Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kandang Ular
"Tahan pintunya, Reza. Dan tegakkan bahumu. Kita mau masuk ke medan perang, bukan mau melayat."
Elena membetulkan letak kacamata hitam di hidungnya. Dia berdiri tegak di depan pintu ganda ruang VIP Orchid Lounge di Hotel Grand Green Royal. Di belakangnya, Reza menarik napas panjang, mencoba meniru postur bosnya yang tegap, sambil mendekap tas kerja kulit dan tablet dengan erat.
"Siap, Nyonya," bisik Reza gugup.
Petugas hotel yang menjaga pintu membukakan akses.
Cahaya lampu kristal yang hangat langsung menyambut mereka, diikuti oleh aroma teh Earl Grey, kue manis, dan parfum mahal yang menyengat hidung. Suara tawa manja dan denting cangkir porselen seketika senyap begitu Elena melangkah masuk.
Ruangan itu dipenuhi dekorasi bunga mawar merah muda dan putih. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dikelilingi oleh sekitar sepuluh wanita.
Pemandangannya sungguh kontras.
Mereka semua mengenakan gaun pesta teh bertema pastel. Ada yang memakai baby blue, dusty pink, kuning kenari, lengkap dengan topi lebar berhias pita dan sarung tangan renda. Mereka terlihat seperti sekumpulan kue macaron berjalan.
Sedangkan Elena?
Dia masuk dengan langkah lebar dan percaya diri, mengenakan setelan blazer putih bersih dari Balmain dengan potongan bahu tegas. Celana panjang high-waist yang menyembunyikan kakinya, dan sepatu hak tinggi stiletto hitam yang runcing. Rambutnya diikat kuda tinggi, mengekspos leher jenjang dan anting berlian tunggal yang tajam.
Dia terlihat seperti serigala putih yang tersesat masuk ke kandang kelinci pesolek.
Semua mata tertuju padanya. Hening melanda selama tiga detik.
"Ya ampun! Lihat siapa yang datang!"
Suara melengking memecah keheningan. Di ujung meja, seorang wanita dengan gaun fuschia norak dan topi bulu angsa berdiri. Wajahnya cantik tapi makeup-nya terlalu tebal, menutupi kerutan halus di sekitar mata.
Bella Winata. Sang Ratu Lebah.
Bella berjalan menghampiri Elena dengan senyum palsu yang lebar, merentangkan tangan seolah ingin memeluk, tapi berhenti di jarak aman. Matanya memindai penampilan Elena dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mengejek.
"Wah, Sora! Gue pikir lo nggak bakal berani nongol!" seru Bella keras-keras, memastikan semua orang mendengar. "Sumpah, gue kaget banget. Gue kira lo masih dirawat di rumah sakit jiwa atau... yah, mati bunuh diri di bathtub."
Gelak tawa pecah dari arah meja. Para pengikut Bella—nyonya-nyonya sosialita yang tidak punya pendirian—ikut tertawa sambil menutup mulut dengan kipas tangan mereka.
Elena membuka kacamata hitamnya perlahan. Dia menatap Bella datar, tanpa emosi, seolah sedang melihat noda di lantai.
"Sayang sekali mengecewakanmu, Bella. Nyawaku terlalu mahal untuk melayang sia-sia cuma gara-gara air keran," jawab Elena tenang.
Bella mendengus. Matanya menyipit melihat blazer yang dikenakan Elena.
"Tapi ngomong-ngomong... kostum lo hari ini konsepnya apa ya? Wait, biar gue tebak," Bella mengetuk dagunya dengan jari yang penuh cincin. "Ini bukan baju pesta teh, Sora. Ini baju orang kerja. Lo... lagi cari kerjaan sampingan? Jadi sales asuransi? Atau sales properti?"
"Mungkin dia mau nawarin MLM ke kita, Bel!" celetuk salah satu wanita bertubuh subur yang memakai kalung mutiara sebesar bola pingpong.
"Bener juga!" Bella tertawa lagi, kali ini lebih kencang. Dia menepuk bahu Elena—sedikit terlalu keras. "Duh, kasian banget sih lo. Apa gosip itu bener? Bisnis laki lo si Kairo itu lagi hancur ya? Sampai istrinya harus turun kasta pakai baju office girl begini buat cari nasabah?"
Reza yang berdiri di belakang Elena bergerak gelisah. Wajahnya merah padam menahan marah karena bosnya dihina. Dia hendak maju membela, tapi Elena mengangkat satu tangan, memberinya isyarat untuk diam.
Elena tidak marah. Dia justru tersenyum tipis.
"Ini namanya power dressing, Bella. Sesuatu yang mungkin asing buat kamu karena kamu terbiasa pakai baju badut ulang tahun," balas Elena santai.
Dia melangkah melewati Bella, menuju satu-satunya kursi kosong di meja panjang itu. Dia menarik kursi itu sendiri, duduk dengan punggung tegak, dan meletakkan kacamata hitamnya di meja.
"Reza, tablet," perintah Elena.
"Baik, Nyonya." Reza dengan sigap mengeluarkan tablet canggih dari tas kerja, membuka penyangganya, dan meletakkannya tepat di depan Elena.
Elena menyalakan layar. Grafik pasar saham dan berita ekonomi terkini langsung terpampang.
Bella yang merasa diabaikan langsung panas. Dia berbalik, berjalan cepat kembali ke kursinya di kepala meja—posisi pemimpin.
"Heh! Lo tuh nggak sopan banget ya. Dateng telat, baju salah kostum, terus sekarang malah main iPad?" semprot Bella. "Kita di sini mau ngobrol santai, bukan mau rapat direksi!"
"Lanjutkan saja obrolan kalian," kata Elena tanpa menoleh dari layar. Jarinya mulai scrolling berita. "Anggap saja aku tidak ada. Aku cuma mampir sebentar untuk memastikan standar IQ di ruangan ini masih bisa diselamatkan atau tidak."
Wajah Bella memerah padam. Urat di lehernya menonjol. "Mulut lo makin tajem ya sejak percobaan bunuh diri itu. Efek samping obat penenang?"
"Mungkin," gumam Elena.
Bella mencoba mengalihkan perhatian. Dia tidak mau Elena merusak momen pamer-pamernya. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memamerkan sebuah cincin berlian besar yang berkilau menyilaukan di bawah lampu kristal.
"Eh, Guys, kalian belum lihat kan?" Bella mengubah suaranya menjadi manja dan cempreng. "Liat deh. Mas Heru baru aja beliin gue ini kemarin. Berlian lima karat, custom made dari Belgia."
"Waaaah! Gilaaa, gede banget, Bel!"
"Silau banget Sis! Itu harganya berapa? Lima miliar ada?"
"Mas Heru emang suami idaman banget ya, royal abis!"
Para pengikutnya langsung bersorak memuji, berlomba-lomba menjilat sang Ratu Lebah. Mereka memegang tangan Bella, mengagumi batu mulia itu seolah itu benda paling suci di dunia.
Bella melirik Elena dengan ekor matanya, berharap melihat wajah iri atau sedih. Dulu, Sora pasti akan menunduk malu karena Kairo jarang membelikannya perhiasan sebesar itu. Sora akan merasa insecure.
Tapi Elena?
Elena justru memicingkan mata melihat cincin itu dari kejauhan.
"Bagus kan, Sora?" pancing Bella, sengaja mengarahkan cincinnya ke wajah Elena. "Ini hadiah kecil karena Mas Heru baru aja closing deal tambang batu bara baru di Kalimantan. Proyek triliunan loh. Beda lah sama bisnis properti laki lo yang lagi macet itu."
Elena tidak menjawab. Dia mengetik sesuatu di tabletnya dengan cepat.
Search: Heru Winata. PT Winata Coal. Laporan Keuangan Kuartal III. Berita Hukum Tambang Kalimantan.
Data bermunculan di layar.
Elena membaca sekilas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang penuh arti.
"Lima karat ya?" gumam Elena pelan, tapi cukup jelas di tengah keheningan yang tiba-tiba terjadi karena semua orang menunggu reaksinya. "Batu yang cantik. Sayang sekali cutting-nya agak kasar di bagian samping. Kualitas VVS2 atau SI1 itu?"
Senyum Bella kaku. "Apa maksud lo? Ini Flawless tau!"
"Masa?" Elena menatap Bella dengan tatapan kasihan. "Kalau flawless, pantulan cahayanya tidak akan memudar di pinggiran begitu. Tapi ya sudahlah, namanya juga hadiah hiburan."
"Hadiah hiburan apanya?! Ini hadiah kesuksesan!" bentak Bella. Dia membanting tangannya ke meja. "Lo iri kan? Bilang aja lo iri karena Kairo pelit! Laki lo tuh cuma modal tampang doang, duitnya mah seret! Makanya lo stress!"
Elena memberi isyarat pada pelayan hotel yang lewat.
"Mas, air mineral satu. Dingin. Jangan pakai gelas, bawa botolnya saja yang masih segel," pesan Elena, mengabaikan teriakan Bella.
"Baik, Bu."
"Heh! Gue lagi ngomong sama lo!" Bella berdiri dari kursinya. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak karena tidak dianggap.
Elena menerima botol air mineral dari pelayan, membukanya, dan meminumnya sedikit.
"Aku dengar kok, Bella. Telingaku masih berfungsi," kata Elena santai setelah meletakkan botolnya. "Kamu bilang suamiku pelit dan usahanya seret. Oke, opini diterima. Ada lagi?"
Reaksi Elena yang sedingin es membuat Bella makin gila. Dia terbiasa melihat lawannya menangis atau marah-marah. Ketidak Tanggapan Elena ini membuatnya terlihat bodoh karena berteriak sendirian.
"Sombong banget sih lo!" Bella mengambil cangkir tehnya. Isinya teh Earl Grey yang masih panas mengepul. "Mentang-mentang pakai jas putih sok suci begitu, lo pikir lo lebih baik dari kita?"
"Jelas," jawab Elena singkat. Matanya kembali ke layar tablet, membaca sebuah artikel berita yang baru rilis lima menit lalu di portal berita ekonomi. Berita yang sangat menarik.
BREAKING NEWS: Kementerian Lingkungan Hidup Cabut Izin Operasional Tiga Tambang Besar di Kalimantan Terkait Limbah B3.
Elena tersenyum lebih lebar.
Bella melihat senyum itu. Dia merasa ditertawakan. Emosinya memuncak. Akal sehatnya hilang.
"Luntur lo, Istri Sampah!"
Tanpa peringatan, Bella mengayunkan cangkir teh di tangannya.
Byuuuur!
Cairan teh berwarna cokelat kemerahan itu menyiram dada dan lengan kiri Elena. Noda cokelat langsung menyebar jelek di atas kain putih blazer mahalnya. Asap tipis mengepul dari kain yang basah. Panas.
"Aaaaa!" Para tamu lain menjerit kaget.
Reza melompat maju. "Nyonya!"
Suasana hening seketika. Musik piano di latar belakang seolah berhenti. Semua orang menahan napas, menunggu Sora menangis atau menjerit kepanasan.
Bella menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura kaget. Senyum licik tersembunyi di balik telapak tangannya.
"Ups... licin," kata Bella dengan nada yang dibuat-buat. "Aduh, maaf ya, Sora. Tangan gue licin banget gara-gara hand cream mahal gue. Yah... basah deh baju kerjanya. Tapi tenang aja, blazer murah kayak gitu pasti nggak anti-air kan? Nanti gue ganti deh pakai uang receh kembalian belanja gue."
Geng sosialitanya tertawa kecil, meski terdengar agak ragu karena melihat wajah Elena yang tidak berubah sedikitpun.
Elena tidak menjerit. Dia tidak melompat. Dia juga tidak menampar Bella.
Dia hanya menunduk pelan, melihat noda teh di bajunya. Dia mengambil serbet kain dari meja, lalu menepuk-nepuk noda itu dengan gerakan tenang dan terukur, seolah sedang membersihkan debu kecil.
"Nyonya, anda tidak apa-apa? Panas, Nyonya! Kita harus ke toilet!" Reza panik, tangannya gemetar ingin membantu tapi takut menyentuh bosnya.
"Diam, Reza. Duduk," perintah Elena pelan.
Elena meletakkan serbet kotor itu ke meja. Dia mengangkat wajahnya.
Tatapannya bukan lagi dingin. Tatapannya kini mematikan. Seperti predator yang baru saja memutuskan untuk berhenti bermain-main dengan mangsanya dan langsung menggigit leher.
Dia berdiri perlahan. Tinggi badannya yang ditopang stiletto membuatnya sedikit lebih tinggi dari Bella.
Elena tersenyum. Senyum yang sangat manis, tapi membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu berdiri.
"Tidak apa-apa, Bella," kata Elena lembut. Suaranya jernih membelah keheningan ruangan. "Jangan khawatir soal baju ini. Harganya cuma lima puluh juta, tidak seberapa."
Bella mendengus. "Lima puluh juta? Halah, bohong..."
"Tapi teh ini..." Elena menunjuk cangkir kosong di tangan Bella. "Sayang sekali kau membuangnya. Padahal kau butuh banyak kafein untuk tetap melek malam ini."
"Maksud lo apa?" Bella melipat tangan di dada, mencoba tetap terlihat dominan.
Elena mengambil tabletnya. Dia memutar layar itu sehingga menghadap ke arah Bella dan teman-temannya.
"Karena tumpahan teh di bajuku ini..." Elena menjeda kalimatnya untuk efek dramatis, matanya berkilat kejam. "...tidak sebanding dengan tumpahan hutang suamimu, pemilik PT Winata Coal, yang jatuh tempo besok pagi. Benar kan?"
Wajah Bella berubah pucat pasi dalam sekejap.
"A... apa?"