NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Darah dan Kesepakatan Baru

Bau antiseptik yang tajam memenuhi udara, menggantikan aroma debu semen dan besi berkarat yang sejak tadi mencekik paru-paru Alana. Ia duduk di tepi sofa kulit berwarna hitam di tengah ruang tamu penthouse milik Elang. Lengannya terasa perih, ada goresan panjang akibat tergesek besi scaffolding yang runtuh menimpanya satu jam lalu. Jaket denimnya yang robek tergeletak di lantai, bernoda darah dan oli.

Elang tidak memanggil dokter. Pria itu mengambil kotak P3K dari laci kabinet, membukanya dengan gerakan kasar yang tidak sabar, lalu berlutut di hadapan Alana. Wajahnya keras, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot di pipinya menonjol. Tidak ada kata-kata manis. Kemarahan memancar jelas dari setiap gerakannya, namun tangannya bekerja dengan kehati-hatian yang kontradiktif saat membersihkan luka di lengan Alana dengan kapas alkohol.

"Sshhh..." Alana mendesis, refleks menarik tangannya.

"Tahan," perintah Elang singkat. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman. "Kalau infeksi, kau akan merepotkan saya lebih lama."

"Aku bisa sendiri, Elang," protes Alana, mencoba mengambil kapas itu. Harga dirinya masih memberontak, tidak ingin terlihat lemah di hadapan mitra bisnisnya. Ia baru saja hampir mati, tapi mengakui ketakutan itu rasanya seperti kekalahan.

Elang menepis tangan Alana pelan, namun tegas. Ia menatap mata Alana tajam. "Diam. Kau baru saja hampir jadi bubur di bawah tumpukan besi seberat dua ton. Biarkan saya memastikan investasi saya tidak mati konyol hari ini."

Investasi. Kata itu selalu menjadi tameng Elang. Alana membuang muka, menatap dinding kaca yang menampilkan panorama Jakarta di malam hari. Lampu-lampu gedung pencakar langit berkedip di kejauhan, tampak tenang dan damai, kontras dengan jantungnya yang masih berdegup kencang seperti drum perang.

"Itu bukan kecelakaan," gumam Alana, suaranya sedikit bergetar. "Aku melihat bautnya, Elang. Baut pengunci di sambungan utama... tidak ada. Seseorang melepasnya."

Elang selesai membalut luka itu dengan perban steril. Ia berdiri, membuang kapas bekas darah ke tempat sampah stainless steel dengan gerakan melempar. "Saya tahu. Kepala keamanan proyek sudah mengirim foto detailnya lima menit yang lalu."

Pria itu berjalan menuju bar mini di sudut ruangan, menuangkan whiskey ke dalam dua gelas pendek. Ia kembali dan menyodorkan satu gelas pada Alana. "Minum. Tanganmu gemetar."

Alana menerimanya, menenggak cairan amber itu. Rasa panas menjalar di tenggorokan, sedikit meredakan gigil di tubuhnya. "Kita harus lapor polisi. Ini percobaan pembunuhan."

"Dan membiarkan polisi menyegel lokasi proyek?" Elang duduk di sofa tunggal di seberang Alana, menatapnya dengan tatapan kalkulatif. "Proyek Blue Coral akan mangkrak selama penyelidikan. Klien akan kabur. Reputasimu sebagai arsitek baru hancur karena dianggap lalai dalam K3. Dan yang paling penting... polisi hanya akan menangkap eksekutor lapangan. Orang suruhan rendahan."

Alana mencengkeram gelasnya erat-erat. Ia tahu Elang benar. Logika bisnis dan realitas hukum di negara ini seringkali tidak berpihak pada korban, melainkan pada siapa yang bisa mengendalikan narasi. Jika polisi masuk, Hendra Wardhana pasti akan mendengar. Ayahnya akan memutarbalikkan fakta, mungkin menuduh Alana yang mensabotase proyeknya sendiri demi asuransi atau sensasi. Atau lebih buruk, Siska akan bersih-bersih jejak sebelum polisi sempat mengetuk pintunya.

"Jadi kita diam saja?" tantang Alana. "Siska baru saja mencoba membunuhku, Elang! Dia bukan lagi sekadar pelakor yang gila harta. Dia kriminal."

"Kita tidak diam. Kita ganti strategi," Elang meletakkan gelasnya di meja marmer. Bunyinya berdenting nyaring di ruangan yang sunyi. "Polisi bekerja dengan prosedur. Kita tidak perlu prosedur. Kita butuh hasil."

Elang mengeluarkan ponselnya, menggeser layar beberapa kali, lalu meletakkannya di hadapan Alana. Di layar itu terpampang rekaman CCTV buram dari area parkir proyek, diambil dua jam sebelum kejadian. Seorang pria bertopi hitam dengan jaket lusuh terlihat mengendap-endap di dekat area scaffolding, membawa kunci inggris besar.

"Anak buah saya sedang melacak wajah ini melalui database preman lokal," jelas Elang dingin. "Namanya Ujang. Residivis kasus pencurian kabel. Tapi dia tidak punya otak untuk merencanakan sabotase struktur. Dia cuma tangan. Kita butuh orang yang memegang talinya."

"Rico," desis Alana. Nama itu keluar seperti racun dari mulutnya. "Pria yang kutemui di Grand Indonesia. Dia yang memeras Siska. Siska pasti membayarnya untuk menyingkirkanku karena aku tahu rahasianya."

"Tepat," sahut Elang. "Kalau kita lapor polisi, Siska akan mengorbankan Ujang, atau bahkan Rico. Dia akan cuci tangan, mengaku diperas, dan bermain sebagai korban. Tapi kalau kita dapatkan Rico... kita bisa membalikkan senjatanya."

Alana menatap foto buram di ponsel itu. Rasa takut yang tadi mencekiknya perlahan berubah menjadi kemarahan yang dingin dan solid. Siska menginginkan perang fisik. Siska berpikir Alana hanyalah putri manja yang akan lari ketakutan begitu melihat darah. Alana menarik napas panjang, membiarkan rasa sakit di lengannya menjadi pengingat.

"Apa rencanamu?" tanya Alana.

"Malam ini, tim saya akan menyisir semua tempat nongkrong Rico. Kita tidak akan menyerahkannya ke polisi. Kita akan 'mengamankan' dia sampai dia bernyanyi. Saya butuh rekaman suara, bukti transfer, atau apapun yang mengaitkan dia langsung dengan Siska tanpa perantara."

Elang kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menyapu seluruh penampilan Alana yang berantakan. "Tapi sampai itu terjadi, kau tidak bisa kembali ke kontrakan Rini."

Alana tersentak. "Apa maksudmu?"

"Rini tinggal di lingkungan padat penduduk. Keamanan nol. Siapapun bisa melempar bom molotov atau menyusup masuk saat kau tidur. Rico tahu kau masih hidup, dan dia pasti akan mencoba lagi untuk menyelesaikan kontraknya supaya bisa dapat bayaran penuh dari Siska."

"Aku tidak punya uang untuk sewa apartemen dengan keamanan tinggi, Elang. Semua uangku masuk ke modal firma," tolak Alana keras kepala.

"Saya tidak menyuruhmu sewa," potong Elang. Ia berdiri, berjalan menuju sebuah pintu di sisi kanan ruang tamu. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kamar tamu yang luas, lengkap dengan kamar mandi dalam dan jendela yang menghadap ke arah berlawanan dari kamar utama. "Mulai malam ini, kau tinggal di sini."

Alana terdiam. Tinggal bersama Elang? Ini melanggar batas profesional yang selama ini ia jaga mati-matian. Aliansi mereka adalah transaksional, murni bisnis. Mencampuradukkan ruang pribadi akan membuat segalanya menjadi rumit.

"Jangan berpikir macam-macam," ujar Elang seolah bisa membaca pikiran Alana. Ia bersandar di bingkai pintu, melipat tangan di dada. "Ini bukan tawaran romantis. Ini protokol keamanan aset. Saya sudah menanam modal miliaran di Terra Architecture. Saya tidak mau CEO-nya mati ditusuk orang di gang sempit Petamburan."

Alana menatap pria itu. Di balik sikap dingin dan kata-kata kasar itu, Alana melihat sesuatu yang lain. Elang baru saja menyelamatkan nyawanya. Pria itu menariknya dari bawah reruntuhan besi, tidak peduli kemeja mahalnya kotor. Dan sekarang, pria itu memberinya perlindungan di benteng pribadinya.

"Hanya sampai Rico tertangkap," kata Alana akhirnya, menetapkan syarat.

"Deal," jawab Elang datar.

Ponsel Alana bergetar di saku celananya. Ia merogohnya dengan tangan kiri. Notifikasi Instagram. Siska baru saja mengunggah Story. Alana membukanya. Foto Siska sedang memegang perutnya yang sedikit membuncit, duduk di kursi malas di tepi kolam renang penthouse ayahnya. Caption-nya tertulis: *"Relaxing afternoon. Positive vibes only for the baby. ❤️"*

Waktu unggahannya: 15 menit yang lalu. Tepat saat Alana sedang dibersihkan lukanya dari darah.

Rahang Alana mengeras. Siska sedang menunggu kabar kematiannya sambil bersantai menikmati kekayaan yang dicurinya. Wanita itu benar-benar iblis berwajah malaikat.

"Kenapa?" tanya Elang, melihat perubahan ekspresi Alana.

Alana menunjukkan layar ponselnya pada Elang. Elang melirik sekilas, lalu mendengus jijik. "Nikmati selagi bisa, Nyonya Muda. Jatuhnya akan sakit sekali nanti."

Alana mematikan layar ponselnya, meletakkannya dengan kasar di meja. Rasa sakit di fisiknya kini tidak sebanding dengan api dendam yang membakar dadanya. Ia menatap Elang, matanya tidak lagi menyiratkan keraguan.

"Cari Rico, Elang," perintah Alana, suaranya dingin dan tajam, mirip dengan nada bicara Elang. "Cari dia, patahkan kakinya kalau perlu, tapi bawa dia padaku. Aku ingin Siska tahu bahwa dia baru saja membangunkan musuh yang salah."

Elang tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, tapi senyum predator yang mengenali sesamanya. Ia mengangkat gelas whiskey-nya, sebuah toast sunyi untuk deklarasi perang yang baru saja diucapkan.

"Dengan senang hati," jawab Elang, lalu meneguk habis minumannya.

Malam itu, di lantai 45 apartemen mewah di pusat Jakarta, Alana Wardhana tidak tidur. Ia berdiri di balik jendela kamar barunya, menatap kota yang kejam di bawah sana. Ia bukan lagi putri kecil yang menangis karena dibohongi. Ia adalah penyintas. Dan besok, perburuannya dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!