"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Hadiah Kemenangan
"Dan dengan penangkapan pelaku sabotase di gudang pelabuhan malam ini, nama Drystan Group resmi dinyatakan bersih dari segala tuduhan. Harga saham diprediksi akan kembali meroket saat pembukaan pasar besok pagi."
Elzian menekan tombol remot, mematikan televisi layar datar yang menempel di dinding kamar tidurnya. Layar menjadi gelap, menyisakan keheningan yang nyaman di kamar luas itu.
Helaan napas lega terdengar panjang.
"Akhirnya," gumam Ziva. Dia duduk berselonjor di karpet bulu tebal, bersandar pada kaki ranjang. Tangannya memegang cangkir keramik berisi teh chamomile hangat yang uapnya masih mengepul.
"Kau tidak mau pindah duduk di kursi? Karpet itu dingin," tegur Elzian. Pria itu sudah berada di atas ranjang, bersandar pada tumpukan bantal dengan tablet di pangkuan, meski matanya sejak tadi tidak lepas dari istrinya.
Ziva menggeleng pelan, matanya terpejam menikmati aroma teh. "Enggak. Tulangku rasanya mau rontok semua. Efek adrenalinnya sudah habis, sekarang badanku rasanya kayak habis digilas truk tronton. Bergerak satu senti saja rasanya malas."
Elzian tersenyum tipis. Dia meletakkan tabletnya di nakas. Pemandangan di depannya ini jauh lebih menarik daripada angka saham.
Ziva, dokter bedah yang beberapa jam lalu mematahkan lutut penjahat dengan tendangan maut, kini terlihat seperti boneka kucing yang kehabisan baterai.
Rambutnya digelung asal-asalan, menyisakan anak rambut yang jatuh berantakan di leher jenjangnya. Wajahnya polos tanpa make-up, pipinya merona merah alami karena uap panas teh dan kelelahan.
Dia terlihat rapuh, lembut, dan... sangat cantik.
"Terima kasih," ucap Elzian tiba-tiba. Suaranya rendah dan tulus.
Ziva membuka satu matanya, menatap Elzian dari bawah. "Hm? Buat apa? Buat tehnya?"
"Buat semuanya," kata Elzian. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit. "Kau menyelamatkan pabrikku. Kau menyelamatkan nama baik kakekku. Dan kau menyelamatkan mukaku di depan Adrian."
Ziva terkekeh pelan. Tawanya terdengar serak dan mengantuk. "Ingat ya, tagihannya mahal. Biaya konsultasi dokter, biaya risiko, biaya penyamaran... nanti aku kirim invoice-nya ke kantormu."
"Berapapun kusanggupi," jawab Elzian cepat. "Mau minta apa? Tas baru? Mobil? Atau rumah sakit itu kubeli atas namamu?"
Ziva mendengus geli. Dia meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong di meja kecil.
"Nggak butuh. Aku cuma butuh tidur selama dua belas jam tanpa gangguan. Jangan bangunkan aku, bahkan kalau rumah ini kebakaran."
Ziva menguap lebar-lebar, tidak jaim sama sekali. Dia berusaha bangkit berdiri. Kakinya sedikit goyah saat menapak lantai. Tubuhnya sempoyongan, efek rasa kantuk yang menyerang mendadak seperti ombak besar.
"Hati-hati," Elzian refleks mengulurkan tangan, hendak menangkapnya.
"Aku oke, aku oke," gumam Ziva sambil mengibaskan tangan. Matanya sudah setengah terpejam. Dia menyeret langkahnya yang berat menuju sofa panjang di sudut ruangan—tempat tidur resminya selama perang dingin kemarin.
"Selamat malam, CEO Gila. Jangan ngorok," ucap Ziva sambil memeluk bantal sofa. Dia bersiap menjatuhkan dirinya ke sofa empuk itu.
"Tunggu!"
Seruan Elzian membuat Ziva berhenti tepat sebelum pantatnya menyentuh busa sofa.
Ziva menoleh dengan wajah super bete. "Apa lagi sih? Aku ngantuk banget, Elzian."
"Jangan tidur di situ," larang Elzian cepat. Wajahnya terlihat serius, tapi ada kilatan jahil yang tersembunyi di matanya.
"Kenapa? Ini kan kasurku."
"Sofanya basah," Elzian berbohong dengan wajah datar tanpa dosa.
Dahi Ziva berkerut bingung. Dia menyentuh permukaan sofa. "Hah? Basah? Perasaan kering kok."
"Bagian dalamnya basah. Lembab," ralat Elzian cepat, otaknya berputar mencari alasan paling masuk akal—atau paling tidak masuk akal. "Tadi sore... pelayan ngepel lantai. Embernya kesenggol Raka. Airnya tumpah seember ke sofa itu. Luarnya sudah dikeringkan pakai hairdryer, tapi dalamnya masih basah kuyup. Kalau kau tidur di situ, besok pagi kau bisa kena jamur kulit atau masuk angin."
Ziva mengerjapkan matanya yang berat. Otaknya yang jenius sedang offline karena terlalu capek, jadi dia tidak sempat memproses betapa bodohnya kebohongan itu.
Siapa yang ngepel kamar tidur pakai ember penuh air di dekat sofa? Dan kenapa Raka ada di kamar tidur mereka?
"Ah, masa sih?" gumam Ziva malas. "Ya sudahlah. Aku gelar karpet saja."
"Jangan di karpet. Keras. Nanti punggungmu sakit," potong Elzian lagi.
"Terus aku tidur di mana? Di kamar mandi? Di bathtub?" Ziva mulai kesal, suaranya merengek manja. "Aku capek, Elzian..."
Elzian menepuk sisi ranjang kosong di sebelahnya. Kasur King Size itu terlihat begitu luas, empuk, dan menggoda.
"Di sini," perintah Elzian.
Ziva menatap kasur itu, lalu menatap Elzian. "Ogah. Nanti kau macam-macam."
"Kau tak percaya padaku? Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu," elak Elzian. "Cepat naik. Atau kau mau tidur berdiri?"
Ziva menimbang-nimbang sebentar. Rasa kantuknya menang telak melawan gengsinya. Kasur itu terlihat seperti surga.
"Awas kalau kau ngorok," ancam Ziva sambil berjalan gontai menuju ranjang.
Dia naik ke atas kasur, merangkak pelan ke sisi kosong, lalu langsung menjatuhkan dirinya di sana.
"Enaknya..." desah Ziva saat kepalanya menyentuh bantal yang super empuk. Wangi maskulin Elzian tercium samar dari sprei, membuatnya semakin rileks.
Ziva memunggungi Elzian, menarik selimut sampai ke leher. "Batas guling. Jangan lewat."
Tapi tidak ada guling di antara mereka.
Baru lima detik Ziva memejamkan mata, dia merasakan sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.
"Elzian..." protes Ziva lemah, matanya terlalu berat untuk dibuka.
"Sshhh. Diam. Aku cuma mau memastikan kau tidak jatuh," bisik Elzian tepat di belakang telinganya.
Tanpa permisi, Elzian menarik tubuh Ziva mendekat hingga punggung wanita itu menempel rapat di dada bidangnya. Posisi sendok. Sangat intim, sangat hangat.
Ziva seharusnya marah. Dia seharusnya menendang Elzian atau mematahkan jarinya seperti yang dia lakukan pada Rudi. Tapi tubuhnya mengkhianati otaknya. Kehangatan tubuh Elzian terasa begitu nyaman, begitu melindungi. Ziva merasa aman.
"Dasar modus... penipu..." gumam Ziva tak jelas, suaranya makin menghilang ditelan mimpi. "Sofanya... nggak basah..."
"Hm, memang tidak," aku Elzian pelan, tersenyum menang.
Dia merasakan napas Ziva mulai teratur. Istrinya sudah tertidur pulas dalam hitungan detik.
Elzian mengeratkan pelukannya. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ziva, menghirup aroma rambut wanita itu yang menenangkan. Dia mengecup puncak kepala Ziva dengan lembut, penuh rasa kepemilikan.
"Mulai sekarang, tempatmu abadi di sini, Ziva," bisik Elzian pada kesunyian malam. "Tidak akan ada sofa lagi. Kau milikku."