Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru Awal Baru
Kartu kunci apartemen itu terasa ringan di tangan Amara, namun bobot simbolisnya luar biasa. Apartemen di lantai delapan sebuah bangunan modern di kawasan yang hijau ini bukan rumah mewah.
Luasnya mungkin seperempat dari rumah Pondok Indah mereka. Tapi setiap sentimeter perseginya adalah miliknya. Pilihannya. Jejaknya.
Proses pindah bukanlah perpindahan besar. Dia hanya membawa barang-barang yang benar-benar dia inginkan: buku-bukunya, koleksi kain dan material, pakaian, dan tentu saja, semua barang Luna.
Furnitur lama ditinggalkan atau dijual. Dia ingin memulai dengan yang baru, yang mencerminkan dirinya yang sekarang.
Proses mendekorasi adalah sebuah terapi kreatif yang paling murni. Tanpa perlu berkompromi dengan selera Rafa yang monokrom dan minimalis, Amara memberi warna pada dinding kamarnya dengan cat hijau sage yang lembut.
Di ruang tamu yang menyatu dengan dapur kecil, satu dinding dicat dengan warna mustard berani sebagai aksen. Dia memilih sofa modular berwarna krem yang bisa disusun ulang, karpet berumbai dengan motif geometris, dan rak-rak kayu terbuka yang dipenuhi oleh buku, tanaman hias, dan benda-benda temuan yang berarti baginya: sebuah cangkang kerang dari pantai pertama mereka, vas keramik buatan Luna, sebuah patung kayu kecil dari Bali.
Yang paling istimewa adalah dinding di belakang meja makan kecil. Itu adalah "gallery wall"-nya. Dia memajang sketsa-sketsa terbaik dari koleksi "Fragments & Wholeness", foto-foto dirinya bersama Sari dan klien, dan sebuah kanvas kecil dengan lukisan abstrak berwarna-warni yang dibelinya dari seorang seniman jalanan.
Tidak ada satu pun foto Rafa. Itu bukan penyangkalan, tapi sebuah pernyataan: ruang ini adalah tentang bab barunya.
Luna memiliki kamarnya sendiri, yang didesain bersama. Dindingnya berwarna biru lavender, dengan mural sederhana awan dan bintang yang mereka lukis bersama. Ada ranjang tingkat dengan area bermain di bawahnya, dan rak untuk boneka serta buku.
Di rumah Rafa (sebuah apartemen yang lebih besar di kawasan yang sama), Luna juga memiliki kamar dengan tema laut. Luna, dengan ketahanan anak-anak yang luar biasa, mulai menganggap memiliki "dua rumah" sebagai sebuah petualangan.
"Di rumah Mama aku punya cat air, di rumah Papa aku punya Lego Technic," katanya bangga suatu hari.
Jadwalnya ketat, tercetak rapi di kulkas kedua rumah. Warna biru untuk hari-hari bersama Amara, hijau untuk hari-hari bersama Rafa. Koordinasi via grup chat tiga orang (mereka menyebutnya "Tim Luna") berjalan efisien.
Tidak ada lagi percakapan yang tegang. Hanya pertanyaan praktis: "Luna besok ada tes, sudah belajar?" "Iya, sudah. Dia bawa bekal sandwich ayam." "Oke, terima kasih."
Beberapa minggu setelah menetap, Amara mendapat undangan dari Anton untuk menghadiri pembukaan pameran seni tekstil bertajuk "Interwoven Narratives" di sebuah galeri terkenal. Ini adalah acara profesional, dan dia merasa sedikit gugup.
Dia memilih gaun jumpsuit panjang dari kain linen blended berwarna abu-abu batu, dengan potongan yang sederhana namun elegan. Dia menambahkan syal sutra dengan cetakan abstrak karya seniman lokal dan sepatu hak rendah yang nyaman. Saat berdiri di depan cermin apartemen barunya, dia melihat seorang wanita yang percaya diri, dengan mata yang tenang dan sedikit senyum di bibir.
Dia tidak lagi terlihat seperti "mantan seseorang". Dia terlihat seperti Amara.
Galeri itu ramai. Suasana berbeda dengan pameran "Fragmen & Rekonsiliasi" yang dulu. Ini lebih meriah, penuh dengan seniman, kolektor, dan penggemar seni.
Amara melihat karya-karya luar biasa: instalasi benang raksasa yang menggantung dari langit-langit, permadani tua yang dijahit ulang dengan benang emas, pakaian yang diubah menjadi patung.
Anton menyapanya dengan hangat. "Amara! Senang kamu bisa datang."
"Karya-karya di sini luar biasa, Pak Anton. Sangat inspiratif," jawab Amara tulus.
"Ya. Dan kamu bisa ada di sini juga," ujar Anton, menuntunnya ke sudut yang lebih sepi.
"Saya sudah bicara dengan tim kuratorial tentang proposalmu. 'Fragments & Wholeness' kami rasa sangat cocok dengan tema pameran kami berikutnya: 'Renewal'.
Kami ingin menampilkan cerita transformasi pribadi melalui material. Karyamu, dengan narasi di baliknya tentang... rekonstruksi diri, sangat kuat."
Amara menahan napas. "Jadi... diterima?"
"Tentu saja. Dengan beberapa catatan teknis tentang ukuran dan presentasi, yang akan kita diskusikan. Kami mengalokasikan ruang dinding sepanjang enam meter untukmu. Kamu siap?"
Enam meter. Ruang untuk bercerita. Ruang untuk menunjukkan kepada dunia siapa Amara sekarang. Perasaan yang meluap dari dalam dadanya bukan sekadar kegembiraan, tapi sebuah validasi yang sangat dalam.
"Saya sangat siap," jawabnya, suaranya mantap.
Mereka membicarakan detail lebih lanjut: tenggat waktu, kontrak, pembiayaan. Anton memperlakukannya sebagai profesional sejati. Saat mereka selesai, Anton menepuk bahunya.
"Selamat. Dan selamat datang kembali ke dunia."
Kalimat itu menyentuh. Kembali. Dia memang sedang kembali. Bukan ke masa lalu, tapi ke dirinya yang paling otentik.
Malam itu, di apartemen barunya, Amara berdiri di balkon kecil. Jakarta berkilauan di bawahnya seperti permadani cahaya. Udara malam terasa segar. Di dalam, Luna sudah tertidur lelap di kamarnya setelah membaca tiga buku cerita. Keheningan apartemen ini berbeda dengan keheningan rumah lamanya.
Ini adalah keheningan yang damai, diisi oleh dengung AC dan napas tenang putrinya.
Dia masuk, berjalan mengelilingi ruang tamunya. Tangannya menyentuh kain sofa, membalik halaman buku di rak, menatap gallery wall-nya.
Dia tidak merasa seperti pemenang yang telah "mengalahkan" Rafa atau melarikan diri dari pernikahan yang buruk. Dia juga tidak merasa seperti orang yang kalah, yang kehilangan rumah dan status.
Yang dia rasakan lebih sederhana, namun lebih fundamental: ada.
Dia ada di sini. Seutuhnya. Tidak tersembunyi di balik peran sebagai istri. Tidak terdefinisi oleh kemarahan pada suami. Tidak pula larut dalam kesedihan sebagai korban.
Dia ada sebagai Amara. Seorang ibu yang mencintai putrinya sampai ke tulang sumsum. Seorang desainer yang karyanya akan dipajang di galeri ternama. Seorang pemilik studio kecil yang bangga. Seorang teman bagi Sari. Seorang klien bagi Ibu Dewi. Seorang mitra parenting (yang cukup baik) bagi Rafa.
Rasa "ada" itu tidak dramatis. Tidak seperti api kembang api. Ia seperti lampu temaram yang stabil, hangat, dan dapat diandalkan di tengah kegelapan. Setelah bertahun-tahun merasa seperti hantu di kehidupan sendiri, merasa "ada" adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.
Dia mengambil sketchbook biru tuanya, yang sekarang sudah hampir penuh. Dia membuka halaman kosong terakhir, dan dengan pensil favoritnya, dia menulis:
"Rumah Baru.
Di sini, aku tidak berjalan di atas highs hells.
Di sini, warnanya adalah pilihanku.
Di sini, sunyi itu adalah teman, bukan musuh.
Di sini, aku membangun kembali — bukan dari puing-puing 'kita', tapi dari benih 'aku'.
Dan itu... cukup. Bahkan, lebih dari cukup.
Ini adalah awal. Yang sebenarnya."
Dia menutup buku itu, memeluknya ke dada. Malam ini, tidak ada rencana besar, tidak ada musuh yang harus dihadapi, tidak ada luka yang harus dirawat.
Hanya sebuah apartemen yang tenang, seorang anak yang tidur, dan sebuah jiwa yang akhirnya — setelah perjalanan panjang dan berliku — merasa sampai di rumah.
Dan untuk saat ini, merasa "ada" dan "cukup" adalah semua kebahagiaan yang dia butuhkan. Karena dari sanalah, segala sesuatu yang lain yang indah bisa tumbuh.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.