NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJUANGAN VION

Valerius meneguk anggur merah yang diulurkan oleh pelayan itu hingga tandas. Sambil memutar-mutar cangkir perak di tangannya, ia bertanya dengan nada rendah yang mengintimidasi,

"Siapa namamu, Gadis?"

"Clara, Tuanku," jawabnya pelan.

"Hamba diutus oleh Ibu Suri untuk melayani apa pun keperluan yang Mulia Archduke butuhkan selama berada di kastil ini." Ia menunduk penuh hormat, namun bulu matanya yang lentik sempat mencuri pandang ke arah sang penguasa.

Archduke Valerius menyerahkan kembali cangkir kosongnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus wajah mulus Clara dengan ujung jarinya. Ada ketertarikan yang gelap dan berbahaya di matanya.

"Tinggalkan kami!" interupsinya dengan suara yang berat dan tidak terbantahkan kepada semua pelayan lain yang ada di dalam kamar luas itu.

Tanpa suara, semua pelayan membungkukkan badan serempak, lalu melangkah mundur dengan teratur keluar dari ruangan. Setelah pintu kayu ek yang berat itu tertutup rapat dan terkunci, Archduke Valerius menarik tubuh molek Clara dengan satu sentakan kuat, membawanya ke atas peraduan megah di tengah kamarnya yang remang-remang.

Ya, begitulah tabiat sang Archduke yang sudah menjadi rahasia umum di seluruh wilayah Utara. Ia selalu menjajal setiap wanita cantik yang melintasi ambang pintu kediamannya.

Hal yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kebiasaan Pangeran Alaric yang asli di masa lalu. Bedanya, Alaric jauh lebih tertutup; ia hanya menghabiskan malam-malam gelapnya bersama seorang pelayan setia bernama Elena, tanpa pernah melirik wanita lain.

"Pergilah ke hutan di belakang pondok ini," perintah Master Hephaestus dengan nada yang sangat santai, seolah-olah ia hanya menyuruh seseorang mengambilkan air.

Vion menunjuk d**anya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. "Aku? Sendirian?"

Hephaestus mengangguk singkat, melirik sekilas ke arah sang "Pangeran" yang tampak kebingungan itu. Ia kembali meneguk anggur asam dari botol kulit yang selalu tersampit di pinggangnya.

"Cari kayu ek untuk bahan bakar. Pastikan panjangnya setinggi dua meter dan cukup kuat untuk menahan panas perapian."

Vion menatap ke arah belakang pondok batu milik Master Hephaestus. Di sana terbentang hutan ek yang lebat dengan pepohonan raksasa yang dahan-dahannya saling melilit, menciptakan semak belukar yang tampak begitu menyeramkan di bawah kabut tipis pegunungan.

"Vion, aku akan menemanimu," usul Von Gardo, tangannya sudah bersiap pada hulu pedangnya, tak tega membiarkan tuannya masuk ke tempat seberbahaya itu sendirian.

"Tidak, tidak. Kau tidak boleh ikut mencampuri urusannya. Biarkan saja dia pergi sendiri," tolak Master Hephaestus tegas.

Ia bangkit berdiri, menatap wajah Vion yang jelas-jelas menunjukkan keberatan atas tugas kasar ini. Dengan gerakan santai, ia mendorong bahu Vion hanya dengan satu jari telunjuknya.

"Aawwgg!" seru Vion dengan nada sangat terkejut. Padahal hanya satu jari, tapi rasanya seperti hantaman palu godam yang menghujam tulang bahunya.

"Vion, kau tidak apa-apa?!" Dengan sigap, Von Gardo menopang tubuh Vion yang terhuyung ke belakang, hampir saja jatuh tersungkur ke tanah yang berbatu.

"Hahaha!" Master Hephaestus tertawa terbahak-bahak, tawanya yang serak menggema di antara tebing batu.

"Hanya dengan sentuhan satu jariku, tubuhmu sudah limbung. Ketahuilah, Nak, kekuatan itu bahkan tak ada seujung kuku dari kekuatan sihir gelap Archduke Valerius. Kau benar-benar akan langsung menjadi abu di tangannya jika kau tidak mau berusaha keras dari sekarang!"

Vion meringis, terus mengelus bahu kirinya yang masih terasa berdenyut.

"Aku tidak apa-apa," gumamnya, matanya menatap tajam ke arah punggung Hephaestus yang kini melangkah masuk kembali ke dalam bengkel besinya, meninggalkan Vion dalam keraguan.

"Jangan pergi, Vion. Tetaplah di sini," cegat Von Gardo dengan nada penuh kekhawatiran.

"Aku tahu kau tidak pernah melakukan pekerjaan kasar seperti ini seumur hidupmu. Kau benar-benar bisa terluka atau tersesat di dalam sana."

Vion terdiam sejenak, lalu sedikit mengulas senyum tipis—senyum pertama yang terlihat tulus sejak ia terlempar ke dunia ini. Ia meraih sebuah kapak pembelah kayu yang tergeletak di atas meja kerja kayu yang kasar.

"Aku tidak apa-apa, Von Gardo. Jangan cemas," ucapnya sambil menimbang berat kapak itu di tangannya.

"Anggap saja ini adalah langkah pertama dalam perjuanganku untuk kembali ke duniaku yang sebenarnya. Aku tidak bisa selamanya bersembunyi di balik perisaimu."

Vion menepuk bahu zirah Von Gardo dengan mantap, lalu berbalik badan. Dengan langkah yang dipaksakan berani, ia mulai melangkah masuk ke dalam rimbunnya Hutan Blackwood yang gelap, membiarkan bayang-bayang pepohonan tua menelan sosoknya.

Mencari kayu bakar—sesuatu yang seumur hidupnya tak pernah terlintas dalam benak Vion untuk dilakukan.

Kini, ia terpaksa menembus kelebatan Hutan Blackwood yang kelam, mencari batang-batang kayu yang bahkan ia sendiri tak tahu akan digunakan untuk apa oleh si tua Hephaestus.

Setelah melangkah cukup jauh ke dalam rimbunnya pohon-pohon ek, rasa lelah mulai menyerang sendi-sendinya.

Vion memutuskan untuk berhenti sejenak, berdiri berkacak pinggang dengan napas yang terengah-engah. Sesekali tangannya mengusap peluh yang mulai membanjiri keningnya.

Sudah berminggu-minggu ia terjebak di negeri asing ini, namun baru kali ini ia merasakan keringatnya mengucur deras karena kerja fisik yang nyata.

Pandangannya mulai menelisik ke setiap sudut, menyapu semak belukar yang berduri, mencari-cari potongan kayu yang layak untuk dibawa pulang dan ditunjukkan kepada Master Hephaestus.

Tatapannya tiba-tiba menyipit. Di balik sebuah pohon besar yang tumbang, ia melihat ada bongkahan kayu yang permukaannya tampak halus, seolah-olah memang sudah dipotong rapi dengan gergaji ksatria. Pelan tapi pasti, ia melangkah mendekat, menyibak dedaunan kering yang menutupi benda tersebut.

Vion menyeringai puas saat menyadari bahwa keberuntungan sedang berpihak padanya. Kayu-kayu itu sudah ada di sana, terkumpul dan tersembunyi dengan rapi di balik gundukan tanah.

Ia tak perlu bersusah payah mengayunkan kapak tumpulnya hingga tangannya lecet; ia hanya perlu mengangkutnya pulang.

Hampir seharian penuh Vion memutari jantung Hutan Blackwood, bergelut dengan semak berduri dan beratnya beban kayu ek tersebut.

Kini, tepat saat semburat jingga matahari tenggelam di ufuk barat, ia muncul dari kegelapan hutan dengan seikat besar kayu yang dipanggul di bahu kanannya.

Bruakk!

Ia menjatuhkan ikatan kayu itu sembarangan ke tanah, lalu langsung mengempaskan p****tnya di atas kursi kayu panjang di halaman belakang pondok dengan kasar. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena kelelahan.

"Von Gardo, ambilkan air! Aku bisa mati kehausan!" teriaknya parau, menyandarkan punggungnya yang pegal ke sandaran kursi yang keras.

Tak berselang lama, Von Gardo muncul dari balik pintu pondok dengan sebuah botol kulit berisi air di tangannya. Sang ksatria memberikan botol itu sembari menyunggingkan senyum tipis—sebuah pemandangan langka di wajah kaku ksatria itu.

Vion langsung menyambar botol itu dan meneguk isinya dengan rakus, seolah ia baru saja melintasi padang pasir selama berhari-hari.

Melihat Von Gardo yang masih saja tersenyum kecil melihat kondisinya yang berantakan, Vion mendengus kesal.

"Ngetawain apa sih lo! Ngeselin!" semburnya dengan nada ketus, menggunakan bahasa gaul dari dunianya yang tentu saja membuat dahi Von Gardo berkerut bingung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!