Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saluran kehangatan
Dua minggu berlalu. Georgio dan Cassandra bekerja. Cassandra memimpin tim kecil untuk menciptakan perusahaan cangkang yang bersih dari Cassano Corp, yang kelak akan menjadi sandaran kredit rahasia mereka. Sementara itu, Jordan Immanuel bergerak cepat, persis seperti yang Cassandra prediksi.
Jordan berhasil mengakuisisi beberapa saham Cassano Corp dari tangan direktur yang serakah. Harga saham melonjak tinggi karena perang perebutan kekuasaan. Georgio sendiri, atas saran Cassandra, tampil di publik dengan wajah muram, mengisyaratkan bahwa Cassano Corp sedang goyah dan dia kesulitan melawan.
Di ruang kerjanya yang luas, Georgio sedang meninjau dokumen yang disiapkan Cassandra. Itu adalah proposal untuk proyek pengembangan di luar kota yang membutuhkan investasi modal awal yang sangat besar.
Pintu terbuka, dan Cassandra masuk membawa dua cangkir kopi.
Cassandra meletakkan kopi di meja. "Berita yang kita sebarkan sudah membuat Jordan percaya diri. Besok, aku ingin kamu mengadakan rapat umum pemegang saham darurat dan mengumumkan proyek ini."
Georgio menatap proposal di depannya. "Proyek ini gila, Sandra Berisiko tinggi. Jika gagal, kita akan lumpuh total, bahkan tanpa perlu Jordan menyentuh kita."
"Tentu saja berisiko," Cassandra tersenyum misterius. "Tapi Jordan tidak tahu proyek ini hanya umpan. Proyek ini akan kita gelar besar-besaran, seolah ini adalah Joker Card kita untuk memukul mundur Jordan. Jordan akan melihat ini sebagai kesempatan emas."
"Kesempatan emas untuk apa?"
"Untuk menghancurkan kita. Dia akan berpikir, jika dia bisa membuat proyek ini gagal, atau bahkan dia yang mengambil alih pendanaan proyek ini, dia akan menguasai Cassano Corp sepenuhnya." Cassandra berjalan ke belakang Georgio, meletakkan tangannya di bahu suaminya.
"Jordan akan panik. Dia akan tahu, dia tidak punya cukup uang untuk menandingi proyek sebesar ini, tapi egonya tidak akan membiarkan dia diam. Dia akan meminjam uang dari mana saja, bahkan dari kreditur gelap." Cassandra meremas bahu Georgio lembut. "Biarkan dia menggali lubangnya sendiri, Gio. Ketika dia memasukkan semua modalnya ke dalam proyek ini dan gagal, kita akan memotongnya dari semua jalur pendanaan, dan Cassano Corp akan membelinya kembali dengan harga yang sangat rendah."
Georgio menutup berkas itu perlahan. Ia merasakan kehangatan dan kekuatan dari tangan Cassandra di bahunya. Ia berbalik dan menatap istrinya, ada kekaguman di matanya.
"Aku tidak tahu kamu sebegitu hebatnya dalam membaca pikiran orang lain," gumam Georgio. "Kamu benar-benar tahu cara kerja orang serakah."
"Setiap orang punya kelemahan, kamu terlalu mengabaikan orang-orang di sekitarmu, termasuk aku."
Georgio meraih tangan Cassandra yang berada di bahunya dan menariknya pelan hingga membuat Cassandra terduduk di pangkuannya.
Cassandra memekik kaget, dia dengan refleks melingkarkan lengannya di leher Georgio, menatap terkejut. Sementara Georgio menatap Cassandra dalam, penuh kelembutan.
"Aku sempat bingung dengan perubahan mu, tapi jujur, aku menyukai ini, Cassandra." Cassandra diam menatap Georgio. Dia sedikit gugup karena jaraknya dan Georgio terlalu intim.
"Aku hanya ingin membantu mu."ujar Cassandra gugup
Georgio menyandarkan keningnya pada kening Cassandra, napas hangat mereka beradu. Keheningan yang intim menyelimuti ruang kerja itu.
"Aku senang dengan batuan mu?" bisik Georgio, suaranya dalam dan serak, mengalirkan getaran yang membuat jantung Cassandra berdesir. "Kamu benar-benar berubah seperti yang ku harapkan."
Jari-jari Georgio bergerak perlahan, menyelusuri lekuk pinggang Cassandra yang ramping, sebelum kemudian menahan tengkuknya dengan lembut. Matanya yang tajam menelusuri wajah Cassandra yang kini merona.
"Gio, kita... kita sedang di kantor," ujar Cassandra, suaranya tercekat, mencoba menjaga jarak, tetapi Georgio menahannya dengan tarikan lembut. Usahanya untuk menolak justru terasa seperti undangan.
"Kantor ini milikku" balas Georgio, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum itu tidak lagi dingin, melainkan penuh kelembutan. "Bertahun-tahun kita menikah, aku tidak pernah menyentuh mu. Aku juga tidak menginginkan mu. Tapi kali ini berbeda."
Georgio memiringkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Cassandra, dan berbisik dengan nada yang membuat tubuh Cassandra meremang.
"Tapi kali ini, aku menginginkannya."
Sebelum Cassandra sempat merespons, Georgio menyatukan bibir mereka. Ciuman lembut Namun, kelembutan itu dengan cepat berubah menjadi tuntutan yang panas, melepaskan ketegangan dan gairah yang terpendam.
Georgio mempererat pelukannya di pinggang Cassandra, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyerap setiap inci keberadaan istrinya. Cassandra, yang awalnya terkejut dan gugup, perlahan luluh. Semua pertahanannya runtuh di bawah sentuhan dan gairah Georgio. Ia memejamkan mata, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya yang melingkari leher Georgio menarik-narik rambut halus di tengkuk pria itu.
Georgio melepaskan ciuman untuk sesaat, hanya untuk menatap Cassandra. "Manis, aku menyukainya."
Dengan gerakan anggun namun mendesak, Georgio mengangkat Cassandra dalam pelukannya, berdiri tegak, dan membawanya menuju sofa kulit panjang di sudut ruangan.
"Georgio, kita..." bisik Cassandra, napasnya tersengal, namun nada suaranya sudah tidak lagi menolak.
Georgio hanya tersenyum kecil. Cassandra sama sekali tidak pernah melihat senyum itu. Dia meletakkan Cassandra dengan lembut di sofa, menjulang di atasnya, dan menatapnya dengan tatapan yang membuat Cassandra merasa menjadi satu-satunya fokus di seluruh dunia.
"Jangan terlalu banyak berfikir, anggap saja aku adalah orang yang akan mengejarmu" bisik Georgio, jemarinya membelai lembut rahang Cassandra. "Hari ini, hanya ada aku dan kamu, Cassandra. Dan aku ingin kamu menurut."
Cassandra hanya diam. Kenapa alur ceritanya menjadi seperti ini? Kenapa Georgio begitu cepat tertarik kepada Cassandra. Bukannya harusnya Georgio tetap bersikap dingin walaupun tau Cassandra membantunya.
Sepertinya Selin memang sudah menghancurkan alur dari cerita aslinya. Hingga Georgio sudah terlihat mencintai Cassandra meskipun belum pernah mengatakan dia mencintainya.
Georgio membungkuk, dan sebelum ciuman kedua terjadi, Cassandra sudah melingkarkan lengannya lagi di leher Georgio, menyerahkan diri pada keintiman yang baru mereka temukan.
"Kamu menginginkan ku?"Cassandra tersenyum kecil. "Lakukan apa pun yang kamu mau, aku tidak akan menolak. Karena kamu suamiku, sudah saatnya aku memberikan hak mu."ujar Cassandra tersenyum menggoda.
Georgio terkekeh kecil, dia menatap Cassandra dengan pandangan yang sulit Cassandra artikan. "Aku tidak akan berbuat lebih, setidaknya bukan disini." Ucap Georgio dan kembali menciumi Cassandra.
Di luar ruangan, hamparan kota masih bergerak, tetapi di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti, hanya diisi oleh gema bisikan Georgio yang menggoda dan napas terengah Cassandra.