Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan di Balik Kemewahan
Aku terbangun dengan leher kaku dan mata bengkak. Semalaman aku menangis sampai kehabisan air mata, tertidur di lantai sambil memeluk lutut. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar itu terlalu terang, menyilaukan mataku yang perih.
Sebentar. Jendela?
Aku bangkit dengan panik, menyadari aku sudah ada di atas tempat tidur. Padahal aku yakin, aku tertidur di lantai dekat pintu. Siapa yang... Leonardo? Dia yang memindahkanku ke sini?
Pikiran itu membuat perutku mual. Dia masuk ke kamarku tanpa sepengetahuanku? Menyentuhku saat aku tidak sadar?
Aku melirik jam dinding. Pukul enam pagi. Masih ada waktu satu jam sebelum sarapan yang diminta Leonardo. Tapi entah kenapa, dadaku sudah sesak duluan. Seperti ada yang mencekik.
Kamar mandi di samping ternyata lebih besar dari kamar tidurku yang dulu di Jakarta. Bathtub marmer, shower dengan teknologi canggih yang aku bahkan tidak tahu cara menggunakannya, wastafel ganda dengan cermin besar yang menyiratkan bahwa ruangan ini seharusnya untuk dua orang.
Aku menatap pantulanku di cermin. Wajah pucat, mata sembab, bibir pecah-pecah. Aku terlihat seperti mayat hidup. Cincin berlian di jari manisku berkilau mengejek di bawah lampu. Gelang digital di pergelangan tanganku berkedip pelan, mengingatkan aku bahwa aku terkunci di sini.
Air hangat dari shower seharusnya menenangkan, tapi malah membuat aku ingin menangis lagi. Aku menggosok kulitku keras-keras, seperti bisa menghilangkan perasaan jijik ini. Tapi tetap tidak hilang. Perasaan bahwa hidupku sudah bukan milikku lagi.
Lemari penuh dengan pakaian-pakaian mahal. Gaun, blus, celana, semuanya dengan merek-merek yang bahkan tidak pernah aku bayangkan bisa kusentuh. Tapi semua warnanya... netral. Putih, krem, abu-abu, hitam. Tidak ada warna cerah. Tidak ada pink, tidak ada biru, tidak ada merah. Seperti Leonardo sengaja menghilangkan warna dari hidupku.
Aku memilih blus krem dan celana bahan abu-abu. Simple. Aman. Aku tidak tahu apa yang Leonardo harapkan dari penampilanku, dan aku terlalu takut untuk salah.
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, aku sudah berdiri di depan pintu kamar. Jantungku berdegup kencang. Aku mencoba memutar kenob pintu.
Terkunci.
Tentu saja masih terkunci.
Aku menatap gelang di tanganku dengan frustasi. Bagaimana cara membuka pintu sialan ini? Aku mencoba menekan layar digitalnya, tapi tidak ada reaksi.
Tiba-tiba, pintu terbuka sendiri dari luar.
Aku tersentak mundur.
Leonardo berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Rambutnya basah, seperti habis mandi. Wajahnya... tenang. Terlalu tenang.
"Kau sudah bangun. Bagus." Dia melirikku dari atas ke bawah. "Pakaiannya cocok. Ayo, sarapan."
Dia berbalik dan berjalan duluan. Aku mengikutinya dengan jarak beberapa langkah, masih mencoba memahami bagaimana pintu itu terbuka. Apa dia yang membukanya dari luar? Atau ada sistem otomatis?
Ruang makan di lantai satu terlihat lebih hangat dari sisa rumah. Meja panjang kayu mahoni, jendela besar menghadap taman dan danau di kejauhan. Sofia dan dua pelayan lain sudah menyiapkan makanan di atas meja. Roti, keju, daging asap, buah-buahan segar, jus jeruk. Lengkap. Seperti sarapan hotel bintang lima.
Leonardo duduk di ujung meja. Menunjuk kursi di sampingnya. "Duduk."
Bukan di seberangnya. Di sampingnya. Dekat.
Aku duduk dengan canggung, menjaga jarak sejauh mungkin tanpa terlihat terlalu mencolok. Leonardo mengambil roti, mengoleskan mentega dengan gerakan yang sangat presisi. Sementara aku hanya menatap piring kosong di depanku, tidak tahu harus mulai dari mana.
"Makan," perintahnya tanpa melihatku.
Aku mengambil sepotong roti, tanganku sedikit gemetar. Rasa lapar sudah hilang sejak kemarin. Yang ada cuma rasa mual setiap kali menelan.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara pisau dan garpu yang beradu pelan. Aku tidak tahan lagi.
"Kenapa pintu kamar saya dikunci?" tanyaku pelan, hampir berbisik.
Leonardo berhenti mengunyah. Meletakkan garpunya pelan. Lalu menatapku dengan mata kelabu itu.
"Untuk keamananmu."
"Keamanan dari apa? Saya di dalam rumah."
"Keamanan dari dirimu sendiri." Jawabnya dengan nada datar yang membuat buluku kuduk merinding. "Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan di malam pertama sendirian di tempat asing. Jadi aku pastikan kau aman."
Aman. Kata itu terdengar seperti lelucon paling menyakitkan yang pernah kudengar.
"Lalu... bagaimana saya keluar dari kamar?" tanyaku lagi, mencoba tetap tenang walau jantungku sudah berdetak cepat.
"Setiap pagi, pintumu akan terbuka otomatis pukul enam setengah. Kecuali aku yang membukanya lebih awal." Dia mengambil cangkir kopinya. "Dan setiap malam, pintumu akan terkunci kembali pukul sepuluh. Itu jadwalmu. Patuhi itu."
Aku terdiam. Jadwal? Seperti aku narapidana?
"Bagaimana kalau saya mau keluar malam? Atau ada kebutuhan mendesak?"
"Tekan tombol merah di gelangmu. Aku akan datang." Dia menyeruput kopinya. "Atau Sofia, jika aku sedang sibuk."
Aku melirik gelang di tanganku. Ada tombol kecil berwarna merah di sisinya. Seperti tombol darurat. Tapi kenapa rasanya lebih seperti tombol untuk memanggil penjaga penjara?
"Saya mau bicara dengan orangtua saya," ucapku tiba-tiba, suaraku lebih keras dari yang kuharapkan. "Saya sudah dua hari tidak menghubungi mereka. Mereka pasti khawatir."
Leonardo meletakkan cangkirnya pelan. Terlalu pelan. Seperti sedang menahan sesuatu.
"Kau boleh menelepon mereka. Nanti sore. Di ruang kerjaku. Dengan pengawasanku."
"Pengawasan?" aku menatapnya tidak percaya. "Saya cuma mau telepon orangtua, bukan bicara dengan... dengan penjahat atau apa!"
"Aku tidak peduli dengan siapa kau bicara, Nadira." Suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang gelap di matanya. "Yang aku pastikan adalah kau tidak mengatakan hal-hal yang... tidak perlu."
"Hal-hal yang tidak perlu seperti apa? Bahwa saya dikurung di sini? Bahwa saya tidak bisa kemana-mana tanpa izin?"
"Ya. Seperti itu." Dia menatapku tajam. "Karena aku tidak mau orangtuamu khawatir. Dan aku tidak mau mereka mencoba melakukan sesuatu yang bodoh."
Dadaku sesak. "Anda... anda mengancam mereka?"
"Tidak. Aku melindungi mereka." Leonardo berdiri, melipat serbet dengan rapi. "Dari diri mereka sendiri. Dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika mereka terlalu ikut campur dalam urusan kita."
Dia berjalan mendekat, berdiri tepat di sampingku. Tangannya menyentuh pundakku, genggamannya kuat tapi tidak menyakiti. Namun cukup untuk membuatku tidak bisa bergerak.
"Dengar baik-baik, Nadira. Aku akan jelaskan aturan di rumah ini sekali saja. Jadi dengarkan dengan seksama."
Aku menelan ludah, ketakutan mulai merayap di tulang punggungku.
"Pertama, kau tidak boleh keluar dari vila ini tanpa izin dan pengawasanku. Tidak ke taman, tidak ke danau, tidak kemana-mana. Kedua, semua komunikasimu dengan dunia luar harus melalui persetujuanku. Telepon, pesan, email, apapun. Ketiga, kau harus selalu ada di sisiku saat aku memintamu. Tidak peduli jam berapa, tidak peduli kau sedang apa."
Tangannya berpindah ke daguku, memaksa aku menatap matanya.
"Keempat, jangan pernah, dan aku tekankan, jangan pernah mencoba kabur atau melakukan hal bodoh lainnya. Karena konsekuensinya bukan hanya untukmu, tapi juga untuk orangtuamu di Jakarta."
Jantungku seperti berhenti. "Apa... apa maksud anda?"
Leonardo tersenyum tipis. Senyum yang membuat darahku membeku.
Dia mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka sebuah aplikasi, lalu menunjukkan layarnya padaku.
Aku melihat video. Video langsung. Dari rumahku di Jakarta.
Ayah sedang duduk di teras, membaca koran. Ibu di dapur, sedang memasak sesuatu. Mereka terlihat... baik-baik saja. Tenang. Tidak tahu bahwa mereka sedang diawasi.
"Kamera?" bisikku, nyaris tanpa suara.
"Dua puluh empat jam. Setiap sudut rumahmu." Leonardo memasukkan ponselnya kembali. "Belum termasuk pengawalan yang berjaga di luar. Untuk 'keamanan' mereka, tentu saja."
Aku merasa dunia berputar. "Anda gila..."
"Mungkin." Dia melepaskan daguku, tapi tatapannya tetap mengunci. "Tapi aku gila yang punya kuasa atas hidupmu sekarang. Jadi lebih baik kau ikuti aturanku jika tidak mau hal buruk terjadi pada orang-orang yang kau sayangi."
Lututku lemas. Aku ingin berteriak, ingin menamparnya, ingin lari. Tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Seperti semua kekuatanku disedot habis oleh kenyataan yang baru saja dilemparkan di wajahku.
Aku bukan istri.
Aku tawanan.
Dan Leonardo bukan suami yang posesif. Dia... dia monster yang menyamar sebagai manusia.
"Kenapa?" suaraku pecah. Air mata mulai menggenang lagi di pelupuk mataku. "Kenapa anda melakukan ini? Kenapa saya?"
Untuk beberapa detik, Leonardo hanya menatapku. Ada sesuatu yang lewat di matanya. Sesuatu yang gelap dan kompleks. Tapi cepat hilang, tertutup lagi oleh topeng ketenangan itu.
"Karena aku menginginkanmu. Dan apa yang aku inginkan, aku dapatkan. Sesimple itu."
Dia berbalik, berjalan menuju pintu. Tapi berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Sofia akan menemanimu hari ini. Dia akan mengajarkanmu tata cara rumah ini. Pelajari dengan baik. Aku tidak suka mengulang instruksi."
Lalu dia pergi, meninggalkan aku yang berdiri dengan tubuh gemetar, air mata yang akhirnya jatuh, dan perasaan bahwa aku baru saja kehilangan segalanya.
Kebebasan. Harga diri. Bahkan harapan.
Sofia masuk beberapa menit kemudian. Wajahnya penuh simpati, tapi juga ada sesuatu yang lain. Ketakutan? Atau mungkin... penyesalan?
"Nyonya, mari saya tunjukkan sisa rumah ini," ucapnya lembut.
Aku tidak menjawab. Hanya mengikutinya dengan kaki yang terasa berat.
Vila ini lebih besar dari yang kukira. Tiga lantai dengan belasan kamar, ruang gym, ruang teather, perpustakaan pribadi yang penuh buku-buku dalam berbagai bahasa, bahkan ada kolam renang dalam ruangan di lantai bawah tanah. Semua mewah. Semua sempurna. Semua terasa seperti penjara berlapis emas.
"Ini ruang kerja Tuan Leonardo," Sofia membuka pintu di lantai tiga. Ruangan dengan meja besar, rak buku, dan... komputer dengan banyak layar. Di salah satu layar, aku melihat feed kamera. Puluhan kamera. Dari berbagai sudut rumah ini.
Dan ada beberapa layar yang menunjukkan tempat lain. Tempat yang kukenali.
Rumahku di Jakarta.
Perut ku mual melihat itu.
"Tuan sangat serius soal keamanan," ucap Sofia pelan, seperti membaca pikiranku. "Dia... dia pernah kehilangan seseorang yang penting karena lengah. Jadi sekarang, dia tidak mau mengambil resiko."
Aku menatapnya. "Kehilangan siapa?"
Sofia menggeleng. "Bukan tempatku untuk menceritakan masa lalu Tuan. Maaf, Nyonya."
Kami kembali turun. Di ruang tamu, Sofia membuatkanku teh chamomile. Kami duduk di sofa yang empuk tapi terasa dingin.
"Nyonya harus bersabar," bisik Sofia. "Tuan Leonardo... dia bukan orang jahat. Hanya... dia punya cara sendiri dalam menyayangi seseorang."
Menyayangi? Ini namanya menyayangi? Mengurung seseorang, mengancam keluarganya, mengontrol setiap napasnya?
"Ini bukan sayang," ucapku pahit. "Ini obsesi. Atau lebih parah dari itu."
Sofia tidak menjawab. Hanya menatap tehnya dengan wajah sedih.
Sore harinya, seperti janji, Leonardo mengizinkanku menelepon orangtua. Tapi seperti yang dia bilang, di ruang kerjanya. Dengan dia duduk tepat di sampingku, mendengarkan setiap kata.
Suara Ibu terdengar lega saat mengangkat telepon. "Nadira? Nak, kamu baik-baik saja?"
Aku ingin menangis mendengar suaranya. Ingin berteriak minta tolong. Tapi tatapan Leonardo yang tajam itu membuatku menelan semua kata-kata itu.
"Iya, Bu. Saya baik. Rumahnya... bagus. Leonardi baik sama saya." Setiap kata terasa seperti racun di lidahku.
"Syukurlah, Nak. Ayah dan Ibu khawatir sekali. Kamu yakin tidak apa-apa? Kamu kedengarannya..."
"Saya cuma kangen Ibu dan Ayah aja. Tapi saya baik-baik saja, sungguh."
Leonardo tersenyum tipis mendengar kata-kataku. Seolah puas dengan sandiwara yang kumainkan.
Aku bicara dengan Ibu beberapa menit lagi, memaksakan nada ceria yang bahkan terasa palsu di telingaku sendiri. Ayah juga sempat bicara, suaranya terdengar lebih tenang dari terakhir kali. Mungkin karena utang sudah lunas. Mungkin karena dia pikir aku bahagia.
Kalau dia tahu...
Setelah telepon selesai, Leonardo mengambil ponsel dari tanganku.
"Bagus. Kau pintar bersandiwara." Dia memuji dengan nada yang membuat perutku bergejolak.
"Saya tidak bersandiwara. Saya cuma... cuma tidak mau mereka khawatir."
"Atau mungkin kau sudah mulai paham posisimu di sini?" Dia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap danau. "Bahwa satu-satunya jalan agar semua orang yang kau sayangi tetap aman adalah dengan patuh padaku."
Aku menatap punggungnya. Benci. Aku benci pria ini. Benci dengan setiap sel di tubuhku.
Tapi aku juga takut. Sangat takut.
"Lima tahun," bisikku. "Saya hanya perlu bertahan lima tahun, kan? Setelah itu, saya bebas?"
Leonardo tertawa pelan. Tawa yang terdengar hampa.
"Bebas?" Dia menoleh, menatapku dengan senyum yang membuat jantungku berhenti. "Nadira, kau pikir setelah lima tahun aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?"
Dunia terasa runtuh.
"Tapi... kontraknya..."
"Kontrak bisa diperpanjang. Bisa diubah. Bisa... dilupakan." Dia berjalan mendekat, berjongkok di depanku sampai mata kami sejajar. "Dan percayalah, dalam lima tahun, kau tidak akan mau pergi lagi."
Tangannya menyentuh pipiku, mengusap air mata yang jatuh tanpa kusadari.
"Karena kau akan mengerti bahwa tempat paling aman untukmu adalah di sisiku. Di bawah kontrolku. Di dalam sangkarku."
Dia mengecup keningku singkat. Ciuman yang terasa seperti cap kepemilikan.
Lalu dia berdiri dan pergi, meninggalkan aku yang hancur lebur di kursi itu.
Lima tahun.
Lima tahun yang mungkin tidak akan pernah berakhir.
Dan yang paling menakutkan...
Aku bahkan belum tahu siapa sebenarnya Leonardo Valerio.
Apa pekerjaannya. Kenapa dia sekaya ini. Kenapa dia begitu terobsesi padaku.
Dan kenapa matanya kadang terlihat seperti orang yang sudah tidak punya jiwa lagi.