Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Keluarga Genta
Rumah keluarga Erlangga berdiri megah di kawasan elit Jakarta Selatan, sebuah bangunan minimalis modern dengan dinding kaca tinggi dan pagar besi yang kokoh. Namun, bagi Genta, kemewahan itu tak ubahnya sebuah museum yang dingin dan tanpa nyawa. Setiap kali ia melangkah melewati pintu depan, ia merasa oksigen di paru-parunya perlahan tersedot keluar, digantikan oleh tekanan yang tidak kasat mata namun mampu meremukkan tulang.
Malam itu, ruang makan hanya diisi oleh dentingan sendok dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen mahal. Ayah Genta, seorang diplomat senior yang rambutnya sudah memutih di bagian pelipis namun tatapannya masih setajam elang, duduk di kursi utama. Ia tidak menatap putranya, melainkan sibuk memotong daging steak dengan gerakan yang sangat presisi, persis seperti cara beliau memotong karier politik lawan-lawannya.
"Indeks prestasimu semester ini harus tetap di angka 4.0, Genta," ucap sang Ayah tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. Suaranya datar, berat, dan tidak mengandung ruang untuk negosiasi.
Genta berhenti mengunyah. Ia menatap piringnya yang masih penuh, selera makannya sudah hilang sejak ia menginjakkan kaki di teras. "Iya, Yah. Sejauh ini semua nilai tugas dan praktikum masih aman."
"Bagus. Aku tidak mau mendengar ada penurunan sedikit pun, apalagi sekarang kamu sedang mempersiapkan berkas untuk Harvard," lanjut Ayahnya. Beliau akhirnya mendongak, menatap Genta dengan sorot mata yang menuntut kepatuhan mutlak. "Kania sempat menyinggung bahwa kamu terlihat sedikit sibuk dengan hal-hal di luar BEM belakangan ini. Pastikan fokusmu tidak berantakan tepat sebelum surat rekomendasi dari rektorat keluar."
Dada Genta berdenyut nyeri. Ia tahu Kania pasti sudah mulai melapor dengan cara yang halus. Ia mencengkeram serbet di pangkuannya erat-erat, mencoba meredam tremor yang mulai merayap di ujung jarinya. "Aku bisa mengatur semuanya, Yah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Aku tidak membayar untuk 'usaha mengatur', Genta. Aku membayar untuk hasil yang sempurna," sahut Ayahnya dengan nada yang lebih dingin. "Orang-orang sepertimu tidak punya kemewahan untuk membuat kesalahan atau terlihat emosional di depan publik. Habiskan makanmu, lalu ikut aku ke ruang kerja. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan secara pribadi."
Genta hanya bisa mengangguk kaku. Di meja makan yang luas itu, ia merasa jarak antara dirinya dan ayahnya adalah ribuan kilometer. Ayahnya tidak pernah bertanya apakah Genta bahagia, apakah Genta merasa tertekan dengan semua beban ini, atau mengapa ia nampak lebih kurus belakangan ini. Baginya, Genta bukan lagi seorang anak, melainkan sebuah instrumen masa depan keluarga yang harus dijaga kebersihan zirahnya.
***
Setelah makan malam yang terasa seperti interogasi bisu, Ayah Genta memanggilnya ke ruang kerja, sebuah ruangan yang dipenuhi buku-buku hukum internasional dan foto-foto beliau bersama para petinggi negara. Suasana di sana jauh lebih mencekam. Ayah Genta berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke kolam renang yang sunyi, membelakangi putranya.
"Aku sudah membaca pernyataan resmimu soal mahasiswi jurnalis itu." Ayah Genta berbalik, meletakkan sebuah tablet di atas meja kerja jatinya. Di sana terpampang foto siluet Genta dan Rara di balkon yang kini telah diproses secara hukum oleh tim pengacara keluarga. "Kania bilang kamu sempat ragu untuk menandatangani klarifikasi yang menyatakan bahwa mahasiswi ini yang mengejarmu. Benar?"
Genta menelan ludah. Keringat dingin mulai merayap di punggungnya. "Aku hanya tidak ingin menghancurkan reputasi seseorang demi memperbaiki kesalahpahaman, Yah."
"Naif," desis Ayahnya. Beliau melangkah mendekat, auranya menekan Genta hingga pria itu merasa sulit bernapas. "Dengar baik-baik, Genta. Aku sudah mengirimmu ke berbagai kelas retorika sejak kecil, membayar pelatih mental terbaik, hanya agar kamu tidak menjadi pengecut yang lemah di depan kamera. Jika kamu kehilangan beasiswa Harvard itu hanya karena skandal moral yang memuakkan dengan gadis kelas bawah ini, jangan harap bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
Genta terpaku, matanya membelalak menatap wajah ayahnya yang tanpa ampun.
"Aku tidak membiayai seorang pecundang yang membiarkan emosinya merusak masa depan yang sudah kurancang bertahun-tahun," lanjut Ayahnya dengan suara rendah yang mengancam. "Pilihannya sederhana. Tetap menjadi Presiden Mahasiswa yang hebat dan berangkat ke Amerika dengan kepala tegak, atau hancurkan semuanya demi perasaan konyolmu pada gadis itu dan kehilangan fasilitas, nama keluarga, hingga hakmu atas rumah ini. Kamu tahu aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku."
***
Genta keluar dari ruang kerja itu dengan langkah gontai. Ia merasa tercekik di dalam rumahnya sendiri. Setiap inci dinding marmer ini seolah sedang menertawakan kerapuhannya, mempertegas bahwa ia hanyalah tawanan di dalam menara gading yang ia bangun sendiri.
Pukul dua pagi. Genta duduk di depan monitor komputernya di kamar yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu, hanya pendar biru dari layar yang menerangi wajahnya yang nampak sangat lelah dan hancur. Dengan tangan yang gemetar hebat, tremor yang tak sanggup lagi ia tekan, ia masuk ke dalam Fantasy World.
Ia segera menuju Silver Stream. Air sungai virtual itu masih mengalir dengan tenang\, namun sosok Rara_The_Healer tidak ada di sana. Statusnya Offline. Kehadiran Rara yang biasanya menjadi jangkar kewarasannya kini hilang, meninggalkannya sendirian di tengah kesunyian digital.
Genta mengarahkan karakter Paladin-nya untuk duduk di tepi sungai, di tempat yang biasa mereka tempati untuk sekadar diam. Ia membuka fitur kotak surat (Mailbox) dan mulai mengetik. Ini bukan pesan strategi, bukan juga pesan singkat. Ini adalah luapan jiwa yang sudah tidak sanggup lagi menanggung bebannya sendiri di dunia nyata.
"Ra... aku tahu kamu mungkin nggak akan balas ini setelah apa yang aku lakukan tadi di lobi. Aku tahu seluruh kampus membencimu karena pernyataan resmiku yang pengecut itu. Tapi aku harus bilang ini... aku takut, Ra. Aku sangat takut."
Genta berhenti sejenak, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, mengaburkan pandangannya ke layar.
"Rumah ini rasanya seperti penjara. Ayah baru saja mengancam akan membuangku jika aku tidak bisa menjaga citra sempurna ini. Dia nggak tahu kalau Pangeran Es yang dia banggakan ini sebenarnya hanyalah orang yang ingin lari ke Silver Stream setiap hari agar bisa bernapas. Aku merindukanmu, Ra. Aku merindukan gadis yang memasangkan mic-ku di balik layar sempit itu. Aku merindukan satu-satunya orang yang berani memanggilku Sayang di kantin hanya untuk melihatku tersedak."
"Maafkan aku karena harus bersikap seolah kita nggak pernah kenal. Maaf karena aku terlalu pengecut untuk membelamu di depan rektorat. Aku adalah Paladin yang gagal... aku tidak bisa melindungimu, bahkan aku nggak bisa melindungi diriku sendiri dari ayahku. Aku merindukanmu, Healer-ku. Sangat merindukanmu. Tolong, jangan benci aku terlalu lama."
Genta menekan tombol Send. Ia menyandarkan kepalanya di atas meja, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara di atas keyboard. Di dunia virtual yang luas itu, ia mengirimkan satu-satunya kejujuran yang ia miliki ke dalam kehampaan.
***
Di sudut kota yang lain, di kamar kos yang sempit, Rara terbangun karena getaran ponselnya. Ia melihat notifikasi dari aplikasi Fantasy World. Ada pesan masuk dari Paladin_Z.
Dengan tangan gemetar, Rara membaca setiap kata dalam pesan panjang itu. Setiap kalimat yang ditulis Genta terasa seperti sayatan sembilu di hatinya. Ia bisa merasakan keputusasaan Genta yang mendalam, ketakutannya terhadap ancaman sang ayah, dan rasa bersalah yang kini nampak mencekik pria itu. Rara tersadar bahwa di balik pengkhianatan Genta di lobi rektorat, ada sebuah rantai yang jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.
Rara menangis sesenggukan. Ia membekap mulutnya sendiri dengan bantal agar suaranya tidak terdengar oleh tetangga kos sebelah. Bahunya berguncang hebat. Ia ingin sekali membalas pesan itu saat ini juga. Ia ingin mengetik: "Aku nggak marah, Genta. Aku mengerti sekarang. Aku di sini. Aku akan tetap jadi Healer-mu."
Namun, wajah Kania yang dingin di ruang BEM tiba-tiba muncul kembali dalam ingatannya. Ia teringat berkas beasiswa Ivy League itu dan ultimatum Kania bahwa kehadiran Rara adalah racun bagi masa depan Genta. Jika ia membalas, ia hanya akan membuat Genta semakin berani melakukan hal impulsif yang bisa menghancurkan hidupnya sendiri.
"Jangan egois, Rara. Kamu akan menghancurkannya," bisikan Kania terngiang-ngiang seperti kutukan.
Rara menghapus draf balasan yang sudah ia ketik dengan jemari gemetar. Ia menutup aplikasi itu dengan isak tangis yang semakin menyesakkan. Malam itu, di bawah pendar lampu jalan yang temaram, Rara menyadari bahwa mencintai Genta berarti ia harus tetap menjadi orang asing yang dibenci, agar sang Paladin tetap bisa mendaki menara kesempurnaan yang telah disiapkan untuknya, meski menara itu dibangun di atas air mata mereka berdua yang tak terlihat dunia.