Seharusnya di bulan Juni, Arum tidak menampakkan dirinya demi mendapatkan kebahagiaan bersama seseorang yang di yakini bisa mengubah segala hidupnya menjadi lebih baik lagi. Nyatanya, sebelah sayapnya patah. Bukan lagi karena hujan yang terus mengguyurnya.
Sungguh, ia begitu tinggi untuk terbang, begitu jauh untuk menyentuhnya. Dan, begitu rapuh untuk memilikinya...
Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEPAS
Pagi itu, Arum resmi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Suster membantu memakaikan jaket tipis di bahunya, dan gelang pasien dilepas dari pergelangan tangannya.
Meski langkahnya masih goyah dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih, namun ia memaksa kuat yang lebih mirip upaya bertahan daripada tanda lega.
Begitu tiba di pelataran rumah sakit, langit mendung telah menutupi sebagian daerah. Tak lama, sebuah mobil mendekati posisi Arum saat dirinya melambaikan tangan.
Arum masuk di kursi penumpang belakang dan menutup pintu kabin rapat.
"Selamat sore, Bu." Sapa sang supir menatap Arum dari balik kaca spion tengah dengan sangat ramah. Senyumnya yang terukir hangat, namun tak membuat Arum merasa tenang. "Apakah alamat di aplikasi yang Ibu order sudah benar?"
Arum berpaling menatap pintu kaca lobi rumah sakit yang buka tutup. Kemana sebenarnya Laura membawa Langit pergi? Apakah Langit baik-baik saja? Pertanyaan itu masih terngiang di kepalanya.
"Bu?" Sang supir mengejutkan.
"Uhm. Betul, Pak." Angguk Arum. "Ba-bawa saya... ke alamat rumah ini."
"Baik, Bu. Mohon nikmati perjalanan anda."
Arum hanya mengangguk dengan tatapan kosong. Saat itu juga, mobil pun mulai meninggalkan halaman rumah sakit. Gedung putih itu perlahan mengecil di kaca spion, seolah ikut menjauhkan Arum dari gedung pencakar langit itu, dari segala jawaban yang belum ia dapatkan.
Tangannya terkatup di atas pangkuan, jemarinya saling menggenggam erat. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit, melainkan karena firasat yang terus menekan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Langit di atas sana semakin gelap, perlahan, rintik hujan turun dengan membawa partikel tipis namun lebat. gerimis. Arum memandang keluar jendela, tatapannya tertambat pada kaca mobil yang kini dirintiki air hujan. Butir-butir itu jatuh satu per satu, lalu meluncur perlahan membentuk garis-garis tak beraturan, seolah berlomba turun lebih dulu. Pandangannya kosong, mengikuti jejak air yang saling bertabrakan sebelum akhirnya lenyap di tepi kaca.
Hingga hampir satu jam perjalanan, mobil akhirnya berhasil membawa Arum tiba. usai membayar argo lewat aplikasi, Arum turun dari badan mobil yang kini melesat pergi mengejar orderan lain yang menunggu.
Hujan masih membasahi permukaan, bahkan kini rintiknya lumayan semakin deras. Arum kemudian berbalik. Memandang lurus rumah yang pernah memberinya luka pertama.
Ya. Rumah Langit. Rumah yang nampak berbeda untuk hari ini. Bangunannya tetap sana, megah dan luas. Namun satu hal yang membuatnya masih terpaku di tempat dengan keterkejutannya, yakni sebuah karangan bunga. Kosong mata Arum, namun ia bisa membaca jelas tulisan yang terpampang nyata di pelataran rumah Langit.
TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA LANGIT ZAYN PRASETYA.
"E-Enggak!" Gumam Arum. Suaranya terdekat di tenggorokan.
Dengan langkah cepat—nyaris berlari, meski jelas dipaksakan oleh tubuhnya yang belum pulih, ia berhasil menuju teras rumah Langit.
Lantai marmer yang mengilap itu licin oleh air hujan, membuat telapak kakinya beberapa kali hampir tergelincir, tetapi Arum terus melangkah, menahan perih yang menjalar dari sendi hingga ke dadanya.
Sesampainya di depan pintu, napasnya tersengal. Di hadapannya berdiri pintu besar berwarna putih, megah dan dingin, seolah menjadi batas antara dirinya dan kenyataan yang paling ia takuti. Tanpa memberi waktu pada keraguan, Arum mengangkat tangannya lalu mengetuk keras—terlalu keras untuk ukuran tamu, terlalu tergesa untuk disebut sopan.
“Tante Laura!” Panggilnya lantang, suaranya pecah oleh hujan dan emosi yang tak tertahan. "Tante....!"
Ketukan itu kembali menggema, berpadu dengan bunyi hujan yang menghantam atap. Arum berdiri kaku di sana, dada naik turun tak beraturan, menunggu pintu itu terbuka, menunggu jawaban yang mungkin akan menghancurkannya.
"Tante buka pint—"
Kalimat Arum menggantung di udara ketika pintu itu mulai terbuka lebar, menyambut kedatangannya, namun seakan tak memberi ruang untuk dirinya masuk. Seakan masih ada sekat yang menghalangi, Laura berdiri angkuh di tengah ambang pintu dengan tatapan yang bahkan lebih menampakkan rasa benci. Tak ada sedikitpun kesedihan atau rasa pilu yang dirasakan oleh Arum.
"Ta-Tante apa maksud dari semua ini?" Tergagap Arum, nadanya bergetar, nyaris tak bersuara.
Nanar bola mata Arum perlahan meneteskan air mata yang tak tertahan, campuran antara rasa cemas, khawatir, sakit, dan takut. Tangannya kemudian meraih lengan Laura dan menggoyangkannya penuh permohonan. "Tante... karangan bunga yang di depan halaman rumah Tante itu semua bohong kan? Itu semua akal-akalan Tante supaya aku menjauh dari Langit. Iya, kan... Tante?"
Plaaaaaak!
Tamparan itu mendarat di pipi Arum, kuat... perih... nyata, dan menyakitkan. Tubuh Arum bahkan nyaris terhuyung ke belakang.
"APA KAMU BILANG...?" Ucap Laura memekik. Suaranya nyaris mengalahkan suara rintik hujan yang semakin lebat. "BOHONG KAMU BILANG...?!"
Tanpa memberi Arum kesempatan menjelaskan, Laura melangkah maju dengan gerakan kasar. Tangannya mencengkeram rambut Arum kuat-kuat, menjambaknya tanpa ragu. Kepala Arum terhentak ke belakang, rasa perih menyambar kulit kepalanya, membuat tubuhnya refleks menegang. Napasnya tercekat, lututnya melemah di atas lantai teras yang licin.
“Dasar perempuan tak tahu malu!” Sembur Laura, wajahnya begitu dekat, napasnya panas dan penuh kebencian. Jambakan itu semakin kuat, seolah ingin menyeret Arum jatuh dan menghapus keberadaannya dari tempat itu. "Wanita rendah.... wanita jalang yang tak seharusnya hadir dalam kehidupan anak saya!"
Arum meringis, air hujan bercampur air mata mengalir di pipinya. Tangannya gemetar, berusaha menahan pergelangan Laura, namun tenaganya tak sebanding. Tubuhnya yang masih lemah hanya bisa pasrah, menerima perlakuan kasar itu sambil menahan jerit yang nyaris lolos dari bibirnya.
"KELUARGA SAYA HANCUR, ITU SEMUA KARENA KAMU!" Lanjut Laura. "DAN SEKARANG... SETELAH APA YANG TELAH TERJADI KEPADA KELUARGA SAYA, ANAK SAYA... KAMU DI SINI BERLAGAK BAHWA KAMU ADALAH KORBANNYA?!"
Laura mendorong tubuh Arum terhentak ke belakang. "PERGI, KAMU!"
Dorongan itu datang tiba-tiba, keras dan tanpa peringatan. Tubuh Arum terhentak ke belakang, langkahnya goyah di atas lantai teras yang licin. Punggungnya nyaris membentur tiang, lututnya melemas hingga ia hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada dinding dingin di sampingnya. Rasa sakit menjalar cepat, bukan hanya di tubuh, tapi jauh lebih dalam, di dada yang terasa remuk.
Namun, Arum tak menyerah. Ia menggeleng, menolak pernyataan Laura yang nyatanya terasa pahit, bahkan sulit untuk ia terima. Seolah tak dimilikinya antara benteng pertahanan diri dan harga dirinya, Arum kembali menggengam lengan Laura. Ia bahkan menjatuhkan tubuhnya sendiri di hadapan Laura.
"Tante saya mohon..." Ringis Arum, isaknya tak sepadan dengan rasa sakit yang ia rasakan sekarang ini. "Anak ini... anak yang aku kandung ini adalah anak Mas Langit, Tante. Anak ini butuh ayahnya dan aku harus bertemu dengan Mas Langit, aku mohon Tante... aku gak mau kehilangan Mas Langit, Mas Langit harus bertanggungjawab atas semua ini, bahkan dia sudah berjanji padaku."
Laura menelan saliva dengan kasar. Ada jeda singkat ketika pandangannya kosong, menatap lurus ke depan tanpa fokus, seolah amarahnya sempat berhenti di tenggorokan—namun hanya sesaat. Detik berikutnya, sorot matanya kembali turun, mengunci Arum di hadapannya.
Lalu, tatapan itu berubah dingin. Bukan lagi kemarahan yang meledak, melainkan sesuatu yang jauh lebih kejam. Pandangan rendah, menghina, seakan Arum tak lebih dari noda yang mengotori teras rumahnya. Alis Laura terangkat tipis, bibirnya melengkung sinis, memperjelas jarak yang sengaja ia ciptakan—jarak antara dirinya dan Arum, antara manusia dan sesuatu yang tak layak diperhitungkan.
Ya. Cara Laura menatapnya kini bahkan tak menyerupai tatapan pada sesama manusia. Lebih mirip seseorang yang memandang sampah di bawah kakinya—menjijikkan, tak bernilai, dan pantas disingkirkan.
Sementara Arum merasakan itu dengan sangat jelas—dadanya sesak, napasnya berat, seolah harga dirinya dilucuti perlahan hanya lewat satu tatapan yang kejam dan merendahkan. Rasa sakit itu nyata, menusuk, namun anehnya tak lagi membuatnya gentar.
Ia tak peduli!
Hatinyanya telah lebih dulu remuk, jauh sebelum tatapan hina itu jatuh padanya. Rasa sakit yang kini ia terima hanyalah serpihan kecil dari luka yang sudah terlanjur menganga. Dibandingkan ketakutan akan kehilangan Langit, semua hinaan, dorongan, dan perlakuan kasar itu terasa tak berarti.
"Oke!" Angguk Laura. "Kalau kamu menyangka saya itu bohong, ikut saya sekarang juga!"
****