Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
31
Malam baru saja turun dengan jubah gelapnya yang bertabur bintang menemani Anjeli duduk di meja dapur yang remang-remang. Di depannya, botol keramik kecil peninggalan kakeknya berdiri tegak. Ia baru saja selesai menyuapi Aris dan memastikan Ayah sudah meminum ramuan jahe hangatnya. Suasana rumah terasa tenang, namun di hati Anjeli, rasa penasaran itu bergejolak seperti air mendidih.
Ia perlahan membuka tutup botol itu. Aroma yang keluar kali ini lebih kuat dari siang tadi dan perpaduan antara bau hutan basah, madu hutan yang tua, dan sesuatu yang menyerupai wangi tanah setelah hujan pertama.
"Kakak... itu botol yang tadi ya?"
Anjeli tersentak kecil. Aris ternyata belum sepenuhnya terlelap. Bocah itu berdiri di ambang pintu dapur, memeluk bantal kecilnya sambil mengucek mata.
"Astaga, kamu belum tidur dek. Iya ini, Kakak sedang melihat isinya. Sini, duduk di samping Kakak," ajak Anjeli lembut.
Aris naik ke kursi kayu yang sedikit berderit. Ia mendekatkan hidungnya ke botol itu, lalu mengerutkan kening. "Baunya seperti, hmmm….seperti pelukan Kakek, Kak. Aris ingat sedikit, Kakek dulu baunya seperti ini kalau pulang dari hutan."
Anjeli tertegun. Ia tidak menyangka Aris masih memiliki memori sekuat itu. "Benarkah? Kakak hanya ingat Kakek suka memberi kita buah beri hutan. Kalau ini benar punya Kakek, berarti ini sesuatu yang sangat berharga untuk tanah kita."
"Boleh Aris bantu Kakak pakai itu besok?" tanya Aris dengan mata berbinar.
"Tentu saja. Besok kita akan coba teteskan sedikit pada bibit jahe merah yang baru. Tapi sekarang, Aris harus kembali tidur. Besok kita butuh tenaga banyak untuk mencangkul lahan yang di samping," ucap Anjeli sambil menuntun adiknya kembali ke kamar.
••••••
Keesokan paginya, keceriaan di lahan samping yang baru dibersihkan terusik oleh suara-suara sumbang dari arah jalan. Bu Sumi, yang sepertinya biasa tidak pernah bosan memantau kehidupan keluarga Anjeli, berdiri di sana bersama dua orang ibu-ibu lainnya, Bu Tejo dan Bu RT. Mereka menunjuk-nunjuk ke arah lahan kosong yang kini sudah mulai dipetak-petak.
"Lihat itu, Bu RT. Sekarang mau nambah lahan lagi. Tanah segitu luasnya, mau ditanami apa coba? Paling-paling cuma buat pamer saja," sindir Bu Sumi dengan nada bicara yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke telinga Pak Burhan yang sedang menyapu halaman.
Pak Burhan berhenti sejenak, ia menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Pagi, Bu Sumi. Kami hanya mencoba memanfaatkan tanah warisan kakek mereka supaya tidak menjadi sarang ular disini," sapa Pak Burhan sopan.
"Halah, Pak Burhan! Bilang saja kalau mau saingan sama kebun sawi saya!" sahut Bu Sumi sambil melipat tangan. "Lagipula, saya dengar-dengar tanah samping itu angker. Dulu Ayahmu sering bicara sendiri di situ. Jangan sampai nanti kalau tanamannya tidak tumbuh, malah warga desa yang kena sialnya."
Anjeli, yang sedang membawa nampan berisi bibit jahe, keluar dari rumah. Ia mendengar setiap kata pedas itu. Ia menghampiri Ayahnya dan menggenggam tangan Pak Burhan yang mulai mengeras.
"Ayah, biar Anjeli yang bicara," bisik Anjeli. Ia kemudian menoleh ke arah pagar. "Bu Sumi, terima kasih atas perhatiannya. Kami justru membersihkan lahan ini supaya desa kita terlihat lebih rapi dan asri. Kalau memang tanah ini ada penunggunya, semoga mereka senang karena tanahnya sekarang dirawat dengan cinta, bukan dibiarkan terbengkalai."
Bu Sumi mendengus kesal. "Anak kecil kok sudah pintar bersilat lidah. Kita lihat saja nanti, tumbuh atau tidak jahenya!" Ia berbalik pergi dengan langkah kaki yang menghentak-hentak, sementara Bu Tejo dan Bu RT hanya saling lirik dengan wajah yang agak sungkan pada Anjeli.
Setelah para tetangga itu pergi, Anjeli, Pak Burhan dan Aris kembali ke fokus utama mereka. Di tengah lahan samping yang sudah digemburkan, Anjeli menyiapkan satu petak khusus.
"Ayah, mari kita coba cairan dari botol Kakek ini," ucap Anjeli.
Ia mengambil satu liter air dari sumur kristal Ruang Ajaib, lalu dengan sangat hati-hati, ia meneteskan tiga tetes cairan keemasan dari botol keramik tersebut. Begitu cairan itu menyentuh air, air yang tadinya bening berubah menjadi kuning jernih yang bercahaya redup.
"Wuahh, Ajaib sekali warnanya, Kak!" seru Aris sambil berjongkok di samping ember. "Seperti air jeruk, tapi juga berkilau!"
Pak Burhan memperhatikan dengan seksama. "Kakekmu dulu sering menyebutnya Sari Bumi, kalau nggk salah. Iya bener Ayah baru ingat sekarang. Beliau bilang, cairan ini adalah hasil fermentasi dari ratusan jenis bunga hutan yang dikumpulkan selama puluhan tahun."
Anjeli mulai mencelupkan rimpang jahe merah ke dalam campuran air tersebut sebelum menanamnya ke dalam lubang yang sudah disiapkan Ayahnya. "Nanti Ayah yang masukkan ke dalam tanahnya ya? Dan Aris yang bantu siram sedikit-sedikit."
"Siap, Kak!" jawab Aris sigap.
Interaksi mereka begitu harmonis. Pak Burhan dengan telaten menutup lubang-lubang tanam, sesekali ia mengusap kepala Aris yang sibuk menyiram air dengan gayung kecilnya.
"Ayah senang kita bisa kerja sama begini lagi, Nak," ucap Pak Burhan sambil menyeka keringat. "Dan Rasanya kaki Ayah tidak terasa pegal sama sekali kalau hati senang begini."
"Itu karena Ayah punya asisten sehebat Aris," goda Anjeli.
"Dan punya guru sehebat Kak Anjeli!" balas Aris tak mau kalah.
Tawa pecah di lahan samping itu. Kebahagiaan mereka terasa sangat nyata, kontras dengan kecemburuan yang tadi sempat mampir di pagar depan.
Namun, keajaiban cairan kakek itu ternyata membawa konsekuensi yang tak terduga. Aroma dari Sari Bumi yang menyerap ke dalam tanah ternyata tercium hingga jauh ke dalam hutan di balik bukit desa.
Saat sore mulai menjelang dan mereka sedang beristirahat sambil minum teh, seekor hewan berbulu lebat dengan ekor panjang yang indah, itu seekor luwak hutan yang jarang terlihat, tiba-tiba mendadak muncul dari balik semak-semak belakang lahan. Hewan itu tidak tampak takut, ia justru mendekati petak jahe merah yang baru saja disiram.
"Eh, hewan apa itu?" tanya Aris sambil menunjuk dengan jarinya yang masih belepotan tanah.
"Itu luwak, Jagoan. Tapi biasanya mereka takut sama manusia, kok ini nggk ya!”ucap Pak Burhan heran.
Luwak itu berputar-putar di sekitar petak jahe, mengendus-endus tanah dengan antusias. Anjeli mendekat dengan perlahan. Anehnya, luwak itu tidak lari. Ia justru menatap Anjeli dengan mata yang cerdas, seolah-olah mengenali aroma yang dibawa Anjeli.
"Mungkin dia juga rindu sama Kakek," gumam Anjeli pelan.
Kejadian ini ternyata tidak luput dari mata Bu Sumi yang kebetulan sedang mencari kayu bakar di dekat sana. "Ya Tuhan! Lihat itu! Anjeli memanggil hewan liar ke desa! Pasti itu peliharaannya untuk mencelakai kita!" teriak Bu Sumi dari kejauhan.
Teriakan Bu Sumi membuat luwak itu kaget dan langsung melompat kembali ke dalam hutan jati.
"Bu Sumi, itu cuma hewan lewat!, dan kami tidak ada niatan untuk mencelakai Buk Sumi maupun warga yang lainnya.” seru Pak Burhan, namun Bu Sumi sudah lari terbirit-birit ke arah rumah warga lain untuk menyebarkan berita baru.
Malam harinya, mereka duduk di teras depan. Aris sudah tertidur di pangkuan Ayah, kelelahan setelah seharian menjadi 'komandan pasukan penyiram'.
"Nak, sepertinya besok, tetangga-tentangga kita akan semakin berisik gara-gara luwak tadi," ucap Pak Burhan pelan.
Anjeli menatap mawar-mawar pelindungnya yang kini tampak sangat segar, seolah mendapatkan energi tambahan dari cairan kakek yang ia gunakan tadi siang. "Biarkan saja, Ayah. Selama kita tidak merugikan mereka, biarlah mereka bicara apa saja. Yang penting sekarang, Ayah sehat, Aris bahagia, dan tanah kita mulai memberikan hasilnya."
Pak Burhan menghela napas panjang, menatap tangan Anjeli yang kini sudah lebih kasar dari remaja seusianya. "Ayah hanya tidak ingin kamu terbebani dengan semua gosip ini. Kamu itu seharusnya fokus belajar dan bermain saja, Nak. Bukan seperti sekarang ini, kerja banting tulang.”
"Anjeli belajar kok Ayah. Belajar banyak dari tanah ini, Yah. Lebih banyak daripada yang bisa diberikan buku sekolah manapun. Anjeli belajar tentang kesabaran, tentang bagaimana membalas keburukan dengan hasil panen yang baik. Anjeli nggk nyesel kok berhenti sekolah Yah dan jadi kuli panggul demi bisa makan, intinya ada Ayah dan Aris semua terasa ringan.” jawab Anjeli dewasa.
Anjeli kemudian meraba botol keramik kecil yang ia simpan di saku apronnya. Ia merasa bahwa ini baru permulaan. Cairan keemasan itu, catatan kakek, dan Ruang Ajaib adalah satu kesatuan yang dititipkan kepadanya. Ia berjanji akan menggunakan semuanya bukan untuk memamerkan kekuatan, tapi untuk memastikan bahwa dapur mereka selalu mengepul dan Aris tidak akan pernah merasa kekurangan lagi.
"Ayah tahu tidak," Anjeli menyambung, "Kakek menulis di buku itu kalau jahe merah yang disiram Sari Bumi bukan cuma pedas, tapi bisa menenangkan hati yang gelisah kalau dijadikan minuman."
"Benarkah? Kalau begitu, besok kita harus buatkan satu gelas besar untuk Bu Sumi, supaya hatinya tidak gelisah terus mengurusi kita," canda Pak Burhan.
Keduanya tertawa kecil di bawah cahaya bulan. Di tengah konflik kecil tetangga dan misteri alam yang mulai bermunculan, kebersamaan mereka adalah benteng yang paling kokoh. Anjeli tahu, jalan di depannya masih panjang, tapi selama ia berjalan perlahan bersama Ayah dan Aris, setiap langkahnya akan selalu berbuah manis.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄