari pengharum mobil. Di kursi kemudi, Dimas fokus menatap jalanan aspal menuju Garut, sesekali melirik Zora yang tampak melamun menatap perbukitan hijau di balik jendela.
"Gugup?" tanya Dimas rendah, memecah keheningan.
Zora menoleh, ia tersenyum tipis meski matanya menyiratkan kerinduan yang dalam. "Sedikit, Pak. Sudah lama sekali saya tidak pulang. Saya takut makam Ayah dan Ibu tertutup rumput liar karena tidak ada yang mengurus."
Dimas mengulurkan tangan kirinya, meraih tangan Zora dan menggenggamnya erat di atas persneling. "Jangan khawatir. Selama aku ada di sini, kamu tidak perlu merasa takut lagi. Kita akan bereskan semuanya bersama."
Zora merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangan Dimas ke seluruh tubuhnya. Pria yang dulu ia anggap sebagai dosen paling kejam dan kaku, kini menjadi pelabuhan terakhir tempatnya bersandar.
"Terima kasih, Pak Dimas," bisik Zora.
Dimas menghela napas pendek, lalu melirik Zora dengan tatapan menggoda yang jarang ia tunjukkan. "Kita sudah bukan lagi mahasiswi dan dosen, Zora. Dan kita akan segera menikah. Berhenti memanggilku 'Pak' jika kamu tidak ingin aku menghukummu dengan tidak memberimu izin turun dari mobil ini."
Zora tertawa kecil, rona merah kembali menghiasi pipinya. "Lalu... saya harus panggil apa?"
"Pikirkan sendiri selama perjalanan ini," jawab Dimas angkuh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kemenangan.
Perjalanan ini ternyata jauh melampaui ekspektasi Dimas. Garut yang ada dalam bayangannya adalah pusat kota yang ramai, namun Zora justru membawanya jauh ke pedalaman. Mobil SUV milik Dimas kini harus berjuang menaklukkan kelokan tajam dengan tebing curam di satu sisi dan jurang menganga di sisi lainnya.
Sesekali, Dimas merasakan bulu kuduknya berdiri saat melihat kabut tipis mulai turun menutupi aspal yang sempit. Namun, rasa ngeri itu perlahan luruh saat matanya disuguhi hamparan permadani hijau dari perkebunan teh yang membentang luas hingga ke kaki bukit.
"Aku baru tahu ada tempat seindah sekaligus semencekam ini," gumam Dimas saat mereka memutuskan berhenti di sebuah rest area di puncak bukit.
"Dan anda sekarang melihatnya pak."Balas Zora,masih memperlihatkan senyumnya.
Perjalanan dari Bandung sudah memakan waktu lebih dari empat jam. Perut Dimas mulai berulah, menuntut asupan energi setelah konsentrasi penuh mengemudi di jalur ekstrem. Zora mengajak Dimas masuk ke sebuah rumah makan di rest area dan penuh sesak oleh pengunjung.
Mereka memilih duduk di area balkon yang menghadap langsung ke arah jurang yang rimbun oleh pepohonan raksasa. Angin pegunungan yang menusuk tulang terasa sangat kontras dengan hangatnya suasana di dalam rumah makan. Bagi Dimas yang sehari-hari terkunci di ruang dosen, pemandangan ini adalah kemewahan yang tak ternilai.
"Coba ini, Pak. Ini jarang ada di kota," ucap Zora, menyodorkan sesuatu yang terbungkus daun pisang yang sudah kecokelatan karena dibakar.
"Apa ini?" tanya Dimas, menatap bungkusan itu dengan dahi berkerut.
Tanpa menjawab, Zora membuka ikatan lidi bungkusan itu dengan cekatan. Seketika, uap panas yang membawa aroma kemangi, kunyit, dan rempah-rempah kuat langsung menyergap indra penciuman Dimas.
"Ini namanya pepes telur ikan mas," jelas Zora dengan mata berbinar.
"Pepes telur ikan?" Dimas mengulanginya dengan nada ragu. Selama ini, seleranya cukup konvensional; steik, salad, atau masakan kafe estetis. Ia belum pernah melihat tekstur makanan seperti ini.
Zora mengangguk yakin. Ia mencuci tangannya di kobokan, lalu dengan jemari mungilnya, ia mengambil segenggam nasi hangat dan potongan kecil pepes tersebut.
"Buka mulutnya, Pak!" pinta Zora.
Dimas terpaku. Ia menatap suapan nasi di depan matanya, lalu beralih menatap wajah Zora yang tampak tulus menantinya mencicipi kuliner kebanggaannya. Ada sedikit keraguan di hatinya, namun melihat binar di mata Zora, benteng harga diri Dimas kembali runtuh.
Dimas sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu perlahan membuka mulut. Begitu suapan itu mendarat di lidahnya, ledakan rasa gurih, pedas, dan aroma smoky dari daun pisang yang terbakar langsung memenuhi rongga mulutnya. Tekstur telur ikan yang unik memberikan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Bagaimana?" tanya Zora penuh harap.
Dimas mengunyahnya perlahan, mencoba mencerna rasa asing yang ternyata sangat lezat itu. "Ini... di luar dugaanku. Sangat enak," jawab Dimas jujur.
Zora tersenyum lebar, sebuah senyuman yang jauh lebih indah daripada pemandangan bukit di belakangnya. Tanpa sadar, Dimas meraih tangan Zora yang baru saja menyuapinya.
"Zora,setelah kita menikah nanti,sering-sering masak ini ya, aku suka masakan yang langsung disuapi oleh tanganmu sendiri."
Zora tertegun, tangannya yang masih sedikit basah berada di dalam genggaman Dimas. Di tengah riuh rendah suara pengunjung rumah makan dan gemerisik daun di tepi jurang, dunia seolah hanya milik mereka berdua.
Bersambung....
Ada yang bisa nebak ini di Garut mana? Tulis di komentar ya
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭