Selalu disakiti dan tidak diperlakukan tidak adil oleh suaminya membuat Ella berniat membalas dendam kepada suami dan madunya.
Ella, wanita mandiri berusia 25 tahun yang merasakan sakit dipoligami. Menjadi istri yang baik, penurut dan juga mandiri tidak membuat sang suami Zico bersyukur memilikinya.
Bagi Zico. Ella hanyalah wanita parasit bagi hubungannya dengan istri kedua. Ella adalah pengganggu.
Tidak seperti Zico. Ella justru tulus menjalani pernikahan poligami itu. Ella berusaha bertahan walau sakit hati yang terus dia terima. Terkesan bodoh memang. Tapi kedatangan seorang pria di kehidupan Ella mengubah semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Baru saja Ella meletakkan tasnya di atas meja kerja. Notifikasi pesan dari Zico berbunyi di ponselnya. Ella membuka dan membaca pesan itu dengan kesal. Zico mengirimkan screenshot pesan yang siap dikirim kepada orang tua Ella. Pesan itu juga disertai dengan ancaman jika Ella tidak pulang sore ini ke rumah maka screenshot pesan yang berisi Ella sudah menjadi wanita murahan di kota akan segera di kirim.
Zico juga mengancam akan mengirimkan pesan yang berisi fitnah itu kepada Mak Gossip di kampung mereka yang terkenal biang gosip. Jika pesan itu sampai kepada Mak Gossip bisa dipastikan satu kampung akan percaya. Yang membuat Ella takut, Zico bisa menambahkan foto dirinya yang sedang memakai pakaian minim bahan di pesan itu. Ella tahu bahwa itu adalah foto editan. Tapi bagi warga kampung yang tidak mengetahui teknologi. Mereka pasti langsung percaya terhadap apa yang dilihatnya.
"Ya aku pulang sore ini," balas Ella akhirnya. Ella menggenggam ponselnya dengan erat sebagai pelampiasan atas kemarahannya kepada Zico. Dia tidak akan membiarkan pesan berisi fitnah dan foto tidak berakhlak itu di kirim kepada orangtuanya terutama kepada Mak Gossip. Ella tidak bisa membayangkan papanya memegang dada menahan rasa sakit hanya karena menerima pesan yang tidak benar tersebut. Apalagi sampai meregang nyawa karena mendapatkan kabar yabg tidak ada buktinya.
Ella semakin kesal mendapatkan balasan pesan itu dari Zico. Balasan seperti mengejek dirinya karena lemah hanya dengan pesan dan foto seperti itu.
Ella kembali membuka ponselnya. Dia mengetikkan beberapa pesan kepada Bima bahwa dirinya akan pulang ke rumah Zico sore ini. Pesan itu sudah terkirim dan sudah dibaca. Tapi setelah beberapa menit menunggu. Ella tidak menerima pesan apapun dari Bima.
Sepanjang hari bekerja di kantor itu. Ella merasakan sepertinya waktu cepat berputar. Pulang ke rumah Zico membuat dirinya betah berlama-lama di kantor. Tapi ancaman Zico sepertinya tidak main main. Zico kembali mengirimi dirinya pesan bernada ancaman.
Hingga tiba waktunya pulang. Ella belum mendapat pesan balasan dari Bima. Ella menjadi ragu untuk pulang ke rumah Zico. Ella merasa jika Bima tidak membalas pesannya sebagai pertanda jika Bima tidak mengijinkan. Ella pun akhirnya memutuskan bahwa dia akan pulang ke rumah Bima terlebih dahulu. Baru kemudian ke rumah Zico.
Tetapi apa yang diinginkan oleh Ella tidak bisa menjadi kenyataan. Baru saja kakinya melangkah keluar dari kantor. Dia sudah melihat Zico berdiri di samping mobil menunggu dirinya. Ella berdecak kesal. Sungguh, dia tidak ingin berdekatan dengan pria itu apalagi sampai duduk berduaan dalam satu mobil.
"Ella," teriak Zico kencang. Ella yang pura pura tidak mengetahui keberadaan Zico di parkiran kantornya akhirnya menoleh ke pria itu.
"Aku mau naik taksi saja. Pulanglah duluan. Aku pasti ke rumah kamu sore ini. Aku ke kontrakan aku terlebih dahulu," kata Ella dingin setelah dia mendekat ke mobil Zico.
"Masuk," kata Zico tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh Ella.
"Aku mau naik taksi mas. Apa kamu tuli?.
Zico menarik tangan Ella dengan paksa dan membuka pintu mobil. Ella berusaha melepaskan tangan itu. Tapi tenaga Zico yang tidak sebanding dengan tenaganya membuat Ella tidak bisa melawan. Ella hanya bisa mengedarkan pandangannya berharap tidak ada rekan kerjanya yang melihat dirinya bersama Zico. Tapi mata Ella membulat melihat mobil Bima yang berhenti tepat di gerbang kantor itu. Hatinya seketika merasa bersalah kepada Bima yang sudah sangat baik memperlakukan dirinya.
"Maafkan aku bang Bima. Pulang ke rumah Zico bukan keinginanku," gumam Ella dalam hati. Matanya tidak bisa berhenti melihat mobil Bima yang sudah berjalan di depan mobil Zico. Hingga mobil Bima berbelok ke kiri. Ella masih memandangi mobil itu hingga tidak terlihat lagi.
Sepanjang perjalanan, Ella menahan kesal kepada Zico. Dia merasa muak kepada laki laki itu. Ella hanya diam saja dan tidak menanggapi perkataan Zico yang sudah sok ramah.
"Kamu tidak ingin singgah di suatu tempat. Misalnya swalayan atau di pasar tradisional dekat rumah?" tanya Zico sambil menoleh kepada Ella. Ella hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, karena uang belanja sudah habis?. Aku akan memberi uang jika kamu ingin belanja," kata Zico lagi. Dia mengira jika Ella tidak mau berbelanja karena jatah bulanan yang diberikannya sudah habis. Zico sampai rela meminjam uang kepada rekannya demi memberi uang belanja untuk Ella hari ini.
"Tidak perlu. Berikan saja kepada istrimu. Biarkan dia yang berbelanja kebutuhan kalian," jawab Ella dingin. Zico tentu saja kecewa mendengar perkataan Ella. Itu artinya jika malam ini dia tidak akan merasakan masakan Ella.
"Kita sudah sepakat jika tentang dapur adalah tanggung jawab kamu Ella. Jadi jangan berusaha mengubah tugas kalian yang sudah kita sepakati bersama."
Ella memejamkan matanya mendengar perkataan Zico. Dia tidak berniat menanggapi perkataan itu karena dia akan membebaskan diri dari tanggung jawab itu. Pikirannya saat ini hanya kepada Bima.
"Ella, kamu mendengar aku?" tanya Zico sambil menoleh ke Ella. Zico kembali fokus menyetir karena melihat mata Ella yang terpejam. Ella memilih diam karena tidak ingin menjawab apapun perkataan Zico.
"Ella, kita sudah sampai," kata Zico sambil menepuk pipi Ella dengan lembut. Ella seketika mengibaskan tangannya. Dia tidak suka diperlakukan oleh Zico seperti itu. Ella langsung turun dari mobil. Dia melihat motornya sudah terparkir di garasi. Ella melangkah menuju rumah Tapi langkahnya terhenti karena tatapan tajam yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Minggir, aku mau masuk," kata Ella kepada Karina. Karina sampai mengepalkan tangannya melihat suami dan madunya pulang dengan satu mobil. Dia berbalik melihat Ella yang sudah membuka pintu kamarnya. Dia sudah menunggu kedatangan sang suami dengan hati yang bahagia. Tapi melihat kenyataan jika Ella juga kembali ke rumah. Membuat suasana hati Karina berubah kesal bercampur marah.
"Kamu menjemputnya mas?" tanya Karina marah setelah Zico keluar dari garasi. Dia sampai menghampiri Zico karena marah.
"Iya."
"Keterlaluan kamu mas. Kamu tidak menjaga perasaan aku." Karina semakin marah mendengar jika Zico menjemput madunya.
"Karina. Harusnya kamu sadar. Jika kita hidup dalam rumah tangga yang berpoligami. Kamu harus sadar, jika hidup berpoligami, itu artinya kamu hidup berbagi suami. Aku bukan seutuhnya milik kamu. Aku juga suami dari Ella, Karina. Jadi berhenti bersikap seperti anak anak."
"Mas, tapi kalian akan segera bercerai. Jadi untuk apa kamu bersikap baik menjemput dia hari ini."
"Masih akan Karina. Tapi saat ini belum. Jadi sebelum kami bercerai kamu harus siap untuk berbagi."
"Sialan kamu mas. Aku tidak suka," kata Karina marah.
"Jangan seperti itu sayang. Perceraian itu hanya menunggu waktu. Aku harap kamu sabar dan ikhlas berbagi ya," bujuk Zico sambil meraih tubuh Karina ke pelukannya. Karina luluh dan percaya apa yang diucapkan oleh Zico. Karina akhirnya membalas pelukan itu. Mendengar dan bahkan mengucapkan kata cerai membuat Zico semakin tidak rela melepaskan Ella. Berbeda dengan apa yang dikatakannya kepada Karina saat ini. Hatinya berharap dan ingin memulai hal baru dengan Ella.
Karina memeluk tubuh suaminya dengan erat. Mereka menuju pintu dengan tangan Karina yang masih melingkar di pinggang Zico dan tangan Zico di pundak Karina. Tetapi ketika langkah mereka tepat di depan pintu. Zico dengan sengaja melepaskan tangannya dari bahu Karina. Dia tidak ingin Ella melihat dirinya dan Karina bermesraan seperti ini. Tentu saja hal itu membuat Karina merasa mulai tersingkir. Biasanya Zico tidak pernah bersikap seperti ini. Bahkan di depan Ella, Zico tidak segan mencium bibirnya. Tapi saat ini hanya untuk merangkul bahunya. Zico tidak ingin dilihat oleh Ella. Karina merasa jika Zico sudah tertarik dengan madunya.
"Kenapa tangannya dilepaskan mas?" tanya Karina kesal. Dia menatap wajah suaminya dengan tajam.
"Tidak apa-apa sayang. Aku gerah. Merangkul kamu bertambah gerah," jawab Zico asal. Karina tidak langsung percaya akan jawaban suaminya.
"Bukan karena kamu ingin menjaga perasaan Ella kan?" tanya Karina penuh selidik. Zico tergagap. Dia menggaruk kepalanya untuk mengatasi dirinya supaya tidak terlihat tergagap.
"Apaan sih. Lebih dari rangkulan saja. Ella sudah melihat kita. Mencium ini, ini bahkan menikmati yang ini," jawab Zico sambil menunjuk semua area favorit laki laki di tubuh seorang wanita. Zico seakan lupa niatnya semula yang ingin menjaga perasaan Ella.
Karina tertawa renyah mendengar perkataan suaminya. Dia menahan tangan Zico supaya tetap di area bawah perutnya.
"Kamu ingin menikmatinya sekarang?" tanya Karina manja. Suaranya dibuat manja supaya Zico tergoda. Karina mendekatkan tubuhnya ke sang suami sehingga tidak ada jarak diantara keduanya. Karina berjinjit dan meraup bibir suaminya tanpa ampun.
"Jangan disini sayang. Di kamar atas saja," bisik Zico. Tapi Karina tidak memperdulikan perkataan suaminya. Tangannya sudah aktif menjelajah bahkan menurunkan resleting celana suaminya.
"Disini saja mas."
"Tidak enak sama Ella sayang. Kalau dia keluar bagaimana?.
Akhirnya Zico mengingat untuk menjaga perasaan Ella. Karina seketika marah dan mendoakan tubuh Zico dengan kasar.
"Ternyata benar. Kamu terlalu menjaga perasaan dia mas. Tapi tidak menjaga perasaan aku. Apa salahnya kita melakukannya disini. Toh dia pasti tidak keluar," kata Karina marah dan kembali mendorong tubuh Zico. Karina berlari menuju tangga dan Zico juga melangkah mengikuti langkah istri keduanya. Zico berjalan sambil memijat kepalanya.
Sementara di kamarnya. Ella tersenyum sinis mendengar pembicaraan Zico dan Karina. Dia bisa mendengar dengan jelas perkataan dua manusia yang selalu menyakiti hatinya itu.
Kalo di dunia nyata bisa perang duniaaa 🤣🤣