Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kandang Ular
"Tahan pintunya, Reza. Tegakkan bahumu. Kita masuk ke medan perang, bukan mau melayat."
Elena membetulkan kacamata hitam, berdiri tegak di depan VIP Orchid Lounge. Reza menarik napas panjang, meniru postur bosnya.
"Siap, Nyonya."
Pintu terbuka. Cahaya lampu kristal dan aroma teh Earl Grey menyambut. Suara tawa manja senyap seketika.
Ruangan itu dipenuhi wanita bergaun pastel ala kue macaron. Di tengah kontras itu, Elena melangkah masuk mengenakan setelan blazer putih Balmain, celana high-waist, dan stiletto hitam. Rambutnya diikat kuda tinggi, anting berlian tunggal tajam. Serigala putih di kandang kelinci.
Semua mata tertuju padanya. Hening tiga detik.
"Ya ampun! Lihat siapa yang datang!"
Bella Winata, Sang Ratu Lebah bergaun fuschia norak, menghampiri dengan senyum palsu.
"Wah, Sora! Gue pikir lo mati bunuh diri di bathtub!" seru Bella keras.
Gelak tawa pecah dari para pengikutnya.
Elena membuka kacamata hitam, menatap Bella datar. "Sayang sekali, Bella. Nyawaku terlalu mahal untuk melayang gara-gara air keran."
Bella mendengus, menyipitkan mata pada blazer Elena.
"Konsep kostum lo apa? Sales asuransi? Sales properti?" Bella tertawa, menepuk bahu Elena keras. "Apa gosip itu bener? Bisnis laki lo hancur sampai istrinya turun kasta jadi office girl?"
Reza merah padam, hendak maju. Elena mengangkat tangan, menyuruhnya diam.
"Ini namanya power dressing, Bella. Asing buatmu karena terbiasa pakai baju badut ulang tahun," balas Elena santai.
Dia melangkah ke kursi kosong, duduk tegak. "Reza, tablet."
Reza sigap menyiapkan tablet. Elena langsung memantau grafik saham.
Bella panas karena diabaikan. "Heh! Lo nggak sopan banget! Dateng telat, salah kostum, malah main iPad? Kita mau ngobrol santai!"
"Lanjutkan saja," kata Elena tanpa menoleh. "Anggap aku tidak ada. Aku cuma memastikan standar IQ di ruangan ini masih bisa diselamatkan."
Wajah Bella memerah. "Mulut lo makin tajem ya."
Bella mencoba mengalihkan perhatian, memamerkan cincin berlian besar.
"Liat deh, Guys! Mas Heru baru beliin ini. Berlian lima karat, custom made dari Belgia."
Pengikutnya bersorak memuji. Bella melirik Elena, berharap melihat rasa iri. Tapi Elena justru memicingkan mata menilai cincin itu.
"Bagus kan, Sora? Ini hadiah karena Mas Heru closing deal tambang triliunan. Beda sama bisnis properti laki lo yang macet."
Elena mengetik cepat di tablet. Search: Heru Winata. PT Winata Coal.
Data bermunculan. Sudut bibir Elena terangkat.
"Lima karat ya?" gumam Elena jelas di tengah keheningan. "Sayang cutting-nya kasar. Kualitas VVS2 atau SI1?"
Senyum Bella kaku. "Apa maksud lo? Ini Flawless!"
"Masa?" Elena menatap kasihan. "Kalau flawless, pantulannya tidak memudar di pinggiran. Tapi ya sudahlah, namanya juga hadiah hiburan."
"Hadiah hiburan apanya?! Ini hadiah kesuksesan!" bentak Bella, membanting tangan ke meja. "Bilang aja lo iri karena Kairo pelit!"
Elena memesan air mineral pada pelayan, mengabaikan teriakan Bella.
"Heh! Gue ngomong sama lo!"
Elena meminum airnya santai. "Aku dengar, Bella. Suamiku pelit, usahanya seret. Opini diterima. Ada lagi?"
Reaksi dingin Elena membuat Bella gila. "Sombong banget sih lo! Mentang-mentang pakai jas putih sok suci!"
"Jelas," jawab Elena singkat, matanya kembali ke layar tablet membaca Breaking News.
Kementerian Lingkungan Hidup Cabut Izin Operasional Tiga Tambang Besar di Kalimantan Terkait Limbah B3.
Elena tersenyum lebar. Bella merasa ditertawakan. Akal sehatnya hilang.
"Luntur lo, Istri Sampah!"
Byuuuur!
Bella menyiramkan teh panas ke dada Elena. Noda cokelat menyebar di blazer putih mahal itu.
"Aaaaa!" Tamu lain menjerit.
Reza melompat panik. "Nyonya!"
Suasana hening. Bella menutup mulut pura-pura kaget. "Ups... licin. Maaf ya, Sora. Tapi tenang aja, blazer murah gitu pasti nggak anti-air kan? Nanti gue ganti pakai recehan."
Elena tidak menjerit. Dia mengambil serbet, menepuk noda itu tenang.
"Nyonya, panas! Kita harus ke toilet!"
"Diam, Reza. Duduk," perintah Elena pelan.
Elena berdiri perlahan, menatap Bella dengan senyum mematikan. Seperti predator yang siap menggigit leher.
"Tidak apa-apa, Bella," suara Elena jernih. "Jangan khawatir soal baju ini. Harganya cuma lima puluh juta, tidak seberapa."
Bella mendengus. "Bohong..."
"Tapi teh ini..." Elena menunjuk cangkir kosong Bella. "Sayang sekali kau membuangnya. Padahal kau butuh banyak kafein untuk tetap melek malam ini."
"Maksud lo apa?"
Elena memutar layar tablet ke arah Bella.
"Karena tumpahan teh di bajuku ini..." Elena menjeda dramatis, matanya berkilat kejam. "...tidak sebanding dengan tumpahan hutang suamimu, pemilik PT Winata Coal, yang jatuh tempo besok pagi. Benar kan?"
Wajah Bella pucat pasi seketika.
"A... apa?"
Udhlah,, senggol bacokl🤣🤣
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪