NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:48
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Hari ini Nadia agak telat masuk kerja, karna sedang tidak enak badan. Ia langsung masuk ruangan meneger untuk meminta maaf karna terlambat masuk kerja.

"Maaf, Pak. Hari ini saya terlambat. Saya lagi nggak enak badan," jelas Nadia sambil menundukan kepalanya segan.

Tiba-tiba menegernya.... Aldo mendekatinya dengan senyum yang lebar."Tidak apa-apa Nadia, aku mengerti kamu sedang tidak enak badan, jadi.... aku memakluminya,"katanya dengan ramah.

Nadia menatap Aldo tak nyaman, karna ia tahu, semenjak dirinya masuk kantor ini, Aldo selalu memperhatikannya dan bersikap ramah kepadanya. Kata teman satu pekerjaan Nadia, Aldo memang memiliki perasaan lebih terhadapnya. Namun banyak rumor yang beredar, Aldo adalah laki-laki hidung belang yang hobi sekali bermain perempuan. Oleh sebab itu, Nadia tidak menyukainya.

"Ya, sudah Pak. Kalau begitu saya pamit dulu," ujar Nadia bersiap akan pergi.

Namun sebelum Nadia pergi, Aldo mencekal tangannya, ia menahan Nadia untuk tetap di ruangannya."Tunggu! kamu mau kemana sih, Nad. Kok buru-buru gitu?"

"Sa-saya mau kerja, Pak," ujar Nadia gugup, Nadia mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Aldo terus-menerus menatap Nadia dengan penuh perasaan, membuat Nadia semakin tidak nyaman."Nadia, aku ingin berbicara jujur padamu."

Nadia menatap Aldo dengan was-was, jujur ia sangat takut, apalagi mereka sedang berduaan di ruangan tertutup.

"Bi-bicara apa, Pak?" ujar Nadia gugup.

"Jujur, aku sangat menyukaimu Nadia. Sejak awal aku melihatmu, aku langsung jatuh cinta denganmu, aku ingin.....kita lebih dekat,"katanya dengan suara yang lembut.

Nadia cukup terkejut dan tidak tahu harus meresponnya." Pak aldo? saya.... saya tidak bisa,"katanya hati-hati.

Aldo menatap Nadia dengan rasa kecewa,"Kenapa? apa yang salah denganku?"

"Pak Aldo, saya mohon maaf sebelumnya, saya hanya ingin fokus bekerja. Saya belum mau pacaran, dan jujur, saya tidak memiliki perasaan yang sama terhadap anda," Nadia berusaha menjelaskan.

"Nadia... tolong beri saya kesempatan! saya sangat mencintai kamu, saya tidak bisa jauh-jauh dari kamu." Aldo mencekal pergelangan tangan Nadia semakin erat, hal itu membuat Nadia semakin ketakutan.

"Saya tidak bisa, Pak. Saya tidak ingin berpacaran dulu, saya hanya ingin fokus bekerja. Tolong hargai keputusan saya!"ucap Nadia dengan tegas.

Aldo menatap Nadia dengan tajam,"Kamu tidak tahu apa yang terbaik untukmu Nadia. Aku bisa membuatmu hidup lebih mudah disini, tapi kamu malah menolaku!"

Merasa terancam, Nadia mencoba untuk pergi, tapi Aldo mencekal lengannya.

"Jangan pergi, Nadia. Aku belum selesai berbicara denganmu."

Nadia mencoba melepaskan diri, tapi semakin Nadia berontak, Aldo semakin tidak ingin melepaskannya."Tolong lepaskan saya! kalau Pak Aldo terus menahan saya, saya akan teriak."ancam Nadia dengan tegas.

Aldo menatap Nadia dengan penuh kemarahan,"Kamu akan menyesali ini, Nadia. Karna kamu telah berani menolak saya!"dan dengan itu, Aldo melepaskan tangan Nadia.

Nadia langsung berlari keluar ruangan, sebelum laki-laki gila itu kembali menahannya.

**********

Sore itu Nadia bersiap-siap akan pulang. Aldo atasannya tiba-tiba menegurnya dan menyuruhnya untuk kerja lembur, alasannya karna ada beberapa makanan yang harus di antar. Permintaan yang terasa janggal, sebab pekerjaan lembur hanya di kerjakan oleh pegawai laki-laki.

Dengan berat hati Nadia tetap menurut, karna bagaimana pun, Aldo adalah atasannya, jika Nadia tidak menurut, bisa saja Aldo melaporkannya ke pihak kantor dan memecatnya.

Baiklah mengantar beberapa makanan tidak masalah. Malam semakin larut, selesai mengantar semua pesanan makanna, Nadia kembali ke kantor untuk menyimpan barang-barangnya di loker. Suasana kantor yang biasanya ramai, kini tampak sunyi mencekam. Mungkin karna hari semakin malam.

Belum sempat ia menyadari ke anehan itu, lampu-lampu mendadak padam, meninggalkan gelap yang pekat. Lebih buruk lagi, tak ada seorang pun tersisa di kantor. Dengan tangan gemetar, Nadia menyalakan senter ponselnya. Cahaya kecil itu menjadi satu-satunya penopang keberaninnya.

Namun, sebelum sempat ia melangkah pergi, sebuah pelukan kasar datang dari belakang. Aldo muncul dari kegelapan, memeluknya erat tanpa peringatan. Teriakan Nadia tertahan di tenggorokan. Antara terkejut dan ketakutan, ia merasakan firasat buruk, yang membut dirinya membeku. Dalam gelap, topeng profesional Aldo runtuh, menyisakan sisi gelap yang selama ini tersembunyi.

Malam itu, Nadia harus berjuang bukan cuma untuk meloloskan diri, tetapi juga untuk mempertahankan harga diri.

Nadia berteriak sekuat tenaga, suaranya menggema di lorong kantor yang gelap. Namun teriakan itu terhenti seketika ketika tangan kasar Aldo menutup mulutnya dengan kuat. Nafas Nadia tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Ia mencoba menggigit, menepis, apa pun agar bisa lepas.

“Aldo… lepaskan aku!” rintihnya teredam.

Tubuh Nadia terus memberontak. Ia memukul, menendang, dan berusaha melepaskan diri meski tenaga Aldo jauh lebih kuat. Air mata mengalir tanpa bisa ia cegah. Dalam kepanikan, ia terus berusaha meminta tolong—meski ia tahu harapan itu hampir mustahil. Kantor itu sunyi. Terlalu sunyi.

Tak ada suara langkah. Tak ada pintu terbuka. Tak ada siapa pun yang datang.

Di tengah ketakutan yang hampir melumpuhkan akalnya, Nadia berusaha tetap sadar. Ia menepis rasa panik yang ingin menelannya hidup-hidup. Ia tahu, jika ia menyerah sekarang, semuanya akan berakhir buruk. Dengan sisa keberanian yang tersisa, Nadia memanfaatkan kelengahan sekecil apa pun—menghentakkan tubuhnya, menjatuhkan ponsel agar berbunyi, melakukan apa saja untuk menciptakan celah.

Merasa tubuh Nadia semakin melemah karna lelah memberontak, Aldo tidak menyia-nyiakan hal itu. Dengan satu tarikan kasar, Aldo merobek baju kerja Nadia. Kain itu terlepas, menyisakan tanktop hitam yang melekat di tubuhnya. Nadia terisak semakin keras, tangisnya pecah bersama ketakutan yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.

Ia mundur selangkah, punggungnya membentur loker dingin yang terasa seperti jalan buntu.

Tatapan Aldo berubah liar, tak lagi menyisakan wibawa seorang atasan. Gelap kantor seakan mempertegas sisi kelam yang selama ini tersembunyi. Nadia menutup mata, air mata mengalir tanpa henti, tubuhnya menegang menunggu sesuatu yang tak sanggup ia hadapi.

Namun tepat saat Aldo melangkah lebih dekat dan mengulurkan tangan—

BRAK!

Suara dobrakan keras menggetarkan ruangan. Pintu kantor didobrak dengan paksa, disusul cahaya dari luar yang menembus kegelapan. Aldo terhenti seketika, tubuhnya menegang. Nadia tersentak, matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang antara takut dan harap.

“Berhenti!”

Suara itu menggema, tegas dan penuh amarah.Dalam hitungan detik, situasi berbalik. Aldo mundur refleks, sementara Nadia merosot ke lantai, tubuhnya gemetar hebat. Malam yang nyaris menghancurkannya akhirnya retak.....dan untuk pertama kalinya sejak lampu padam, Nadia melihat secercah harapan.

Laki-laki itu menerjang tanpa ragu. Tangannya menghantam Aldo bertubi-tubi, penuh amarah yang tertahan. Aldo sempat melawan, membalas dengan segenap tenaga, membuat suara benturan bergema di ruangan sempit itu. Keduanya terlibat perkelahian sengit, nafas terengah, tubuh saling terhuyung.

Namun perlawanan Aldo tak bertahan lama. Kekuatan lawannya jauh lebih besar. Beberapa saat kemudian, Aldo tersungkur, tubuhnya terkapar di lantai, tak lagi mampu bangkit.

Keheningan kembali menyelimuti kantor.

Di sudut ruangan, Nadia menyaksikan semuanya dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya masih gemetar hebat, napasnya tersengal tak beraturan. Rasa takut, syok, dan kelelahan bercampur menjadi satu. Dunia terasa berputar, suara-suara menjauh, dan pandangannya menggelap.

Nadia pun jatuh tak sadarkan diri.

Laki-laki itu segera menghampirinya, menangkap tubuh Nadia sebelum kepalanya membentur lantai. Dengan wajah tegang dan penuh kekhawatiran, ia memanggil nama Nadia berulang kali.... berjanji dalam hati bahwa kejadian ini tidak akan berlalu begitu saja.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!