NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Bai Feng yang Putus Asa

Dupa di sudut ruang meditasi itu telah padam sejak lama, menyisakan bau abu yang dingin dan sisa-sisa wangi cendana yang hambar. Di tengah ruangan, terbentang sebuah kanvas suci di atas meja kayu cendana merah. Lembaran putih itu bukan sekadar alat tulis, itu adalah Sutra Sutra Langit, artefak langka yang diberikan langsung oleh Aula Tetua sebagai penghargaan atas keberhasilan luar biasa Guiren di Lembah Roh. Penatua Han sendiri yang menyerahkannya, sebuah isyarat yang mempertegas bahwa Guiren bukan lagi sekadar murid luar yang bisa diabaikan.

Bagi Guiren, kanvas ini adalah rahim. Seratnya yang terbuat dari ulat sutra langit dan bubur kayu kuno memiliki kemampuan untuk menampung Niat Tinta tanpa meledak. Di atas permukaan yang murni inilah, ia berencana melukis struktur fondasi yang akan menentukan sisa hidupnya.

Namun, pintu kayu yang seharusnya terkunci itu berderit pelan.

Langkah kaki yang masuk tidak membawa ketukan tongkat. Itu adalah langkah yang berat, penuh dengan keraguan yang dipaksakan menjadi keberanian. Guiren, yang sedang bermeditasi di balik tirai tipis, tidak bergerak. Ia merasakan pergerakan udara yang terganggu, sebuah niat yang keruh dan berbau busuk seperti air kolam yang tergenang terlalu lama.

Sesosok pria berdiri di depan kanvas itu. Cahaya bulan yang masuk dari celah jendela menyinari wajah Bai Feng. Tidak ada lagi keanggunan seorang jenius yang biasanya ia pamerkan. Matanya cekung, rambutnya sedikit berantakan, dan jemarinya gemetar saat ia memegang botol kecil berisi cairan korosif, sebuah tinta pemakan esensi.

Bai Feng menatap kanvas itu dengan tatapan yang nyaris gila.

"Kau tidak pantas mendapatkannya," bisik Bai Feng. Suaranya pecah, lebih mirip geraman binatang yang terluka daripada ucapan manusia. "Kau hanyalah debu dari desa tak bernama. Kau cacat. Kau sampah yang merangkak di bawah kakiku."

Ia membuka botol itu. Cairan hitam di dalamnya mengeluarkan desis pelan saat menyentuh udara. Dengan satu gerakan kasar, Bai Feng menuangkan cairan itu ke atas kanvas suci.

Permukaan putih yang murni itu mulai mengerut. Cairan korosif itu memakan serat-serat suci, menciptakan noda hitam yang menyebar seperti kanker, melubangi struktur yang seharusnya menjadi pondasi abadi bagi Guiren. Sabotase itu hampir merusak seluruh bagian tengah kanvas sebelum sebuah suara rendah menghentikannya.

"Apa yang kau cari di balik kehancuran itu, Bai Feng?"

Bai Feng tersentak. Ia berbalik dengan kasar, botol di tangannya terjatuh dan pecah di lantai. Guiren berdiri di sana, keluar dari balik tirai. Ia tidak menghunus senjata. Ia hanya berdiri, tenang dan dingin, seolah-olah pemandangan kanvasnya yang rusak hanyalah debu yang mengotori meja.

"Kau... ." Bai Feng tertawa kecil, suara tawa yang getir dan penuh kebencian. "Kau merasa hebat, bukan? Kau mengambil perhatian Penatua. Kau membuat Yue Chuntao melihatmu seolah-olah kau adalah matahari, sementara aku yang selalu ada di sana, kini dianggap tidak pernah ada!"

Guiren melangkah maju satu tindak. "Kau menghancurkan kanvas ini karena kau tidak bisa membangun milikmu sendiri."

"Tutup mulut kotormu!" sergah Bai Feng. Ia melangkah mendekati Guiren, menunjuk dada pemuda itu dengan jari yang gemetar. "Kau telah mencuri segalanya dariku! Reputasiku sebagai jenius nomor satu, statusku di sekte, bahkan cara Yue Chuntao tersenyum, semuanya kau rampas! Kau hanyalah pencuri yang bersembunyi di balik kegelapan matamu!"

Bai Feng terengah-engah. Iri hati yang ia rasakan bukan lagi sekadar kesombongan yang terluka, itu adalah obsesi yang telah menggerogoti jiwanya hingga tidak ada yang tersisa selain kebencian. Baginya, keberadaan Guiren adalah pengingat akan kegagalannya sendiri.

Guiren menatap ke arah kanvas yang kini memiliki noda besar yang berlubang di tengahnya. Struktur kanvas itu telah tercemar, membuatnya tidak stabil untuk menampung Niat Tinta yang besar. Satu kesalahan kecil saat melukis nanti, dan fondasi itu akan meledak, menghancurkan tubuh Guiren bersamanya.

"Kau pikir dengan merusak ini, kau akan mendapatkan kembali apa yang hilang darimu?" tanya Guiren datar.

"Tidak," sahut Bai Feng, senyumnya kini tampak lebih tenang namun jauh lebih berbahaya. "Aku hanya ingin melihatmu hancur saat kau mencoba melukis fondasimu. Aku ingin kau tahu rasanya memiliki segalanya di depan mata, lalu melihatnya terbakar menjadi abu."

Ia berbalik, berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak di ambang pintu, menatap Guiren melewati bahunya. "Kau tidak akan pernah bisa melukis fondasi di atas kanvas yang sudah mati, Yuen Guiren. Kau sudah tamat."

Pintu tertutup dengan dentum yang sunyi.

Guiren berdiri sendirian di tengah ruangan yang kini berbau tajam akibat cairan korosif. Ia mendekati kanvas suci itu, jemarinya menyentuh tepian yang kasar dan hangus. Kerusakannya parah. Struktur artefak itu sudah hampir runtuh.

Pilihan untuk membatalkan proses Pembentukan Fondasi melintas di benaknya, namun ia segera menepisnya. Ia tidak punya waktu. Setiap detik yang berlalu adalah risiko bagi Xiaolian dan dirinya sendiri.

Ia menarik napas panjang, merasakan sisa-sisa Niat Tinta di dalam meridiannya. Tangannya meraba noda hitam di kanvas itu. Bai Feng benar, kanvas ini sudah hampir mati. Namun, Bai Feng lupa satu hal tentang seorang pelukis, terkadang, bayangan yang paling gelap adalah tempat di mana cahaya paling terang harus diletakkan.

Guiren memejamkan mata, membiarkan kemarahannya yang dingin mengendap menjadi tekad yang tajam. Kanvas itu rusak, fondasinya berada di ujung tanduk, namun ia tidak akan berhenti.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!