Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Adiputra
Kael melihat ke dalam. Saudara-saudaranya ada di sana, duduk di kursi di depan sofa satin, tempat Puspa berada. Puspa ini adalah sang matriarki besar keluarga Adiputra, sekaligus nenek dari tiga bersaudara, Davis, Haikal, dan Adnan.
"Aku udah menduga kamu bakal berakhir di sini," kata Joann sambil berdiri dan menjabat tangan Kael. "Sadewa dan saudara-saudaranya sebentar lagi turun. Ada fitting terakhir tuxedo, dan Jennie, Aletta, serta mempelai perempuan sedang menata rambut untuk gladi."
Sadewa Adiputra adalah Papa dari tiga bersaudara.
"Waktu kebersamaan yang bagus buat mereka bertiga," kata Puspa, rambut peraknya membentuk gulungan rapi di atas tubuhnya yang mungil itu. "Tiga bersaudara Adiputra dan tiga calon istri Adiputra." Ia bertepuk tangan. "Sekarang tinggal Wibbie saja di sini."
Wibbie mengernyit. Ia benci diingatkan bahwa dirinya adalah satu-satunya yang masih lajang di klan Adiputra. Dia sepupunya tiga bersaudara.
"Bagaimana perjalanannya?" tanya Joann.
"Baik." Kael menoleh ke Darawati. "Joann bisa mengantarku ke Villa kami nanti. Terima kasih."
Darawati mengangguk. "Selamat menikmati liburan Anda."
"Dia imut," kata Wibbie. "Dia nglirik kamu."
Joann tertawa. "Kael kayaknya lagi sibuk banget."
"Oh ya?" Wibbie menatap saudaranya. Kael yakin dirinya akan jadi bahan obrolan utama nanti.
"Aku dengar kamu membawa Maggie Barros dengan jet pribadimu," kata nenek Puspa. "Dan kamu belajar mengganti popok."
Kael melirik tajam ke arah saudaranya. "Ada yang ember, nih."
Joann tertawa. "Kamu sendiri yang nelepon aku tengah malam, panik soal—"
"Enggak. Cukup." Kael mengangkat tangan. "Jadi, apa rencana untuk hari ini?"
Mereka meninjau jadwal dan mengobrol sampai suara langkah di tangga memberi tahu kalau ada seseorang yang baru datang.
Adnan, Haikal, dan Davis muncul bersamaan, mengenakan setelan khusus dengan dasi yang serasi.
Haikal menarik dasinya. "Aku enggak pernah nyangka Salifa bakal jadi secantik itu," katanya. "Untuk seseorang yang sehari-hari cuma pakai spandex, dia benar-benar totalitas buat pernikahan ini."
Adnan menepuk punggungnya. "Bersiaplah."
Davis condong ke depan. Ia baru beberapa bulan bertunangan dengan Jennie. "Kayak apa?"
Para pria tertawa, termasuk Joann, dan Kael bertanya-tanya apa yang lucu?
Kael dan Davis saling bertukar pandang lalu mengangkat bahu. Mereka berdua anak bungsu, jadi sudah paham rasanya jadi sasaran kakak-kakaknya.
Para perempuan menyusul turun, memenuhi ruangan. Mereka beraroma gardenia dan hairspray, dan semuanya terlihat seperti model majalah.
Jennie mendekati Kael. "Jadi, gimana penerbangan dengan adikku?" Senyum di suaranya menunjukkan kalau ia juga tahu soal urusan popok.
"Tenang aja. Aman." Kael mengangguk lalu menoleh ke Salifa. "Makasih udah mengundangku."
Joann bergerak ke sisinya. Keduanya merasa ini waktunya memberi keluarga ruang. Joann mengecup tangan Salifa. "Kamu keren, Salifa. Yakin mau mengikatkan diri pada manusia satu ini?" Ia memiringkan kepala ke arah Haikal.
"Tentu aja."
Joann dan Kael menyalami semua orang lalu kembali ke tangga. Mereka melanjutkan naik ke tempat Adiputra lainnya menginap. Namun alih-alih naik, mereka justru turun dan melewati pintu suite Maggie, kali ini tertutup.
"Siap-siap jalan jauh," kata Joann.
"Seharusnya ada mobil golf atau semacamnya," kata Kael.
Mereka melewati lorong renda dan tiba di percabangan bertema buah dan hutan.
"Ke sini," kata Joann, berbelok ke arah hutan.
"Buah menuju aula utama," kata Kael. "Renda, buah, orang tua."
"Aku enggak lewat aula utama," kata Joann.
Mereka berjalan sekitar lima belas menit, berhenti berkali-kali di percabangan, sampai akhirnya mengaku kalah.
Joann menelepon Monica, yang lalu menelepon staf Keraton dari telepon kamar. Staf mengirim Darawati untuk menemui mereka.
Wajah Darawati tampak serius saat ia tiba di lorong penuh lukisan anjing.
"Kalian hampir benar," katanya. "Seharusnya lewat renda, hutan, padang rumput, mawar. Kalian salah belok di padang dan masuk ke anjing."
Joann menggeleng. "Tempat ini butuh GPS."
Darawati mengangguk. "Itu udah sering kami dengar."
"Jadi, kalau mau ke luar, lewat mana?" tanya Kael.
Joann melemparkan senyum usil.
"Begitu sampai di pertemuan lorong mawar dan padang rumput, pilih tulip. Semua lorong bunga berujung ke luar."
"Tips bagus."
Mereka tiba di sebuah lorong panjang. "Ini Villa nya," kata Darawati. "Joann dan Monica di pintu pertama. Kael, pintu Anda yang kedua."
"Siapa lagi yang ada di Villa ini?" tanya Kael.
"Aku harus cek daftarnya," jawab Darawati. "Tapi lorong ini diisi kerabat dekat keluarga."
"Masuk akal," kata Joann. "Terima kasih."
Darawati mengangguk lalu kembali menyusuri lorong bernuansa merah muda.
Kael menyempatkan diri menyapa Monica dan memutar Sierra dalam satu lingkaran kecil, lalu masuk ke kamarnya. Ukurannya lebih kecil dari yang biasa ia tempati, tetapi ditata indah dengan ranjang kanopi kayu gelap yang tinggi, kursi berlapis emas, dan jendela besar menghadap taman. Kamar itu berada di lantai dasar, membuatnya bertanya-tanya apakah akan lebih mudah menyelinap keluar lewat jendela.
Namun ia justru mengirim pesan pada Maggie, menyebutkan nama-nama lorong di antara villa mereka. Mereka sepakat bertemu di taman setelah makan malam.
Kael tidak sabar menantikannya.
...𓂃✍︎...
...Bertahan bukan karena rasa cinta, tapi karena rasa takut....
...────୨ৎ────...