NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Nafas yang Tertinggal

Kegelapan di balik pintu besi itu terasa padat, seolah-olah udara di dalamnya telah digantikan oleh cairan dingin yang menolak untuk bergeser. Arlan berdiri mematung, tangannya masih memegang gagang pintu yang berkarat sementara punggungnya merapat pada permukaan logam dingin tersebut. Di telinganya, suara dengungan listrik dari terowongan tadi berubah menjadi kesunyian yang menulikan—sebuah zona hampa akustik yang begitu sempurna hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman genderang perang.

Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napas manualnya agar tidak tersengal. Setiap tarikan napas harus dilakukan dengan sadar; jika tidak, paru-parunya akan terjebak dalam ritme statis yang disukai para Peniru. Di saku jaketnya, koin perak milik Pak Suryono masih memancarkan kehangatan sisa, sebuah kontras yang menyakitkan dengan suhu ruangan yang terus merosot drastis.

"Dante, aku sudah di dalam," bisik Arlan ke arah mikrofon kecil di kerah jaketnya.

"Suaramu sangat tipis, Arlan. Hampa akustik di sana sudah mencapai level kritis. Jangan berteriak, atau frekuensi suaramu akan memantul dan memicu alarm sensorik mereka," suara Dante terdengar sangat jauh, terdistorsi oleh gangguan elektromagnetik.

"Aku melihat uap putih," Arlan berbisik lagi, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. "Banyak sekali. Seperti ada lusinan orang yang baru saja berlari di sini."

"Itu mustahil. Gudang logistik harusnya steril dari aktivitas organik. Jika ada uap napas, berarti ada manifes manusia yang tertinggal—atau seseorang sedang bersembunyi. Gunakan detektor panas kurirmu. Jangan percaya pada matamu sendiri."

Arlan merogoh tas pinggangnya dan mengeluarkan sebuah alat genggam usang dengan layar monokrom yang retak. Sebagai kurir barang hilang, alat ini dulunya digunakan untuk melacak paket-paket yang memiliki tanda termal khusus, namun sekarang, alat ini adalah satu-satunya cara untuk membuktikan kemanusiaan seseorang.

Ia menyalakan layar detektor. Garis-garis hijau mulai memindai kegelapan di depannya. Layar itu berkedip-kedip, berjuang melawan suhu endotermik ruangan yang mencoba membekukan sensornya.

"Ada sesuatu," gumam Arlan. "Di balik tumpukan peti di sudut utara. Sebuah titik kecil berwarna jingga pucat."

"Suhu?" tanya Dante singkat.

"Tiga puluh empat derajat. Terlalu hangat untuk mesin, terlalu dingin untuk manusia sehat. Tapi itu pasti detak jantung."

Arlan melangkah maju dengan sangat hati-hati. Kakinya tidak mengeluarkan suara saat menyentuh lantai beton yang dilapisi embun perak tipis. Bau ozon dan besi berkarat menusuk hidungnya, aroma khas yang menandakan bahwa tempat ini adalah pabrik pemrosesan identitas. Di sekelilingnya, peti-peti kayu besar bertumpuk hingga ke langit-langit, masing-masing memiliki label bertuliskan nama-nama warga Sektor Tujuh yang baru saja dihapus dari peta.

Residu di Balik Bayangan

Saat Arlan mendekati titik panas itu, uap napas di udara semakin pekat. Ia melihatnya sekarang—seorang gadis kecil yang meringkuk di antara celah dua peti besar. Gadis itu mengenakan gaun kuning yang kusam, persis seperti bayangan yang ia lihat melalui pantulan air di terowongan tadi.

"Jangan mendekat!" sebuah suara parau namun kecil memecah kesunyian.

Arlan berhenti seketika. Ia tidak melihat bibir gadis itu bergerak, namun suara itu bergema langsung di kepalanya. "Aku bukan bagian dari mereka," ucap Arlan pelan, ia berlutut dan meletakkan detektor panasnya di lantai untuk menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata.

"Kau punya koin itu," bisik si gadis, matanya yang besar menatap saku jaket Arlan. "Aku bisa mencium bau duka Pak Suryono pada tanganmu."

Arlan tersentak. Tangannya yang gemetar tanpa sadar meraba saku jaket. "Kau mengenal Pak Suryono?"

"Dia yang menjagaku di tangga darurat... sebelum dia berubah menjadi batu. Dia menyuruhku lari ke sini. Dia bilang, jika aku tetap bernapas, mereka tidak bisa menyalin wajahku sepenuhnya."

"Siapa namamu?" tanya Arlan lembut, mencoba menekan rasa perih di dadanya saat teringat pengorbanan satpam tua itu.

"Aku tidak tahu. Namaku sudah tertulis di peti itu," gadis itu menunjuk sebuah peti di sampingnya yang bertuliskan Subjek 402 - Laila. "Setiap kali mereka lewat, namaku di kepalaku terasa semakin pudar."

"Dante, aku menemukan seorang anak. Namanya Laila. Dia masih hidup, tapi dia berada dalam fase pengikisan identitas," lapor Arlan, suaranya kini bergetar karena emosi.

"Arlan, dengarkan aku baik-baik," suara Dante menjadi sangat serius. "Laila itu bukan lagi manusia utuh. Dia adalah residu. Jika namanya sudah ada di peti, berarti proses penyalinan fisiknya sudah selesai di lantai atas. Apa yang kau lihat sekarang hanyalah sisa emosi yang belum sempat diserap ke dalam tabung."

"Tapi dia bernapas, Dante! Detektorku menangkap panas tubuhnya!"

"Itu hanya panas sisa dari memori yang terbakar! Kau tidak bisa membawanya keluar. Jika kau membawanya melewati gerbang frekuensi, dia akan menguap menjadi debu perak. Fokus pada misimu, cari manifes logistiknya!"

Dilema di Tengah Sunyi

Arlan menatap Laila. Gadis itu tampak begitu nyata, uap napasnya keluar dengan ritme yang tidak beraturan, tanda ketakutan yang murni. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu nyata dianggap sebagai sampah data?

"Apa yang mereka lakukan padamu di sini, Laila?" Arlan mengabaikan peringatan Dante.

Gadis itu memeluk lututnya lebih erat. "Mereka mengambil foto... tapi fotonya bukan dari kamera. Mereka menempelkan kabel ke kepalaku dan menarik keluar rasa takutku. Mereka bilang, rasa takutku adalah bumbu agar 'Laila yang baru' tidak terlihat kaku."

"Kau adalah bumbunya?" Arlan mengepalkan tinjunya hingga kukunya menusuk telapak tangan. "Mereka menggunakan nyawamu hanya untuk menyempurnakan akting para monster itu?"

"Tolong... jangan biarkan mereka mengambil sisa napasku," isak Laila.

Arlan menoleh ke arah kegelapan yang lebih dalam di belakang gudang, tempat suara langkah kaki yang teratur mulai terdengar. Langkah itu berat, memiliki jeda satu detik yang tidak natural—patroli Eraser.

"Arlan, mereka mendekat! Kau harus menggunakan strategi pengalihan sekarang!" teriak Dante.

Arlan melihat ke sekeliling. Ia punya pilihan: lari menyelamatkan diri dan membiarkan Laila diserap sepenuhnya, atau mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah diuji coba sebelumnya. Matanya tertuju pada tumpukan tabung-tabung kosong di sudut lain dan Kunci Tua di tangannya.

"Laila, kau percaya padaku?"

Gadis itu menatap Arlan dengan ragu, lalu mengangguk pelan.

"Aku tidak bisa membawamu keluar secara fisik, tapi aku bisa menyimpan napasmu di tempat yang aman," Arlan merogoh saku kirinya, mengeluarkan koin perak pertama miliknya yang masih kosong dari memori orang lain. "Masuklah ke sini. Jadilah bagian dari memoriku, sampai aku menemukan cara untuk membangunkanmu kembali."

"Arlan, apa yang kau lakukan? Jangan melakukan sinkronisasi tanpa pengawasan! Itu bisa membunuhmu!" Dante memprotes keras.

"Aku lebih baik mati dengan memori yang penuh daripada hidup di dunia yang kosong, Dante," balas Arlan tajam.

Ia memegang koin itu di depan wajah Laila. "Tarik napas panjang, Laila. Ingatlah warna gaunmu, ingatlah wajah ibumu, dan hembuskan semuanya ke logam ini."

Arlan merasakan kedinginan yang tidak wajar merambat dari koin di telapak tangannya. Saat Laila mengembuskan napas terakhirnya ke arah logam perak itu, sosok gadis kecil di depannya mulai memudar, berubah menjadi partikel-partikel cahaya abu-abu yang tersedot masuk ke dalam pori-pori koin. Detektor panas di lantai seketika menunjukkan angka nol. Suhu ruangan turun lebih ekstrem lagi, namun di tangan Arlan, koin itu kini berdenyut kencang, seolah-olah ada jantung kecil yang baru saja dipindahkan ke dalamnya.

"Arlan! Keluar dari sana sekarang! Sensor termal mereka baru saja menangkap lonjakan energi dari koinmu!" Suara Dante memecah kesunyian melalui radio, kali ini dengan nada panik yang tak tertutup.

Suara langkah kaki yang teratur itu berhenti tepat di balik deretan peti di depan Arlan. Satu detik. Dua detik. Arlan menahan napas manualnya, tubuhnya membeku. Dari celah peti, ia melihat sepasang sepatu bot hitam yang mengkilap—terlalu sempurna, tanpa satu pun goresan tanah. Itu adalah unit Eraser.

"Target organik terdeteksi di koordinat logistik," sebuah suara tanpa intonasi bergumam. Suara itu terdengar seperti rekaman yang diputar berulang-ulang. "Memulai prosedur sterilisasi residu."

Arlan tahu ia tidak bisa melawan secara fisik. Ia masih seorang Underdog yang hanya bersenjatakan alat kurir dan dua keping memori. Namun, ia melihat tabung-tabung pendingin cair di dekatnya. Sebuah ide gila muncul di kepalanya—solusi ketiga.

Pelarian di Antara Uap

"Dante, matikan enkripsi radionya. Aku butuh gangguan frekuensi skala besar di saluran ini!" perintah Arlan sambil merayap menjauh.

"Kau akan mengekspos posisimu sendiri, bodoh!"

"Lakukan saja! Sekarang!"

Saat Dante melepas enkripsi, radio Arlan mengeluarkan suara statik yang memekakkan telinga. Eraser di depan sana tersentak, kepalanya berputar 180 derajat ke arah sumber suara dengan gerakan patah-patah yang mengerikan. Di saat yang sama, Arlan melemparkan detektor panas kurirnya ke arah berlawanan, lalu menghantam katup tabung pendingin cair dengan gagang Kunci Tuanya.

Cshhhhhhh!

Uap nitrogen cair menyembur keluar, memenuhi ruangan dengan kabut putih yang sangat pekat dalam hitungan detik. Ini adalah manipulasi kondisi endotermik; Arlan menciptakan badai suhu yang membingungkan sensor suhu milik Peniru. Dalam kabut itu, Arlan menghilang, bergerak lincah di antara tumpukan peti yang sudah ia hapal posisinya melalui pemindaian singkat tadi.

"Audit visual gagal," suara Eraser terdengar di tengah kabut. "Interferensi suhu ekstrem terdeteksi."

Arlan tidak lari menuju pintu keluar. Ia justru memanjat tumpukan peti menuju langit-langit, tempat pipa-pipa ventilasi besar mengalirkan udara ke permukaan kota. Ia menggunakan teknik navigasi kurir, mencari celah sempit yang hanya bisa dilewati oleh manusia dengan tulang yang fleksibel, bukan oleh Peniru yang memiliki struktur tubuh kaku dan berat.

"Aku di jalur ventilasi, Dante. Aku melihat manifesnya," bisik Arlan. Di dinding pipa, ia melihat secarik kertas fisik—sebuah anomali di dunia digital ini—yang tertempel dengan perekat lama. Itu adalah daftar distribusi barang logistik menuju Restoran sektor pusat.

"Ambil itu! Itu kunci untuk masuk ke area publik tanpa dicurigai," instruksi Dante.

Arlan menyambar kertas itu. Tangannya masih gemetar, bukan karena dingin, tapi karena kehadiran Laila yang kini bersemayam di saku jaketnya. Ia merasa seperti pencuri, namun juga seperti penyelamat yang paling menyedihkan.

Menuju Permukaan

Cahaya hijau-kebiruan mulai terlihat di ujung pipa ventilasi. Arlan merangkak keluar dan mendarat di sebuah gang sempit yang bau sampah organiknya terasa sangat nyata. Ia terduduk di samping bak sampah, menghirup udara luar yang meski beraroma kimia, jauh lebih baik daripada udara mati di gudang tadi.

Ia merogoh sakunya. Koin Laila kini mendingin, menyatu dengan koin Pak Suryono. Dua nyawa, dua duka, kini menjadi beban permanen di pundaknya.

"Kau sudah di luar?" tanya Dante.

"Ya. Aku di belakang gedung restoran," Arlan mengusap wajahnya yang kusam. "Laila sudah aman di dalam koin, Dante. Tapi dia bertanya tentang ibunya. Apa yang harus kukatakan padanya?"

Hening sejenak di seberang radio. "Katakan padanya bahwa kita akan mencari ibunya. Meskipun mungkin yang kita temukan hanyalah sebuah koin perak lainnya."

Arlan memejamkan mata. Dilema martabat itu kembali menghantamnya. Ia menyelamatkan memori mereka, tapi ia tidak bisa mengembalikan sentuhan fisik mereka. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu restoran yang berkilau indah, namun ia tahu di balik kemewahan itu, para Peniru sedang mengunyah plastik hambar sambil berpura-pura menjadi manusia yang bahagia.

"Aku akan masuk ke restoran itu besok," ucap Arlan dengan nada yang lebih dingin, lebih tajam. "Jika mereka menggunakan rasa takut anak-anak sebagai bumbu makanan mereka, maka aku akan menjadi racun bagi sistem mereka."

"Istirahatlah, Kurir. Besok kau harus menjadi orang lain lagi," tutup Dante.

Arlan berdiri, merapikan jaket kurirnya yang kini terasa lebih berat. Ia berjalan meninggalkan gang itu, menyatu dengan kerumunan bayangan di bawah lampu jalan yang perlahan mulai kehilangan warnanya. Di dalam kepalanya, ia bersumpah tidak akan membiarkan satu pun napas manusia asli menguap sia-sia lagi.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!